Stockholm, 4 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA LAMBUNGKAN WAKIL KETUA KOMISI I DPR EFENDY CHOIRIE MENGGELUPUR KENA TENDANG DALAM PERUNDINGAN HELSINKI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA MELAMBUNGKAN WAKIL KETUA KOMISI I DPR EFENDY CHOIRIE MENGGELUPUR KENA TENDANG DALAM PERUNDINGAN HELSINKI

 

“Komisi I DPR inginkan Delegasi Indonesia soal GAM cepat pulang” (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Fri, 3 Jun 2005 21:41:11 -0700 (PDT))

 

Baiklah Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara.

 

Kelihatan dengan terang dan jelas, bagaimana itu Wakil Ketua Komisi I DPR, Efendy Choirie dari Partai Kebangkitan Bangsa-nya mbah Gus Dur alias Abdurrahman Wahid teman karib zionist Yahudi Simon Peres menggelupur di belakang meja Wakil Ketua Komisi I DPR disamping Theo L Sambuaga dan Permadi dari PDI-P sekuler-nya mbak Mega dengan jamu gendong pancasila-nya hasil perasan mbah Soekarno.

 

Dharminta, itu cerita yang kalian lambungkan adalah cerita yang diorbitkan ketika Perundingan ASNLF-RI putaran ke-4 masih berlangsung. Dan kelihatan dengan jelas bagaimana itu Efendy Choirie orang-nya mbah Gus Dur orang Jawa itu telah menggeliat-geliat seperti cecunguk kena injak, sambil komat-kamit mulutnya: ”Tarik pulang saja mereka segera. Masalahnya bukan berunding seperti itu tetapi lebih kepada penegakan aturan main, NAD sudah diberi otonomi khusus sehingga perlindungan masyarakat harus ditegakkan, sementara gerakan yang mengarah disintegrasi jelas jangan diberi ruang” (hasil kutipan Matius Dharminta, 4 Juni 2005)

 

Nah kan, kelihatan bagaimana itu Efendy Choirie orang PKB miliknya orang-orang NU berusaha untuk tetap mempertahankan dan mendekap wilayah tanah Negeri Acheh yang disantok, ditelan, dianeksasi, diduduki dan dijajah RI melalui tangan mbah Soekarno-Jawa dengan RIS dan RI-Jawa-Yogya-nya dengan meluncurkan selembar kertas yang diberi label PP RIS No.21/1950 tanggal 14 Agustus 1950.

 

Tujuan dan maksud Dharminta kacungnya Susilo Bambang Yudhoyono orang Jawa ini melambungkan tulisan yang dikutip dari entah surat kabar apa, untuk menunjukkan dan memberitahukan bahwa itu orang Jawa Efendy Choirie dari PKB yang menduduki kursi Wakil Ketua Komisi I DPR bahwa aturan main untuk mendekap Acheh itu bukan dengan cara berunding, melainkan cukup dengan melakukan permainan dengan melemparkan jaring-jaring gombal UU No.18/2001 kehadapan rakyat Acheh agar rakyat Acheh tetap dapat dijaring dan tetap berada dalam sangkar burung garuda pancasila RI.

 

Nah, itu taktik dan strategi Efendy Choirie dari PKB-nya Gus Dur dalam masalah konflik Acheh ini adalah tetap memakai taktik dan strategi penjeratan dengan mengerahkan kekuatan keamanan yang terdiri dari pasukan non-organik TNI budek-Jawa dan Polri-nya sambil membawa payung hukum gombal yang bertuliskan Tertib Sipil agar supaya mata dunia inernasional jangan terlalu menyorot.

 

Jadi, itu Efendy Choirie, mencoba untuk tetap menutupi konflik Acheh yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad ini dengan selimut gombal Jawa-nya dengan dilapisi kain-bututnya yang bertuliskan UU No.18/2001 yang dibuat ketika Akbar Tandjung dan Megawati masih petentengan di gelangan DPR dan Eksekutif RI.

 

Hanya masalahnya sekarang, itu tim juru runding yang ditugaskan dan dipilih oleh Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono karena mereka memang tidak mempunyai bekal pengetahuan sejarah tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI yang dihubungkan dengan Negeri Acheh yang sebenarnya, bukan sejarah yang berdasarkan mitos yang dibuat mbah Soekarno tentang Acheh, maka akhirnya ketika juru runding RI seperti Hamid Awaluddin dan Sofyan Djalil melihat kenyataan bahwa konflik Acheh bukan konflik yang didasarkan pada cerita mitos domestik model Permadi, Theo L Sambuaga dan para Jenderal TNI budek-Jawanya, melainkan telah menjadi konflik internasional, terbongkarlah kejahatan yang telah diselimuti lebih dari setengah abad di atas bumi Acheh ini.

 

Apalagi setelah mata dunia internasional melihat kenyataan di Acheh telah berlangsung pelanggaran tindak pidana HAM yang dilakukan oleh para serdadu pasukan non-organik TNI-Jawa dan Polri-Jawa-nya Da’i Bachtiar, maka itu para keroco di DPR menjadi mabuk kepayang, karena kedok kebohongan yang selalu ditutup-tutupi oleh pihak RI, khususnya oleh itu yang menamakan dirinya Efendy Choirie dari Partai Kebangkitan Bangsa-nya Gus Dur alias Abdurrahman Wahid sahabat kentalnya zionist Yahudi Simon Peres tetap mau terus dipertahankan dan diperjuangkan untuk diacung-acungkan diatas bumi Acheh agar rakyat Acheh tetap kena jerat dan tipuan-domestik-Acheh-nya.

 

Jadi Dharminta, yang kalian lambungkan dalam tulisan dibawah ini adalah merupakan gambaran bagaimana itu para keroco DPR khususnya dari Komisi I yang sudah seperti cacing kepanasan atau cecunguk yang kena injak sepatu. Mereka menjerit-jerit untuk menarik tim juru runding-nya yang telah kena tendang oleh hasil olahan pikiran para pejuang Acheh yang menjadi tim juru runding ASNLF di Vantaa, Finlandia yang diutus oleh teungku Hasan Muhammad di Tiro sebagai pemimpin tertinggi ASNLF dan Negara Acheh.

 

Dharminta, itu Efendy Choirie dari Komisi I DPR dan dari PKB telah menggelupur dibelakang meja Wakil Ketua Komisi I DPR-nya di Jakarta. Dasar budek.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 3 Jun 2005 21:41:11 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: KOMISI I DPR INGINKAN DELEGASI INDONESIA SOAL GAM CEPAT PULANG

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, alasytar_acheh@yahoo.com, apalahu2000@yahoo.co.uk, agungdh@emirates.net.ae, abdul.muin@conocophillips.com, ahmedjpr@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, as_fitri04@yahoo.com, Muhammad al qubra <acheh_karbala@yahoo.no>, abuguntur master <abuguntur@hotmail.com>, aneuk_pasee@yahoo.com, a_kjasmine@yahoo.com, apalambak2000@yahoo.ca, afdalgama@hotmail.com

 

KOMISI I DPR INGINKAN DELEGASI INDONESIA SOAL GAM CEPAT PULANG

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara

----------

 

KOMISI I DPR INGINKAN DELEGASI INDONESIA SOAL GAM CEPAT PULANG

 

Wakil Ketua Komisi I DPR, Efendy Choirie, menegaskan, delegasi Indonesia yang berunding dengan GAM di Helsinki, Finlandia, di bawah pimpinan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, agar secepatnya ditarik pulang karena sebetulnya pemecahan masalah itu jelas, yaitu penegakan aturan main.

 

"Tarik pulang saja mereka segera. Masalahnya bukan berunding seperti itu tetapi lebih kepada penegakan aturan main, NAD sudah diberi otonomi khusus sehingga perlindungan masyarakat harus ditegakkan, sementara gerakan yang mengarah disintegrasi jelas jangan diberi ruang," katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerja ke Markas Komando Korps Pasukan Khas TNI-AU, Bumi Margahayu, Jawa Barat.

 

Choirie yang datang bersama 13 rekannya menilai, keberadaan tim juru runding resmi pemerintah Indonesia itu tidak akan banyak gunanya dan bahkan bisa mendatangkan masalah baru, di antaranya menginternasionalkan masalah dalam negeri Indonesia .

 

"Tahu sendiri resikonya `khan?. Makanya kami akan segera berbicara dengan pemerintah soal ini," katanya.

 

Di Helsinki, Finlandia, saat ini sedang berlangsung putaran keempat perundingan informal soal perwujuan perdamaian permanen antara pemerintah Indonesia dengan perwakilan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang perundingannya difasilitasi oleh bekas pemimpin Finlandia, Maarti Ahtinasari.

 

Dalam perkembangannya, kedua belah pihak menunjukkan kesepakatan bahwa kehadiran unsur negara, manca negara dan tetangga, yaitu di lingkungan ASEAN, sangat dimungkinkan guna memonitor secara langsung pelaksanaan gencatan senjata.

 

Namun dari pembicaraan informal itu, telah terjadi wacana yang bertentangan. Di satu sisi kalangan militer Indonesia meyakini kehadiran unsur asing itu bisa menimbulkan masalah baru. Terutama atas keselamatan mereka selama berada di Lokasi konflik, mengingat sebelumnya juga terjadi, kontingen Asing pemonitor genjatan senjata di Aceh juga mendapat serangan dari kelompok GAM.  Kedua, mereka, terutama TNI, berketetapan bahwa tidak ada gencatan senjata.

 

"Sampai sekarang kebijakan TNI jelas, tidak akan gencatan senjata. Yang ada penghentian konflik secara permanen dan GAM serahkan senjata. Titik. Selesai. Semua itu jika GAM memang mempunyai niat menerima otonomi khusus," kata Panglima TNI, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, di Jakarta.

----------