Sandnes, 15 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RENCONG ACHEH LEBIH TAJAM DARI PEDANG SISINGAMANGARAJA
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

JOHAN PAHLAWAN BERSAMA WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI TEROMBANG-AMBING DALAM HIDUP YANG BERSATU PADU DENGAN SYSTEM HIPOKRIT INDONESIA

Sebelum Nabi Ibrahim memberontak terhadap tatanan Namrud memang telah menasihatinya agar bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Namun tidak pernah digubris oleh Namrud bersama segenap orang-orang yang bersekongkol dengannya. Mereka sombong dengan kekuatannya sebagaimana TNI/POLRI (serigala-serigala haus darah itu) menjombongkan diri dengan rakyat sipil Acheh sekarang ini.

Sebelum nabi Musa dan Harun memberontak terhadap tatanan Fir'aun juga telah menasihatinya agar bertaubat dari ketimpangan-ketimpangannya. Namun nasehat itupun tak pernah digubris oleh Fir'an dan dedongkot-dedongkotnya. Kini Fir'aun itu sudah menjadi simbolisasi kepada siapapun yang sepak terjangnya sama dengannya (baca Sukarno sipenipu licik, Suharto rajanya koruptor, Gusdur yang berasal dari barisan "Bal'am Blour", Megawati sijamu gendong dan sekarang Yudhoyono yang tangannya masih basah dengan lumuran darah rakyat jelata, namun mendapat pengakuan fir'aun-fir'aun internasional bahwa dia bersih dari hal yang demikian)

Sebelum Muhammad bin Abubakar memberontak terhadap Usman bin Affan yang kekuasaannya didominasi Bani Umaiyah dan menjadi permainan Marwan bin Hakam menantu Usman sendiri, juga lebih duluan dinasehati Imam 'Ali bin Abi Thalib (rahimakumullah wajhah). Namun nasehat itupun tak pernah digubrisnya kecuali tipu daya keji yang dimainkan Marwan bin hakam untuk membunuh seluruh rombongan Muhammad bin Abubakar sendiri. Akhirnya rombongn tersebut terpaksa mengepung rumah Usman untuk mempertanggungjawabkan semua politik kotornya terhadap rakyat jelata.

Ketika Imam Hussein bin 'Ali memberontak terhadap tatanan Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sofyan pun lebih dahulu telah dinasehatkan bukan saja kepada Yazid yang terkenal Dhalim itu tapi juga kepada ayahnya Mu'awiyah yang pernah bersekongkol dengan Abu Hurairah dan Abu Darda untuk merebut seorang isteri yang tercantik kala itu agar di ceraikan suaminya untuk dikawinkan dengan Yazid, agar tidak mengangkat anaknya dengan menggunakan fatwa ulama-ulama bal'am, model "Bal'am-bal'am yang aktif berfatwa diketiak Yudhoyono sekarang ini.

Johan Pahlawan ! Ternyata pemberontak-pemberontak itu tidak lain adalah Rasul - Rasul Allah sendiri plus orang beriman (muhammad bin Abubakar) dan Imam ke IV (Hussein bin 'ALI). Mungkinkah Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan yang tulisannya kamu forward, lebih mafhum dari Rasul - rasul Allah sendiri ?

Johan Pahlawan ! Islam sudah begitu lama exis di permukaan bumi ini. Sinar Islam memancar dari rumah Khadijah bin Khuwailid di Mekkah dan berlanglang buana sampai keseluruh antero dunia, menembusi berbagai falsafah dan aliran yang menyesatkan dimanapun diseluruh pelosok dunia ini, bagaikan batu meteor yang jatuh dari bintang Suraiya, menembusi atmosfir Bumi dengan selamat. Namun saksikanlah sekarang sebesar manakah dia yang selamat itu yang masih murni ?

Johan Pahlawan ! Kendatipun Islam sudah begitu jauh perjalanan, orang Islam tetap selamat dunia Akhirat, asal saja tetap memfokuskan pegangannya pada Al Qur-an plus Hadist yang berfilter. Justru orang-orang yang memfokuskan pada sembarangan hadist lah yang terombang-ambing dalam hidupnya sebagaimana umumnya orang-orang yang bersatupadu dalam system hipokrit Indonesia itu.

Andaikata mereka mampu melihat Ayat-ayat Allah dalam surah Al Maidah 44, 45 dan 47 yang kath'i, sungguh tidak akan timbul lagi pikiran-pikiran sesat seperti kalian, menggunakan "Hikayat Musang" sebagai argumentasinya.

Johan Pahlawan ! Argumentasi yang saya kemukakan dalam beberapa alinia diatas membuat kamu harus mampu mengambil kesimpulah bahwa semua "Hadist" yang dikemukakan alim palsu kamu itu adalah palsu.

Johan Pahlawan ! Masak Abu Zar Ghifari, sahabat sejati Rasulullah bersefahaman dengan Muawiyah bin Abu Sofyan sebagaimana hadis yang di angkat "tungku" palsu kamu itu, sementara realitanya Abu Zar Ghifari sangat kontraversi dengan Muawiyah, prototipe Suharto, raja Koruptor di System Thaghut Indonesia Munafiq dan Dhalim, dimana kamu bersekongkol didalamnya. Ingat ! "Simat taloe, sipeh bajoe dan siduek keudroe saban desja"

Mas Johan ! Terlalu banyak "Hikayat Musang" yang kamu forward. Tak cukup waktu bagiku untuk menghantam satu per satu dengan menggunakan aka 47 atau GLM. Ya terpaksa ngebomb sajalah.

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia.
----------

Johan Pahlawan
johan_phl@yahoo.com
wrote:
Penulis : Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan
Kategori : Kitabah
Hukum Memberontak (Perintah menasehati penguasa)
www.salafy.net

Perintah Untuk Menasihati Penguasa, Mendoakan Mereka, Dan Larangan Membongkar Kejelekan Penguasa Di Muka Umum

Dan Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menasihati penguasa kita ketika nampak kemaksiatan-kemaksiatan mereka dan ketika terjadi apa saja yang membutuhkan nasihat.

23. Dari Tamim Ad Dari radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Agama itu nasihat." Maka kami bertanya : "Untuk siapa, ya Rasulullah?" Maka Beliau menjawab : "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk penguasa Muslimin dan umat mereka." (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

24.Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Tiga golongan yang dengannya hati seorang Muslim tidak akan mendendam : Ikhlas dalam beramal untuk Allah, menasihati penguasa, dan menetapi persatuan umat. Maka sesungguhnya doa-doa mereka meliputi dari belakang mereka." (HR. Ashaabus Sunan) Dan Nabi melarang mencela, mencaci para penguasa, dan menyebarkan aib-aib mereka. Beliau memerintahkan untuk menasihati mereka dan mendoakan kebaikannya.

Berkata Imam At Thahawi dalam aqidahnya yang banyak diterima oleh ummat ini: "Kami tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa dan pemimpin kita walaupun ia seorang pemimpin yang jahat. Dan tidak mendoakan kejelekan untuk mereka. Tidak melepaskan tangan dari ketaatan kepada mereka. Karena ketaatan pada mereka termasuk ketaatan kepada Allah dan merupakan kewajiban. Selama tidak diperintahkan kepada yang maksiat. Kita mendoakan untuk mereka kebaikan dan ampunan."

25.Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata, telah melarang kami para pembesar kami dari shahabat Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, mereka berkata : Bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Janganlah kalian mencela pemimpin kalian dan janganlah kalian mendengki mereka, janganlah kalian membenci mereka, bertakwalah kepada Allah, bersabarlah karena urusan ini sudah dekat." (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani)

26.Dari Abi Bakrah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi maka barangsiapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya, barangsiapa yang memuliakan penguasa maka Allah akan memuliakannya." (HR. Ibnu Abi Ashim, Ahmad, At Thayalisi, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

27.Dari Muadz bin Jabal radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Lima hal yang barangsiapa yang melakukan salah satunya maka dia akan mendapat jaminan dari Allah : Siapa yang menjenguk orang sakit, yang mengantar jenazah, yang keluar untuk berperang, atau masuk pada penguasanya ingin menasihatinya dan memuliakannya atau orang yang diam di rumahnya sehingga dengannya selamatlah manusia." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Bazar, Al Hakim, dan At Tabrani)

Rasul menerangkan kepada kita bagaimana tata cara menasihati penguasa. Hendaklah tidak dilakukan di atas mimbar, di hadapan orang banyak.

28.Dari Iyadh bin Ghunaim radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim, dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

29.Dari Ubaidilah bin Khiyar berkata : "Aku mendatangi Usamah bin Zaid radliyallahu 'anhu dan aku katakan : "Kenapa engkau tidak menasihati Utsman bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al Walid?" Maka Usamah berkata : "Apakah kamu mengira aku tidak menasihatinya kecuali harus dihadapanmu? Demi Allah sungguh aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang yang pertama kali membukanya." (Atsar yang shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Tidak ada toleransi sedikitpun dalam syariat ini untuk boleh memberontak pada penguasa ketika mereka tidak mau mendengar nasihat. Bahkan yang ada adalah perintah untuk bersabar, sesungguhnya dosanya akan ditanggung mereka. Barangsiapa yang telah menasihati mereka dan mengingkari kemungkarannya dengan cara yang benar maka ia telah terlepas dari dosa.

30.Dari Wail bin Hujr radliyallahu 'anhu berkata : Kami bertanya : "Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika penguasa kami merampas hak-hak kami dan meminta hak-hak mereka?" Bersabda beliau : "Mendengar dan taatlah kalian pada mereka maka sesungguhnya bagi merekalah balasan amalan mereka dan bagi kalianlah pahala atas kesabaran kalian." (HR. Muslim)

31.Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata : "Bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya, pent.) maka bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku." (HR. Bukhari dan Muslim)

32.Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Kelak akan terjadi para penguasa dan mereka mengumpul-ngumpulkan harta (korupsi­, pent.)." Maka kami bertanya : "Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab : "Tunaikanlah baiat yang pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Allah akan bertanya pada mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian." (HR. Bukhari-Muslim)

33.Dari Mu'awiyah radliyallahu 'anhu berkata, ketika Abu Dzar radliyallahu 'anhu keluar ke Ar Rubdzah beberapa orang Iraq menemuinya dan berkata : "Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orang­orang akan mendatangi kamu dan tunduk kepadamu." Maka Abu Dzar berkata : "Tenang-­tenang wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasul bersabda : 'Kelak akan ada sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa yang menghinakannya maka ia telah membuat kehancuran dalam Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai ia mengembalikan kehancuran umat ini menjadi seperti semula.' (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

34.Dari Abu Dzar radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangiku dan aku dalam keadaan tertidur dalam masjid kemudian beliau berkata : "Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari negerimu?" Aku menjawab : "Aku akan pergi ke Syam!" Beliau bertanya lagi : "Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari Syam?" Aku menjawab : "Aku akan lawan dengan pedangku ya Rasulallah!" Maka beliau bersabda : "Maukah aku tunjukan dengan yang lebih baik dari itu semua dan lebih mencocoki petunjuk? Mendengar dan taatlah dan turutilah kemana pun mereka menggiringmu." (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Ad Darimi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

Demikian juga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan dari menyebarkan aib penguasa dan kesalahannya di atas mimbar-­mimbar dan majlis-majlis karena hal ini akan menyebabkan tersebarnya kejelekan yang dilarang oleh Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya : "Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kejelekan di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui." (QS. An Nur : 19)

35.Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : "Jika berkata seorang laki-laki : 'Manusia telah binasa.' Maka ia orang yang paling binasa diantara mereka." (HR. Muslim) Dan Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang menyebarkan fitnah dan melarang perbuatan yang menyebabkan tersebarnya fitnah sekalipun fitnah tersebut telah tersebar luas. Dan beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa fitnah itu tidak akan membawa kebaikan pada umat. Bahkan beliau juga melarang untuk angkat senjata (melawan penguasa) dan melarang bergabung dengan pemberontak lebih-lebih jika fitnahnya disebabkan masalah dunia.

36.Dari Miqdad bin Aswad radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Sesungguhnya orang yang bahagia itu adalah yang telah menjauhi fitnah dan ketika ditimpa musibah maka ia bersabar, alangkah bahagianya ia." (HR. Abu Dawud. Berkata Al Albani : "Shahih atas syarat Muslim.")

Dalam akhir pembahasan ini saya akhiri kumpulan hadits ini dengan perkataan Imam As Syaukani dalam Sailul Jarar dalam judul Kitabul Baghyi, beliau berkata : "Pemberontak adalah siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin. Pelakunya tercela walaupun bertujuan untuk kemaslahatan Muslimin tanpa dalil dan tanpa menasihatinya terlebih dahulu." Sampai pada ucapan beliau : "Dan tidak boleh memberontak kepada penguasa walaupun mereka pada puncak kedzaliman selama tidak nampak pada mereka kekufuran yang nyata. Hadits-hadits yang menerangkan hal ini mutawatir."

Muhammad Shidiq Hasan Khan juga menukil riwayat yang sama dalam kitab Ar Raudhatun Nadiyah dan Beliau sebutkan juga dalam Kitabul Baghyi 'Alas Sulthani. Dan yang terakhir, aku serukan kepada segenap dai untuk merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya yaitu menasihati para penguasa secara sembunyi-sembunyi. Dan menjauhi tasyhir (membeberkan aib-aib penguasa di hadapan umum, pent.). Dan tidak mendahulukan pendapat siapa pun selain dari pendapat Allah dan Rasul-Nya. Berkata seorang penyair : Tinggalkanlah semua ucapan yang meyelisihi ucapan Muhammad. Seorang tidak merasa aman dalam agamanya seperti yang terancam bahaya. Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan kita semua bisa beramal untuk keridhaan-Nya di atas manhaj Rasul-Nya. Dan agar menjauhkan kita dari fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Ia Maha Mampu untuk melakukan itu semua. Dan semoga shalawat tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, keluarganya, dan shahabatnya. Catatan : Hadits-hadits yang disebutkan di sini telah dishahihkan oleh Muhaddits Al Albani dalam berbagai kitab beliau yang berbeda-beda, sengaja tidak dinukil disini karena khawatir terlalu panjang.

(Dikutip dari buku terjemah berjudul Hukum Memberontak Kepada Penguasa Muslim Menurut Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, judul asli Aqidah Ahlusunnah wal Jama'ah fil Bai'ah wal Imamah, penulis Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan, Penerjemah: Al Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata. Ma'had Riyadlul Jannah: Kp. Cikalagan RT 10/02 Telp. (021) 82495739 Cileungsi-Bogor-Indonesia)
---------