Stockholm, 29 Mei 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA BUAT ALASAN GOMBAL UNTUK PERTAHANKAN 50.000 PASUKAN NON-ORGANIK TNI TETAP MENDUDUKI ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA PUTAR-PUTAR TERUS UNTUK MEMBUAT ALASAN GOMBAL GUNA PERTAHANKAN 50.000 PASUKAN NON-ORGANIK TNI AGAR TETAP BISA MENDUDUKI TANAH NEGERI ACHEH

 

"Mana ada satu sama lain mau mengakui kebenaran pihak lawa dalam konflik. tidak ada, yang ada walau busuk sekalipun yang dipihaknya / kelompokanya pasti akan dikatakan yang paling benar / baik end press, walau semua udah tahu kalau hal itu merupakan kelicikan kelompok dalam konflik. Bukankah begitu bung Dirman?. Soal TNI yang masih terus melakukan operasi keamanan, saya kira itu wajar-wajar aja. sebagai TNI yang punya tanggung jawab keamanan atas negara melakukan patroli, menangkap kelompok tertentu yang mengacau keamanan dan meneror warga itupun lagis, karena dinegara manapun juga begitu aturan mainnya. Kalau ada kelompok yang merasa dirugikan dengan akfitnya aparat keamanan, itu juga biasa, mana ada pengacau / peneror keamanan sejalan dengan aparat keamanan. Sebaiknya akalau tidak mau berurusan dengan aparat keamanan negara yaaa.. tidak usah bikin ulah, begitu kan bung .” (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , : Sun, 29 May 2005 01:42:19 -0700 (PDT))

 

Baiklah Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara.

 

Dharminta dalam hal menyelesaikan konflik Acheh ini harus benar, jujur dan adil. Jangan main tipu dan licik untuk kepentingan pihak RI dengan TNI-nya saja. Konflik Acheh ini telah berlangsung lebih dari setengah abad. Bukan baru kemaren timbulnya konflik Acheh ini.

 

Dan masalahnya karena kalian Dharminta dan TNI gombal kalian tetap saja ingin terus menduduki wilayah tanah Negeri Acheh. Alasan hukum, fakta, bukti dan sejarah yang kalian pakai ternyata setelah dikupas sampai keakar-akarnya, terbukti tidak kuat. Dan terbukti kalian sendiri Dharminta tidak mampu menyodorkan dan mengajukan alasan baru kalian yang bisa dijadikan dasar hukum bagi penguatan Soekarno yang telah menelan, menganeksasi, menduduki dan menjajah tanah Negeri Acheh.

 

Lihat saja dari awal kalian dan keroco kalian, baik itu dari kalangan TNI ataupun kalangan sipil yang ada di negara sekuler RI, ternyata tidak ada seorangpun yang bisa memberikan dasar hukum yang kuat dengan ditunjang oleh fakta, bukti, sejarah yang bisa memberikan secara meyakinkan dan secara hukum bahwa tanah Negeri Acheh itu sah dan legal dimasukkan kedalam sangkar RIS dan sangkar burung garuda RI-nya mbah Soekarno melalui plebisit.

 

Nah, ketidak mampuan kalian dan keroco kalian dalam hal pembuktian secara legal tanah Negeri Acheh dimasukkan kedalam tubuh RIS dan RI inilah yang membuat kalian terus menerus memakai cara lain yaitu dengan metode militer dengan TNI gombalnya. Itulah memang cara kalian Dharminta dan TNI kalian untuk terus menguasai Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan.

 

Misalnya, ketika ditanyakan mengapa itu para Jenderal TNI budek itu tetap saja mempertahankan pasukan non-organik TNI yang jumlahnya lebih dari 50.000 personil di Acheh ?

 

Ternyata kalian tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi seluruh rakyat Acheh dalam rangka pencarian solusi damai di Acheh.

 

Kalau hanya alasan seperti yang kalian Dharminta lambungkan: ”Soal TNI yang masih terus melakukan operasi keamanan, saya kira itu wajar-wajar aja. sebagai TNI yang punya tanggung jawab keamanan atas negara melakukan patroli, menangkap kelompok tertentu yang mengacau keamanan dan meneror warga itupun lagis, karena dinegara manapun juga begitu aturan mainnya”

 

Nah, itu jawaban kalian Dharminta adalah jawaban yang gombal alias keropos atau kosong molongpong. Mengapa ?

 

Karena, kalau memang benar itu Supiadin Yusuf Adi Saputra dan Djoko Santoso juga Endriartono Sutarto ingin menimbulkan dan menciptakan suasana aman dan damai di Acheh, itu mereka harus menyadari bahwa dengan dikirimkannya segudang pasukan non-organik TNI ke Acheh dengan alasan untuk mengamankan Acheh dari pasukan TNA yang tidak sebanding bila dibandingkan dengan jumlah pasukan TNI itu, adalah suatu usaha yang benar-benar gombal dan keropos dan penuh penipuan saja. Pasukan TNA yang 1.400 pasukan itu tidak perlu harus dihadapi dan dilawan dengan 50.000 pasukan non-organik TNI yang katanya sudah dilatih jungkir jumpalik berbulan-bulan sebelum diterjunkan ke Acheh.

 

Kan, gombal itu alasan Endriartono Sutarto dan Djoko Santoso hanya sekedar untuk mempertahankan dari kekuatan pasukan TNA yang 1.400 pasukan harus tetap itu pasukan non-organik TNI gombal yang jumlahnya lebih dari 50.000 tidak ditarik dari tanah wilayah Negeri Acheh.

 

Apalagi itu Susilo Bambang Yudhoyono telah menyatakan wilayah Acheh wilayah Tertib Sipil. Apakah kalian Dharminta dan keroco TNI di Acheh tidak mengerti dan memahami apa itu arti dari Tertib Sipil ? Ataukah kalian membuat peraturan Tertib Sipil hanyalah sebagai kedok saja untuk terus menduduki dan menjajah tanah Negeri Acheh, sehingga itu Endriartono Sutarto tetap saja mempertahankan kekuatan begundal TNI-nya yang segudang di tanah wilayah Acheh. Paling hanya diganti secara bergiliran saja. Ditarik lima ratus pasukan ditukar oleh lima ratus gombal pasukan TNI lainnya. Kan budek itu namanya. Jadi itu di tanah Acheh hanya dijadikan sebagai tempat latihan pembunuhan dan laboratoriun pendidikan pasukan TNI gombal kalian saja agar tetap hidup tubuh dan syaraf TNI itu.

 

Dharminta, apakah itu aturan main dari pihak TNI gombal kalian itu, didatangkan 50.000 pasukan non-organik dari luar Acheh untuk dipakai sebagai alat kontrol dan pengawasan serta pengamanan di wilayah tanah Negeri Acheh dengan alasan untuk menjaga keamanan. Kan benar-benar gombal, alasan itu.

 

Jadi Dharminta dan keroco kalian dari TNI, selama kalian tidak mampu memberikan alasan yang logis dan masuk akal mengapa itu segudang pasukan non-organik TNI tetap ditempatkan di Acheh, maka selama itu kalian itu hanya melakukan penipuan dan kelicikan saja, persis seperti apa yang telah dicontohkan oleh mbah kalian dari Jawa sana itu yang bernama Soekarno.

 

Apakah kalian tidak sadar dan tidak ada malu, untuk terus menduduki dan menjajah tanah Negeri Acheh dengan memakai pasukan gombal TNI yang jumlahnya lebih dari 50.000 pasukan itu hanya sekedar untuk melawan pasukan TNA yang 1.400 pasukan itu ?.

 

Dan tentu saja, yang masuk akal adalah kalian Dharminta dan TNI kalian itu bukan untuk menyelesaikan konflik Acheh, tetapi kalian adalah ingin terus mempertahankan konflik di Acheh dan tetap ingin menduduki tanah Negeri Acheh, serta sekaligus ingin tetap menjadikan TNI untuk terus hidup dan berkuasa di negara sekuler pancasila RI. Dasar budek.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 29 May 2005 01:42:19 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: Re: TNI DENGAN PARA JENDERAL-NYA MERUPAKAN PENGHAMBAT PERDAMAIAN DI ACHEH

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, yahuwes@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, yuhe1st@yahoo.com, viery_fajri@yahoo.com, wpamungk@centrin.net.id, warzain@yahoo.com, wartadephan@dephan.go.id, waspada@waspada.co.id, universityofwarwick@yahoo.co.uk, teuku_mirza@hotmail.com, teuku_mirza2000@yahoo.com

 

Mana ada satu sama lain mau mengakui kebenaran pihak lawa dalam konflik. tidak ada, yang ada walau busuk sekalipun yang dipihaknya / kelompokanya pasti akan dikatakan yang paling benar / baik end press, walau semua udah tahu kalau hal itu merupakan kelicikan kelompok dalam konflik. Bukankah begitu bung Dirman????.

 

Soal TNI yang masih terus melakukan operasi keamanan, saya kira itu wajar-wajar aja. sebagai TNI yang punya tanggung jawab keamanan atas negara melakukan patroli, menangkap kelompok tertentu yang mengacau keamanan dan meneror warga itupun lagis, karena dinegara manapun juga begitu aturan mainnya. Kalau ada kelompok yang merasa dirugikan dengan akfitnya aparat keamanan, itu juga biasa, mana ada pengacau / peneror keamanan sejalan dengan aparat keamanan.

 

Sebaiknya akalau tidak mau berurusan dengan aparat keamanan negara yaaa.. tidak usah bikin ulah, begitu kan bung .

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara

----------