Stockholm, 25 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BIMO MELAMBUNGKAN AMPAS HASIL PERASAN MITOS MBAH SOEKARNO JAWA PENIPU LICIK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BIMO TEJOKUSUMO MASIH TERUS MELAMBUNGKAN AMPAS HASIL PERASAN MITOS MBAH SOEKARNO JAWA PENIPU LICIK

"Mbah, jadi posisinya sampeyan di sini sebagai apa? bukan Aceh, bukan WNI, bukan GAM, jangan-jangan bukan-bukan. Ahmad Sudirman bukan Sunda, bukan Jawa, bukan Aceh, bukan Indonesia, bukan-bukan. itu orang GAM pingin merdeka karena merasa Aceh adalah paling hebat, lha Ahmad Sudirman itu orang mana? kok tiba-tiba merasa sebagai Aceh? lha wong Aceh sendiri merasa seperti yahudi gitu lho, Aceh adalah paling top dan benar sendiri. Jadi ustadz Ahmad Sudirman adalah kesepian yg nyari teman, alienasi. Sayang, Ahmad Sudirman lebih sering memaki ketimbang diplomasi. Tapi masuk akal, Ahmad Sudirman adalah bukan-bukan: bukan Aceh, bukan Jawa, bukan Sunda, bukan Indonesia, bukan Swedish, bukan-bukan." (bimo tejokusumo bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk , Wed, 25 May 2005 10:19:12 +0100 (BST))

Baiklah Bimo Tejokusumo di Malmo, Swedia.

Bimo yang sedang memakan bangku universitas Malmo ini makin hari makin kelihatan otaknya terus makin kosong dimakan racun gumpalan tipuan mitos-Acheh-RI-Jawa-Yogya-nya mbah Soekarno penipu licik.

Bagaimana bisa lulus dengan baik kalau otak Bimo ini seperti otak udang.

Coba saja perhatikan apa yang ditulis Bimo Tejokusumo orang Jawa satu diatas itu yang ditujukan kepada Ahmad Sudirman dalam rangka untuk menjatuhkan dan mematahkan argumentasi yang telah disodorkan dan dijelaskan Ahmad Sudirman tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh.

Nah, setelah dibaca hasil perasan otak Bimo yang otak udang itu, ternyata isinya gombal alias keropos. Mengapa ?

Karena, apa yang dijadikan argumentasi Bimo itu tidak sedikitpun ditunjang oleh fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat yang bisa mematahkan argumentasi dan penjelasan yang telah dlambungkan Ahmad Sudirman tentang Acheh yang ditelan, disantap, dicaplok, dianeksasi dan diduduki oleh mbah Soekarno penipu licik dengan RIS dan RI-nya.

Masa itu Bimo untuk membantah argumentasi Ahmad Sudirman hanya cukup dengan menulis: "Mbah, jadi posisinya sampeyan di sini sebagai apa? bukan Aceh, bukan WNI, bukan GAM, jangan-jangan bukan-bukan. Ahmad Sudirman bukan Sunda, bukan Jawa, bukan Aceh, bukan Indonesia, bukan-bukan."

Coba perhatikan, itu jawaban argumentasi Bimo yang menyuruk di Malmo, Swedia ini adalah benar-benar kosong molongpong alias gombal.

Ya, jelas, Ahmad Sudirman adalah seorang muslim yang mukmin dari bangsa Sunda dan sejak 1986 telah diterima sebagai warga negara Kerajaan Swedia karena kewarganegaraan Indonesia Ahmad Sudirman dicabut oleh raja koruptor jenderal TNI budek mbah Soeharto dengan kacung Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim tahun 1981.

Itulah identitas Ahmad Sudirman. Lalu posisi Ahmad Sudirman sekarang adalah berada di garis warga Kerajaan Swedia yang telah sadar untuk membantu dan menyokong perjuangan rakyat muslim Acheh yang tanah Negeri-nya dianeksasi, ditelan, diduduki oleh mbah Soekarno penipu licik dengan RIS dan RI-nya sejak 14 Agusus 1950 dan diteruskan oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono orang Jawa dengan TNI-gombalnya dibawah Djoko Santoso, Endriartono Sutarto dan Supiadin Yusuf Adi Saputra, dengan didasari oleh dasar hukum internasional Pernyataan Umum Hak-Hak Asasi Manusia.

Jadi sekarang, sudah jelas kelihatan dengan nyata status, posisi, suku, bangsa, warga, hukum yang dimiliki Ahmad Sudirman.

Hanya orang budek seperti Bimo Tejokusumo orang Jawa satu ini saja yang tidak bisa mengetahui tentang posisi, suku, bangsa, warga, hukum yang dimiliki Ahmad Sudirman sekarang ini. Sehingga tanpa disadari itu Bimo bercuap dengan tujuan menyerang Ahmad Sudirman, tetapi setelah digali isinya, rupanya hanya merupakan tali rapuh model cerita mitos ciptaan mbah Soekarno penipu licik tentang bangsa yang dilabelkan kepada Indonesia.

Kemudian, itu bangsa Acheh, ya, jelas, mereka menganggap bahwa Negerinya diduduki dan dijajah RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-budeknya itu. Dan memang sudah seharusnya itu rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri berjuang sebagaimana endatu mereka memperjuangkan kemerdekaan Negeri Acheh yang dijajah RI ini.

Dan Ahmad Sudirman, jelas dari sejak awal tidak menganggap diri sebagai Acheh, tetapi Ahmad Sudirman sebagai seorang muslim yang mukmin dari Sunda menyokong dan membantu perjuangan rakyat Acheh untuk mencapai kemerdekaan tanah Negeri Acheh.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman membantu dan menyokong perjuangan rakyat Acheh untuk mencapai kemerdekaan Negeri Acheh, itu tidak sama dengan Ahmad Sudirman merasa sebagai Acheh.

Itu yang Bimo lambungkan bahwa Ahmad Sudirman merasa sebagai Acheh adalah salah besar. Tetapi kalau dikatakan bahwa Ahmad Sudirman merasakan penderitaan rakyat Acheh yang tanah Negeri Acheh diduduki dan dijajah RI, itu memang benar dan cocok.

Nah, merasakan penderitaan rakyat Acheh yang tanah Negeri Acheh dijajah RI, itu tidak sama dengan apa yang dikatakan Bimo bahwa Ahmad Sudirman merasa sebagai Acheh.

Kemudian, kalau itu bangsa Acheh merasa benar bahwa tanah Negerinya dijajah RI, memang diterima oleh akal. Karena memang menurut fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum itu pihak Soekarno dengan RIS dan RI-nya menelan, mencaplok, menganeksasi, menduduki dan menjajah Acheh sampai detik sekarang ini.

Jadi, kalau kalian Bimo mampu membantahnya, coba bantah dengan menampilkan semua argumentasi kalian. Tetapi, sampai detik ini, kalian Bimo tidak secuilpun menampilkan argumentasi kalian untuk mempertahankan kejahatan mbah kalian Soekarno Jawa penipu licik itu yang telah menelan, mencaplok, menduduki tanah Negeri Acheh.

Seterusnya kalian Bimo menyatakan: "Jadi ustadz Ahmad Sudirman adalah kesepian yg nyari teman, alienasi. Sayang, Ahmad Sudirman lebih sering memaki ketimbang diplomasi. Tapi masuk akal, Ahmad Sudirman adalah bukan-bukan: bukan Aceh, bukan Jawa, bukan Sunda, bukan Indonesia, bukan Swedish, bukan-bukan."

Jelas, Ahmad Sudirman tidak kesepian. Apa pula Ahmad Sudirman kesepian. Sudah lebih dari seperempat abad Ahmad Sudirman ada diluar menghadapi mbah-mbah Jawa sana itu. Sebagai seorang muslim yang mukmin mana ada istilah yang namanya kesepian, dimanapun bumi Allah SWT.

Seterusnya, apa yang dilambungkan Bimo: "Ketika Aceh merdeka, Ahmad Sudirman bakalan dilupakan. Ketika Aceh rukun dg saudara muslim di Indonesia, Malaysia, Ahmad Sudirman tetap saja di Swedia. Soalnya bukan-bukan: bahkan kelompok bukan pun menolaknya. Jadi, teruslah memaki dan mencaci, karena hanya dengan begitu hidup Ahmad Sudirman tidak lagi sepi, alienasi dan sunyi."

Jelas, Ahmad Sudirman menyokong dan membantu perjuangan rakyat Acheh untuk meraih kemerdekaan tanah airnya adalah didorong oleh perasaan ikhlas, tanpa ada pamrih apapun. Jadi, kalau itu rakyat Acheh mendapatkan kembali tanah Negeri Acheh dari tangan penjajah RI, Ahmad Sudirman merasa bersyukur kepada Allah SWT. Apakah Ahmad Sudirman akan diingat atau tidak diingat, diterima atau ditolak, itu bukan tujuan. Yang paling penting adalah Ahmad Sudirman telah berusaha untuk membantu rakyat Acheh yang tanah Negeri-nya dianeksasi dan diduduki RI dengan melalui pembukaan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang penelanan, pencaplokan, pendudukan pihak Soekarno dengan RIS dan RI-nya terhadap tanah negeri Acheh secara ilegal, tanpa direstui, tanpa disetujui, dan tanpa direlakan oleh seluruh rakyat dan pimpinan rakyat Acheh.

Terakhir, kalau Ahmad Sudirman menyatakan budek kepada TNI pembunuh rakyat muslim Acheh itu namanya bukan mencaci. Mengapa ? Karena memang fakta dan buktinya benar, karena itu kerja algojo TNI di Acheh memang ditugaskan untuk membunuh. Jadi memang mereka TNI itu pada budek alias tuli. Itu masih lumayan dikatakan budek atau tuli. Juga kalau Ahmad Sudirman mengatakan gombal kepada Bimo yang tidak mampu memberikan argumentasi yang kuat tentang legalisasi Acheh dimasukkan kedalam sangkar RI, memang itu benar adanya. Masih lumayan Bimo dikatakan gombal alias kosong otaknya. Jadi, kalau Ahmad Sudirman mengatakan budek dan gombal itu bukan memaki atau mencaci, melainkan karena memang benar fakta dan buktinya. Masa orang tuli tidak mau mendengar mau disebut sebagai orang yang mau mendengar. Atau orang yang otaknya kosong mau disebut dengan orang yang bijaksana dan mau mengerti.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 25 May 2005 10:19:12 +0100 (BST)
From: bimo tejokusumo bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Subject: Re: OMAR PUTEH: PLUS I + MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 ACHEH SUMATRA - INDONESIA JAWA DARI LUARAN
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Mbah, jadi posisinya sampeyan di sini sebagai apa? bukan Aceh, bukan WNI, bukan GAM, jangan-jangan bukan-bukan. Ahmad Sudirman bukan Sunda, bukan Jawa, bukan Aceh, bukan Indonesia, bukan-bukan. itu orang GAM pingin merdeka karena merasa Aceh adalah paling hebat, lha Ahmad Sudirman itu orang mana? kok tiba-tiba merasa sebagai Aceh? lha wong aceh sendiri merasa seperti yahudi gitu lho, Aceh adalah paling top dan benar sendiri.

Jadi ustadz Ahmad Sudirman adalah kesepian yg nyari teman, alienasi. Sayang, Ahmad Sudirman lebih sering memaki ketimbang diplomasi. Tapi masuk akal, Ahmad Sudirman adalah bukan-bukan: bukan Aceh, bukan Jawa, bukan Sunda, bukan Indonesia, bukan Swedish, bukan-bukan.

Ketika Aceh merdeka, Ahmad Sudirman bakalan dilupakan. Ketika Aceh rukun dg saudara muslim di Indonesia Malaysia, Ahmad Sudirman tetap saja di Swedia. Soalnya bukan-bukan: bahkan kelompok bukan pun menolaknya. Jadi, teruslah memaki dan mencaci, karena hanya dengan begitu hidup Ahmad Sudirman tidak lagi sepi, alienasi dan sunyi.

Bimo Tejokusumo

bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Malmo, Swedia
----------