Stockholm, 5 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA, ITU JENDERAL-JENDERAL TNI  MENGGEROGOTI DANA OPERASI & DANA REHABILITASI PLUS SBIJ SEBAGAI MODUS BARU DI ACHEH

Hinokaru Hokagata

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA, ITU JENDERAL-JENDERAL TNI  MENGGEROGOTI DANA OPERASI & DANA REHABILITASI PLUS SBIJ SEBAGAI MODUS BARU DI ACHEH

 

Polisi tidak perlu jauh-jauh mencari Bpk Zulbahri. Kalau polisi punya keberanian, mereka boleh cari korban di pos-pos SGI di sekitar wilayah itu. Korban diculik pasti karena masalah upeti. Sudah menjadi rahasia umum di Acheh sekarang bahwa proyek Jendral2 TNI adalah mengerogoti dana operasi dan dana rehabilitasi di samping mem-backing illegal logging. Proyek para perwira menengah adalah meminta fees dari proyek2 pembangunan dan dari kontraktor, serta menguasai sentra-sentra produksi sarang burung walet. Sedangkan proyek prajurit rendahan bintara ke bawah adalah memeras masyarakat, memalak transportasi, menjalankan monopoli dagang hasil bumi, memeras toke-toke kecil seperti toke ikan, toke hasil pertanian, toke toko kelontong, dan pegawai negeri kecil asli Acheh. Alangkah berbahaya lagi jika para SBIJ (Serdadu Bandit Indonesia-Jawa) mengetahui bahwa seseorang pernah memberi sumbangan untuk GAM, maka yang bersangkutan akan diperas habis-habisan oleh SBIJ.

 

Sekarang sudah ada modus operandi baru di Acheh yang dipraktekkan oleh SBIJ level menengah ke bawah. SBIJ ini mendatangi rumah-rumah orang yang dianggap kaya di kampung-kampung. Lalu, dengan memakai uniform TNA serta mengaku dirinya sebagai TNA/GAM yang baru saja turun gunung, SBIJ ini meminta dengan sangat rendah hati agar dapat dibantu walau sepiring nasi. Awalnya, tentu saja masyarakat yang lugu hati itu trenyuh dan tidak keberatan untuk memberi makan, rokok, dan sekedar uang. Tapi, apa yang terjadi keesokan hari? TNI, biasanya, SGI, datang dan langsung menjemput sipemilik rumah tsb malam-malam dengan tuduhan telah memberi perlindungan kepada anggota TNA/GAM. Mereka menyebut lengkap dengan tanggal serta jam kejadian yang tidak mungkin dapat disangkal lagi.

 

Hanya ada 5 kemungkinan kalau sudah masuk jebakan seperti ini:

1. Anda pasti disiksa terlebih dahulu untuk membuat Anda benar-benar down sehingga yang terpikir akankah saya keluar hidup-hidup dari sini.

 

2. Anda harus bersedia memberi tebusan kepada SBIJ, biasanya dapat mencapai puluhan juta rupiah--tergantung seberapa kaya Anda di mata SBIJ. Anda hanya harus menderita biru lebam saja kalau mau membayar, nyawa selamat.

 

3. Jika Anda tidak mau membayar ransom, Anda selain disiksa, juga akan diserahkan kepada polisi bahwa Anda membantu TNA/GAM.

 

4.Anda mati, jika tidak cukup tahan menerima siksaan, termasuk setruman. Mayat Anda dalam sungai atau di tepi jalan.

 

5. Apabila Anda berhasil mengelak atau lari dari pintu belakang sewaktu dijemput, Anda akan langsung ditembak pada kesempatan berikutnya. Mayat Anda bisa jadi akan ditemukan di dalam sungai atau, jika keluarga Anda cukup mujur, di tepi jalan menuju rumah Anda.

 

Prosedur standar terakhir adalah, SBIJ menghubungi wartawan patriotik mengatakan bahwa TNA/GAM telah membunuh si fulan karena si fulan itu menolak memenuhi permintaan TNA/GAM. Lalu si wartawan patriotik yang sudah lupa dengan asas cover both sides, check and recheck, and balanced reporting menulis berita sesuai dengan pesanan SBIJ.

 

Demikian sekelumit kisah derita orang2 yang kebetulan lahir sebagai Bangsa Acheh.

 

Hinokaru Hokagata

 

albiruny@gmail.com

Stockholm, Swedia

----------

 

On 6/5/05, matius dharminta

mr_dharminta@yahoo.com

wrote:

 

KASEK DICULIK KELOMPOK BERSENJATADI ACEH TIMUR

 

Banda Aceh - Zulbahri (42), Kepala Sekolah (KASEK) Sekolah Dasar Negeri 2 (SDN-2) Desa Kuala Peudawa, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur,  setelah diculik kelompok bersenjata, 3 Juni 2005, hingga saat ini belum diketahui nasibnya.

 

Menurut Informasi, korban diculik di rumahnya Desa Tanoh Anoe (Idi Rayeuk) oleh sejumlah orang yang tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah mereka yang bersenjata laras panjang sekitar pukul 20.00 WIB.

 

Kelompok bersenjata itu mendatangi rumah korban dan setelah pintu rumah dibuka, lima orang bersenjata langsumg membawa korban ke kegelapan malam secara paksa dan sampai berita ini diturunkan minggu (5/6) belum diketahui keberadaannya.

 

Sementara itu, Kapolres persiapan Aceh Timur, Kompol Hasbi Ms, kepada pers menyebutkan, upaya pencarian korban terus dilakukan dengan mengumpulkan informasi dari masyarakat, namun sampai saat ini belum diketahui identitas pelaku.

 

Informasi sementara yang diperoleh dari warga masyarakat sekitar desa rumah korban menyebutkan, korban diculik di depan tiga orang anak dan isterinya Ny. Nurjannah, sedangkan motifnya belum diketahui.

 

Waktu kejadian isterinya sempat keluar rumah dan ingin mengikuti suaminya yang dibawa kelompok bersenjata itu, namun akhirnya kembali masuk rumah dengan ketakutan setelah di acam akan dibunuh jika terus mengikuti suaminya.

 

"Karena mendapat ancaman dari kelompok bersenjata , isteri korban tidak bisa berbuat, hanya bisa pasrah, dalam kegalauan dan linangan air mata terpaksa kembali masuk rumah sedangkan anak-anaknya menanyakan bapaknya dan ikut menangis," kata polisi di Aceh Timur. (*) 

----------