Stockholm, 27 Mei 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


STRATEGI LAKSONO PECAHKAN ACHEH DALAM SANGKAR BURUNG GARUDA NKRI DARIPADA RAKYAT ACHEH BERDIRI SENDIRI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KELIHATAN DENGAN JELAS KETUA DPR, AGUNG LAKSONO ORANG JAWA  DARI GOLKAR JALANKAN STRATEGI  PECAHKAN ACHEH DALAM SANGKAR BURUNG GARUDA NKRI DARIPADA RAKYAT ACHEH BERDIRI SENDIRI

 

Taktik dan strategi Ketua DPR, Agung Laksono orang Jawa dari Golkar-nya Jusuf Kalla ini telah membuat satu usaha untuk mempertahankan tanah Acheh yaitu melalui cara lebih baik memecah tanah Acheh menjadi dua bagian yang tetap dalam Negara sangkar burung garuda RI daripada tanah Acheh diserahkan kembali kepada seluruh rakyat Acheh yang berhak untuk mengaturnya diatas kaki rakyat Acheh sendiri.

 

Melalui usaha lembaga DPR dan orang-orang model Agung Laksono orang Jawa ini untuk membahas Rancangan Undang Undang yang salah satunya menyangkut masalah pemekaran wilayah tanah Acheh. Jelas usaha itu menunjukkan pihak DPR telah merancangkan satu taktik dan strategi untuk tetap bisa menguasai tanah Acheh agar tetap berada dalam Negara sangkar burung garuda RI, yakni dengan cara memecah belah Acheh menjadi dua bagian.

 

Usaha pecah belah tanah Acheh ini memang telah mencuat lama keatas permukaan, apalagi setelah pihak orang-orang Jawa pendatang yang ada di wilayah Acheh Tengah, disekitar Takengon, pusat suku Gayo, bekerjasama dengan suku Gayo dan membentuk Jago (Jawa - Gayo) yang dihembusi oleh TNI, untuk mengobarkan api permusuhan perang saudara di Acheh guna dijadikan alat pelemah dan pemukul perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Taktik dan strategi gila dari Agung Laksono orang Jawa ini memang sangat didukung oleh pihak TNI yang juga mempunyai kepentingan yang sama di Acheh, yaitu untuk bisa meneruskan kelangsungan hidup TNI dengan tetap memelihara konflik berkepanjangan di Acheh.

 

Nah, dengan timbulnya bara api Jago vs Acheh yang dihembuskan oleh pihak TNI dan sudah direncakan oleh pihak DPR seperti Agung laksono orang Jawa satu inilah yang melahirkan pertentangan bersenjata dan menimbulkan korban diantara rakyat yang ada di tanah Acheh Tengah ini.

 

Dengan adanya hembusan TNI dan orang-orang Jawa yang ada di Acheh Tengah inilah mendorong suku Gayo yang bersekutu dengan suku Jawa di Acheh Tengah untuk memisahkan diri dari wilayah Acheh guna membentuk wilayah Acheh Tengah menjadi wilayah tersendiri yang disokong penuh oleh pihak TNI melalui jalan melawan pihak suku Acheh khususnya yang dipimpin oleh ASNLF (Acheh Sumatera National Liberation Front).

 

Selanjutnya suku Gayo bukan hanya bergabung dengan pendatang suku Jawa ini saja, melainkan juga bergabung dengan Suku Alas yang menguasai Acheh Tenggara ditambah dengan suku Singkil dari wilayah Singkil, Acheh Selatan untuk membuat tali kesatuan guna membangun wilayah sendiri bebas dari wilayah Acheh. Dimana orang-orang dari suku Gayo, Alas dan Singkil ini merasa bukan orang Aceh dan siap membentuk wilayahnya sendiri yang dinamakan wilayah Leuser Antara. Leuser adalah nama gunung yang tingginya 3149 meter yang terletak di antara Acheh Tenggara dan Acheh Selatan. Gunung Leuser kelihatan berdiri tegak seperti penjaga antara suku Gayo di Acheh Tengah dan suku Alas di Acheh Tenggara.

 

Dan memang dengan dipecahnya tanah Negeri Acheh menjadi dua bagian, maka makin memberikan kekuasaan kepada orang-orang penerus Soekarmo penipu licik dan penjajah Acheh seperti Agung laksono dan konco-konconya untuk tetap menancapkan kukunya ditanah Acheh.

 

Itu Agung Laksono orang Jawa satu itu dengan melihat sekilas sejarah Gayo di Acheh ini telah dijadikan sebagai pisau untuk membelah Acheh menjadi dua bagian yang tetap berada dalam ikatan bineka tunggal ika-nya mpu Tantular dari hindu Majapahit-nya.

 

Dimana di Acheh memang benar telah tinggal dan hidup berbagai suku, baik itu suku pendatang dari luar Acheh ataupun suku-suku yang ada di Acheh itu sendiri. Disamping suku Acheh, ada suku Gayo yang hidup dan tinggal di Acheh Tengah dan Acheh Timur. Dimana suku Gayo ini juga terbagi kedalam dialek, seperti suku Gayo Lut yang berdomisili di daerah Danau Lut Tawar, suku Gayo Luwes, suku suku Gayo Linge, suku Gayo Seberjadi yang tinggal disekitar Lokop juga sampai ke Acheh Timur dan suku Gayo Johar di Sumatera Timur. Suku Alas di Acheh Tenggara, suku Simeulue di Pulau Simeulue, suku Singkil di Acheh Singkil, suku Tamiang, suku Anek Jamee. Sedangkan pendatang dari luar Acheh seperti dari Jawa, Sunda, Minangkabau, Makasar, Palembang, Arab, China, dan India. Bagi orang-orang pendatang yang asalnya dari Jazirah Arab, mereka banyak yang memakai nama Said dan Habib. Adapun yang datang dari India kebanyakan datang dari wilayah Gujarat di India.

 

Adapun menyinggung suku Gayo ini memang mereka telah memiliki kerajaan yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan Kerajaan Linge. Dimana Kerajaan Linge ini dibangun pada tahun 416 H / 1025 M di Buntul Linge dengan raja pertamanya, Adi Genali atau yang dinamakan juga dengan Kik Betul, yang mempunyai empat orang putra yaitu Sibayak Linge, Empuberu, Merah Johan, Merah Linge. Dimana Raja Linge I mewariskan sebilah pedang dan cincin permata kepada keturunannya. Dimana cincin permata itu berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah yang berkuasa pada tahun 1012 M -1038 M. Ketika Adi Genali membangun Kerajaan Linge dibantu oleh perdana menteri Syeikh Sirajuddin yang bergelar Thjik Serule.

 

Dimana pada tahun 1292 Marco Polo sekembali dari perjalanan ke Tiongkok atau China sekarang, pernah singgah di Peureulak dan menemukan penduduk Peureulak telah memeluk Islam. Ada juga penduduk yang tidak bersedia masuk Islam, berpindah ke pedalaman. Dimana dipedalaman itu didapatkan satu kerajaan kecil dan laut kecil.

 

Nah dari apa yang tergali dalam sejarah singkat Kerajaan Linge yang dibangun oleh Adi Genali ini membuktikan memang suku Gayo ini memiliki sejarah yang panjang. Sebagaimana sejarah Kesultanan Samudera Pasai yang dibangun oleh Merah Silu yang berkuasa antara tahun 1275 M - 1297 M yang berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh setelah memeluk Islam. Juga Kesultanan Acheh yang dibangun pertama kali di wilayah Acheh paling utara oleh Sultan Johan Syah pada abad 12, sekitar tahun 601 H / 1205 M.

 

Dan sejalan dengan perkembangan sejarah, Sultan Ali Mughayat Syah yang menguasai Kesultanan Acheh dari tahun 1514 M - 1528 M berhasil menyatukan Kesultanan Samudra Pasai kedalam wilayah kekuasaan Kesultanan Acheh pada tahun 1524 M, yaitu satu tahun sebelum Kerajaan Majapahit dihancurkan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1525 M.

 

Kemudian pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H / 3 April 1607 M, Iskandar Muda dinobatkan sebagai Sultan. Dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda inilah Benteng Deli bisa ditembus dan diduduki. Daerah Natal, Tiku, Pariaman dan Pulau Nias diduduki. Johor dikuasi pada tahun 1613, Pahang dikuasai pada tahun 1618, Kedah dikuasai pada tahun 1619 dan Tuah dikuasai pada tahun 1620. Jadi ketika masa Sultan Iskandar Muda berkuasa inilah wilayah Kesultanan Acheh meluas yang asalnya disekitar Acheh bagian utara meluas sampai melingkupi Sumatera, Pulau Nias, semenanjung Malaka, Johor, Pahang dan Kedah. Sultan Iskandar Muda wafat pada 29 Rajab 1046 H / 27 Desember 1636.

 

Nah, disaat Sultan Iskandar Muda inilah itu Sumatera berada dibawah kekuasaan Kesultanan Acheh, termasuk didalamnya Kerajaan Linge yang dibangun oleh Adi Genali dan para keturunannya yang terletak di daerah Gayo di Acheh Tengah dengan wilayah laut tawarnya.

 

Dan tentu saja bisa dimengerti bahwa memang suku Gayo yang memiliki sejarah kerajaan Linge-nya ini merasa bukan bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Acheh. Dan suku Gayo ini merasa diduduki oleh pihak Sultan Iskandar Muda. Dan memang bisa dimengerti juga bahwa suku Gayo adalah merasa sebagai suku minoritas yang berbeda kebudayaannya dengan budaya suku Acheh. Dimana menurut para akhli antropologi, itu budaya suku Gayo ini dikelompokkan kedalam budaya suku Batak. Karena terbukti dalam kenyataannya bahasa dan adat istiadat suku Gayo, seperti kesenian Didong dengan bahasa Gayo, Pepongoten, Sebuku, melengkan, munenes, saer adalah berbeda dengan seni budaya yang ditampilkan oleh suku Acheh

 

Memang persoalan sejarah, suku, budaya, adalah sangat besar berpengaruh dalam kehidupan manusia, bukan hanya di Acheh saja, tetapi juga diluar wilayah Acheh. Karena itu bisa dimengerti bahwa kalau suku Gayo, Alas, dan Singkil merasa berbeda dengan suku Acheh yang mayoritas. Dan tentu saja, adanya sikap dari suku Gayo yang berpusat di Takengon, suku Alas yang berpusat di Kutacane, dan suku Singkil yang berpusat di Singkil ini memang harus dihormati dan perlu dijaga.

 

Permasalahannya sekarang yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya antara suku Acheh yang mayoritas dan suku Gayo, Alas, dan Singkil untuk bersatu mengarahkan perjuangan kepada pembebasan Negeri Acheh dari pendudukan dan penjajahan RI. Karena kalau pihak suku Gayo, Alas, dan Singkil ini bersatu hanya untuk pembentukan wilayahnya sendiri dengan membentuk provinsi sendiri, tetapi masih tetap berada dalam payung Negara sekuler burung garuda RI, maka sudah jelas itu usaha yang menguntungkan pihak penjajah RI dengan TNI-nya.

 

Karena bisa jadi, melihat dari keuntungan dan kerugiannya, itu pihak penjajah RI, lebih baik membagi Acheh menjadi dua provinsi, ketimbang memberikan Acheh kepada suku Acheh yang mayoritas di Acheh.

 

Tetapi, kalau memang suku Gayo, Alas, dan Singkil ini bersatu dengan suku Acheh memperjuangkan Negeri Acheh yang telah dipersatukan oleh Sultan Iskandar Muda, walaupun suku Gayo, Alas, dan Singkil merasa wilayah kerajaan Gayo Linge berada dibawah pendudukan Sultan Iskandar Muda, maka persoalan perbedaan sejarah, suku, budaya ini bisa dipecahkan dan diselesaikan bersama secara kekeluargaan Islam dan ukhuwah Islamiyah.

 

Yang jelas usaha yang pertama adalah berjuang membebaskan Negeri Acheh dari pendudukan dan penjajahan RI. Setelah itu persoalan diantara suku Acheh dengan suku Gayo, Alas, dan Singkil bisa diselesaikan melalui jalur musyawarah dan kekeluargaan Islam.

 

Tetapi sekali lagi, kalau memang suku Gayo, Alas, dan Singkil ini hanya ingin memisahkan diri dari wilayah Acheh dan membentuk wilayah provinsi sendiri dan tetap berada dalam wilayah kekuasaan Negara burung garuda RI, maka jelas itu usaha suku Gayo, Alas, dan Singkil justru akan menguntungkan pihak RI dengan TNI-nya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------