Sandnes, 12 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PEPATAH: MATEE ANEUE MEUPAT DJEURAT, MATEE ADAT GADOH MEURDEHKA MADE IN "RANGKANG"

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.



SEDIKIT MENYOROT PEPATAH: MATEE ANEUE MEUPAT DJEURAT, MATEE ADAT GADOH MEURDEHKA

 

Omar Putéh telah menulis: 1. "Matée aneue meupat djeurat, matée adat gadoh meurdehka!"

 

Yang sering kita dengar: "Matee aneuk meupat djeurat, mate adat ho tamita". Sepertinya Omar puteh ini alias Razali Paya telah merobah pepatah tersebut sebagaimana yang dia tulis diatas itu. Gadeh Mardeka bukanlah disebabkan matenya adat. Gadeh Mardeka disebabkan matenya Idiology/A'qidah dari suatu bangsa.

 

Sebelum saya lanjutkan perihal Idiology dan Adat, ada baiknya saya kritisi dulu akan keberadaan pepatah itu sendiri, dimana sepertinya Razali Paya itu terikat dengannya.

 

Diantara sekian banyak pepatah Acheh ada yang Logis dan ada juga yang tidak logis. Yang logis berasal dari orang-orang idialis, sementara yang tidak logis berasal dari rakyat jelata yang sering ngobrol di rangkang.. Tipe pepatah yang dilambungkan Razali Paya adalah tipe rangkang, bukan tipe akademis. Ketidak logisan pepatah tersebut demikian terangnya bagaikan mata hari disiang bolong. Jangankan orang dewasa yang waras, anak-anakpun tau bahwa ternyata sungguh banyak sekali matinya anak-anak orang Acheh tidak diketahui dimana pusaranya. Lucunya Razali paya masih saja bagaikan orang baru bangun tidur, dengan mengatakan: "Mate aneuk meupat Djeurat" hah ha.

 

Perlu kita ketahui bahwa pepatah yang berbobot adalah pepatah yang Islami, yaitu pepatah yang mengandung muatan Qur-ani. Pepatah tipe rangkang yang dilambungkan Omar Puteh itu tidak Islami atau tidak Qur-ani. Berbicara soal mati adalah berbicara soal "haq", dimana setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tinggallagi waktu yang tepat takdapat dijangkau ummat Manusia.

 

Tubuh yang tidak bernyawa tak ada artinya disisi Allah, dimana tubuh itu akan menjadi santapan cacing-cacing tanah. Sementara nyawanyalah yang menjadi persoalan yang sangat significan. Justru itu pepatah tersebut akan sirna dengan kaca mata yang Islami:" Apalah artinya memiliki pusara tempat bersemayamnya tubuh, sementara nyawa mendapat siksaan disebabkan anak tersebut tidak tunduk patuh kepada Allah ketika nyawa masih menyatu dengan tubuhnya. Justru itu akan muncul "pepatah" yang Islami: "Biarlah hancur pusara biarlah hancur badan asal nyawa selamat di Akhirat nanti. Melalui "pepatah" seperti inilah bangsa Acheh - Sumatra berani melawan Sipa-i Jawa untuk syahid, kendatipun tubuh dan pusaranya tidak diketahui setelah diculik serigala-serigala haus darah itu (baca TNI/POLRI).

 

Islam idiology versus Islam kebudayaan

 

Islam Idiology memfokuskan segala persoalan pada Al Qur-an plus Hadist yang searah dengan Al Qur-an sebagai idiologynya. Mereka haqqul yakin bahwa dalam kehidupan di dunia ini tak ada ruangan sedikitpun untuk keluar dari lingkup agama. Artinya agama tidak dapat dipisahkan sedikitpun dalam mkehidupan sehari-hari. Sementara Islam kebudayaan senantiasa memfokuskan segala persoalan pada kebiasaannya/adat/kebudayaan. Kalau kita tanya mereka tentang fungsi Al Qur-an mereka juga akan menjawab sebagai pedoman Hidup, namun kenyataannya mareka hanya membaca-baca saja Al Qur-an itu dengan harapan memperoleh pahala. Mereka senantiasa memisahkan persoalan agama dengan negara dan kehidupan. Ketika mereka berbicara politik, lepas dari kontek Al Qur-an. Ketika mereka berbicara ekonomi, lepas dari kontek Al Qur-an. Ketika mereka berbicara adat dan kebudayaanpun mereka tidak memfokuskan pada Al Qur-an.

 

Islam Idiology sangat kritis terhapap ucapan siapa saja, mereka teguh pendirian kendatipun hanya seorang diri. Mereka tidak menganut pafam demokrasi, sebaliknya mereka menganut paham Qur-ani. Mereka tundukpatuh kepada Allah dan Rasulnya, bukan kepada orang ramai, bukan. Kendatipun semua manusia kita kumpul pada suatu pilhan sementara Rasulullah memiliki pilihan yang lainnya, sungguh pilihan Rasullullahlah yang benar, sebab Suara Rasul adalah suara Allah

 

Islam kebudayaan tidak kritis terhadap suatu budaya dimana boleh jadi sudah diwarnai unsur yang bathil, apakah warna Hindu Budha dan lain-lainnya. Islam kebudayaan adalah Islam sekuler. Kendatipun mereka berbicara tentang aqidah , mereka tidak memahami apakah sesungguhnya Aqidah itu. Mereka tidak sadar bahwa sedjarah dunia itu tidak ada artinya sama sekali, andaikata kita tidak memahami sejarah Islam.Orang seperti itu sama dengan orang-orang yang mengenal semua tokoh-tokoh dunia, namun tidak pernah mengenal para Imam dan Rasul. Orang seperti itu sama dengan "nol, nol yang menganga alias "kosong".

 

Insya Allah akan bersambung.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia

----------