Stockholm, 2 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON MASIH COBA ACUNGKAN MITOS ACHEH ALA SOEKARNO UNTUK DUKUNG TNI MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON MASIH COBA ACUNGKAN MITOS ACHEH ALA SOEKARNO UNTUK MENDUKUNG TNI MEMBUNUH RAKYAT MUSLIM ACHEH

 

"Hai, Mad. Kamu udah gila apa? Kalo mau marah sama Agung Laksana telepon dia, atau email dia. Kok malah marah-marah di sini ? Lagian marahnya tidak beralasan. Udah jelas Agung Laksono bener malu ah !!” (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Wed, 1 Jun 2005 13:48:02 -0700 (PDT))

 

"Dengan kalahnya Jepang dalam Perang Dunia II, tentu saja membuat Belanda (sebagai anggota sekutu, lawan Jepang) kembali bernafsu menguasai Indonesia. Untuk melaksanakan nafsunya, Belanda berusaha memecah belah RI sehingga muncullah negara-negara boneka, sementara RI dipojokkan sebagai negara yang berkuasa di Jogyakarta saja melalui perjanjian Renville. RI dan negara-negara boneka itu bersatu sebagai RIS, Republik Indonesia Serikat, dan kembali memilih sang proklamator Soekarno-Hatta sebagai Presiden RIS. Terpilihnya dwi tunggal ini menunjukkan bahwa semua negara boneka itu tetap mempercayakan wilayah RI di tangan Soekarno-Hatta.” (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Wed, 1 Jun 2005 13:37:05 -0700 (PDT))

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Muba Dijon, bagaimana kalian bisa menganggap itu Agung Laksono benar mengatakan bahwa masalah Acheh adalah masalah dalam Negeri, sedangkan dari sejak pertama kali dilakukan perundingan antara ASNLF-RI baik di Geneva, Tokyo ataupun sekarang di Vantaa, Helsinki, semuanya melibatkan wakil-wakil Negara-Negara asing.

 

Apakah itu kalian Muba Dijon tidak bisa membedakan antara  wakil-wakil Negara Asing dengan wakil-wakil dari Negara sarang burung garuda RI ? Dasar kalian memang berdua budek dan bloon.

 

Tulisan ini dan yang sebelumnya telah ditembuskan kepada humas@dpr.go.id . Jadi jangan khawatir Muba Dijon Budek, tulisan-tulisan di mimbar bebas ini sampai juga ke mejanya Agung Laksono. Kalau kalian punya telepon nomornya ke Agung Laksono silakan emailkan nomor teleponnya ke Ahmad Sudirman.

 

Kemudian, itu Muba Dijon, memang cetek ilmu sejarah tentang proses jalur pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku selatan dan Papua Barat cetek, dan hanya hasil mengembek dari apa yang dimitoskan Soekarno dan para penerusnya saja. Karena itu banyak sekali kelemahan-kelemahannya yang memang disengaja oleh Soekarno untuk mengelebui dan membohongi khususnya trakyat di Acheh dan umumnya rakyat di RI.

 

Coba saja itu Muba Dijon budek yang membuat alasan ” Walaupun tidak ada pernyataan resmi tentang wilayah, tetapi wilayahnya RI Merdeka itu terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bentangan wilayah itu dapat dilihat dari beragamnya asal daerah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).”

 

Nah, dari fakta yang dilambungkan oleh Muba Dijon diatas menunjukkan bagaimana picik dan dangkalnya alasan dan argumentasi yang disodorkan Muba Dijon untuk mengklaim wilayah RI dari Sabang sampai Merauke.

 

Masa dengan hanya berkumpulnya 62 orang anggota BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan) yang diketuai oleh Dr Rajiman Widiodiningrat yang dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang Jenderal Angkatan Darat Jepang  pada tahun 1945 dijadikan dasar hukum untuk menyatakan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke. Padahal waktu dilaksanakannya Sidang BPUPK dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945, itu Negara yang dinamakan RI belum ada ketahuan juntrungnya. Kan budek itu alasan Muba Dijon itu. Begitu juga itu anggota-anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, telah dijadikan dasar hukum untuk menyatakan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke. Makin budek saja Muba Dijon ini.

 

Kemudian itu soal pancasila, ketika Soekarno diberikan kesempatan untuk menyampaikan pikirannya pada Sidang BPUPK pada 1 Juni 1945, berceritalah Soekarno tentang lima dasar yang dinamakan pancasila. Dimana selanjutnya untuk merumuskan pancasila ini lebih matang dibentuklah Panitia Sembilan yang anggotanya Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin. Dan pada tanggal 22 juni 1945 selesailah dirumuskan apa yang dinamakan pancasila itu dengan sila pertamanya yang berbunyi: ”Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, dan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta.

 

Ketika PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, mengadakan sidang dan mengesahkan rancangan undang undang dasar pada tanggal 18 Agustus 1945, maka dalam sidang PPKI inilah itu rumusan terakhir pancasila yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 dirobah, dari "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" menjadi Ketuhanan yang maha esa, atas usul dari kelompok pengikut A.A. Maramis dari Sulawesi Utara yang juga anggota panitia sembilan ketika dilangsungkannya sidang PPKI yang dipimpin oleh Mohammad Hatta.

 

Dimana perobahan sila tersebut terjadi setelah Mohammad Hatta, berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo (keduanya bukan anggota panitia sembilan), menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta hasil rumusan panitia sembilan yang menjadi keberatan para pengikut A.A. Maramis tersebut. Dan sebagai gantinya, atas usul Ki Bagus Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan baru dalam sila Ketuhanan itu, sehingga bunyinya menjadi Ketuhanan yang maha esa, dan di cantumkan dalam preambule (pembukaan) UUD 1945.

 

Kemudian itu sila "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" yang dihapus dan digantikan dengan "Ketuhanan yang maha esa" dianggap pula sebagai tauhid dengan mengacu kepada QS Aurat Al Baqarah, 2: 163: "wa ilaahukum ilahu wa hidun la ilaha illa hua ar rakhmanurrahiim" dan QS Al Ikhlas, 112: 1-4.

 

Nah, kalau diteliti secara mendalam apa yang dikatakan tauhid yang dilabelkan kepada sila pertama pancasila ternyata isinya ngaco dan menyesatkan. Mengapa ?

 

Karena sudah jelas, ketika kelompok pengikut A.A. Maramis menolak dengan keras sila "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian disodorkan gantinya yang bebrunyi "Ketuhanan yang maha esa", maka langsung disantoknya bunyi sila pertama itu  oleh pihak kelompok pengikut A.A. Maramis ini. Mengapa ?

 

Karena itu hasil pemikiran Ki Bagus Hadikusumo orang Muhammadiyah itu, bisa dipelintirkan sesuka hati, bagaikan karet yang membal, karena itu formulasi ketuhanan yang maha esa sangat dengan gembira diterima oleh kaum kristen pengikut A.A. Maramis.

 

Dan yang budek, adalah itu Ki Bagus Hadikusumo dan para pengikutya, yang mengkutak-katik ayat QS Surat Al Baqarah, 2: 163: "wa ilaahukum ilahu wa hidun la ilaha illa hua ar rakhmanurrahiim" dan QS Al Ikhlas, 112: 1-4.

 

Padahal kalau diteliti lebih mendalam, itu ayat-ayat Al Quran hanyalah sebagai label dan hiasan saja. Mengapa ?

 

Karena dalam kenyataannya, seperti yang tercantum dalam UUD 1945, Tap MPR, UU, PP, Keppres, PERPPU, Inpres, semuanya itu tidak mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasululah saw.

 

Nah, disini membuktikan bahwa sila ketuhanan yang maha esa yang ada dalam pancasila tidak digali dari sumber hukum Islam yaitu dari Al Qur'an, melainkan hanya sekedar penipuan dan akal bulus dari para pendukung pancasila saja.

 

Jadi sila ketuhanan yang maha esa itu pada hakekatnya bukan yang dimaksud dalam QS Al Baqarah, 2: 163, begitu juga QS Al Ikhlas, 112: 1-4, melainkan hanyalah merupakan hasil pemikiran Ki Bagus Hadikusumo orang Muhammadiyah untuk dijadikan alat penjerat dan pengikat berbagai agama dan kepercayaan, yang tidak ada kaitannya dengan tauhid yang dimaksud dalam Islam.

 

Inilah penipuan dan kebohongan yang dilambungkan oleh Ki Bagus Hadikusumo orang Muhammadiyah, yang dikutip oleh Muba Dijon untuk disebar luaskan di mimbar bebas ini.

 

Kemudian itu Muba Dijon untuk menutupi kejahatan Soekarno melalui Negara RI-Jawa-Yogya-nya yang telah menelan Negara/Daerah Bagian RIS, disebutlah itu Negara/Daerah Bagian RIS sebagai negara-negara boneka. Kan budek itu alasan Muba Dijon ini. Mengapa ?

 

Karena, bagaimana bisa dinamakan negara-negara boneka, padahal itu Soekarno Dengan RI-Jawa-Yogya-nya pada tanggal 14 Desember 1949 masuk secara resmi menjadi anggota Negara Bagian RIS dan menandatangani Piagam Konstitusi RIS di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Dimana yang menandatangani Piagam Konstitusi RIS ini adalah Sultan Hamid II (Daerah Istimewa Kalimantan Barat), Ide Anak Agoeng Gde Agoeng (Negara Indonesia Timur), R.A.A. Tjakraningrat (Negara Madura), Mr. Susanto Tirtoprodjo (Negara Republik Indonesia menurut perjanjian Renville), Mohammad Hanafiah (Daerah Banjar), Mohammad Jusuf Rasidi (Bangka), K.A. Mohammad Jusuf (Belitung), Muhran bin Haji Ali (Dayak Besar), Dr. R.V. Sudjito (Jawa Tengah), Raden Soedarmo (Negara Jawa Timur), M. Jamani (Kalimantan Tenggara), A.P. Sosronegoro (Kalimantan Timur), Mr. Djumhana Wiriatmadja (Negara Pasundan), Radja Mohammad (Riau), Abdul Malik (Negara Sumatra Selatan), dan Radja Kaliamsyah Sinaga (Negara Sumatra Timur).

 

Nah sekarang, kalau itu Soekarno mengatakan 15 Negara/Daerah Bagian RIS adalah Negara/Daerah boneka Belanda. Mengapa itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS dan menjadi negara boneka pula sehingga jumlahnya menjadi 16 Negara/Daerah Bagian RIS ?

 

Jadi, itu hanya alasan gombal Muba Dijon dan para pengikut Soekarno yang budek saja yang mengatakan Negara/Daerah Bagian RIS adalah negara-negara boneka.

 

Dan mengapa itu RI-Jawa-Yogya-nya Soekarno masuk kedalam RIS ?  Karena berdasarkan hasil Perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Jakarta, yang sebagian isinya menyatakan turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat. Dan Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.

 

Kemudian, dalam Konferensi Meja Bundar yang hasilnya ditandatangani pada tanggal 2 November 1949 telah disepakati bahwa Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir bulan Desember 1949. Mengenai Irian Barat penyelesaiannya ditunda selama satu tahun. Pembubaran KNIL dan pemasukan bekas anggota KNIL ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), adanya satu misi militer Belanda di Indonesia, untuk membantu melatih APRIS dan pemulangan anggota KL dan KM ke Negeri Belanda.

 

Nah, dari hasil Perjanjian Roem-Royen 7 Mei 1949 dan KMB tanggal 2 November 1949, tidak ada disebutkan bahwa Anggota Negara/Daerah Bagian Republik Indonesia Serikat adalah negara-negara boneka.

 

Selanjutnya dalam KMB disinggung tentang Irian Barat. Dimana masalah Irian Barat tidak bisa diselesaikan satu tahun setelah KMB, melainkan mengulur sampai timbulnya Perjanjian New York. Dimana Perjanjian New York yang ditandatangani oleh Dr J Van Roywen dan CW Schmurmann dari pihak Belanda dan oleh Dr Subandrio dari pihak RI pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York.

 

Isi Persetujuan New York ini berisikan:

 

1.Setelah pengesahan persetujuan antara Indonesia dan Belanda, selambat-lambatnya pada tanggal 1 Oktober 1962 Penguasa/Pemerintah Sementara PBB (United Nations Temporary Executive Authority-UNTEA) akan tiba di Irian Barat untuk melakukan serah terima pemerintahan dari tangan Belanda. Sejak itu bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera PBB.

 

2.Pemerintah Sementara PBB akan memakai tenaga-tenaga Indonesia baik sipil maupun alat-alat keamanan, bersama-sama dengan alat-alat keamanan putra-putra Irian Barat sendiri dan sisa-sisa pegawai Belanda yang masih diperlukan.

 

3.Pasukan-pasukan Indonesia yang sudah ada di Irian Barat tetap tinggal di Irian Barat, tetapi berstatus dibawah kekuasaan Pemerintah Sementara PBB.

 

4.Angkatan Perang Belanda secara berangsur-angsur dikembalikan. Yang belum pulang ditempatkan dibawah pengawasan PBB dan tidak boleh dipakai untuk operasi-operasi militer.

5.Antara Irian Barat dan daerah Indonesia lainnya berlaku lalu lintas bebas.

 

6.Pada tanggal 31 Desember 1962 bendera Indonesia mulai berkibar disamping bendera PBB. 7.Pemulangan anggota-anggota sipil dan militer Belanda sudah harus selesai pada tanggal 1 Mei 1963 dan selambat-lambatnya pada tangal 1 Mei 1963 Pemerintah RI secara resmi menerima pemerintahan di Irian Barat dari Pemerintahan Sementara PBB.

 

Dan sebagai bagian dari persetujuan New York tersebut dicantumkan bahwa Indonesia menerima kewajiban untuk mengadakan "Penentuan Pendapat Rakyat" (Ascertainment of the wishes of the people) di Irian Barat atau Papua Barat sebelum akhir tahun 1969 dengan ketentuan bahwa kedua belah pihak, Indonesia dan Belanda akan menerima keputusan hasil penentuan pendapat rakyat Irian Barat atau Papua Barat tersebut.

 

Kemudian untuk menjamin keamanan di wilayah Irian Barat atau Papua Barat dibentuk suatu pasukan PBB yang disebut United Nations Security Forces (UNSF) dibawah pimpinan Brig Jen Said Uddin Khan dari Pakistan.

 

Memang seperti yang tercantum dalam Perjanjian itu pihak Penguasa/Pemerintah Sementara PBB (United Nations Temporary Executive Authority-UNTEA) menyerahkan pemerintahan Irian barat kepada pihak RI pada tanggal 1 Mei 1963.

 

Kemudian sesuai dengan Perjanjian New York masih belum dilaksanakan yaitu Penentuan Pendapat Rakyat (Ascertainment of the wishes of the people) di Papua Barat sebelum akhir tahun 1969 dengan ketentuan bahwa kedua belah pihak, Indonesia dan Belanda akan menerima keputusan hasil penentuan pendapat rakyat Papua Barat atau Irian Barat tersebut.

 

Hanya langkah-langkah yang dijalankan Soekarno untuk melakukan penentuan pendapat rakyat  adalah tidak dengan cara model plebisit langsung oleh rakyat, melainkan memakai cara Penentuan Pendapat Rakyat secara bertahap yang dimulai pada tanggal 24 Maret 1969 sampai tanggal 14 Juli 1969.

 

Dimana lanagka awal pada tanggal 24 Maret 1969, melakukan konsultasi dengan Dewan-Dewan Kabupaten di Jayapura tentang tatacara penyelenggaraan Pepera. Kemudian melakukan pemilihan anggota Dewan Musyawarah Pepera yang berakhir pada bulan Juni 1969 dengan dipilihnya 1026 anggota dari delapan kabupaten, yang terdiri dari 983 pria dan 43 wanita. Seterusnya pada tanggal 14 Juli 1969 di Merauke dilakaukan pepera di kabupaten demi kabupaten yang berakhir pada tanggal 4 Agustus 1969 di Jayapura.

 

Nah, ternyta dengan jelas kelihatan bahwa yang mencoblos dalam pepera ini bukan seluruh rakyat Papua Barat, tetapi anggota Dewan Musyawarah Pepera yang berjumlah 1026 anggota dari delapan kabupaten. Inilah yang dinamakan cara model Soekarno yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dengan penentuan pendapat rakyat atau plebisit yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Papua Barat. Inilah merupakan cara penipuan model Soekarno.

 

Dan memang ternyata sampai detik ini rakyat Papua Barat menuntut penentuan pendapat rakyat atau plebisit yang benar, bukan seperti yang dilakukan oleh Soekarno tahun 1969.

 

Kemudian, itu Muba Dijon karena berada dibelakang Soekarno yang telah menelan Negara/Daerah Bagian RIS ditambah mencaplok Negeri Acheh dan Maluku Selatan serta menipu rakyat Papua Barat dengan pepera atau pepesoe-nya, dengan seenak udel sendiri mengatakan kepada pihak Imam SM Kartosoewirjo dengan NII- nya sebagai pemberontak. Padahal kalau dipelajari sampai mendalam, justru yang namanya Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya itulah yang dinamakan penjajah yang menjajah wilayah teritorial NII. Tentang NII ini telah dikupas di mibar bebas ini. Begitu juga dengan NII di Acheh dibawah Teungku Muhammad Daud Beureueh yang wilayah teritorial Negeri Acheh dicaplok pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui RIS dan RI-nya dengan memakai secewir kertas berlabelkan PP RIS No.21/1950.

 

Jadi, bagaimana bisa Muba Dijon dan keroconya menyatakan bahwa Teungku Muhammad daud Beureueh dianggap sebagai pemberontak, padahal itu Muba Dijon budek dengan para keroco-nya sampai detik ini tidak mampu membuktikan berdasarkan  fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang bisa menyatakan secara legal itu wilayah teritorial Negeri Acheh dimasukkan kedalam wilayah RIS dan diteruskan kedalam tubuh RI dengan disetujui dan diikhlaskan serta direlakan oleh seluruh rakyat Acheh dan pemimpin rakyat Acheh. Mereka semua pada bungkam dan tidak bisa menjawabnya.

 

Jadi, itu yang namanya RIS yang Negara/Daerah bagiannya disantok RI-Jawa-Yogya kemudian menjelma menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950, adalah penjajah bagi Negeri Acheh, NII Imam SM Kartosoewirjo, Maluku Selatan, dan Papua Barat.

 

Lihat saja buktinya sampai detik sekarang ini, apakah itu di Acheh aman dan damai ? Apakah itu di Maluku Selatan aman dan damai ? Dan apakah itu di Papua Barat aman dan damai ? Kan semuanya merupakan fakta dan bukti yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan Soekarno adalah suatu kejahatan yang harus dikutuk oleh umat manusia diatas dunia ini karena telah menduduki dan menjajah wilayah Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan.

 

Seterusnya itu Muba Dijon karena memang budek dan gombal tentang sejarah proses jalur pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Negeri Acheh, maka ketika melihat konflik Acheh hanya bercuap seenak udel sendiri. Padahal Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang telah mendeklarkan ulang Negara Acheh bebas dari para cecunguk dan kunyuk-kunyuk penjajah RI pada tanggal 4 Desember 1976 adalah sah. Karena memang itu Negeri Acheh berada dalam aneksasi, pendudukan dan penjajahan pihak RI. Adapun kalau itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro pernah ada hubungan dengan pihak KBRI di New York itu bukan merupakan dasar hukum untuk menggagalkan dan mentidaksahkan pernyataan deklarasi ulang bebasnya Negara Acheh dari kekuasaan penjajah RI. Dan kalau itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro menikah dengan wanita Yahudi, itu juga tidak melanggar hukum Islam, bahkan Rasulullah saw memberikan contoh menikah dengan perempuan Yahudi, yaitu dengan Juwairiyah ra atau Barrah binti al-Harris bin Dirar bin Habib bin Aiz bin Malik bin Juzaimah Ibnu al-Mustaliq. Dan juga Rasulullah saw menikah dengan Shafiyah ra yang ayahnya, Huyyai bin Akhtab adalah seorang pemimpin Yahudi Bani al-Nadhr yang berkuasa di kawasan Khaibar.

 

Jadi, itu Muba Dijon budek, tidak ada alasan hukum yang kuat yang bisa menjatuhkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, paling yang bisa diulang-ulangnya hanya kawin dengan perempuan Yahudi, itu saja. Dasar budek, tidak mengetahui sejarah perjuangan dan sejarah hidup Rasulullah saw.

 

Dan itu Muba Dijon karena tidak mampu dan tidak bisa membuktikan legalitas Acheh dimasukkan kedalam sangkar burung garuda pancasila RI, akhirnya diulang-ulangnya kata-kata gombalnya, seperti berontak, mencuri, menculik. Padahal kalau diteliti dan dipelajari lebih dalam, justru itu pihak pasukan non-organik TNI budek-Jawa yang diperintahkan Djoko Santoso dan Endriartono Sutarto orang Jawa untuk membunuh, menculik, menyiksa yang sangat biadab dan lebih jahat serta lebih kejam dari pasukan Yahudi di Palestina.

 

Terakhir, itu Muba Dijon budek yang menyatakan: ”Ahmad Sudirman menampilkan dirinya sebagai pakar Islam, tetapi sayang, dia menyerang semua pemikiran Islam mulai dari Ichawanul Muslimin di Mesir, Wahabiyah di Arab Saudi, Muhammadyah, sampai Front Pembela Islam, sehingga saya menyebut Ahmad Sudirman dan pengikutnya sebagai sekte Islam ke-74.”

 

Jelas, Muba Dijon budek ini karena tidak memahami tentang apa yang diperjuangkan oleh kaum wahhabi atau salafi Saudi, maka ketika Ahmad Sudirman memberikan penjelasan tentang penyimpangan-penyimpangan mereka, dianggaplah oleh Muba Dijon bahwa Ahmad Sudirman menyerang mereka. Begitu juga ketika Ahmad Sudirman menyinggung orang-orang Muhammadiyah yang ada di negara sekuler pancasila yang diam saja ketika melihat kelakuan jahat pasukan TNI budek-Jawa itu membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar, dianggaplah Ahmad Sudirman menyerang mereka. Atau ketika Ahmad Sudirman mengatakan ki Bagus Hadikusumo yang membawa-bawa tauhid untuk dilabelkan kedalam sila pertama pancasila adalah tauhid diatas kertas, maka dianggaplah oleh Muba Dijon budek bahwa Ahmad Sudirman menyerang muhammadiyah. Begitu juga ketika Ahmad Sudirman menyatakan para pegikut Ikhwanul Muslimin di negara sekuler RI buta tentang sejarah Acheh, dianggaplah Ahmad Sudirman menyerang Ikhwanul Muslimin Mesir. Kan budek itu Muba Dijon ini. Dan karena kebudekan Muba Dijon inilah ia dengan seenak udel sendiri menyebut sekte ke-74. Dasar budek dan gombal.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 1 Jun 2005 13:48:02 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: AGUNG LAKSONO TAKUT KEBOBOLAN ACHEH HASIL RAMPOKAN SOEKARNO LEPAS KETANGAN RAKYAT ACHEH

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang bambang_hw@rekayasa.co.id

 

Hai, Mad... Kamu udah gila apa? Kalo mau marah sama Agung Laksana telepon dia, atau email dia... Kok malah marah-marah di sini...? Lagian marahnya tidak beralasan ... Udah jelas Agung Laksono bener... malu ah...!!

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

Date: Wed, 1 Jun 2005 13:37:05 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: RIFANI, ITU NII IMAM SM KARTOSOEWIRJO DIDUDUKI & DIJAJAH OLEH RI SOEKARNO SAMPAI DETIK INI

To: maintenance.arutmin@ciptakridatama.co.id

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang bambang_hw@rekayasa.co.id

 

Saudara Rifani... Pertama kali saya koreksi. "Paralel" itu artinya bukan "tidak ada hubungannya" tapi "sejajar" atau kadang-kadang juga diartikan "bersamaan". Selanjutnya, saya paparkan di sini kilasan sejarah Indonesia, agar Saudara tidak mudah terhasut.

 

RI diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Walaupun tidak ada pernyataan resmi tentang wilayah, tetapi wilayahnya RI Merdeka itu terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bentangan wilayah itu dapat dilihat dari beragamnya asal daerah anggota BPUPKI (Badan

Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ancaman utusan dari timur (Maluku) bahwa mereka akan batal dan keluar dari komitmen merdeka di dalam bingkai RI jika 7 kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" tidak dihapuskan dari Pembukaan UUD45 menunjukkan eksistensi ragam daerah di BPUPKI. Tujuh kalimat (lengkapnya:

Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) itu memang tidak menunjukkan RI itu negara Islam, tapi RI mengakui semua agama yang

hidup di Indonesia. Ki Bagus Hadikusumo kemudian mengganti sila pertama itu menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa", dan mengatakan bahwa "Ketuhanan Yang Maha Esa" itu artinya "tauhid".

 

Dengan kalahnya Jepang dalam Perang Dunia II, tentu saja membuat Belanda (sebagai anggota sekutu, lawan Jepang) kembali bernafsu menguasai Indonesia. Untuk melaksanakan nafsunya, Belanda berusaha memecah belah RI sehingga muncullah negara-negara boneka, sementara RI dipojokkan sebagai negara yang berkuasa di Jogyakarta saja melalui perjanjian Renville. RI dan negara-negara boneka itu bersatu sebagai RIS, Republik Indonesia Serikat, dan kembali memilih sang proklamator Soekarno-Hatta sebagai Presiden RIS. Terpilihnya dwi tunggal ini menunjukkan bahwa semua negara boneka itu tetap mempercayakan wilayah RI di tangan Soekarno-Hatta.

 

Melalui kepiawaian para pemimpin negeri kita, berbagai perundingan kembali digelar: Perjanjain Roem-Royen (dipimpin Mohammad Roem dari Indonesia dan van Royen dari Belanda), KMB (Konferensi Meja Bundar), dan Perjanjian New York. Melalui perundingan-perundingan itu, alhamdulillah RI kembali bersatu. Terakhir Irian Barat (sekarang Papua) kembali ke pangkuan RI tahun 1963. Kepiawaian Soekarno dan pemimpin lainnya juga

menyebabkan diterimanya RI menjadi anggota PBB, yang berarti dunia mengakui eksistensi RI yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

 

Dalam masa perjuangan kemerdekaan ini, terdapat berbagai pihak yang tidak sejalan dengan cara perjuangan Soekarno dkk dan kemudian melakukan pemberontakan. Tercatat PKI Muso Madiun, PRRI/Permesta, DI Kartosuwirjo, DI Daud Beureuh, DI Kahar Muzakar. Alasannya beberapa pemberontakan sebenarnya masuk akal. Kartosuwirjo tersinggung dengan hijrahnya Divisi Siliwangi ke Jogya akibat perjanjian Renvile. Daud Beureuh tersinggung karena Aceh hanya menjadi bagian dari Sumatera Utara dan syariat Islam tidak diberlakukan di sana. Alhmadulillah, semua pemberontakan itu akhirnya bisa ditumpas, para pemimpin pemberontakan dapat ditangkap atau menyerah dan, setelah memahami arah perjuangan RI, mereka berikrar setia kepada RI sehingga RI tetap utuh.

 

Setelah masa kelabu perang kemerdekaan dan pemberontakan itu berakhir, sebenarnya tidak ada lagi alasan untuk memberontak, kecuali bagi segelintir orang yang bernafsu memperkaya diri. Di antara mereka itu tercatatlah nama Hasan Tiro, yang ujug-ujug saja, tanpa ada angin dan tanpa ada hujan, memproklamirkan berdirinya Aceh Merdeka. Hasan Tiro menamakannya reproklamasi, mengulang deklarasi merdeka Daud Beureuh yang sebenarnya sudah bersumpah setia kepada RI dalam sebuah upacara adat Aceh. Hasan Tiro itu pernah

menjadi mahasiswa di Amerika Serikat dan pernah menjadi staff tidak resmi Kedubes RI di sana. Tapi karena sifatnya yang buruk, dia diberhentikan dan kewarganegaraan RI-nya dicabut. Dia pernah menikah dengan perempuan Yahudi bernama Dora. Anak mereka kini hidup di Amerika Serikat. Sebagaimana diketahui, masyarakat muslim sangat alergi dengan Yahudi karena kelakuannya yang kejam terhadap rakyat Palestina. Hasan Tiro dan kawan-kawan hidup mewah di Swedia, memprovokasi warga Aceh untuk berontak dengan janji-janji mendapat gaji dan sebagainya, padahal rakyat lugu yang terkena rayuan janji-janji itu tidak

mendapat apa-apa, sehingga mereka sekarang mencuri harta warga Aceh atau melakukan penculikan warga Aceh untuk mendapat tebusan.

 

Belakangan Ahmad Sudirman, seorang keturunan Sunda, yang juga dicabut kewarganegaraan RI-nya, menjadi pendukung militan Hasan Tiro. Selain itu, Ahmad Sudirman menampilkan dirinya sebagai pakar Islam, tetapi sayang, dia menyerang semua pemikiran Islam mulai dari Ichawanul Muslimin di Mesir, Wahabiyah di Arab Saudi, Muhammadyah, sampai Front Pembela Islam, sehingga saya menyebut Ahmad Sudirman dan pengikutnya sebagai sekte Islam ke-74. Angka ini mengacu kepada hadits yang mengatakan: "Ummatku akan terpecah menjadi 73 kelompok... dst". Kenyataannya semua kelompok yang dimunculkan dalam diskusi dengannya, semuanya diserang oleh Ahmad Sudirman.

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------