Stockholm, 22 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YUDHOYONO KELUARKAN LICENCE TO KILL BAGI TNI YANG DITUGASKAN DI ACHEH UNTUK BUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO KELUARKAN LICENCE TO KILL BAGI PASUKAN TNI UNTUK MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH YANG TELAH SADAR UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI

Yang masih menjadi pertanyaan besar adalah apakah memang benar Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla ingin mencapai perdamaian yang abadi di Acheh melalui jalur perundingan ?

Ternyata jawabannya adalah pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang ditunjang oleh TNI-nya hanya menginginkan tanah Acheh bukan rakyat Acheh. Mengapa ?

Karena pihak Susilo Bambang Yudhoyono telah meniru film 007 dengan licence to kill-nya yang diterapkan dan dijalankan oleh anak buahnya dari pasukan TNI yang ditugaskan dan dikirimkan ke Acheh. Dimana tujuan pasukan TNI di Acheh adalah untuk membunuh dengan dasar licence to kill-nya Susilo Bambang Yudhoyono.

Adapun Jusuf Kalla, memang mau damai di Acheh, tetapi ia tidak berkutik menghadapi senjatanya Djoko Santoso, Endriartono Sutarto, dan Supiadin Yusuf Adi Saputra.

Rakyat Acheh tidak diperlukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya. Yang diperlukan dan yang akan tetap dipertahankan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya adalah tanah negeri Acheh. Rakyat Acheh tidak menjadi persoalan kalau semuanya dibunuh, asalkan tanah Acheh jangan sampai dilepaskan kembali ketangan rakyat Acheh.

Tentu saja rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bisa saja dibunuh dan dihabiskan oleh TNI-nya Djoko Santoso, Endriartono Sutarto, dan Supiadin Yusuf Adi Saputra, tetapi cita-cita perjuangan untuk menuntut kemerdekaan Acheh tetap menggelora di setiap dada rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri dimanapun berada. Cita-cita dan semangat perjuangan untuk kemerdekaan negeri Acheh inilah yang tidak bisa dihapus dan dimusnahkan dari setiap dada-dada rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri di muka bumi ini.

Kemudian pasukan TNI dibawah komando Endriartono Sutarto, Djoko Santoso, dan Supiadin Yusuf Adi Saputra dengan surat izin membunuh keluaran Susilo Bambang Yudhoyono yang dipakai dasar untuk membunuh rakyat muslim Acheh akan terus merajalela, walaupun pihak Susilo Bambang Yudhoyono telah mencabut Darurat Sipil digantikan dengan Tertib Sipil.

Perubahan status dari Darurat Sipil menjadi Tertib Sipil hanya berlaku diatas kertas saja, karena dilapangan itu yang memegang peranan adalah pihak TNI dibawah perintah Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra atas perintah Jenderal TNI Endriartono Sutarto dan Letjen TNI Djoko Santoso orang Jawa itu.

Seterusnya dengan adanya licence to kill atau surat izin membunuh yang diberikan kepada para serdadu TNI yang ditugaskan di Acheh ini yang bisa menghambat perdamaian di Acheh. Disamping adanya pihak Eksekutif yang didominasi oleh PD dan Golkar, juga Legislatif yang didominasi oleh kaum PDI-P dan Golkar yang hanya menginginkan tanah Acheh, bukan rakyat Acheh.

Karena itu, perundingan antara ASNLF - RI di Finlandia yang masih terus berlangsung seperti yang akan dilanjutkan dalam perundingan putaran ke-4 dari 26 - 31 Mei 2005 mendatang ini, jelas kalau ditelusuri lebih mendalam tidak akan menghasilkan keputusan yang mengarah kepada perdamaian di Acheh, karena memang dari sejak awal pihak Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya hanya menginginkan tanah Acheh, bukan rakyat Acheh.

Lihat saja, itu Sofyan Djalil kacungnya Susilo Bambang Yudhoyono tetap saja dengan lembaran gombal UU No.18/2001 tentang otonomi khusus Acheh-nya itu yang diacung-acungkan didepan hidung para pejuang rakyat muslim Acheh.

Dengan alasan tidak bisa merobah konstitusi gombal UUD 1945, maka itu konsepsi self-government yang disodorkan oleh pihak ASNLF tidak bisa diterima. Dan hanya isi yang menyangkut masalah pembagian hasil gombal saja yang bisa diterima. Seperti misalnya pembagian hasil minyak bumi dan gas alam. Sedangkan yang menyangkut struktur pemerintah Acheh dan mekanisme pemilihan didalamnya jelas ditolak mentah-mentah, dengan alasan itu akan merobah konstitusi gombal UU 1945.

Nah, tindakan pihak Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI dan para kacungnya tersebut diatas itu adalah karena memang dari sejak awal yang dikehendaki oleh mereka adalah hanya tanah Acheh. Dimana tanah Acheh lebih penting dari pada rakyat Acheh. Sehingga itu rakyat Acheh dalam pandangan mereka tidak mengapa kalau dibunuh dan dihabiskan. Karena untuk penggantinya bisa dengan mudah didatangkan orang-orang transmigran dari luar Acheh.

Inilah taktik dan strategi Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya di Acheh.

Nah, selama taktik dan strategi Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya di Acheh seperti yang digambarkan diatas, maka tidak akan mungkin bisa dicapai persetujuan dalam perundingan di Finlandia ini.

Bagaimana bisa mencapai persetujuan kalau Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya tetap menginginkan tanah Acheh, bukan rakyat Acheh bersama.

Oleh sebab itu Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dengan seenaknya mengesampingkan apa yang tertulis dalam Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2005 Tentang Penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Acheh dan digantikan dengan Tertib Sipil. Endriartono Sutarto hanya menfokuskan kepada masalah bagaimana agar tanah Acheh tetap bisa dipertahankan.

Jenderal-jenderal TNI orang Jawa ini dengan mengandalkan mayoritasnya melihat itu rakyat Acheh bisa saja dengan seenak udel sendiri dibunuh dan dihancurkan agar supaya tanah Acheh tetap dalam dekapan hantu mbah Soekarno dan para penerusnya. Jenderal-jenderal TNI orang Jawa ini telah menjadikan para kacungnya seperti Sofyan Ali cs yang ada di Acheh untuk membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar dan sekaligus kelompok kacungnya TNI ini dijadikan alat senjata propaganda kosong TNI dan alat untuk memecah belah rakyat Acheh.

Tetapi, tentu saja, cita-cita untuk merdeka tetap terus menggelora dalam setiap dada para pejuang rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Jadi, tidak ada gunanya itu pihak Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya mau damai di Acheh, kalau memang yang dikehendaki bukan perdamaian bagi seluruh rakyat Acheh, melainkan hanya ingin tanah Acheh saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------