Stavanger, 13 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 ACHEH SUMATRA - INDONESIA JAWA DARI LUARAN
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

SEKILAS MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 ACHEH SUMATRA - INDONESIA JAWA DARI LUARAN

Motto: Matee aneuek meupat djeurat, matee adat gadoh meurdehka !

Membaca isi rundingan ronde ke 3 Acheh Sumatra - Indonesia Jawa dari luaran lewat jendela 7 Point Press Release Pemerintah Negara Acheh Sumatra dan 7 Point Press Release International Crisis Management.

Sebelum membaca keseluruhan ke 7 point Press Release, dari Pemerintah Negara Acheh Sumatra (dalam bahasa Melayu) dan atau 7 point Press Release dari International Crisis Management (dalam bahasa Inggeris), maka perlu sekali dijelaskan lebih dahulu bahwa sesuatu yang paling penting dari ke 7 ponit Press Release itu adalah:

I. Maka dipihak Negara Acheh Sumatra musti berhasil menerangkan dengan sejelas-jelasnya kedudukan hak mutlak (undebatable) dari bangsa Acheh atas wilayah Negara Acheh yang pernah merdeka dan berdaulat yang sekarang ini sedang dijajah oleh Penjajah Indonesia Jawa, kepada Tuan Martti Ahtisaari, Ketua International Crisis Management, Kepada Sekjen PBB Tuan Kofi Annan, kepada Presiden Uni Eropah, Tuan Jean Asselborn, kepada Presiden USA, Tuan George Walker Bush.

a. Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528) adalah Sultan Negara Acheh pertama yang memerintah. Negara Acheh yang merdeka dan berdaulat itu, telah tegak 100 tahun sebelum Belanda memulakan penjajahannya di Pulau Jawa.

Hari ini, 5 Juni, 2005 adalah Hari Ulang Tahun ke 409 sejarah bangsa Jawa dijajah oleh Belanda, yang akan diperingati oleh anggota Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono dan Daeng Yusuf Kalla. Kemeriahan memperingati Hari Ulang Tahun ke 409 sejarah bangsa Jawa dijajah oleh Belanda itu diperingati akan melebihi dari kemeriahan memperingati hari ulang tahun ke 50 konferensi Asia-Afrika yang pernah dilahirkan dalam kerangka kerja (blue print) komunis Internasional membelah dunia menjadi dua.

Masa itu, Negara Acheh itu, dikenal oleh masyarakat dunia perdagangan International, sebagai negara yang sangat berpengaruh di Nusantara. Dan ketika itulah, ramai leluhur bangsa Bugis dan Makasar, atau leluhurnya Daeng Yusuf Kalla, bekerja di dermaga-dermaga kapal perang Angkatan Laut Negara Acheh (ALNA). Juga patut dijelaskan disini, dalam konteks ini, memadailah kita tidak menerangkan negara-negara sebelumnya yang pernah wujud dan berpengaruh di Acheh seperti : Negara Benoa; Negara Peureulak, Darul 'Aqla; Negara Pasai; Negara Pidir(e); Negara Lamuri; Negara Daya; Negara Linge, Darul Awan dan lain-lain, lama sebelum kedatangan kuasa Eropah. Kita tidak perlu pula membandingkan negara-negara di Acheh itu dengan negara-negara kecil seperti Singosari, Majapahit, Kediri, Belambangan dan lain-lain.

Negara-negara yang wujud di Acheh sebelum kedatangan kuasa Eropah itu, atau sebelum pemerintahan Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528), telah juga mempunyai hubungan luar dengan China atau India dan lain lain negara yang pernah berniaga dengan Mesir, Assyiria, Mesopotamia, Mecodonia, Roma dll, karena letak strategis negara-negara Acheh itu, pada jalur lintasan navigasi utama, mengikut sejarah navigasi dunia.

Marco Polo ketika enggan mendekati China, sewaktu Beijing (Beijing dikenal dengan nama Bodo, ketika masa pendudukan) sedang diduduki tentara Jengis Khan pada tahun 1292, langsung memutar haluan, masuk mengunjungi Negara Peureulak, Darul 'Aqla pada tahun itu juga, dan Negara Pasai pada tahun berikutnya 1293. Ketika itulah, Khubilai Khan diperintahkan menyongsong pengembara dari Italia itu, tetapi kesasar ke Jawa. Dalam dongengan sejarah Jawa, kedatangan Kubilai Khan ditulis sebagai utusan dari negara China, bukan sebagai utusan dari negara penakluk Mongolia.

Begitu juga dengan Ibnu Bathuthah pernah dua kali mengunjungi Acheh. Kunjungannya yang pertama tahun 1364, tahun Gajah Mada dan tentaranya mati dibunuh oleh Tentara Negara Benoa, di Temiang-Acheh dan tahun 1365 tahun kunjungannya yang kedua, tahun fossil Gajah Mada, mulai berobah menjadi asphal hitam di sekitaran tanah perkuburannya di pulau Buton, Sulawesi.

Maka jauh sekali jarak kebesaran sejarah Acheh itu dengan sejarah Jawa yang penuh dengan taburan bunga rampai dongengan Mahabrata dan Ramayana, yang agaknya seperti jarak bumi dengan bintang Kejora !

b. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat ketika Belanda masih lagi sebagai sebuah propinsi dari negara Spanyola.

c. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat yang telah mempunyai ikatan perjanjian pakta pertahanannya dengan Inggeris, sejak Treaty of London ditanda tangani pada 1819, mengikut jalinan hubungan persefaman (MOU) kedua negara itu, yang telah terbina sejak 1602 atau sejak VOC pertama dibina di Jawa.

d. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat ketika Belanda menyogokkan wilayah jajahannya di Afrika Barat: Gold Coast (sekarang dikenali sebagai Ghana-tanah air Sekjen PBB, Kofi Annan) kepada Inggeris, agar membatalkan secara sepihak ikatan pakta pertahanannya dan sekaligus memberikan laluan kepada Belanda, untuk menyerang Acheh.

e. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat, ketika menolak ultimatum James Loudon, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia (Jakarta).

f. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat, ketika Mayor Jenderal Kohler dan ribuan anak-anak Jawa pembunuh bayaran KNIL Belanda, menyerang Negara Acheh dan kemudian mati konyol di depan mesjid Baiturrahman, Banda Acheh.

g. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat, ketika Lord Stanley dari Ardeley, menentang pemerintahannya di Parlemen Inggeris, karena pemerintahnya itu, telah mengingkari dan melanggar pakta pertahanannya dengan Negara Acheh.

h. Acheh masih sebuah negara merdeka dan berdaulat, ketika Belanda menyerahkan "peta wilayah jajahan Hindia Belanda" sebagai "peta wilayah NRIS", pada 27 Desember, 1949, kepada anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda.

Kenyataan diketahui, oleh semua negara anggota federasi NRIS bahwa, Acheh tidak pernah menyertai NRIS dari terbentuknya pada 27 Desember, 1949 hingga 14 Agustus, 1950, atau hingga NRIS itu sendiri dileburkan pada 15 Agustus, 1950, Dan kemudian Acheh itu dicaplok secara tidak sah, secara licik oleh Soekarno si Penipu licik, dengan permainan dan trick kotor Perpu No 05/08/ 1950, peraturan yang diciptan oleh Soekarno si Penipu licik dengan bantuan sekumpulan anak-anak Jawa ex pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam dan terus melemparkan Acheh itu kedalam "sangkar " NKRI.

i. Acheh masih sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, walaupun Belanda dan ribuan anak-anak Jawa pembunuh bayarannya telah menyembelih 100.000 lebih bangsa Acheh.

j. Acheh masih sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, ketika pendudukan Tentara Jepang ditahun 1942.

Sultan Acheh tidak pernah menyerahkan kedaulatan negaranya kepada Belanda, atau kepada siapapun, kecuali kepada mandatarisnya: Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman, sebagai Wali Negara ke-I, yang cucunya kini, sebagai Wali Negara, Negara Acheh Sumatra, siapa yang telah memproklamirkan kembali Negara Acheh Sumatra pada 4 Desember, 1976.

Peristiwa ini telah diungkapkan kembali dalam pertemuan anak-anak Acheh dalam acara Reuni Acheh I dan II di Medan, Sumatra Utara.

II. Begitu juga dari pihak Penjajah Indonesia Jawa (NKRI) musti menjelaskan sejelas-jelasnya fakta sejarah Negara Acheh yang authentik dan transparan itu sebagaimana bentangan diatas Kepada Ketua International Crisis Management, Tuan Martti Ahtisaari, Kepada Sekjen PBB, Tuan Kofi Annan, Kepada Presiden Uni Eropah, Tuan Jean Asselborn, Kepada Presiden USA, Tuan George Walker Bush.

a. Menjelaskan bagaimana Negara Republik Indonesia Serikat yang baru berusia 231 hari itu, telah dilebur dan disunglap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, oleh anak-anak Jawa Chauvinis-ethno nationalism.

Pada tanggnal 15 Agustus, 1950, Soekarno si Penipu licik bersama sekumpulan kroni-kroninya, anak-anak Jawa Chauvinis, penyokong kuatnya yang pernah memberi sokongan sehingga berhasil terpilih sebagai Presiden Indonesia Jawa dalam sebuah korum, telah meleburkan negara-negara federasi dari Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat menjadi daerah-daerah otonomi atau propinsi untuk Negara (Sotasona) Kesatuan Republik Indonesia Jawa dengan permainan dan trik kotor PP RIS No 21/08/1950. Inilah kelicikan pertama Soekarno si Penipu licik !

Dan kemudian bangsa-bangsa dari negara-negara federasi NRIS itu, mereka sebutkan sebagai suku-suku bangsa untuk "daerah-daerah otonomi atau propinsi NKRI mereka". Maka tersebutlah juga si Daeng Yusuf Kalla, yang dulunya sebagai bangsa Bugis atau Makassar menjadi suku Bugis atau suku Makassar. Inilah kelicikan kedua Soekarno si Penipu licik.

Ex-wilayah peta jajahan Hindia Belanda atau ex-wilayah peta NRIS itu, inilah yang disebut tampa malu oleh Algojo Jawa si Endriatono Sutarto dan sejenisnya sebagai wilayah integrasi Penjajah Indonesia Jawa ?

Ketika inilah sendi-sendi struktur hukum-hakam, adat-budaya, adat-resam, sosio-ekonononi, sosio-politik, sosio budaya hancur dan lebur, bersamaan hancur leburnya struktur negara dan kenegaraan (ketatanegaran-pemerintahan) ! Dimana pada waktu bersamaan mereka mengangkat diri mereka, dengan menakan diri mereka dari Jawa menjadi Indonesia, dengan ehno-nationalism !

Daeng Yusuf Kalla pun, dipanggilkan oleh Soekarno si penipu licik sebagai anak suku Bugis atau suku Makassar ! Kami telah mengikatkan Dr Andy Faisal, ketika mengadakan seminar ilmiahnya di Leiden University, bahwa bangsa Bugis atau bangsa Makassar adalah sebagai penjelajah-penjelajah yang setaraf dengan penjelajah Internasional. Sebenarnya Bugis atau Makassar bukan sebagai suku bangsa, tetapi sebagai bangsa Bugis atau sebagai bangsa Makassar, dimana perahu-perahunya pernah ditemui sebagai perahu yang pertama mencapai benua Antartika, begitu juga perahu-perahu merekalah yang pertama sekali diketahui terdampar dipantai-pantai Australia.

Dengan kelicikan Soekarno si Penipu licik dan sekumpulan anak-anak Jawa Chauvisnis, melebur negara-negara menjadi propinsi-propinsi dan meleburkan bangsa-bangsa menjadi suku-suku, maka pada era itulah disebut sebagai starting point kehidupan kolonialisme dan imperialisme Jawa Chauvinis(tis) !

Itulah taktis-tehnis-sistimatis licik, penguasaan wilayah negara (federasi) dari NRIS, telah digunakan oleh Soekarno si Penipu licik, sehingga dalam tempo 231 hari saja hilang lenyaplah NRIS itu ditelan mulut NKRI Soekarno si Penipu licik dan anak-anak Jawa Chauvinis serta kronis-kronisnya !

PS: Jika kita coba mengupas secara cermat, mendetail atau mathematis, maka dari sinilah atau dari detik-detik peleburan inilah Negara Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia Jawa, maka disana akan tampak dan terbaca dengan jelas bagaimana guratan-guratan struktur kejahatan Soekarno si Penipu licik dan kumpulan-kumpulan Jawa Chauvinis, menelan bangsa-bangsa Melayu Nusantara di luar Pulau Jawa, selain disusuli dengan strategi transmigrasi !

b. Dengan menjelaskan juga bagaimana Acheh yang dicaplok secara tidak sah oleh Soekarno si Penipu licik yang dibantu oleh sekumpulan anak-anak Jawa ex- pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam

Maka dengan keberhasilan kedua pihak: Tim perunding dari Negara Acheh Sumatra dan Tim perunding dari NKRI menjelaskan Kepada Tuan Martti Ahtisaari dari International Crisis Management, Kepada Tuan Kofi Annan, Sekjen PBB, Kepada Presiden Uni Eropah, Tuan Jean Asselborn, Kepada Presiden USA, Tuan George Walker Bush, maka bagi kami dan pihak peramal atau penganalis akan berhasil juga memberikan bantuan kerangka kerja deklarasi damai itu, diantaranya berupa ramalan berapa lama lagi bangsa Acheh akan mendapatkan kemerdekaannya: Setahunkah atau dua tahun lagikah? Dan apa-apa lain infra stuktur yang diperlukan untuk dibentangkan jika Acheh merdeka tahun depan ataun tahun 2007 ?

Mengambil misalan kepada saudara Otto Syamsuddin, periset dari Imparsial, anak Acheh ?, "si Orang Kaya Putih" sang sosioloog beken itu, bisa menjadi kelabakan sendirian, selalu salah ramalannya, selalu membingungkan analisanya, sehingga menumpulkan banyak mata pena platinumnya, karena pihak Penjajah Indonesia Jawa tidak mau dan masih tidak berani berterus terang menjelaskan kedudukan transparan sejarahnya, sebagai penjajah, sebagai Penjajah Indonesia Jawa.

Dan menjelaskan sejelas-jelasnya keauthentikan dan ketrasparsi sejarah Acheh yang hendak merdeka dan berdaulat kembali, sebagaimana telah dibuktikan dengan uraian-uraian dari untaian sejarah vertikal bangsa dan negara Acheh.

Dan jika pihak tim perunding dari NKRI ini berhasil menjelaskan demikian rupa, maka kemudiannya barulah ditemui jalan mudah yang berfaedah, bagi kedua belah pihak mencari satu solusi tetap dan komprehensip dengan bermartabat. Kalau tidak bagaimanakah akan menemui titik temu atau garis singgungnya : Tim Negara Acheh Sumatra dan NKRI itu ?

1.eItulah sebabnya Jawa Chauvinis, ketika mula bersidang di Geneve, Switzerland, mencari perdamaian dan kedamaian antara Acheh Sumatra dengan NKRI, langsung disana, dimeja perundingan, mereka, Penjajah Indonesia Jawa memaksa pihak Negara Acheh Sumatra, agar menerima nama organisasi perjuangannya Acheh hanya dengan sebutan GAM, bukan ASNLF atau Negara Acheh Sumatra ! karena sengketa antara Acheh dengan Indonesia Jawa bukanlah sebagai perjuangan kemerdekaan total, dan agar perunding Acheh, bisa terpuruk hanya dilingkaran kecil dan scope yang dekat, bukan Internasional.

2. Dan itulah sebanya Jawa Chauvinis, ketika mula berunding mencari perdamaian dan kedamaian di Helsinki, Finland, mereka, si Penjajah Indonesia Jawa pada awal-awal lagi, sebelum sidang dimulakan, telah memaksakan agar Negara Acheh Sumatra/ASNLF/GAM musti menerima "Otonomi/Otonomi Khusus", sebagai pembukaan lembaran pertama, supaya kita terus terperangkap hidup-hidup.

3. Juga itulah juga sebabnya Penjajah Indonesia Jawa, Jawa Chauvinis atau si Belanda Hitam, walaupun rencana sidang akan berlanggsung atau sedang berlangsung, tetapi mereka terus memblack-mailkan Negara Acheh Sumatra cq ASNLF cq GAM, dengan memerintahkan ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, siang dan malam menyembelih bangsa Acheh walaupun segala cara-cara yang biadab dan tidak berprikemanusiaan, agar NAS/ASNLF/GAM mudah tunduk dan bersedia menerima sebarang konsesi, sekalipun konsesi potong leher ?, mengikut cara-cara kotor dan menjijikkan.

(bersambung: Membaca Dari Luaran Isi Rundingan Ronde ke 3 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa.)

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway
----------