Stavanger, 6 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


ADAT SINGGONGAN LANGSUNG DAN SINGGONGAN MENYAYONG

Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.



SEKILAS MENYOROT ADAT SINGGONGAN LANGSUNG DAN SINGGONGAN MENYAYONG

 

Omar Putéh telah menulis:

 

1. Matée aneue meupat djeurat, matée adat gadoh meurdehka!

(Membaca Isi Rundingan Ronde Ke 3 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran. Stavanger 13 Mei, 2005)

 

2. Biar mati anak, jangan mati adat. Mati anak berpusara, mati adat hilang merdeka!

(Plus I + Membaca Isi Rundingan Ronde Ke 3 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran.

Stavanger 25 Mei, 2005)

 

3. Adat Acheh nakeuh Setia!  Bangsa Acheh, nakeuh bangsa njang meuadat seutia!

(Plus II + Membaca Isi Rundingan Ronde Ke 3 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran.

Stavanger 30 Mei, 2005)

 

Adat dan seni adalah sebahagian dari pada budaya. Acapkali orang mecantumkan kata seni dengan adat atau kata seni dengan budaya atau ada juga kata adat dengan budaya, bahkan ada yang mencantumkan ketiga-tiganya sekaligus.

 

Seni tari tentunya berbeda dengan tarian seni, sebagaimana berbedanya tarian adat dengan tarian budaya, walaupun tarian adat itu, menjadi sebahagian dari kumpulan tarian-tarian budaya juga.

 

Begitu juga dengan tarian adat berbeda maksud dengan adat tari-menari.  Selain itu kita juga temui dalam bacaan atau ucapan sehari-harian: Adat istiadat atau adat tradisi. Sebutan kata-kata inipun mempunyai makksud yang berbeda.

 

Lantas apakah yang dimaksudkan dengan adat dari singgongan langsung atau adat dengan singgongan menyayong?  Ianya akan menjadi perlu pula untuk kita memahaminya, apalagi jika dihubung-sambung dengan Islam dan diikuti dengan persoalan, siapa-siapakah pelakunya: Wanita atau Lelaki?

 

Makanya telah terbaca dan dapat dipahami bahwa, adat itu mempunyai statusnya tersendiri, sebagaimana seni dan budaya mempunyai statusnya tersendiri dan masing-masing juga.

 

Kalaulah demikian apakah yang dimaksudkan masing-masingnya dengan adat, seni dan budaya itu? Sehingga adat itu, membingungkan seni dan meggusarkan budaya, mempolemikkan adat kesemuanya, dengan keterangan yang dikutip oleh saudara Hussaini Daud Sp.

 

Bukankah saudara Hussaini Daud Sp, selalu membaca ungkapan dari majalah Universitas Sjiah Kuala: Sinar Darussalam: Adat Acheh dengan Islam, seperti zat dengan sifat, seperti kulit dengan isi!  Kebenaran ungkapan ini, adalah karena Acheh, telah melakukan sejak lama reformasi adatnya, sebagaimana yang dikehendaki oleh mayoritas ummat Islam Acheh atau oleh kehendak Islam itu sendiri. Jelasnya adat di Acheh itu senantiasa tidak menjadi persoalan dalam masyarakat karena: Adat bak Pö Teumeureuhom itu, senantiasa terkawal dan terkontrol dengan baik oleh Hukôm(nya) bak Sjiah Kuala, yang secara effektipnya, sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Mahkota Alam!

 

Mengambil contoh dan seperti yang dapat kita ikuti perkembangan adat-budaya, yang terus hidup dan berkembang di Kelantan, Malaysia, dibawah "Nik Aziz Government", walaupun telah melarang kehidupan adat-budaya Melayu atau Malaysia di Kelantan tidak boleh bercanggah dengan Islam!  Atau adat dan budaya musti selari dengan kehendak Islam!

 

Tetapi mengapakah mereka-mereka yang mengatakan dirinya sebagai tokoh adat dan budaya memperotes ketegasan Tok Guru Al Ustadz Nik Aziz yang juga berkehendak sama seperti reformasi adat di Acheh, agar adat dan Islam itu, tidak bercanggah satu sama lain, seperti dua dalam satu, seperti zat dengan sifat, kulit dengan isi yang tidak dapat dipisahkan seperti Adam dengan Hawa!

 

Kita kena tanya siapakah “tokoh-tokoh adat dan budaya” yang menjadi “marah” ketika saudara Hussaini Daud Sp itu menegurnya? Tentulah mungkin, mereka marah terhadap ketegasaan Hussaini Daud Sp, membuat teguran, dan agaknya seperti marahnya “tokoh-tokoh adat dan budaya” Melayu, Malaysia, terhadap ketegasan Tok Guru Al Ustadz Nik Aziz, seperti tersebut diatas.

 

Saudara Hussaini Daud Sp, anganlah baru seperti itupun, sudah menjadikan saudara terus menjadi ngambek. Kita harap saudara Hussaini Daud Sp tidak perlu gundah dan risau. Walaupun saya sendiri memang senantiasa resah dan gelisah,  kalau saudara Hussaini Daud Sp masih belum memfokuskan tulisan-tulisannya kepada masalah perjuangan bangsa Acheh, yang sedang berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negaranya, yang asik masalah agama ke agama!

 

Tetapi begitupun jangan silap, sayapun tidak akan meletakkan saudara Hussaini Daud Sp selevel dengan Tok Guru Al Ustadz Nik Aziz.  Walaupun Kerajaan Negeri Kelantan, “Nik Azis Government” itu, telah disebut-sebut juga sebagai Serambi Mekah, sedangkan Acheh, masih sedang berjuang untuk memancung “Indonesia” dari serambinya agar “Acheh Self Governement” dapat meletakkan kembali diserambi Acheh, sebuah Negara Acheh Sumatra dengan hegemonynya: Acheh Seuramoë Meukah-Acheh Serambi Meukah!

 

Sama juga saya kira, seperti Otto Syamsuddin Ishak tidak akan meletakkan Bapak Sosiology (Islam): Ibnu Khaldum, yang juga telah menjuluki Acheh sebagai Andalusia Timur, sehingga Pulau Sumatra semasa dalam wilayah Status Quo Ante Bellum Negara Acheh, disebutkan juga sebagai Pulau Andalas, selevel dengan Sigmund Fraud, kecuali memadailah sebagai Bapak Sosiology Barat.

 

Makanya saudara Hussaini Daud Sp tidak perlu menghiraukan marahnya “orang itu”, sebagaimana Tok Guru Al Ustadz Nik Azizpun tidak memperdulikannya.

 

Saya, Omar Puteh pun tidak menghiraukan dan memperdulikan orang lain marah, jika saya terus mengatakan bahwa, itu Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman adalah sememangnya orang Acheh berasal dari Garôt-Pidië, sebagaimana sayapun tidak memperdulikan marahnya Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman, kalau saya melarang beliau yang juga dikatakan berasal dari Garut, Sunda, agar tidak lagi mengatakan dirinya sebagai suku Sunda, tetapi sebagai bangsa Sunda, sebagai nasionalis Sunda dari Negara Pajajaran atau Negara Pasundan atau dari Negara Islam Sunda!

 

Warga Garut Sunda berasal dari warga Garut Pidië?, Acheh, (dimana keluarga Tengku Hasan di Tiro ramai bermukim) ketika Jawa Barat menjadi bahagian Wilayah Status Quo Ante Bellum Negara Acheh!   Garöt Pidie, Acheh dan Garut Sunda adalah "sikembar dua"!

 

Kita tidak menepik, sebuah kebenaran fakta bahwa adat di Acheh, telah dipengaruhi oleh adat Hindu, yang sudah wujud sejak sebelum Acheh didatangangi Islam. Walaupun setelah Islam berkembang banyak peninggalan-peninggalan Hindu itu dimusnahkan, karena diannggap sebagai punca-asal kurafat, namun pengaruh adat Hindu itu, terlalu sukar menjauhkannya, mungkin karena ianya telah mengakar jauh kedinding-dinding pembuluh darah!

 

Seperti mana, jika kita dapat baca dari beberapa jenis kitab-kitab yang pernah mempengaruhi Islam, yang ditulis oleh ulama-ulama Islam, yang mulanya sebagai penganut ta'at agama Nasrani dan Yahudi, dengan disengaja atau tampa disengaja telah tersertakan adat-istiadat mereka kedalamnya.

 

Saudara Hussaini Daud Sp!  Sabong ayam bukan adat budaya Acheh!  Dan penyabongan ayam di Acheh hanya suatu yang insidentil yang relatip kecil dan terlalu jarang sekali, kejadian seperti itu, tak tahulah, yang tercerita disini, mungkin seperti yang pernah saudara lihat.  Dan sayapun tidak pernah melihatnya di Acheh.

 

Tidak seperti di Minangkabau, adat bawaan dari Bagindo Sati, si ketua Adat.  Sabong Ayam disana, telah dijadikannya sebagai sebuah cabang Adat kumpulan mereka.  Sehingga Tuanku Petro Sjarief bergelar Tuanku Imam Bonjol sangat murka kepadanya. Disana sebutan nama-nama, si Kinantan atau si Itam Burik dan lain-lain bermunculan!

 

Karena hendak mempertahankan adatnya melagakan ayam itulah, kumpulan adat dibawah Bagindo Sati, telah sanggup menjadikan diri dan kumpulannya sebagai militia Penjajah Belanda dan memerangi Tuanku Imam Bonjol dan bangsa Minangkabau yang berjuang untuk mengusir penjajah disana.

 

Sama seperti Sofyan Ali, si militia Penjajah Indonesia Jawa, Ketua Front Perlawanan Seperatis GAM (FPSPG) si kaki judi, ketua kumpulan yang mempunyai kecenderungan  mempertahankan judi sebagai tradisi kumpulannya.  Ekses dari kumpulan inilah, maka beberapa orangnya Sofyan Ali dari FPSPG, baru-baru ini telah dijatuhi hukuman "sandiwara" cambuk dan diarak didepan khalayak ramai, sebagaimana kehendak Undang-Undang Syari'ah versi Penjajah Indonesia Jawa di wilayah NAD?!

 

Di Minangkabau juga dikabarkan terbawa-bawa dengan budaya laga kerbau dari Jawa? Konon Balai Pustaka Jakarta pernah mengeluarkan buku kecil cerita rakyat, bagaimana asal-usul Minangkabau. Disana diceritakan, anak kerbau Minangkabau yang masih sedang menyusu muncul sebagai pemenang berlaga, ketika dilagakan dengan kerbau besar dari Jawa.  Anak kerbau itu dipasangkan tanduk besi tajam dikepalanya.  Maka sebaik saja anak kerbau itu melihat kerbau Jawa digelanggang laga, tampa berlengah-lengah diserodoknyalah bahagian bawah, tepat ke tempat "susuan" kerbau Jawa itu.

 

Kerbau Jawa itu tumbang dan M(i)enang lah anak K(a)erbau itu!  Menanglah Minangkabau! Apakah sebenarnya misi cerita rakyat versi Balai Pustaka, Jakarta itu, tak payalah saya interprestasikan.

 

Apalagi tulisan itu berbeda sekali dengan tulisan Prof Sou'ib. Tetapi yang penting pengalaman pertama sponsoran laga kerbau telah dimenangkan oleh kaum adat disana. Para "kaum adat" di Jawa Chauvinis yang berkurun-kurun telah biasa dengan "budaya laga kerbau". Sebagaimana cerita orang-orang Jawa bahwa, disana memang mudah ditemui ramai "kerbau-kerbau berkumpul", kumpul kebo?  Diantara heronya  terkenal dalam sejarah Jawa Chauvinis, adalah si Kebo Ireng!

 

Begitu juga dengan masalah laga ayam.  Terutama orang-orang Jawa Madura:  Taji-taji ayamnya digantikan dengan kepingan atau jarum besi tajam yang diikatkan pada bahagian belakang kaki ayam laganya, sebagaimana taji ayam itu sendiri tetapi dalam posisi taktis. Kepingan atau jarum besi tajam si ayam laga yang menang itu, akan menebas leher si ayam laga yang kalah.  Ataupun kepingan atau jarum besi itu dari si ayam laga yang kalah, kadangkala, akan mengoyak-koyak perut tuan si ayam laga yang menang!  Diantara hero si laga ayan dalam sejarah Jawa Chauvinis, adalah si (H)Ayam Vuruk, Raja Jawa Majapahit, Jawa Madura!

 

Saudara Hussaini Daud Sp!  Dulu, di Kelantan dan Trengganu telah "dikisahkan", bahwa garis batas perbatasan antara peta kedua kerajaan itu, menjadi berobah-meluas, setelah digariskan dan dirobah oleh ketajaman taji ayam laga Raja Trengganu, yang menang berlaga ayam dengan Raja Kelantan.

 

Dan kemudian, memadailah kita tidak lagi perlu, meceritakan cerita ayam laga di Siam atau ayam laga di China dan lain negeri atau negara!   Selain laga ayam dan laga kerbau, dunia ini terlalu banyak sekali jenis, laga-melaga: Laga kambing; laga  lembu, laga anjing, laga jangkrik, laga orang dengan singa (dulu-masa Romawi), laga orang dengan orang, seperti olah raga boxing atau Wristling dst-nya.

 

Begitulah diantaranya seperti Seni Rapai Dabus di Acheh sama seperti Seni Rapai Dabus di Kepulaan Maladewa, sama seperti di Banten, sama seperti di Bali atau mungkin ada lagi ditempat lain, ini diakui. Pertanyaan timbul:  Dari manakah asal Seni Rapai Dabus ini? Mungkin saja dari India, tetapi kemudian negeri-negeri tertentu memilihnya sebagai koleksi budayanya.  Kita tidak perlu heran karena, dan kita perlu akui, apalagi India terkenal didunia sebagai pusat tamandun Seni Budaya Dunia!

 

Seperti seni budaya di Jawa dari tari adat dan tari budayanya berasal 99% (persen) dari India termasuk seni pembuatan batiknya, walaupun Jawa Chauvinis tidak mau mengakuinya.

 

Hanya Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman, dengan jentelmen mengakui Su + Dirman berasal dari Sangsekerta cq India.   Nama Sudirman bukan nama dari Jawa.  Seperti nama Ahmad dan Hakim berasal dari Arabia.  Inilah lagi diantara defencenya bahwa, Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman anak bangsa Sunda!

 

Kecuali "seni pembuatan tempe" 100% (persen) berasal dari Jawa, sehingga India mintakan "insinyur-insyinyur tempe" Jawa Chauvinis pada tahun lima puluhan agar dikirim segera ke India untuk mengatasi masalah permakanan disana, sebagai imbalan pengakuan India atas Indonesia Jawa setelah 1947.

 

Tetapi saudara Hussaini Daud Sp ketahui bahwa, wilayah Hindu-Hindu itu, bukanlah di wilayah Melanesia, tetapi di wilayah “indos nesos”, di Kepulauan (Tanjung) Keling: Sebahagian Thailand, Kampuchea, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa dan Kalimantan bahagian Selatan.

 

Ini sesuai dengan sejarah kerajaan Hindu, Barathayuda dan Ramayana dan sesuai dengan cerita-cerita yang dibawa oleh saudagar-sadagar Yunani yang berniaga ulak-alik ke Teluk Benggala, di India, yang dikumpulkan oleh Samuel Plotomi pembuat peta dunia pertama pada abad ke 10 atau ke 11.

 

Sedangkan dari mulai wilayah Sulawesi tempat asalnya si Daeng Yusuf Kalla, sehingga ke Melanesia: Ambon dan Papua Barat, tidak pernah ada disebut-sebut sebagai wilayah (kerajaan Hindu). Itu sebabnya, Andi Aziz, sepulangnya dari Jerman terus mendirikan Negara Indonesia Timur, untuk sesiapa yang telah memahami bahwa, Indonesia (Barat) itu adalah Jawa!

 

Nama Melanesia seperti yang saudara Hussaini Daud Sp sebutkan itu adalah sebenarnya nama klasifikasi wilayah dari para anthropologis, dan bukan dalam wilayah politis "indos nesos".

 

Tetapi Belanda yang kemudian menciptakan wilayah itu, sampai kesana, sebagai wilayah politis "indos nesos", sebagai wilayah tanah jajahan Hindia Belanda, kemudian menjadi wilayah Negara Republik Indonesia Serikat dan kemudian setelah wilayah-wilayah itu dipotong-potong menjadi propinsi-propinsi dan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah itu dicincang-cincang menjadi suku-suku,  maka wilayah itu kemudian, oleh Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, setlah berhasil mencantumkan personil ex-KNIL Belanda dan ex-Nica menjadi TNI, Tentara Teroris Nasional dan menghimpunkan senjata, maka dengannya dipaksa terima menjadi wilayah jajahan NKRI, sebagai wilayah tanah jajahan (Indonesia) Jawa Chauvinis.

 

Ini sesuai dengan keterangan dari Dr Mohammad Hatta dan Dr Pramoedya Ananta Toer: Anak-anak Jawa Chuvinis, menyembunyikan Jawa-Sentrisnya (Jawa Chauvinisnya) disebalik “Indonesia”. Sama seperti expose dari sikap Prof Dr Noercholis Madjid, seorang penasihat rohani kepada Suharto Kleptokracy, yang masih menolak menjadi Melayu dan hanya mau sebagai Jawa, pada tahun 1995. Bagaimana dengan Soempah Pemoeda, dengan bahasa Melayunya?

 

Sama juga sebagaimana pernyataan Jenderal Martono, pada 1968 atau dua tahun setelah pertemuan “empat mata” Soekarno si Penipu licik dengan Suharto Kleptokracy pada 11 maret, 1966: .......di wilayah “indos nesos” akan dilahirkan hanya satu jenis manusia Jawa! (The Ecologist London 2 Maret,1968).

 

Atau sama juga dengan pertanyaan mengapakah:

 

90% Perwira-Perwira Tinggi, musti anak-anak Jawa tulen!.

90% Perwira-Perwira Menengah, musti anak-anak Jawa tulen!

90% Perwira-Perwira Pertama, musti  anak-anak Jawa tulen! Dan seterusnya langit, darat dan laut dikawal oleh anak-anak Jawa tulen.

 

Javanism is Indonesia! Indonesia is Javanism! Jawa adalah Indonesia! Indonesia adalah Jawa!

 

Indonesia itu adalah Jawa Majapahit!  Bagaimana dengan Jawa Mataram? Sedangkan Majapahit sudah habis incit-incitnya setelah matinya Raden Trunojoyo pada 27 Desembder, 1677, ditikam oleh Amangkurat II, anak Jawa Mataram.

 

Jadi saudara Hussaini Daud Sp patut diingat, jangankan mengenai adat Acheh itu, Adat bak Pö Teumeureuhom (Raja), sekalipun dikawal dan dikontrol oleh Hukôm bak sjiah Kuala (Ulama) namun kembali masih bisa dipengaruhi oleh adat Hindu.   Dalam tarekh Islampun telah kejadian: Saidina Abu Bakar ra dan Saidina Omar bin Chatab, kedua sahabat Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah beliau jamin masuk syurgapun, tetapi masih ada yang mengingkarinya dan mengepreng-ngeprengkan kedua sahabat itu dengan preng-preng dan preng-preng.........

 

Saya tidak mau mengatakan itu adalah akibat reformasi?   Saya teringat dengan istilah (sejarah) reformasi dari Marthin Luther, yang mengakibatkan terjadinya dua belahan besar: Katholik dan Protestan!

 

Wahabi bukan reformasi, karena masih sunnah!

 

Saudara Hussaini Daud Sp!  Apakah yang saudara maksudkan dengan:............Hal ini terjadi disebabakan pendekatan "Circle Aproach" atau reformasi.   Saya kira pengertian kedua kata itu dalam kalimat itu sendiri, sangat berbeda, apalagi setelah saya membuat circling-cicling, tampaknya semakin lain.  Itupun belum lagi, kalau saya hubungkan dengan istilah ataupun arti dari reformasi itu mengikut sejarahnya peristiwanya, mengkikut Circling Approach.

 

Bagi saya, perlu juga kita ikut contoh pribadi Saidina Ali ra, ketika kita seluruh 5.000.000 bangsa Acheh di dunia sedang berkomitment akan menyahut seruan  TNA, Tentara Negara Acheh, akanmempertahankan setiap inchi bumi Acheh:

 

Saidina Ali ra, sebagai seorang pemimpin ummah tidak pernah memikirkan adat mengumpul harta. Beliau hanya memiliki kekayaan dengan mengadatkan memiliki hanya dua baju hitam: Satu baju melekat dibadan dan satu lagi menggantung di jemuran!  Dan hampir setiap hari beliau sekembali dari tugasnya tampa membawa apa-apa untuk anak-anak dan istri beliau, kecuali hanya debu-debu padang pasir yang melekat di baju hitamnya.

 

Sehingga Nabi Besar Muhammad SAW tidak mengizinkan beliau beristrikan lain, selain Siti Fatimah Zuhra, bukan karena apa-apa dan bukan karena akan memadukan Siti Fatimah Zuhra, anak beliau, tetapi karena Saidina Ali terus mempertahankan adatnya tidak mengumpul harta.  Itulah Saidina Ali ra. Dan itulah Imam Ali!

 

Sekalipun demikian perlu juga kita ingat, TNA, Tentara Negara Acheh dan para syuhada kita hampir semua mengikut Abu Dzafrin Al Ghifari, senantiasa dengan sesalin baju dibadan hingga ke liang lahat sebagi al Syahid!  Amin ya Rabbal 'Alamin!

 

(bersambung: Plus I + Adat Singgongan Langsung Dan Singgongan Menyayong)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway
----------

 

Hussaini Daud menulis:

("Sekilas Menyorot Circle Approach Dan Point Approach Dalam Pengenalan Islam". Sandnes 18 Mei, 2005)...................

 

Demikian juga di Acheh masih ada orang yang membuat sesajian, menyabung ayam dan menggunakan kalimah syahadah dengan diiringi musik klasiknya. Hal ini terjadi disebabkan pendekatan "Circle Approach" atau reformasi. Ketika penjebar Islam  melihat kerumunan orang yang sudah mengakui masuk Islam asik menyabung ayam, tidak titegurnya. Beliau hanya mengingatkan saja  agar mereka tidak terlambat Shalatnya. Konon ada juga kiyai yang meminta mereka agar mengucapkan Bismillah ketika mereka melepaskan ayamnya. Akibatnya sebahagian orang alim palsu berargumen bahwa semua perbuatan itu sudah di Islamkan dengan mengucapkan Bismillah (argumentasi yang begitu dhaif).

 

Demikian juga di Acheh ketika penyebar Islam itu melihat kerumunan orang yang sedang melantunkan syair Hindunya di iringi musik tradisionalnya: "Pocut di Timu.... Pocut di Barat......Preung-preung- pre". Penjebar Islam ketika itu hanya menukarkan sya'irnya saja dengan: " La ila ha illallah......Preung-preung-pre". Sampai hari ini masih berlangsung hal yang demikian dengan kerap kali terjadi pelesetan kata: "La ila ha et lallah......Preung-preung-pre". Padahal bila kita analisa dengan cermat tidaklah di benarkan mengiringi kalimah syahadah itu dengan musik, kendatipun kita masih mampu mengucapkannya dengan benar. Jangankan Kalimah syahadah, ayat Al Qur-an saja tidak dibenarkan.

 

Kenapa juga penyebar-penyebar agama dari Persia dan Gujarat itu tidak melarangnya ketika itu ?  Sebabnya mereka menggunakan pendekatan "Circle Approach". Mereka khawatir terbentur dengan adat-istiadat kaum pribumi yang terkenal kuat mempertahankan adat kebiasaannya.

 

Justru itulah sampai hari ini masih kita dengar dari orang-orang Acheh sendiri, kendatipun persentase nya tidak seberapa, lebih mementingkan "Adat" daripada hukum Islam itu sendiri.

 

Bayangkan andaikata masih banyak orang Acheh yang terpengaruh ide yang keliru itu, dapatkah diharapkan Islam yang benar akan tegak di sana ? Bila kita tegur, mereka marah dan mencari-cari kesalahan kita untuk membela diri. Mereka bersatupadu dengan orang-orang yang berbuat dhalim. Mereka menggunakan (Qur-an) hanya sebagai alat bacaan bukan sebagai Petunjuk (Pedoman Hidup). Akibatnya mereka tidak mengetahui kalau Allah mengutuk orang-orang yang membiarkan kedhaliman di lingkungan kelompoknya sendiri

(QS. 5:79)

 

Billahi fi sabililhaq

 

Husaini Daud Sp

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

---------