Stockholm, 8 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA, ITU JENDERAL SUTARTO MAJUKAN JURUS TIPU SAMBIL SODORKAN KELIT SOFYAN ALI & MILISI- FPSG-NYA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA, ITU JENDERAL SUTARTO MAJUKAN JURUS TIPU SAMBIL SODORKAN KELIT SOFYAN ALI & MILISI- FPSG-NYA

 

“Perkiraan kekuatan GSA sampai 18 Mei 2005 atau akhir darurat sipil II adalah 1.212 personil dengan 445 pucuk senjata campuran. Dari kondisi tersebut maka kekuatan GSA dinilai masih cukup potensial sebagai ancaman bagi keutuhan NKRI baik di masa sekarang masupun masa datang” (Panglima TNI Jenderal Endriartono, Cilangkap Jakarta, Rabu, 8 Juni 2005)

 

Baiklah Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

 

Dharminta ini matanya dari dulu sudah buta dan telinganya budek, sehingga bisa saja ditipu oleh itu Jenderal TNI-Jawa Endriartono Sutarto. Bukan hanya itu Dharminta wartawan budek Jawa Pos yang bisa ditipu, melainkan orang dari anggota Komisi I DPR, Sekretaris Menko Polhukam, Sekretaris Jenderal Dephan, serta pejabat Mabes TNI. Mengapa ?

 

Karena, bagaimana kekuatan TNA yang dicuapkannya hanya mencapai 1.212 pasukan dengan 445 pucuk senjata campuran masih perlu untuk dilawan dengan 50.000 pasukan non-organik TNI budek-Jawa-nya dengan senjata dari berbagai jenis.

 

Orang-orang budek saja yang bisa ditipu oleh Jenderal TNI-Jawa Endriartono Sutarto ini.

 

Sekarang di Acheh bukan lagi Darurat Sipil yang diberlakukan melainkan sudah bertukar menjadi Tertib Sipil, tetapi itu Jenderal Endriartono Sutarto masih tetap saja terus ngotot untuk mempertahankan pasukan non-organik TNI budek-Jawa-nya di Acheh. Dengan alasan itu Tertib Sipil tidak ada hubungannya dengan pengurangan atau penambahan pasukan non-organik TNI. Kan budek itu namanya.

 

Jadi, rupanya itu Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2005 Tentang Penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Acheh yang diberlakukan pada 19 Mei 2005 menggantikan Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2004 Tentang Pernyataan Perpanjangan Keadaan Bahaya dengan Tingkat Keadaan Darurat Sipil di Acheh yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 18 November 2004, ternyata oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto orang Jawa satu itu ditolak mentah-mentah. Dengan alasan bahwa status setelah dicabutnya Darurat Sipil diganti dengan Tertib Sipil hanya memberikan kewenangan yang lebih kepada penguasa Daerah sipil Acheh dalam hal menangani masalah keamanan di Acheh, tetapi tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pengurangan dan penambahan pasukan non-organik TNI di Acheh.

 

Jadi kalau begitu, itu yang dinamakan Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2005 Tentang Penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Acheh oleh pihak TNI dianggap angin saja. Dan TNI tetap saja ingin terus menduduki dan menjajah Acheh, dengan mengatasnamakan Pemerintah dengan taktik dan strategi keamanannya.

 

Kemudian itu Jenderal TNI Endriartono Sutarto menjual dengan atas nama rakyat Acheh dengan menyatakan bahwa ”masyarakat Aceh masih menginginkan kehadiran TNI dalam rangka melanjutkan pemulihan kemanan di Aceh samapai terwujud kondisi kemanan yang utuh dan permanen”. Kemudian itu dengan menghembuskan bahwa ”keberanian masyarakat untuk melawan GSA semakin tumbuh dengan pesat dan secara aktif giat melakukan pengamanan di lingkungannya”

 

Rakyat Acheh yang mana itu yang dimaksud oleh Jenderal Sutarto itu ? dan masyarakat Acheh yang mana yang berani melawan TNA ?

 

Itu hanya cerita propaganda bohong saja dari Jenderal TNI Endriartono sutarto untuk mempertahankan pasukan non-organik TNI budek-Jawa-nya di tanah Negeri Acheh.

 

Sedangkan itu yang dinamakan rakyat Acheh yang berani melawan TNA adalah para milisi yang dibina oleh Jenderal-Jenderal TNI, seperti Front Perlawanan Separatis GAM (FPSG) dibawah pimpinan Sofyan Ali alias Yan PT dari Bireuen dan konconya Novi, dari organisasi anti-GAM di Banda Acheh, Teungku Zulfauzi alias Tgk Don dari Tamiang yang membelot dulu ikut ekor Jenderal Ryamizard Ryacudu, Mansur alias Acoi, Ketua FPSG Idi Rayeuk, Insan Kamil dari Benteng Rakyat anti Separatis (Berantas) di Lhokseumawe, kemudian para cuak dan keroco dari Gerakan Penyelamat Aceh Republik Indonesia (GPA-RI) di Banda Acheh, Front Perlawanan dan Pembela Rakyat Teuku Umar (Front TUM) di Acheh Barat, dan Geurakan Rakyat Anti Separatis Aceh (Geurasa) di Pidie.

 

Nah itulah para milisi yang dibina Jenderal-Jenderal TNI-Jawa untuk dijadikan alat melawan pasukan TNA dan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Dan jelas, itu adalah para cuak dan sebagian orang-orang yang datang dari luar Acheh yang sengaja dibina oleh Jenedral-Jenderal TNI untuk bisa terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh.

 

Dan dibawah ini disertakan sedikit keterangan para milisi yang dibina oleh Jenderal-Jenderal TNI untuk ikut bersama-sama TNI guna terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh dan membunuh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

DETAILS OF SOME MILITIA GROUPS IN ACEH

 

Central Aceh (Voluntary)

 

Militia PujaKusuma

 

Location: Training centre and barracks are located in Kekuyang village, 18 kilometres from Central Aceh’s main town of Takengon.

Who and how many members: Javanese.

Supervised by: H. Marsito Mertorejo, an official at KONI (the National Sport Committee of Indonesia, Central Aceh branch), and non-organic troops of Rajawali based in Timang Gajah, also KOSTRAD infantry battalion 413/SSP.

Equipment: Military standard and home made rifles, for example M-16 or SS-1 (from the military). Ammunition can be bought from the military at Rp 5000 per bullet. Militia Pujakusuma also has a uniform.

Funding: Local businessmen and members of local government give substantial financial assistance to this group. There have also been several reports of incidents when group members have extorted money in the name of GAM.

 

Komando Jihad (Holy War Command)

Location: Post of KOSTRAD 413/SSP in Pondok Gajah village (Bandar sub district), and the former warehouse of PT Aceh Kongsi Cooperation in the same village.

Who and how many members: Mostly from the Gayo community.

Supervised by: District military command (KODIM) 0106 Central Aceh; Intelligence unit forces (Satuan Gabungan Intelijen- SGI), and KOSTRAD Yonif Linud 431/SSP. Local businessman Masriadi, from Jongok village, and Suyatiman, a civil servant who works at sub district office in Bandar are also involved.

Equipment: Assault rifles (commercial and home made); swords; masks; ID cards; two-way radios.

Funding: Donations from local businessmen and self-funding.

 

Brigade Lauser Antara / “Militia Gayo 15

Location: Timang gajah II village, Timang Gajah sub district, Central Aceh.

Who and how many members: Gayonese, 15 members.

Supervised by: Tagore, member of the Golkar party in Central Aceh, also two untis of the Indonesian military special intelligence located at Paya Tumpi and Digul. (SGI’s Pak Anwar and Pak Ketut are the two key military personnel involved. In addition, Ikmal Hakim, a teacher at senior high school in Timang Gajah also helps to supervise this group.

Equipment: Weapons supplied by Sukur Kobat, head of the youth wing of Golkar: homemade riffles and rifles supplied by the local military intelligence unit. Green uniforms displaying the names of the militia groups.

Funding: Salary and bonus made to members.

 

Militia Soroja

Location: Ten villages in Bandar and Syiah Utama.

Who and how many members: Javanese.

Supervised by: KODIM 0106 Central Aceh; battalion TNI Sriwijaya based in Bandar and Syiah Utama sub district; BRIMOB in Banda and Syiah Utama sub districts, and integrated troops of Rajawali.

Equipment: Standard assault rifles: SS1.

Funding: From local businessmen and politicians, and some small revenue raising activities.

 

Militia Sapu Jagad

Location: Fifteen villages in Timang Gajah sub district of Central Aceh. This group was trained in two different locations in the villages of Lampahan and Lubuk Cengkeh.

Who and how many members: Javanese and Gayonese.

Supervised by: H. Marsito Mertorejo (also head of Pujakusuma’s militia), Ir. Tagore (local politician), non-organic troops, Rajawali, Timang Gajah based and KOSTRAD battalion infantry 413/SSP.

Equipment: Home-made and traditional weapons; uniforms that are worn only during operations; militia identity cards with the code 001/ND/SJ/2000 (001 is the person code-name, ND is the name of village where each member lives, SJ is Sapu Jaga, 2000 as year registered).

Funding: From local businessmen and local government officials; extorting money from buses and trucks.

 

NOTE: Data on other militia groups in Central Aceh is not included here as more investigation is needed to verify existing information.

 

East Aceh (Voluntary)

 

Militia Front Pembela Aceh (Aceh Defense Front), FPA

Location: East Aceh.

Who and how many members: Initially 16 members, but now many more.

Supervised by: Syarifuddin Latief, Mayor Adam Soewarno as a Commander of the special unit of TNI/Rajawali and military officers from KOREM Lilawangsa.

Equipment: Bayonet and firing assault rifle M-16 and SS-1, also Colt revolvers and military supplied uniforms.

Funding: Money from Satgas Rajawali (military) because the militias work closely with the military and are often being based in TNI posts. Daily allowances for basic needs such as rice is given by battalion 111, East Aceh.

 

Militia Pasukan Merah Putih ( Red White Force)

Location: East Aceh.

Who and how many members: Javanese estimated 300 members.

Supervised by: Artillery battalion of Medan (ARMED), North Sumatra

Equipment: Small arms; pistol, grenades, and two-way radios.

Funding: Members receive a monthly salary of RP 250,000 plus bonuses of RP 50,000 per operation for insurance and logistics.

 

‘New’ militias established during martial law.

Membership by coercion.

 

Front Anti Separatism GAM (FPSG)

Location: Aceh Besar. Formed in December 2003.

Leader: Suhaimi / civil servant.

 

Protecting Movement on Aceh within Republic on Indonesia (GPA-RI)

Location: Banda Aceh. Formed in January 2004.

Leader: Agus / Entrepreneur.

 

People Organization to Defense NKRI

Location: Sabang. Formed in January 2004.

Leader: Adnan Hasyim / civil servant.

 

The anti Aceh separatism movement (Geurasa)

Location: Pidie. Formed in December 2003.

Leader: Zulkifli Gade / member of local parliament .

 

The People's Fortress to Fight Aceh Separatists (Berantas)

Location: Lhokseumawe municipal city. Formed in November 2003.

Leader: Satria Ikhsan Kamil / member of PKPI.

 

The Anti Separatism GAM Front (FPSG)

Location: Bireun. Formed in November 2003.

Leader: Sofyan Ali / businessman (contractor) and former local parliament.

 

Red white Resistance Front (FPMP)

Location: East Aceh. Formed in January 2004.

Leader: Drs Marzuki / civil servant.

 

Red White Unit Anti GAM

Location: Langsa and Aceh Tamiang. Formed in March 2004.

Leader: Said Samsul / entrepreneur.

 

Teuku Umar People Resistance Front (Front TUM)

Location: West Aceh. Formed in December 2003.

Leader: T. Hasyim Ubit / civil servant.

 

Anti Separatism GAM Front (FAGSAM)

Location: Aceh Jaya. Formed in December 2003.

Leader: Hasbi Yunus / member of local parliament.

 

Red White Garuda’s Front (FPGMP)

Location: Nagan District. Formed in December 2003.

Leader: Tjut Ali / entrepreneur.

 

The anti-separatism GAM Movement (FPSG)

Location: Southeast Aceh. Formed in March 2004.

Leader: M.Salam / member of local parliament.

 

The anti-separatism GAM Movement (FPSG)

Location: South Aceh. Formed in December 2003.

Leader: Hafidh / civil servant.

 

The anti-separatism GAM movement (FPSG)

Location: Aceh Singkil. Formed in January 2004.

Leader: Ali Hazmi / entrepreneur.

 

( http://www.acheh-eye.org/data_files/english_format/ngo/ngo_eye_on_acheh-eng/ngo_eye_on_acheh_data-eng_002-2004.html )

----------

 

Date: Wed, 8 Jun 2005 01:31:54 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: OPLIHKAM BERJALAN MAKSIMAL DI ACEH

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, alasytar_acheh@yahoo.com, apalahu2000@yahoo.co.uk, agungdh@emirates.net.ae

 

OPLIHKAM BERJALAN MAKSIMAL DI ACEH

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara, Indonesia

----------

 

PANGLIMA TNI: OPLIHKAM BERJALAN MAKSIMAL DI ACEH

 

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengemukakan pelaksanaan operasi pemulihan kemanan (opslihkam) sejak penerapan status darurat militer I sampai darurat sipil II di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) secara umum berjalan cukup baik.

 

"Indikator keberhasilan tersebut nampak dari kekuatan dan kemampuan kelompok Gerakan Separatis Aceh (GSA) yang semakin menurun baik secara kuantitas maupun kualitas," katanya di hadapan sejumlah anggota Komisi I DPR, Sekretaris Menko Polhukam, Sekretaris Jenderal Dephan , serta beberapa pejabat Mabes TNI di Cilangkap Jakarta, Rabu.

 

Ia mengatakan keberhasilan pelaksanaan operasi pemulihan kemanan di Aceh juga ditandai dengan kehidupan masyarakat sehari-hari yang semakin kondusif serta roda pemerintahan dan perekonomian yang mulai berjalan ke arah normal.

 

Ia mengungkapkan perkiraan kekuatan GSA sampai 18 Mei 2005 atau akhir darurat sipil II adalah 1.212 personil dengan 445 pucuk senjata campuran.

 

"Dari kondisi tersebut maka kekuatan GSA dinilai masih cukup potensial sebagai ancaman bagi keutuhan NKRI baik di masa sekaarang masupun masa datang," katanya.

 

Lebih jauh Endriartono mengemukakan keberanian masyarakat untuk melawan GSA semakin tumbuh dengan pesat dan secara aktif giat melakukan pengamanan di lingkungannya.

 

Panglima TNI juga mengatakan masyarakat Aceh masih menginginkan kehadiran TNI dalam rangka melanjutkan pemulihan kemanan di Aceh samapai terwujud kondisi kemanan yang utuh dan permanen.(*)

----------