Stockholm, 10 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BIMO MASIH COBA LAMBUNGKAN PENTUNGAN YUDHOYONO UNTUK MENGURUNG ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BIMO TEJOKUSUMO DARI MALMO MASIH TERUS MENCOBA MELAMBUNGKAN PENTUNGAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO UNTUK MENGURUNG ACHEH

"Ahmad Sudirman si goyang krawang di negeri kafir swedia, daripada melamun menulis email ke segala penjuru dunia, mengaku pejuang khilafah madaniah tapi mulut syuka mengumpat dan menghujat, menganggap PP RIS no. 21 Tahun 1950 hasil kutak-katik Bung Karno Pemimpin Berpangruh Asia Afrika, sedangkan itu Ahmad Sudirman Ustad di Taman Kanak-Kanak Stockholm bermimpi melamun dan mengalami waham kebesaran menyejajarkan diri dg Rasulullah, tapi mulutnya bukannya bertakbir atau beristighfar, melainkan mengumpat dan menghujat, bagaimana masyakar simpati kalo seperti itu. Wahai Ahmad Sudirman yg warga negara swedia, sampeyan menggoyang krawang ditambah ramuan kafir swedia yg berdampingan dg penghinaan Rasulullah, tapi sampeyan diam saja, sementara karena ambisi pribadi dan dendam lama sampeyan menyrodok sempoyongan menghujat Indonesia, pura-pura membela Aceh padahal sampeyan mengadu-adu ASNLF dengan NKRI, padahal perundingan sudah mau masuk peta jalan damai" (Bimo Tejokusumo , bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk , Tue, 10 May 2005 07:09:50 +0100 (BST))

Baiklah Bimo Tejokusumo di Malmo, Swedia.

Bimo asal Jawa yang menyuruk di Malmo, Swedia ini mau tunjukkan taring, tetapi ketika dibaca isi tulisannya, ternyata didalamnya keropos, isinya buih saja.

Ketika Ahmad Sudirman membuka kejahatan Soekarno yang menelan Acheh dengan kertas secewir PP RIS No.21/1950, ternyata itu Bimo asal Jawa ini tidak memberikan tanggapan dan bantahan, kecuali hanya menuliskan kalimat: "Ahmad Sudirman si goyang krawang di negeri kafir swedia, daripada melamun menulis email ke segala penjuru dunia, mengaku pejuang khilafah madaniah tapi mulut syuka mengumpat dan menghujat, menganggap PP RIS no. 21 Tahun 1950 hasil kutak-katik Bung Karno Pemimpin Berpangruh Asia Afrika."

Kan ngaco itu jawaban dan tanggapan yang menamakan Bimo dari Malmo ini. Ia bukan memberikan bantahannya, melainkan hanya menyatakan bahwa Ahmad Sudirman melamun, menulis email kesegala penjuru dunia.

Nah, itu kan bukan jawaban yang pantas yang dikeluarkan oleh seorang yang ngaku sudah makan bangku perguruan tinggi. Jawaban model begitu adalah jawaban orang budek.

Kemudian, sudahlah itu Bimo tidak mampu memberikan tanggapannya, ditambah pula dengan memberikan komentar bahwa Ahmad Sudirman "mengaku pejuang khilafah madaniah tapi mulut syuka mengumpat dan menghujat, menganggap PP RIS no. 21 Tahun 1950 hasil kutak-katik Bung Karno Pemimpin Berpangruh Asia Afrika."

Disini juga kelihatan itu Bimo makin dangkal saja pikiran dan pandangannya. Sudahlah ia tidak sanggup membantah itu Soekarno menelan Acheh memakai secewir kertas bertuliskan PP RIS No.21/1950, ditambah pula dengan menuduh Ahmad Sudirman mengumpat, menghujat dan menganggap Soekarno mengkutak-katik PP RIS No.21/1950.

Ya, jelas, itu Soekarno sebagai Presiden RIS yang menandatangani PP RIS No.21/1950. Dan ia adalah otak yang ada dibelakang penelanan semua Negara/Daerah Bagian RIS masuk kedalam mulut negara RI-Jawa-Yogya. Coba, bantah Bimo, kalau kalian sanggup membantah pendapat Ahmad Sudirman ini.

Nah, kalau Ahmad Sudirman membukakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang penelanan Soekarno terhadap Negara/Daerah Bagian RIS termasuk Acheh, itu artinya bukan melakukan pengumpatan dan penghujatan kepada Soekarno, melainkan memang itu kenyataan dan fakta, bukti, sejarah, dan dasar hukum yang tidak bisa terbantahkan sampai detik sekarang ini. Yang oleh para akhli sejarah disembunyikan bahkan itu jalur proses pertumbuhan dan perkembangan negara RI pada masa RIS sudah dihilangkan, kecuali hanya dibahas secuil saja. Kan gombal itu, mau menutupi sejarah.

Kemudian kalau Ahmad Sudirman mengatakan Soekarno penipu licik, memang benar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya. Coba bantah, kalau kalian Bimo sanggup bahwa itu Soekarno tidak melakukan penipuan dalam hal Acheh dan Papua Barat. Jangan hanya cengar-cengir saja.

Jadi kalau Ahmad Sudirman membahas sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Negeri Acheh, itu bukan berarti Ahmad Sudirman mengumpat dan menghujat. Bagaimana bisa dikatakan mengumpat dan menghujat, kalau memang benar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya.

Selanjutnya, Ahmad Sudirman tidak memiliki waham kebesaran mensejajarkan diri dengan Rasulullah saw. Kalau Ahmad Sudirman membukakan sejarah tentang perjuangan Rasulullah saw dengan Daulah Islamiyah pertamanya di Yatsrib dan Undang Undang Madinah-nya, itu bukan berarti Ahmad Sudirman memiliki waham kebesaran mensejajarkan diri dengan Rasulullah saw, melainkan itu untuk memberikan keterangan dan penjelasan bahwa Rasulullah saw di Yatsrib telah membangun dan mendirikan Daulah Islamiyah pertama dengan Undang Undang Madinah-nya.

Apakah kalau Ahmad Sudirman memberikan penjelasan tentang perjuangan Rasulullah saw membangun dan mendirikan Daulah Islamiyah pertama dengan Undang Undang Madinah-nya dianggap sebagai memiliki waham kebesaran untuk mensejajarkan diri dengan Rasulullah saw ? . Coba jawab Bimo, kalau kalian sanggup.

Selanjutnya, jelas, Ahmad Sudirman selalu melakukan takbir dan beristigfar bersamaan dengan melakukan shalat lima kali sehari semalam. Jadi, dimana letaknya bahwa Ahmad Sudirman tidak melakukan takbir dan istigfar. Soal takbir dan istigfar itu tidak perlu dituliskan di mimbar bebas ini.

Dan itu kalau ada masyarakat tidak simpati atas apa yang dikemukakan Ahmad Sudirman tentang Acheh, ya itu hak mereka, karena memang Ahmad Sudirman bukan menjadikan tujuan untuk mendapatkan simpati, melainkan bertujuan untuk membukakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang sejarah proses jalur pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh. Jadi, kalau ada orang yang tidak simpati atas apa yang dikemukakan oleh Ahmad Sudirman, ya itu hak orang itu. Apakah dengan menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum itu merupakan suatu pengumpatan dan penghujatan ?
Coba jawab Bimo, kalau kalian sanggup.

Seterusnya, itu kalian Bimo singgung ada seorang pastur Swedia yang menuduh Rasulullah saw sebagai pedofil atau yang suka kepada anak-anak. Itu sudah langsung dikerjain, dan itu pastur minta maaf. Jangan khawatir, Bimo, kalian di Malmo mana tau apa yang dilakukan umat Islam di Stockholm. Lebih baik diam saja, tidak usah buka komentar, kalau tidak tau bagaimana untuk menyelesaikannya.

Kemudian, itu yang kalian katakan: "sementara karena ambisi pribadi dan dendam lama sampeyan menyrodok sempoyongan menghujat Indonesia, pura-pura membela Aceh padahal sampeyan mengadu-adu ASNLF dengan NKRI, padahal perundingan sudah mau masuk peta jalan damai"

Kalau Ahmad Sudirman menyatakan dukungan dan sokongan kepada rakyat Acheh dan rakyat Papua Barat yang negerinya diduduki dan dijajah RI, itu bukan suatu sikap pura-pura, dan mengadu-adu ASNLF dengan NKRI Bimo. Kalau Ahmad Sudirman membukakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menunjukkan RI menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Acheh dan Papua Barat, itu artinya bukan pura-pura, Bimo. Melainkan itu suatu usaha untuk meluruskan sejarah yang telah dibengkokkan dan disembunyikan oleh Soekarno penipu licik dan para penerusnya termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dan para pendukungnya termasuk Bimo Tejokusumo orang Jawa ini.

Begitu juga kalau Ahmad Sudirman mendukung perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara pancasila, itu artinya Ahmad Sudirman bukan "menyembah berhala Hasan Tiro", melainkan Ahmad Sudirman mendukung dan menyokong perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam memperjuangkan kemerdekaan Negeri Acheh yang dijajah asalnya oleh Belanda sejak 1873, diteruskan oleh Jepang dari 14 Agustus 1942, dan dilanjutkan oleh Soekarno dengan RIS dan RI-nya sejak 14 Agustus 1950.

Selanjutnya, kalian Bimo katakan: "Hasan Tiro yang anak buahnya membunuh muslim Indonesia hanya karena beda suku, membantai masyarakat Aceh yang sadar persaudaraanm dengan sesama muslim di Asia"

Membunuh kaum penjajah dan pendukungnya, itu bukan berarti membunuh karena beda suku. Ini alasan gombal dan salah kaprah. Itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dengan TNI-nya dibawah komando Endriartono Sutarto, Djoko Santoso, dan Supiadin yang didukung oleh orang seperti Bimo dari Jawa, membunuh rakyat muslim Acheh. Kemudian kalau ada dari pihak pendukung Yudhoyono dan TNI-nya orang Jawa kena getok oleh pasukan TNA, itu artinya bahwa pasukan TNA bukan menggetok orang Jawa karena beda suku, melainkan karena orang Jawa yang kena getok itu mendukung dan menyokong Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI-nya untuk terus menduduki dan menjajah Acheh.

Seterusnya, kalian Bimo menyatakan: "ente juga memilih membantai Indonesia di forum milist tanpa tahu balas jasa, engkau kuliah di Psikologi Universitas Islam Bandung tapi kelakuan bikin malu orang Islam, engkau mabuk kepayang karena menganggap diri sejajar dengan para pemimpin Indonesia, padahal melawan pencabutan kewarganegaraan saja engkau tidak bisa, engkau harus minta bantuan pejuang islam di Mesir, dan sebagai balasan Ahmad Sudirman menyerodok sempoyongan mengaduk-aduk masalah dalam negeri Indonesia."

Sudah dijelaskan diatas bahwa Ahmad Sudirman menjelaskan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang penelanan, pencaplokan yang dilakukan Soekarno terhadap Acheh dan Papua Barat itu, bukan membantai Indonesia, melainkan membukakan bahwa kelakuan Soekarno itu memang tidak benar dan melanggar hukum internasional dan hukum nasional.

Selanjutnya, soal kuliah di Psikologi Universitas Islam Bandung, itu kuliah dimana saja, dan Ahmad Sudirman tidak membuat malu orang Islam. Dimana letaknya Ahmad Sudirman membuat malu umat Islam. Yang justru harus malu adalah kalian, Bimo yang mendukung itu Soekarno dan penerusnya yang terus saja menduduki dan menjajah Acheh dengan membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Dan Ahmad Sudirman tidak "mabuk kepayang karena menganggap diri sejajar dengan para pemimpin Indonesia". Mana pernah Ahmad Sudirman mabuk dengan bercelorteh mau sejajar seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla penjajah dan pembunuh rakyat muslim Acheh. Pernahkan Ahmad Sudirman menuliskan hal tersebut di mimbar bebas ini ?. Secuilpun tidak pernah itu tertuliskan di mimbar bebas ini. Tetapi, kalau mengkritik dan meluruskan sejarah yang dilakukan Soekarno memang benar. Dan itu bukan menganggap diri sejajar dengan para pemimpin Indonesia. Jangan ngaco Bimo, kalau memberikan tanggapan atas tulisan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Kemudian, itu soal yang kalian singgung: "padahal melawan pencabutan kewarganegaraan saja engkau tidak bisa, engkau harus minta bantuan pejuang islam di Mesir, dan sebagai balasan Ahmad Sudirman menyerodok sempoyongan mengaduk-aduk masalah dalam negeri Indonesia."

Itu soal pencabutan kewarganegaraan melalui pihak Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim kaki tangan dan kacungnya mbah Soeharto, dilakukan karena mereka sudah tidak mampu menjungkirbalikkan Ahmad Sudirman. Jadi, itu Soeharto dan kaki tangannya termasuk Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim hanya ambil jalan singkat saja, cabut warganegara, titik. Seperti memijit tombol saja. Kan gombal itu mbah Soeharto dan kaki tangannya itu.

Kemudian, soal bantuan pejuang Islam di Mesir, tentu saja, karena Ahmad Sudirman punya hubungan atau ukhuwah Islamiyah yang baik dengan mereka di Mesir. Saran dan sokongan mereka Ahmad Sudirman terima dengan baik. Dan kalau Ahmad Sudirman meluruskan tindakan politik pendudukan dan penjajahan Soekarno dan para penerusnya di Acheh dan Papua Barat, itu bukan berarti Ahmad Sudirman mengaduk-aduk masalah dalam negeri Indonesia. Itu yang kalian Bimo simpulkan adalah salah kaprah dan gombal.

Kemudian lagi kalian Bimo mengatakan: "Ustadz Ahmad Sudirman yg tdk menjadi cerminan seorang ustadz, sampeyan sedang sakit tdk punya identitas, kelahiran Riau keturunan Jawa, datuk atau orang tua anda menyanjung Jendral Sudirman yg Jawa tulen, dan sebagai balasan sampeyan menghajar bau-bau Jawa sampai kebawa ke Stockhlom kota dingin negeri kafir Swedia."

Bimo, Ahmad Sudirman mempunyai identitas di Swedia, bukan orang yang tinggal gelap. Bagaimana bisa dikatakan sakit, kalau memang Ahmad Sudirman tinggal di Swedia dengan identitas jelas. Memiliki status baik. Punya hubungan baik. Kemudian itu soal keturunan, sudah jelas Ahmad Sudirman asli Sunda, masih juga dikatakan Jawa. Bimo itu antara Sunda dan Jawa jauh sekali bedanya. Dan itu datuk dari Ahmad Sudirman tidak pernah cerita tentang jenderal Sudirman orang Jawa itu. Itu nama Sudirman adalah bukan milik orang Jawa, tetapi itu nama Sudirman berasal dari wilayah India, Srilangka, Bangladesh, Pakistan, yang masuk ke Jawa. Jadi, itu nama Sudirman bukan monopol Jenderal Sudirman orang Jawa itu. Dan kalau Ahmad Sudirman menyatakan Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo bambang Yudhoyono adalah Jawa, memang mereka itu Jawa. Kecuali itu Jusuf Kalla orang Bugis. Kalau Ahmad Sudirman menyatakan dan menyebut itu Susilo Bambang Yudhoyono Jawa, bukan berarti menghajar bau-bau Jawa. Apakah kalau Ahmad Sudirman menyatakan orang Acheh, berarti Ahmad Sudirman menghajar itu yang bau-bau Acheh. Kan tidak.

Selanjutnya, itu Bimo menuliskan: "Ahmad sudirman kau menutup mata bahwa banyak orang Indoensia juga tdk menyukai rezim militer, engkau menghancurkan keindonesiaan dg menghambur-hamburkan cerita bohong ttg kesatuan indonesia, sayangnya ahmad sudirman gagal karena justru orang makin cinta pada indonesia."

Bimo, kalau kalian tidak menyukai rezim militer, mengapa kalian diam saja ketika itu para algojo TNI membunuh rakyat muslim Acheh. Apakah karena kalian anggap itu orang Acheh pemberontak, sehingga kalian diam saja tidak menyuarakan suara kalian menentang keganasan dan pembunuhan yang dilakukan algojo TNI terhadap rakyat muslim Acheh ? Kalian Bimo memang munafik, mengaku tidak menyukai rezim militer, tetapi itu yang dilakukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono seorang militer dengan algojo TNI-nya di Acheh membunuh rakyat muslim Acheh, kalian Bimo diam dan enggeh saja, dasar budek.

Dan kalau kalian mengatakan bahwa segala fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang penelanan dan pendudukan serta penjajahan di Acheh oleh pihak RI yang dilambungkan Ahmad Sudirman dianggap bohong oleh kalian Bimo, coba buktikan dan ajukan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum kalian di mimbar bebas ini yang membuktikan bahwa itu Negeri Acheh secara legal dimasukkan kedalam sangkar RI. Coba jawab Bimo, jangan hanya bercuap saja yang isinya gombal.

Bimo, mana Ahmad Sudirman menduduki kursi yang diimport dari negara penjajah RI. Soal kayu, itu Swedia tidak mengimport dari negeri mbah kalian Soekarno penjajah RI. Kemudian, kalau Ahmad Sudirman menyatakan itu logat Jawa kental, memang Ahmad Sudirman tidak paham dan tidak mengerti kalau kalian bercuap bahasa kalian Jawa yang kental itu. Bukan karena Ahmad Sudirman tidak memiliki indentitas. Suku Sunda itu bukan suku Jawa, Bimo. Dan kalau itu Soeharto mendapat kritikan dari Ahmad Sudirman memang wajar saja, karena memang ia pantas dikritik dan pantas dihukum karena kebiadabannya. Tetapi itu Abdurrahman Wahid memang budek, engeh saja pada mbah Soeharto raja korupsi di dunia. Dan mana pernah Ahmad Sudirman membayangkan untuk menjadi seperti Sofyan Djalil kacungnya Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono penjajah RI di Acheh dan Papua Barat. Orang budek saja yang mau seperti kacung Sofyan Djalil yang ikutan orang Jawa menduduki dan menjajah Acheh. Tidak punya malu.

Kemudian lagi itu Bimo celoteh: "Ahmad Sudirman yg mengaku pejuang khilafah, makin jauh dari nilai Islam karena sekarang jadi sembahannya orang Norway jadi berhala seperti Hasan Tiro yg beristrikan Yahudi, aku lihat patung berhala di berbagai negara eropa, dan rupanya gerombolan warga negara swedia yg kehilangan jati diri karena bukan bule, menjadi berhala dan menyembah diri sendiri dg memforward pujian-pujian dari gerombolan warwick atau norway yg cadangan minyaknya makin habis dan mimpi akan dapat minyak dan gas gratis dari aceh sebagai kompensasi mediasi GAM-NKRI."

Ya, jelas, Ahmad Sudirman berusaha untuk menampilklan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam hal membangun dan mendirikan Daurah Islamiyah pertama di Yatsrib. Bukan seperti kalian Bimo, kalian enggeh saja, dengan itu keroco-keroco yang sudah diracuni ampas sekularisme yang dicampur dengan pancasila dan UUD 1945 sekuler itu. Dan kalau Ahmad Sudirman menjelaskan sepak terjang Rasulullah saw dalam hal membangun dan mendirikan Daulah Islamiyah di Yatsrib, itu bukan menjauh dari nila-nilai Islam, yang namanya menjauh dari nilai-nailai Islam kalau itu kalian di negara sekuler pancasila masih tetap mempertahakankan itu sampah pancasila untuk dijadikan sumber hukum di negara kalian. Coba Bimo tunjukkan di mimbar bebas ini satu dasar hukum yang dipakai di RI yang didalamnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw ?, sampai kiamat kalian Bimo tidak akan menemukannya. Oh, itu UU No.18/2001 yang dipakai sebagai payung hukum di Acheh. Itu Bimo, isinya tidak ada mengacu kepada dasar dan sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Seterusnya, kalau itu ada orang yang sadar bahwa memang pihak RI menduduki dan menjajah Acheh, itu bukan berarti orang itu menyembah dan menjadikan berhala Ahmad Sudirman. Mana pula orang-orang di Norwegia menjadikan Amad Sudirman sebagai alat sembahan dan berhala. Kan ngaco apa yang dilontarkan Bimo Jawa satu ini. Entah belajar dari mana itu Bimo mengenai masalah kepecayaan ini. Dasar budek.

Kemudian lagi, itu rakyat dan pejuang Acheh yang ada di Swedia tidak kehilangan jati diri karena bukan orang yang berkulit bule. Justru itu orang dan pejuang Acheh ini memiliki identitas sebagai orang Acheh yang tinggal dan hidup di Swedia. Mereka bangga dengan identitas Acheh dan Islamnya. Bukan seperti kalian Bimo, mana itu mbah kalian Susilo Bambang Yudhoyono bangga dengan Islamnya, paling yang ditinjolkan sekularismenya melalui Partai Demokrat sekulernya itu.

Seterusnya, kalau itu saudara Warwick menulis tentang penjajah RI-Jawa-Yogya, ya itu hak Warwick sebagai rakyat Acheh yang negerinya diduduki dan dijajah RI. Coba bantah kalau kalian sanggup, jangan hanya ngomel tidak menentu saja. Dan itu hasil minyak Norwegia sudah dipakai untuk membangun negeri Norwegia dan disimpan sebagai devisa. Tetapi, kalau itu para kacung dan para pimpinan di negara sekuler RI, habis minyak di Acheh dan di Riau, mereka akan kelabakan, cari di Ambalat, masih dalam proses, tidak bisa diharapkan. Hasil minyak dan gas Acheh habis ludes, hutang menggunung, entah kapan bisa terbayar. Tiap tahun mengemis minta pinjaman untuk menutupi devisit. Dasar budek.

Terakhir, Bimo yang harus bertobat itu adalah mbah kalian Susilo Bambang Yudhoyono dan para algojo TNI kalian yang membunuh rakyat muslim Acheh. Apakah kalian tidak sadar Bimo, itu Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati yang telah membunuh ratusan ribu rakyat baik di Acheh ataupun di RI, dibiarkan begitu saja. Kalian tidak merasa berdosa, dan tidak mau segera bertobat. Kalian anggap sudah tidak jadi Presiden berarti bebas dari dosa ketika memerintahkan algojo TNI membunuh rakyat muslim Acheh ?

Bimo kalau kalian masih tetap buta dan tidak mau memahami atas kebiadaban pimpinan kalian di Acheh, maka kalian akan hancur sendiri Bimo. Apalagi ditambah dengan kalian budek tidak memiliki kekuatan argumentasi apapun yang bisa dijadikan sebagai alasan untuk memasukkan Acheh secara legal kedalam RI. Kalian hanya menipu dan berbohong saja Rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri mana percaya lagi kepada kalian Bimo dan pimpinan kalian dari penjajah RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 10 May 2005 07:09:50 +0100 (BST)
From: bimo tejokusumo bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Subject: Re: TATI KUNYAM-KUNYEM BELA MBAH YUDHOYONO & DAENG
KALLA YANG TERUS MEMBUNUH RAKYAT ACHEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Ahmad Sudirman si goyang krawang di negeri kafir swedia, daripada melamun menulis email ke segala penjuru dunia, mengaku pejuang khilafah madaniah tapi mulut syuka mengumpat dan menghujat, menganggap PP RIS no. 21 Tahun 1950 hasil kutak-katik Bung Karno Pemimpin Berpangruh Asia Afrika, sedangkan itu Ahmad Sudirman Ustad di Taman Kanak-Kanak Stockholm bermimpi melamun dan mengalami waham kebesaran menyejajarkan diri dg Rasulullah, tapi mulutnya bukannya bertakbir atau beristighfar, melainkan mengumpat dan menghujat, bagaimana masyakar simpati kalo seperti itu.

Wahai Ahmad Sudirman yg warga negara swedia, sampeyan menggoyang krawang ditambah ramuan kafir swedia yg berdampingan dg penghinaan Rasulullah, tapi sampeyan diam saja, sementara karena ambisi pribadi dan dendam lama sampeyan menyrodok sempoyongan menghujat Indonesia, pura-pura membela Aceh padahal sampeyan mengadu-adu ASNLF dengan NKRI, padahal perundingan sudah mau masuk peta jalan damai, malahan sampeyan menyembah berhala Hasan Tiro yang anak buahnya membunuh muslim Indonesia hanya karena beda suku, membantai masyarakat Aceh yang sadar persaudaraanm dengan sesama muslim di Asia, ente juga memilih membantai Indonesia di forum milist tanpa tahu balas jasa, engkau kuliah di Psikologi Universitas Islam Bandung tapi kelakuan bikin malu orang Islam, engkau mabuk kepayang karena menganggap diri sejajar dengan para pemimpin Indonesia, padahal melawan pencabutan kewarganegaraan saja engkau tidak bisa, engkau harus minta bantuan pejuang islam di Mesir, dan sebagai balasan Ahmad Sudirman menyerodok sempoyongan mengaduk-aduk masalah dalam negeri Indonesia.

Ustadz Ahmad Sudirman yg tdk menjadi cerminan seorang ustadz, sampeyan sedang sakit tdk punya identitas, kelahiran Riau keturunan Jawa, datuk atau orang tua anda menyanjung Jendral Sudirman yg Jawa tulen, dan sebagai balasan sampeyan menghajar bau-bau Jawa sampai kebawa ke Stockhlom kota dingin negeri kafir Swedia.

Ahmad sudirman kau menutup mata bahwa banyak orang Indoensia juga tdk menyukai rezim militer, engkau menghancurkan keindonesiaan dg menghambur-hamburkan cerita bohong ttg kesatuan indonesia, sayangnya ahmad sudirman gagal karena justru orang makin cinta pada indonesia.

Ustad Ahmad Sudirman, jangan senyam senyum di kursi kayu import dari indoensia, sampeyan tdk suka logat jawa karena identitas sampeyan tdk jelas, keturunan jawa kelahiran riau kuliah di bandung, sekolah di mesir, menghantam pak Harto, lalu tersungkur di negeri kafir swedia, lalu bermimpi jadi Mentri Komunikasi sambil membayangkan seperti pak Sofyan Jalil yg orang Aceh yg sadar silaturahim dg sesama muslim indonesia.

Ahmad Sudirman yg mengaku pejuang khilafah, makin jauh dari nilai Islam karena sekarang jadi sembahannya orang Norway jadi berhala seperti Hasan Tiro yg beristrikan Yahudi, aku lihat patung berhala di berbagai negara eropa, dan rupanya gerombolan warga negara swedia yg kehilangan jati diri karena bukan bule, menjadi berhala dan menyembah diri sendiri dg memforward pujian-pujian dari gerombolan warwick atau norway yg cadangan minyaknya makin habis dan mimpi akan dapat minyak dan gas gratis dari aceh sebagai kompensasi mediasi GAM-NKRI.

Ustadz................................., bertobatlah..................., tak henti-henti aku seru karena orang lain yg bisa melihat bahwa apa yg sampeyan omongkan bukan cerminan seorang pejuang Islam.... sampeyan memperjuangkan diri sendiri, penyembahan berhala diri sendiri.........

buat itu orang yg mengaku muhammad qubra di norway, jangan cengar-cengir sambil sempoyongan minum vodka rusia di negeri dingin sana, atau sama saja seperti Ahmad Sudirman yg mengobral berita bohong ke sana kemari sambil bermimpi jadi berhala di taman swedia.

Bimo Tejokusumo

bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Malmo, Swedia
----------