Stockholm, 9 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA WARTAWAN JAWA POS HANYA BERJINGKRAK MENIRU LANGKAH ONDEL BETAWI-JAWA JURUS PINGPONGNYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU MATIUS DHARMINTA WARTAWAN JAWA POS HANYA BERJINGKRAK MENIRU LANGKAH ONDEL BETAWI-JAWA JURUS PINGPONGNYA

"Berpicara soal konflik di Aceh merupakan isu internasional atau konflik intern / lokal, semua punya pandangan tersendiri. Kalau sampai sekarang dunia internasional masih menganggap bahwa konflik di Aceh merupakan konflik intern / lokal itu hak mereka, jadi siapapun tak bisa memaksanya tuk menyatakan / bicara yang lain. Contoh seperti AS yang sampai sekarang masih beranggapan bahwa konflik di Aceh masih dalam kategori lokal, ya memang seperti itu. Soal racun propaganda yang tersebar di bumi Aceh yang dituduhkan pada Yodhoyono, itu hanyalah keputusan sepihak. Karena semua tahu bahwa racuh propaganda yang tidak kalah mematikan dan menyesatkan terlebih dahulu ditebar oleh gerombolan-gerombolan anti pemerintah, dan itu sebelum Yodhoyono berkuasa, jadi jangan salah kaprah." (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Mon, 9 May 2005 00:51:36 -0700 (PDT))

Baiklah Matius Dharminta di Jakarta, Indonesia.

Wartawan Jawa Pos satu ini memang kalau tidak memakai buntelan otak cacing kepanasannya, maka mengambil otak pemain ondel-ondel Jawa dengan jurus gombal pingpongnya.

Bagaimana itu Dharminta tidak digolongkan kedalam golongan budek kalau hanya pandainya bercuap dengan melalui cara menggoreskan dan mengetik hasil sampah perasan pukulan pingpong ondel-ondel betawi-Jawa-nya.

Coba saja perhatikan, ketika saudara Nasruddin Abubakar dengan hasil pemikirannya yang dirangkum kedalam bentuk tulisan bahwa isue Acheh merupakan isue internasional dengan berdasarkan fakta, bukti dan sejarah Acheh-nya yang disodorkan di mimbar bebas ini untuk menangkis anggapan dari pihak-pihak yang masih melihat konflik Acheh sebagai konflik lokal. Ternyata oleh Dharminta dicoba untuk ditanggapi dengan cara tangkap dan tanggap pemain ondel-ondel betawi-Jawa yang dengan jingkrak betawinya menampilkan gaya jurus ronggeng pingpong.

Gaya jingkrak pingpong Dharminta dalam menanggapi hasil pemikiran saudara Nasruddin ini adalah diformulasikan kedalam gumpalan ampas-ampas ondel-ondel betawi-Jawa-nya yang berbunyi: "Berpicara soal konflik di Aceh merupakan isu internasional atau konflik intern / lokal, semua punya pandangan tersendiri. Kalau sampai sekarang dunia internasional masih menganggap bahwa konflik di Aceh merupakan konflik intern / lokal itu hak mereka, jadi siapapun tak bisa memaksanya tuk menyatakan / bicara yang lain."

Nah, dari model gaya ondel-ondel betawi-Jawa pingpongnya Dharminta ini tidak tertuang apa yang menjadi dasar argumentasi bahwa itu konflik Acheh merupakan konflik lokal. Adakah dasar kekuatan argumentasi yang berupa fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyatakan bahwa konflik Acheh itu konflik lokal ?

Yang ditampilkan Dharminta hanyalah dasar argumentasi yang verbal alias kosong saja, seperti yang dituangkan kedalam bentuk kalimat: "Berpicara soal konflik di Aceh merupakan isu internasional atau konflik intern / lokal, semua punya pandangan tersendiri"

Nah, kalau diteliti lebih kedalam, apakah yang dijadikan dasar pandangan tersebut ? Jawabananya, ternyata nol alias kosong. Mengapa ? Karena Dharminta tidak mampu menampilkan dasar argumentasi yang berbentuk fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang dijadikan sebagai alasan dan dasar pandangannya itu.

Jadi, bagaimana bisa diterima dan diakui secara legal bahwa itu Negeri Acheh masuk kedalam RI, kalau memang setelah digali lebih kedalam, tidak ditemukan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat yang membuktikan Acheh legal masuk kedalam wilayah kurungan sangkar RI.

Dan memang itu Dharminta dari sejak dulu hanya berkeliling dan menunjukkan pukulan ondel-ondel betawi-Jawa pingpongnya saja. Tidak ada gizi kekuatan pukulannya itu, selain hanya menunjukkan gigi ompongnya itu didepan para peserta mimbar bebas ini.

Selanjutnya, kalau menyinggung kebijaksaan politik AS yang melihat pada konflik Acheh yang harus diselesaikan secara politis melalui jalur perundingan, itu menggambarkan bahwa pihak AS melihat dan menunggu apa yang akan dihasilkan dan disepakati oleh kedua belah pihak dalam perundingan yang sedang berlangsung di Helsinki, Finlandia.

Nah, kebijaksanaan politik luar negeri AS akan secepat kilat berobah, apabila hasil perundingan di Helsinki, Finlandia mencapai titik kesepakatan untuk mencapai perdamaian dengan melalui pemberian hak-hak rakyat Acheh berdiri diatas kaki sendiri dibawah pemerintahan sendiri dalam bentuk self-government.

Karena sampai detik ini, itu konsepsi self-government yang disodorkan pihak ASNLF dalam perundingan di Vataa, Helsinki, Finlandia masih dan sedang digodog oleh pihak RI , dan belum dinyatakan secara terbuka kepada umum, sebelum disepakati bersama oleh kedua belah pihak dalam perundingan selanjutnya, maka tidak ada pihak luar yang mencoba mendahului memberikan putusan tentang apa yang akan disepakati dalam perundingan tersebut.

Sebenarnya pihak AS masih menunggu dan melihat apa yang terjadi dalam perundingan lanjutan antara ASNLF dengan RI di Finlandia mendatang ini. Kalau ternyata dari hasil perundingan disepakati bahwa rakyat Acheh akan menentukan sikap penentuan sendiri dengan melalui bentuk self-government, maka sudah pasti pihak AS akan enggeh saja. Tidak ada satu kekuatan politik luar yang bisa merobah hasil perjanjian dan kesepakatan dari hasil perundingan di Helsinki, Finlandia ini.

Jadi, memang wajar kalau pihak AS dalam tahap sekarang ini masih menunggu dan hanya berkomentar apa adanya, tanpa memberikan tekanan kepada kedua belah pihak dalam hal agenda-agenda yang telah dan sedang dibicarakan dalam perundingan di Helsinki, Finlandia ini.

Hanya dari pihak RI, terutama dari pihak Susilo Bambang Yudhoyono, berusaha sekuat tenaga untuk melambungkan propaganda kehadapan pihak AS bahwa konflik Acheh adalah konflik isue lokal. Dan tentu saja, pihak AS, hanya tersenyum saja, karena sebenarnya pihak AS telah mengetahui bahwa sebenarnya konflik Acheh telah menjadi isue internasional. Dari sejak pembicaraan dan dialog di Geneva dan di Tokyo, Jepang yang diikuti oleh pihak perwakilan Amerika, menunjukkan bahwa Pemerintah AS mengakui bahwa konflik Aheh tidak bisa diselesaikan secara lokal. Tetapi tentu saja, sebagaimana kebiasaan dalam dunia diplomasi, lain dimulut, lain dalam kenyataan. Dan itulah politik luar negeri yang dilakukan oleh pihak George W. Bush dalam hal konflik Acheh.

Karena itu, pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan para kacungnya, termasuk Dharminta wartawan Jawa Pos ini jangan dulu tertawa lebar, kalau itu Panglima Pasifik AS yang baru William Fallon menyatakan urusan konflik Acheh urusan lokal, itu menunjukkan bahwa sebagai Panglima Angkatan perang AS yang baru di Pasifik, memang tidak ada perintah dari George W. Bush untuk melibatkan diri langsung kedalam konflik militer di Acheh. Konflik bersenjata di Acheh adalah antara pihak rakyat Acheh yang menuntut kemedekaan dengan pihak RI yang melalui TNI-nya menjajah wilayah Negeri Acheh.

Tetapi, kalau dalam perundingan di Helsinki akan disetujui untuk dikirimkan pasukan asing, seperti pasukan dari negara-negara Uni Eropah, yang sudah dibicarakan di Parlemen Uni Eropah, maka itu akan menjadi bukti dan fakta bahwa konflik Acheh adalah konflik isue internasional. Walaupun sebenarnya secara fakta dan bukti sampai detik sekarang itu konflik Acheh adalah isue konflik internasional. Hanya orang-orang budek saja yang masih menganggap bahwa konflik Acheh adalah konflik lokal. Dan sebenarnya pihak Amerika sendiri sudah menganggap dan ikut terlibat dalam penyelesaian konflik Acheh ini dalam meja perundingan baik di Geneva ataupun di Tokyo, Jepang. Hanya yang keluar dari mulut itu Panglima Pasifik AS yang baru William Fallon itu sekedar ucapan diplomatis model George W. Bush saja, agar supaya Widodo Adi Sutjipto hidungnya naik keatas. Karena sebenarnya Widodo Adi Sutjipto sendiri saja sudah ikut terlibat dalam tim juru runding di Helsinki, Finlandia. Mana mungkin itu Widodo Adi Sutjipto bisa membantah bahwa konflik Acheh bukan konflik isue internasional. Hanya orang budek saja yang mennganggap bahwa konflik Acheh hanya konflik lokal, seperti para keroco dari anggota Komisi I DPR yang banyak diwakili dari partai politik kepala bantengnya mbak Mega dengan PDI-P.

Seterusnya, Dharminta wartawan budek Jawa Pos yang main ondel-ondel betawi-Jawa-nya dengan gaya pingpongnya ini, sesuai dengan jurus budek pingpongnya itu, ketika menyanggah tulisan Warwick, bukan ditanggapi memakai otaknya, melainkan hanya memainkan jurus pingpong ondel-ondel batawi-Jawa-nya saja, dengan merobah kata yang tadinya SBY diganti dengan "penipu GSA/GAM", burung garuda ditukar dengan Hasan D.Tiro, perempuan jawa yang berpakaian "setengah tiang" diganti dengan perempuan Yahudi yang berpakaian "setengah telanjang", garuda diganti dengan Hasan D.Tiro. Kan kelihatan budek dan gombalnya Dharminta yang ngaku wartawan Jawa Pos satu ini.

Dharminta, pakai sedikit otak, kalau mau memberikan komentar di mimbar bebas ini, jangan hanya main jungkir jumpalit model pemain gombal ondel-ondel betawi-Jawa kowe dengan jingkrak pingpongnya itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 9 May 2005 00:51:36 -0700 (PDT)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: NASRUDDIN ABUBAKAR: KONFLIK POLITIK ACHEH MERUPAKAN ISUE INTERNASIONAL
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>, zul@mucglobal.com, yahuwes@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, yuhe1st@yahoo.com, viery_fajri@yahoo.com, wpamungk@centrin.net.id, warzain@yahoo.com, wartadephan@dephan.go.id, waspada@waspada.co.id, universityofwarwick@yahoo.co.uk, teuku_mirza@hotmail.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, teguhharjito@yahoo.com, trieng@netzero.net, tang_ce@yahoo.com, tgk_maat@yahoo.co.uk, tonisudibyo2001@yahoo.com, toto_wrks@yahoo.com, sirareferendum@hotmail.com

Berpicara soal konflik di Aceh merupakan isu internasional atau konflik intern / lokal, semua punya pandangan tersendiri. Kalau sampai sekarang dunia internasional masih menganggap bahwa konflik di Aceh merupakan konflik intern / lokal itu hak mereka, jadi siapapun tak bisa memaksanya tuk menyatakan / bicara yang lain. Contoh seperti AS yang sampai sekarang masih beranggapan bahwa konflik di Aceh masih dalam kategori lokal, ya memang seperti itu.

Soal racun propaganda yang tersebar di bumi Aceh yang dituduhkan pada Yodhoyono, itu hanyalah keputusan sepihak. Karena semua tahu bahwa racuh propaganda yang tidak kalah mematikan dan menyesatkan terlebih dahulu ditebar oleh gerombolan-gerombolan anti pemerintah, dan itu sebelum Yodhoyono berkuasa, jadi jangan salah kaprah.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Sun, 8 May 2005 23:24:23 -0700 (PDT)
From: matius dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>
Subject: Re: RUANG KERJA "EMPU GANYONG"
To: warwick aceh <universityofwarwick@yahoo.co.uk>, sisinga maharaja <sisingamaharaja@yahoo.co.uk>, Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>, zul@mucglobal.com, zikry@cbn.net.id, yahuwes@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, yuhe1st@yahoo.com, viery_fajri@yahoo.com, wpamungk@centrin.net.id, warzain@yahoo.com, wartadephan@dephan.go.id, waspada@waspada.co.id, teuku_mirza@hotmail.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, teguhharjito@yahoo.com, trieng@netzero.net, tang_ce@yahoo.com, tgk_maat@yahoo.co.uk, tonisudibyo2001@yahoo.com, toto_wrks@yahoo.com

Assalamualaikum.

Minggu yang lalu secara diam2 berhasil saya (warwick) masuk ke dalam ruang kerja pimpinan "penipu GSA/GAM", pemimpin kafir laknat penyembah burungnya Hasan D.Tiro di Stockholm. Saya dapati di latar belakang kursi pemimpin biadab itu, tergantung lambang burungnya Hasan D.tiro, dan beberapa berhala yang lain termasuk gambar berhala perempuan Yahudi yang berpakaian "setengah telanjang" dan bermahkota di kepalanya. Agaknya itu salah satu berhala yang disebut dewa sembahannya.

Wahai Bangsa Aceh semua, jangan sekali2 kita tunduk kepada kafir laknat penyembah burungnya Hasan D.Tiro, itu. Mari kita perangi kafir laknat itu sampai ke hari kiamat.

Sallam
Catatan : Empu ganyong adalah umbi yang biasa dimakan celeng

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Jakarta, Indonesia

warwick aceh
universityofwarwick@yahoo.co.uk wrote:

Assalamualaikum.

Minggu yang lalu secara diam2 berhasil saya masuk ke dalam ruang kerja "empu SBY", pemimpin kafir laknat penjajah indonesia jawa penyembah berhala burung garuda dan pancasila di jakarta. Saya dapati di latar belakang kursi pemimpin biadab itu, tergantung lambang berhala burung garuda dan beberapa berhala yang lain termasuk gambar berhala perempuan jawa yang berpakaian "setengah tiang" dan bermahkota di kepalanya. Agaknya itu salah satu berhala yang disebut dewa sembahannya.

Wahai Bangsa Aceh semua, jangan sekali2 kita tunduk kepada kafir laknat penyembah berhala burung garuda dan pancasila itu. Mari kita perangi kafir laknat itu sampai ke hari kiamat.

Wassalam.
----------