Stockholm, 12 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, ITU SOEKARNO MEMBANGUN RI DIATAS MITOS, SEHINGGA FONDASINYA SANGAT LEMAH, SETIAP SAAT BISA RUNTUH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON, ITU SOEKARNO MEMBANGUN RI DIATAS MITOS, SEHINGGA FONDASINYA SANGAT LEMAH, SETIAP SAAT BISA RUNTUH

 

"Eh, kamu pernah dengar kan postulat berikut: "Kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah?". Iya, kebudayaan "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia"? Itulah zamrud manikam yang dengan kokoh berada dalam payung yang bernama Indonesia. Terserah nama Indonesia itu dari mana, walau jelas Bung Hatta di Belanda dan Sumpah Pemuda di Jawa jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 telah menggunakan nama itu. Bung Hatta jelas bukan Jawa, beliau adalah kebanggan masyarakat Padang khususnya, Sumatera umumnya, dan Indonesia lebih umum lagi. Juga banyak tokoh Sunda yang menjadi pejuang Indonesia merdeka, sebut saja salah satunya Oto Iskandar Dinata yang dipercaya, orang yang menciptakan pekik Merdeka itu” (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Sun, 12 Jun 2005 02:56:14 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Ketika Ahmad Sudirman bertanya kepada Muba Dijon: ”coba terangkan secara terperinci, kapan muncul bangsa Indonesia, bagaimana ciri-cirinya, asal muasalnya, budayanya, adat istiadatnya, dan bahasanya dari mana asalnya. Kemudian perbedaan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Sunda.” (Ahmad Sudirman, 12 juni 2005)

 

Kemudian dijawablah oleh Muba Dijon: "Kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah". Iya, kebudayaan "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia" Itulah zamrud manikam yang dengan

kokoh berada dalam payung yang bernama Indonesia. Terserah nama Indonesia itu dari mana, walau jelas Bung Hatta di Belanda dan Sumpah Pemuda di Jawa jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 telah menggunakan nama itu”

 

Nah, itulah yang dinamakan bangsa dan budaya Indonesia oleh Muba Dijon. Dan dia sendiri tidak tahu darimana asal nama Indonesia. Hanya direferensikan saja pada Bung Hatta yang orang Minang dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928-nya. Pokoknya dalam sumpah pemuda yang dihadiri oleh mayoritas orang-orang kelompok radikal pengikut Soekarno cs dengan ideologi marhaenismenya ada disebutkan satu bangsa, bangsa Indonesia.

 

Jadi, sebenarnya memang yang dinamakan bangsa Indonesia itu sendiri masih kabur, tidak jelas asal-usulnya. Sehinga sulit untuk memberikan penjelasan secara terperinci, terang dan jelas.

 

Adapun bangsa Sunda telah muncul sejak Galuh muncul menguasai wilayah Sunda dan para keturunannya menjadi Raja-Raja Sunda. Misalnya, putera Galuh yang menjadi Raja Sunda IX dengan gelar Prabu Darmaraksa Buana yang berkuasa (891 - 895). Dimana keturunan Galuh ini menguasai wilayah Sunda sampai abad ke-14. Kemudian digantikan oleh Raja-Raja Pajajaran yang dimulai pada tahun 1482 dengan Raja Pajajaran pertamanya Sri Baduga Maharaja.

 

Jadi, kalau sedikit saja menengok kebelakang untuk melihat bangsa Sunda, maka akan ditemukan bahwa akar bangsa Sunda itu jauh melampui sebelum itu Raja-Raja hindu Majapahit menancapkan kakinya di Madura.

 

Karena itu, jelas akan kesulitan bagi siapapun untuk menjelaskan secara terperinci apa itu yang dinamakan bangsa Indonesia, dari mana asalnya, bagaimana ciri-ciri budayanya, adat istiadatnya, bahasanya, orang-orangnya, dan asal-usul keturunannya.

 

Jadi memang wajar saja, kalau Muba Dijon sangat kesulitan untuk memberikan gambaran yang jelas dan terperinci mengenai bangsa Indonesia.

 

Oleh sebab itu, yang tebaik bagi Soekarno dan para penerusnya sampai kepada Muba Dijon adalah untuk mempertahankan mitos Indonesia dengan cara diulang-ulang dan dijadikan syair dalam lagu, sehingga akhirnya mitos itu berobah menjadi sesuatu yang ril dan dianggap benar adanya.

 

Nah, dengan cara itulah Soekarno mempertahankan politik ekspansinya. Dengan dasar mitos yang digubah kedalam syair lagu, kemudian dinyanyikan secara berulang-ulang, sehingga akhirnya dianggap sebagai suatu kenyataan sejarah.

 

Padahal, kalau dikorek dan digali sedikit saja apa itu yang dinamakan bangsa Indonesia, maka baru saja melangkah kedapan pintu sudah, itu yang namanya bangsa Indonesia sudah menghilang entah kemana, karena memang mitos yang telah digubah kedalam bentuk lagu, menguap tanpa bekas, sehingga akhirnya, seperti Muba Dijon menjadi kebingungan, dan tidak ada jalan lain selain menyatakan: ”Terserah nama Indonesia itu dari mana”

 

Jadi, mitos yang digubah kedalam bentuk syair “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia", tidak lebih dan kurang hanya merupakan suatu untaian kata-kata yang isinya keropos, alias kosong, yang sedikit saja disenggol, sudah hancur berantakan.

 

Tentu saja, usaha dari pihak Soekarno dan para penerusnya, khsusunya dari Jawa, terus akan mempertahankan mitos bangsa Indonesia dengan hasil politik ekspansi Soekarno dengan melalui pelebaran dan peluasan wilayah kekuasaan RI-Jawa-Yogya melalui jalur bangunan RIS dengan memakai modal Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950.

 

Dengan modal UU Darurat No.11/1950 inilah, Soekarno dengan tanpa harus mempergunakan sebutir pelurupun untuk menelan dan mencaplok 15 Negara/Daerah Bagian RIS masuk kedalam usus Negara RI-Jawa-Yoga yang juga merupakan salah satu Negara Bagian RIS. Dengan taktik sulap tipu licik model gaya UU Darurat No.11/1950 yang dimainkan Soekarno inilah sebenarnya merupakan mitos lahirnya NKRI. Mengapa hanya merupakan mitos ?

 

Karena kenyataannya, seperti Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, sebenarnya tidak masuk kedalam NKRI jelmaan RI-Jawa-Yogya. Itu tiga wilayah, hanya merupakan bentuk penganeksasian yang dilakukan Soekarno dengan RIS dan RI-nya saja. Dan memang terbukti sampai detik sekarang ini, itu yang dinamakan NKRI masih belum final. Artinya, apa yang digembar-gemborkan oleh Soekarno dan para penerusnya mengenai NKRI, itu hanyalah merupakan mitos, dan diperkuat dengan berbagai bentuk syair yang dijadikan lagu, sehingga setiap anak SD harus dan diwajibkan menghapal syair lagu yang didalamnya mengandung untaian kata-kata: ”Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”

 

Apapun usaha yang dilakukan Soekarno untuk menjadikan mitos sebagai suatu bukti sejarah yang nyata untuk membuktikan NKRI jelmaan RI-Jawa-Yogya melingkupi dari Sabang sampai Merauke, ternyata dalam realitanya, tidak wujud. Karena mitos tetap mitos, tidak akan menjelma menjadi bukti sejarah. Dan Soekarno dengan RIS, RI, dan NKRI-nya adalah satu bukti yang menggambarkan bahwa mitos tidak bisa dijadikan sebagai fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum untuk menyatakan dari Sabang sampai Merauke itulah Indonesia.

 

Begitu juga, walaupun Soekarno dengan kelihaian dan kelicikannya menjadikan RI menjadi anggota PBB, tetapi dalam realitanya sampai detik ini keabsahan dan kelegalan yang namanya NKRI tetap masih digugat. Dan buktinya adalah apa yang sedang berlangsung di Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Seterusnya, Renville bukan mitos. Perjanjian Renville 17 Januari 1948 adalah suatu bentuk dasar hukum yang menjadi dasar fondasi lahirnya Perjanjian Roem-Royen 7 Mei 1949, KMB 2 November 1949 dan penyerahan serta pengakuan Kedaulatan oleh Belanda kepada RIS yang terdiri dari 16 Negara/Daerah Bagian pada tanggal 27 Desember 1949.

 

Selanjutnya, kalau UUD 1945 diamandemen, itu tidak berarti Acheh menjadi absah dan legal, melainkan tetap penganeksasian, penelanan dan pencaplokan Acheh kedalam wilayah RIS, terus masuk ke RI-Jawa-Yogya dan menjelma NKRI adalah merupakan usaha pendudukan dan penjajahan yang dilakukan Soekarno dengan RIS dan RI-Jawa-Yogya-nya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 12 Jun 2005 02:56:14 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA HANYA BUKA MULUT MENCUAPKAN APA YANG DIHEMBUSKAN SOEKARNO PENJAJAH RIS & RI-JAWA-YOGYA-.NYA

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan email_ichwan@yahoo.co.uk

 

Adakah mitos yang membuat yang dimitoskan tetap tegak berdiri dengan kokoh seperti: "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia"? Nampaknya kamu nggak masuk ya dulu waktu kuliah Ilmu Alamiah Dasar dan Filsafat Ilmu, he he... Apa kamu sebenarnya bukan anak sekolahan? Alangkah sedihnya guru-gurumu dulu jika melihay bekas anak didiknya ada yang sesat seperti kamu... Atau kamu itu sebenarnya hanya sekedar seorang "otodidak" yang sesat?

 

Eh, kamu pernah dengar kan postulat berikut: "Kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah?". Iya, kebudayaan "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia"? Itulah zamrud manikam yang dengan kokoh berada dalam payung yang bernama Indonesia. Terserah nama Indonesia itu dari mana, walau jelas Bung Hatta di Belanda dan Sumpah Pemuda di Jawa jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945 telah menggunakan nama itu. Bung Hatta jelas bukan Jawa, beliau adalah kebanggan masyarakat Padang khususnya, Sumatera umumnya, dan Indonesia lebih umum lagi. Juga banyak tokoh Sunda yang menjadi pejuang Indonesia merdeka, sebut saja salah satunya Oto Iskandar Dinata yang dipercaya, orang yang menciptakan pekik Merdeka itu...

 

Jadi jelaslah "Indonesia Jawa" atau "Indonesia Jogyakarta" itu tinggal sejarah yang sudah terkubur puluhan tahun. Itu adalah produk Renville 1948, satu perundingan dari sekian banyak perundingan yang melibatkan Indonesia dalam rangka kembali ke RI 1945. Aku sudah katakan sebelumnya, Renville inilah yang diusung pemain toneel asnlf/gsa dan celeng tna sehingga dimitoskan sebagai "the real Indonesia", karena inilah satu-satunya yang bisa dianggap "celah" untuk gerakan separatisme. Kalian menutup mata dengan perundingan-perundingan berikutnya yang menegaskan "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia"? Sikap menutup mata (dan hati) ini jelas kontra produktif terhadap kampanye separatisme kalian. Jadi, masuk akal kalau kemudian PBB dengan gampang sekali menerima Indonesia sebagai anggotanya puluhan tahun yang lalu, dan semua negara anggota PBB itu, termasuk angoota-anggota yang diterima belakangan dari Indonesia, konsisten sampai sekarang mendukung keutuhan "Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia"?.

 

Jadi, mitos Renvilee itu, juga Gerakan Separatis Aceh yang sudah selesai sejak Daud Beureuh menerima amnesti puluhan tahun lalu, itu tidak akan pernah tegak..!! Itu bagaikan menegakkan benang basah..!!

 

Sudahlah... Kalian pemain toneel asnlf/gsa, tenag-tenang saja hidup di negara baru kalian, swedia. Rangkaian "perundingan" RI-toneel kemaren itu tidak akan menjadi sebuah agreement kalau kalian tidak menerima Otonomi Khusus bagi NAD dalam bingkai negara RI. Biarkan RI melakukan pendekatan kepada tna warga NAD yang kalian hasut dan nistakan itu...

 

Oh ya... ada yang kelewat kemaren. Sejarah tumbuh kembang RI 1945 - RIS 1949 – NKRI 1950 - RI 1959 itu masih ada satu kelanjutannya yaitu dengan adanya amandemen terhadap Konstitusi RI 1945/1959 yang dikomandani lokomotif reformasi dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR RI waktu itu, Prof. Dr. M. Amien Rais, seorang tokoh besar Muhammadyah. Tapi tentu saja kamu tidak akan sejalan dengan apresiasiku terhadap mantan Ketua Umum PAN ini, wong Muhammadyahnya saja kamu hujat...!! Ah, dasar kamu itu sekte ke-74, Mad, semua sekte dan gerakan Islam lengkap kamu hujat habis...!! Apa itu ya fungsi kamu, Mad, sebagai (meminjam istilah Syiah Iran) "hujatatulislam" sekte-74..?? Mad, hujatulislam di Syiah Iran itu fungsinya bukan meng-"hujat", tapi memberi "hujjah" (terjemahannya: alasan, keterangan, sandaran, refference), terutama berdasarkan dalil-dalil naqli. Jadi, jangan seenak udelnya kalian pemain toneel menafsirkan dalil naqli dengan tafsiran sempit syahwat separatisme...!!

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------