Stockholm, 13 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON & PARA AKHLI SEJARAH NASIONAL RI MENIPU SELURUH RAKYAT ACHEH & RI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON & PARA AKHLI SEJARAH NASIONAL RI MENIPU SELURUH RAKYAT ACHEH & RI DENGAN CARA MENUTUPI PROSES PERUBAHAN BESAR-BESARAN DALAM RIS

 

"Sekali lagi aku bilang ya, tumbuh kembang Indonesia sudah jelas: RI 1945 - RIS 1949 - NKRI 1950 - RI 1959/1945 - Reformasi/Amandemen. Sejak Indonesia diterima PBB tanpa kesulitan apapun, sampai sekarang semua anggota PBB mendukung keutuhan wilayah RI dari Sabang sampai Merauke. Masalah Aceh sudah selesai sejak Daud Beureuh menerima amnesti, sehingga "reproklamasi" Hasan Tiro tahun 1976 itu adalah hal yang ujug-ujug, tidak ada hujan tidak ada angin. Gitu loh." (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Sun, 12 Jun 2005 19:00:32 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Muba Dijon dan semua akhli sejarah di RI memang kerjanya menyembunyikan apa yang telah dilakukan oleh Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya ketika berada dalam bangunan RIS. Dimana itu Muba Dijon dan semua akhli sejarah nasional di RI berusaha untuk menyembunyikan periode yang paling penting yang menyebabkan akar utama timbulnya konflik di Acheh dan Maluku Selatan.

 

Coba saja perhatikan, ketika Muba Dijon menjelaskan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, ia hanya cukup menulis: "tumbuh kembang Indonesia sudah jelas: RI 1945 - RIS 1949 - NKRI 1950 - RI 1959/1945 - Reformasi/Amandemen"

 

Dengan satu kalimat, itu Muba Dijon menerangkan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Nah, siapa orang yang bisa mengerti dan memahami dengan baik dan benar, kalau hanya membaca satu bari kalimat seperti yang ditulis Muba Dijon diatas. Hanya orang budek saja, yang mau menganggukkan kepala, dan menyatakan yes, kepada apa yang ditulis Muba Dijon.

 

Ahmad Sudirman kelika membaca kalimat yang ditulis Muba Dijon: "tumbuh kembang Indonesia sudah jelas: RI 1945 - RIS 1949 - NKRI 1950 - RI 1959/1945 - Reformasi/Amandemen". Ternyata itu Muba Dijon telah menyembunyikan jalur proses pertumbuhan RI-Jawa-Yogya dalam periode 14 Desember 1949 sampai 15 Agustus 1950.

 

Mengapa dikatakan periode yang paling penting dan mendasar dalam hubungannya dengan konflik Acheh ?

 

Karena, yang namanya RI, ketika masuk dan mendaftarkan menjadi anggota Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949, itu RI secara de-jure dan de-facto wilayah kekuasaannya hanya di Yogyakarta dan sekitarnya saja.

 

Nah, RI inilah yang mau dan diusahakan untuk disembunyikan oleh Muba Dijon dan oleh semua akhli sejarah nasional di RI.

 

Dimana Muba Dijon dan semua akhli sejarah nasional di RI berusaha untuk menunjukkan kepada rakyat umum bahwa RI itu memang begitu dari sananya. Sama seperti mitos.

 

Kemudian ketika RI masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS diantara 16 Negara/Daerah Bagian RIS, oleh Muba dan semua akhli sejarah nasional di RI tidak pernah dibuka lebar-lebar, kalaupun dibuka, hanya dibuka sedikit saja, biar ada sedikit udara masuk. Kemudian sambil mengacungkan pemberitahuan singkat bahwa periode RIS hanyalah 8 bulan saja, yaitu dari 14 Desember 1949 sampai 15 Agustus 1950.

 

Nah, dengan periode yang pendek itu, Muba Dijon dan para akhli sejarah nasional di RI berusaha untuk mengecilkan kurun periode 14-12-1949 - 15-8-1950. Mengapa Muba Dijon dan para akhli sejarah nasional di RI mengecilkan periode tersebut ?

 

Karena, justru dalam masa 8 bulan itulah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya telah melakukan perombakan besar-besaran dalam tubuh RIS dan dalam tubuh Negara Bagian RI-Jawa-Yogya.

 

Bagi orang-orang yang sudah tertipu racun Soekarno, perobahan besar-besara dalam tubuh RIS dan RI-Jawa-Yogya dianggap angin lalu saja. Padahal, perobahan besar-besaran dalam RIS itu adalah merupakan pembubaran RIS, Pembentukan RI-Jawa-Yogya baru, dan Penjelmaan NKRI dari Negara baru RI-Jawa-Yogya yang telah menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS plus Negeri Maluku Selatan dan Negeri Acheh.

 

Coba saja, perubahan besar-besaran dalam RIS, RI-Jawa-Yogya, NKRI, dianggap angin lalu saja oleh Muba Dijon dan para akhli sejarah nasional di RI.

 

Disinilah memang Muba Dijon dan semua para akhli sejarah nasional RI telah melakukan usaha penipuan besar-besaran kepada seluruh rakyat baik di Acheh, Maluku Selatan, maupun di RI sendiri.

 

Nah, dalam perobahan melalui peleburan RIS secara bertahap inilah merupakan cara licik yang dilakukan Soekarno melalui cara main sulap yang diberi nama Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950.

 

Sulap UU Darurat No.11/1950 inilah yang dimainkan Soekarno, sehingga itu 15 Negara/Daerah Bagian RIS dilahapnya masuk kedalam perut Negara Bagian RI-Jawa-Yogya.

 

Dan tentu saja, yang paling celaka adalah ketika Soekarno melambungkan sulap lain yang diberi nama Peraturan Pemerintah RIS No.21/1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi tanggal 14 Agustus 1950.

 

Dalam sulap yang diberi nama PP RIS No.21/1950 inilah itu Negeri Acheh disulap oleh Soekarno-Jawa masuk kedalam perut dan terus digiling dalam usus Negara Bagian RI-Jawa-Yogya yang telah gemuk karena menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS lainnya.

 

Nah, perubahan besar-besaran dalam RIS inilah yang sebenarnya menjadi akar utama timbulnya konflik Acheh. Tetapi oleh Soekarno dan para penerusnya, jalur proses perubahan besar-besaran dalam tubuh RIS ini dianggap sepi dan angin lalu saja.

 

Bagaimana tidak menjadi akar utama konflik Acheh, karena memang Soekarno dengan seenak udel sendiri dengan memakai peraturan buatannya sendiri yang diberi nama PP RIS No.21/1950 melahap Negeri Acheh, tanpa permisi, tanpa minta izin, tanpa diadakannya jajak pendapat, tanpa diadakannya plebisit oleh seluruh rakyat di Acheh.

 

Jadi, memang masuk diakal, dan memang pantas kalau itu rakyat Acheh bangkit menuntut kembali Negeri Acheh yang disulap Soekarno dengan sulat PP RIS No.21/1950 14 Agustus 1950.

 

Dan apa yang dikatakan oleh Muba Dijon bahwa "Masalah Aceh sudah selesai sejak Daud Beureuh menerima amnesti" adalah salah besar, dan itu merupakan penipuan besar-besaran terhadap seluruh rakyat di Acheh dan seluruh rakyat di RI.

 

Bagaimana bisa dikatakan selesai masalah penelanan Negeri Acheh, padahal Negeri Acheh belum dikembalikan kepada seluruh rakyat Acheh. Kalau itu Teungku Muhammad Daud Beureueh menyerah karena termakan umpan amnesti Soekarno tahun 1962, itu tidak berarti persoalan penuntutan hak penentuan nasib sendiri bagi seluruh rakyat Acheh selesai.

 

Yang menyerah hanya Teungku Muhammad Daud Beureueh karena tertipu amnesti Soekarno. Sedangkan yang lainnya, seperti Teungku Hasan Muhammad di Tiro, mana mau menyerah. Jadi, tidak ada hubungannya antara tertipunya Teungku Muhammad Daud Beureueh oleh amnesti Soekarno dengan masalah penentuan nasib sendiri bangsa Acheh yang dikumandangkan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan deklarasi ulang-nya Negara Acheh Sumatra 4 Desember 1976.

 

Kemudian, masalah bangsa Indonesia, itu sudah jelas dijelaskan sebelum ini, bahwa yang namanya bangsa Indonesia itu tidak ada juntrungnya, tidak jelas asal-usulnya, tidak jelas dari mana keturunannya, tidak jelas adat istiadatnya, tidak jelas budayanya, tidak jelas ciri-cirinya. Dan itu semuanya hanya merupakan jelmaan dari ide marhaenisme-nya mbah Soekarno-Jawa dengan para pengikutnya dalam PNI.

 

Kalau hanya mengandalkan mayoritas adat-istiadat Jawa, ciri-ciri Jawa, dan budaya Jawa, itu bukan bangsa Indonesia namanya, Muba Dijon, tetapi bangsa Jawa kowe.

 

Jadi Muba Dijon, yang namanya bangsa Indonesia itu kabur dan hanya merupakan mitos hasil sulapan mbah Soekarno-Jawa dengan marhaenismenya saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 12 Jun 2005 19:00:32 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: [Fundamentalist] ALI AL ASYTAR: MUBA MENGAPA SAKIT HATI KALAU DIKATAKAN YUDHOYONO CS MEMBODOHI...

To: sisinga maharaja sisingamaharaja@yahoo.co.uk

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang bambang_hw@rekayasa.co.id

 

Nah kan... Lagi-lagi si Singa ini menunjukkan otak ceteknya dan kata-kata gegabahnya... Eh, Singa... Apa iya syetan bisa menjelma menjadi manusia? Bahannya aja beda. Trus apa iya kalo aku mendukung aparat mempertahankan keutuhan RI atas NAD adalah sesat dan

munafik? Syetan dan munafik adalah kata-kata yang jelas tolok ukur hukumya, kalo kamu mengerti Islam. Kamu gegabah seperti si Warwick kembaranmu itu yang mengumbar kata kafir.

 

Sekali lagi aku bilang ya, tumbuh kembang Indonesia sudah jelas: RI 1945 - RIS 1949 - NKRI 1950 - RI 1959/1945 - Reformasi/Amandemen. Sejak Indonesia diterima PBB tanpa kesulitan apapun, sampai sekarang semua anggota PBB mendukung keutuhan wilayah RI dari

Sabang sampai Merauke. Masalah Aceh sudah selesai sejak Daud Beureuh menerima amnesti, sehingga "reproklamasi" Hasan Tiro tahun 1976 itu adalah hal yang ujug-ujug, tidak ada hujan tidak ada angin. Gitu loh...

 

Perkara nama Indonesia, itu hanya sebuah nama. "What is in name?", kata Shakespeare. Itu adalah kesepakatan para founding father aja menamakan wilayah Hindia Belanda bekas jajahan Belanda itu sebagai Indonesia. Kenapa jadi masalah? Kalau para founding father itu

dulu menamakan Nusantara secara resmi, itupun tidak masalah. Apa harus ada asal muasalnya seperti Majapahit dari kata "buah maja yang pahit"? Nggak juga kukira...

 

Semua daerah memang punya sejarah. Sunda (Galuh, Pajajaran, dsb), Jawa (Majapahit, Mataram, dsb), Kalimantan (Kutai dsb), Aceh (Samudra Pasai dsb), tapi itu kan sejarah, dan daerah-daerah itu lebur ke dalam Indonesia sejak proklamasi 17 Agustus 1945. Indonesia memberi keistimewaan kepada Jogyakarta (Daerah Istimewa Jogyakarta) dan Aceh (dulu namanya Daerah Istimewa Aceh, sekarang NAD) dan kekhususan kepada Jakarta (DKI, Daerah Khusus Ibukota). Daerah lainnya namanya biasa saja, propinsi. Aku tidak melihat ada

masalah teritorial yang serius kok, termasuk di NAD dan Papua. Pemerintah di sana berjalan biasa-biasa saja. Gerakan separatis di NAD dan Papua dari dulu cuma segitu-segitu aja kok. Kalaupun belum tuntas diberantas, tapi bisa dilokalisir dengan baik, sehingga banyak tokoh dunia yang datang dengan aman ke NAD dan Papua. Terakhir pemain sepakbola Eropa Ronaldo kemaren kan datang dengan enteng ke NAD. Gitu loh...

 

Ini bukan "mengganggu kampanye" 'ustadz' Si Mad itu, tapi aku cuma ngomong kenyataan kok...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------