Stavanger, 14 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS III + MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

Omar Puteh

Stavanger – NORWEGIA.



MASIH TETAP MENYOROT ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

 

Motto: Adat Acheh adalah seutia!  Bangsa Acheh, adalah bangsa yang beradat setia!

 

Sebelum kita kembali menyambung secara sepesifik akan bacaan isi rundingan ronde ke-3 lewat jendela 7 point Press Release dari International Crisis Management maka kita coba membelokkan sedikit kepekara-pekara lain yang berkaitan.  Diantaranya sebagaimana dimaksudkan pada uraian selanjutnya dibawah ini:

 

Sebaik penyerbuan bala tentara Jepang Maret, 1942 ke wilayah Jajahan Hindia Belanda (kini: Nusantara), tentara The White Dutchmen, si Belanda Bulekpun lari kalang kabut, menyelamatkan diri. Walaupun sebahagian besar terselamat tetapi banyak juga yang malang tertangkap dan terus didekamkan dalam tahanan Jepang.

 

Lain halnya, The Black Dutchmen, si Belanda Hitam, anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belandapun, yang juga lari lintang pukang, meyelamatkan diri mereka, tetapi mereka kesemuanya  selamat, karena mereka masuk menyelinap dan bersembunyi diperkampungan-perkampungan/desa dengan menyamar sebagai penduduk tempatan atau masuk menyelinap dan bersembunyi diperkebunan-perkebunan: Kelapa sawit, karet, tembakau dan pinus dengan menyamar sebagai buruh transmigrasi dengan bersenjata lengkap.

 

KNIL Belanda Hitam masuk desa! KNIL Belanda Hitam masuk desa! KNIL Belanda Hitam masuk desa!  Pemeo itu hingga ke hari ini, masih dengan bangga telah diadopsikan oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam masuk desa, sebagai bahagian dari sebuah sejarah rangkaian kembar ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional, Penjajah Indonesia Jawa, dengan Angkatan anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda dulu, yang terus bersambung!

 

Bayangkan bagaimana rupa cengkaman trauma rakyat tempatan, selama tiga tahun lebih, dari Maret, 1942 hingga Agustus, 1945 selama pendudukan Jepang atas seluruh ex-wilayah tanah jajahan Hindia Belanda, (baca: Nusantara), anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belnda, si Belanda Hitam masuk menyelinap dan bersembunyi diperkampungan-perkampungan/desa dengan menyamar sebagai penduduk tempatan atau masuk menyelinap dan bersembunyi diperkebunan-perkebunan: Kelapa sawit, karet, tembakau dan pinus, dengan menyamar sebagai buruh transmigrasi dengan bersenjata lengkap!

 

Di Acheh, anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, keluar dari persembunyiannya dari perkampungan dari perkebunan:  Kelapa sawit, karet dan pinus, sewaktu Tengku Daud Beureu-éh diarahkan oleh intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam menyembelih Teuku Abdullah Keumala atau Teuku Abdullah Tjumbok dan Hulubalang-Hulubalang seluruh Acheh.

 

Mereka, anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam menyamar persis sebagai satuan/unit intelijen : OTK atau kini dikenal sebagai SGI ketika itu!

 

Ini sebuah bukti, anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam tidak pernah keluar dari ex-wilayah jajahan Hindia Belanda, balik ke Pulau Jawa hingga beranak cucu disana!  Di Sumatra kemudian dikenal sebagai Pujakesuma?  Sebagai Ryacudu Ryamizard?

 

1. Coba teliti buku laporan penempatan ratusan ribu personil KNIL Belanda plus anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, diseluruh wilayah jajahan Hindia Belanda (kini:Nusantara) atau diluar Pulau Jawa, dengan bersenjata lengkap!

 

2. Coba teliti berapa banyak pula anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, dengan bersenjata lengkap di Pulau Sumatra saja?

 

Jumlah anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, dengan bersenjata lengkap yang paling banyak diseluruh Nusantara adalah di Sumatra, karena mereka juga ditugaskan secara senyap untuk menjaga perkebunan-perkebunan: Kelapa sawit, karet, tembakau (Deli) dan pinus (Gayo).

 

Kehadiran puluhan ribu anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, yang menyamar sebagai buruh trasmigrasi dengan bersenjata lengkap inilah, yang pernah digunakan tim perunding-perunding Indonesia Jawa, untuk memblack-mailkan sidang perundingan KMB di Den Haag, Belanda.

 

Karena mereka tahu bahwa Belanda maukan perkebunan-perkebunan itu, sehingga tidaklah menjadi masalah untuk pemberian sebarang konsensius atas seluruh ex-wilayah jajahan Hindia Belanda, pada 27 Desember, 1949 kepada ex-mercenary-nya atau kepada anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam.

 

PS I: Penjajah Indonesia Jawa kini,  coba melakukan cara serupa, dengan menempatkan lebih dari 50.000 personil resminya dengan bersenjata lengkap + DPR+MPR, Penjajah Indonesia Jawa, dengan menolak cease fire, untuk memblack-mailkan sidang perundingan Helsinki, Findlandia keatas Pemerintah Negara Acheh Sumatra cq tim perunding dari Negara Acheh Sumatra.

 

Jangan takut dengan gertakan itu, dengan  "black-mail” itu, karena bumi Acheh itu, sah kepunyaan bangsa Acheh!  Dan itu sebabnya, Tengku Hasan di Tiro berani mengreproklamirkan kemerdekaan Acheh 4 Desember, 1976, walaupun beliau sungguh tahu ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam telah established.

 

Beritahukan “black-mail” ini, kepada Ketua International Crisis Management, Tuan Martti Ahtisaari; Sekjen PBB, Tuan Kofi Annan; Presiden Uni Eropah, Tuan Jean Asselborn dan Presiden USA, Tuan George Walker Bush.

 

3. Dan coba teliti pula buku laporan penempatan personil KNIL Belanda dengan bersenjata lengkap di Acheh saja!  Berapa puluh ribu-ankah anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, masuk menyelinap dan bersembunyi diperkampungan-perkampungan/desa meyamar sebagai penduduk tempatan atau masuk menyelinap dan bersembunyi diperkebunan-pekerbunan: Kelapa sawit, karet dan pinus seluruh Acheh, yang menyamar sebagai buruh transmigrasi dengan bersenjata lengkap?

 

Fakta sejarah inilah, kemudian sedang menjadi bahan penyelidikan baru (raw material) study (tela'ah) sejarah Nusantara dan sekaligus study (tela'ah) sejarah kepenjajahan Indonesia Jawa itu sendiri dan tentang bagaimanakah Soekarno si Penipu licik, maka berani mencaplok seluruh wilayah jajahan Hindia Belanda atau wilayah Negara (Federasi) Indonesia Serikat dan berani segera meng-NKRI-kan Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat itu yang baru saja berusia 231 hari tampa menampakan sebarang gerak sama sekali, di luar Pulau Jawa atau tampa meletupkan sebutir pelorpun, tampa meneteskan setetes darahpun dan tampa mengucurkan sekucur keringatpun!

 

Tetapi bisa bertukar dengan secepat-kilat menjadi “wilayah mitos”-nya: Wilayah penjajahan Hindia Belanda atau Wilayah Negara (Federasi) Indonesia Serikat, negara 231 hari itu, menjadi wilayahnya yang baru?

 

(Fakta sejarah inilah yang disembunyikan oleh Prof Dr Ibrahim Alfian, yang kini bertambah gemuk dengan asyik makan Gudek Jokya, yang badannya hampir sama bentuk dengan si Abu Nawas, Husen al Mudjahat atau serupa bentuk Kertanegara si Lembu bunting!  Atau yang belum pernah dikomentari oleh Prof Dr Taufik Abdullah ex LIPI dan lain Professor-Professor sejarah Penjajah Indonesia Jawa?).

 

Walaupun semua orang sudah maklum: Dengan formula hanya menukar sebutan atas wilayah negara-negara bahagian (federasi) dari Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat dengan wilayah propinsi-propinsi dari NKRI, maka dengan sendirinya (otomatis), kuasa wilayah negara-negara bahagian itu akan luruh menjadi kuasa wilayah propinsi-propinsi dan maka:  Seluruh sifat-bentuk  struktur sosio-politik, sosio-ekonomi dan sosio-budaya dari negara-negara bahagian (federasi) yang dipropinsikannya berobah sifat-bentuknya menjadi: Struktur sosio-politik suku bangsa, sosio-ekonomi suku bangsa dan sosio-budaya suku bangsa! Sehingga dengan formula ini, atau dengan struktur baru itu, anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, dengan mudah menjajah kembali Nusantara tampa meletupkan sebutir pelorpun, menumpahan setetes darahpun dan mengucurkan sekucur keringatpun!

 

Yang banyak orang belum maklum dan dimaklumkan adalah anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam tidak pernah meninggalkan wilayah dimana mereka pernah ditempatkan oleh KNIL Belanda sebelum pendudukan Jepang Maret, 1942!

 

Struktur haram dan yang tidak sah itulah yang coba dipertahankan terus oleh si Endriartono Sutarto, si anak Belanda Hitam yang selayaknya perlu belajar dan memahami kembali fakta sejarah kepenjajahan Penjajah Indonesia Jawa Chauvinis, dengan betul dan teliti, bahwa status yang lapuk itu harus ditinggalkan tampa syarat!

 

Sebagaimana kita baca disurat-surat kabar dari sejak sebelum sidang Helsinki dimulai, hingga kini, Endiartono Sutarto, si Belanda Hitam + DPR+MPR Penjajah Indoneisa Jawa itu, telah menghembuskan angin puting beliung yang pernah menggelombangkan Nji Loro Kidul, agar Negara Acheh Sumatra, terhempas, dan musti tetap menjadi propinsi: NAD, propinsi haram dan tidak sah, yang dibentuk oleh NKRI yang juga haram dan tidak sah itu.

 

Namun pada 14 Agustus, 1945, Panglima Agung Teuku Ibrahim dan ajudannya Purba anak kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara serta bersama-sama pasukan mereka, persis lima tahun sebelum Acheh dicaplok oleh Soekarno si Penipu licik, tampa memperdulikan kehadiran puluhan ribu anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, yang lari masuk menyelinap dan bersembunyi diperkampungan-perkampungan/desa, dengan menyamar sebagai penduduk tempatan dan diperkebunan-perkebunan:  Kelapa sawit, karet dan pinus yang menyamar sebagai buruh trasmigrasi dengan bersenjata lengkap itu dan langsung menyerang bala tentara Jepang, yang bersenjata lengkap dalam genggaman mereka, didalam gerbong-gerbong kereta api, di Stasion Kereta Api, Lhok Seumawe, yang sedang bersiap-siap hendak balik menyerahkan diri kepada sekutu.

 

Seluruh senjata bala tentara Jepang itu, langsung direbut dari genggaman mereka, yang jumlahnya disifatkan terbesar dalam sejarah rebutan senjata bala tentara Jepang di Asia

Setiap perajurit Panglima Agung Teuku Ibrahim menyandang 4 hingga 6 pucuk atau seberapa yang sanggup mereka sandang dibahu mereka. Bala tentara Jepang sangat takut dan tampa memberi sebarang perlawanan terhadap penyerangan berani mati itu.

 

Tetapi kemenangan dan kegembiraan pasukan Panglima Agung Teuku Ibrahim memiliki sejumlah besar senjata bala tentara Jepang itu, tidak berlangsung lama, karena intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam telah berhasil menyusup dan mempegaruhi Tengku Daud Beureuh-éh Cs, dan menjadikannya sebagai militia mereka?

 

Anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, masuk menyusup via Muhammadiah, PSII, NU, Taman Siswa dan anak-anak Jawa yang pernah bekerja dikantor-kantor sipil Belanda, untuk menghancurkan kekuatan pasukan Panglima Agung Teuku Ibrahim itu.

 

Mereka kemudian setuju dan menunjuk si Abu Nawas, Husen al Mudjahat. Maka tipu muslihat dicari dan undangan dibuat.  Maka diundanglah Panglima Agung Teuku Ibrahim dan seluruh pasukannya dengan bersenjata lengkap ke Idi untuk acara “peusidjuk-tepung tawar” keatas (1) Panglima Agung Teuku Ibrahim, (2) Seluruh Pasukannya, (3) Seluruh persenjataannya dan (4)Kesuksesan misi mereka.

 

Mereka: Panglima Agung Teuku Ibrahim dan pasukannya, tampa kecuali dimintakan masuk kedalam bangunan bioskop dengan tampa menyandang sebarang jenis senjata apapun.

 

Sebaik seluruh pasukan telah dipastikan berada didalam bangunan bioskop itu, maka Abu Nawas, Husen al Mujahat memerintahkan menutup pintu dan menguncinya dari luar.

 

Maka dibunuhlah Panglima Agung Teuku Ibrahim dan seluruh pasukannya. Inna lillahi wa innaa illahi raji'uun.

 

Dan berhasillah dirampas semua senjata mereka dengan tipu daya jahat dari Abu Nawas, Husen al Mudjahat.  Abu Nawas, Husen al Mudjahat kemudian dilantik menjadi Kepala Pertambangan Minyak Pangkalan Brandan, sebagai imbalan jasanya, karena keberhasilannya melaksanakan misi intelijen anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, untuk menghapuskan Panglima Agung Teuku Ibrahim dan seluruh pasukannya yang lengkap dengan persenjataan plus keseluruhan persenjataan yang direbut dari bala tentara Jepang di Statsion Kereta Api, Lhok Seumawe.

 

Abu Nawas, Husen al Mudjahat adalah sebuah contoh, orang yang mau menerima tawaran jahat anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, hingga sanggup mengkhianati bangsanya, hanya untuk mendapatkan “sesuatu” dari mereka-meraka yang datang dari Pulau Jawa (si Djatikusumo?), sedangkan dia sesungguhnya telah menyadari bahwa minyak Pangkalan Brandan itu adalah minyak bangsa Acheh yang ditarik dari pompaan telaga-telaga minyak Rantau Panjang Peureulak dan Rantau Kuala Simpang, dan tidak ada sangkut paut apapun ketika itu, dengan anak-anak Jawa yang datang dari Pulau Jawa, apalagi dengan anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, tetapi terus bersembunyi dengan persenjataan lengkap tampa berani keluar bangun menentang Jepang, walaupun mereka tahu Jepang telah menyerah kalah kepada sekutu.

 

Tahun 1948 Pangkalan Brandan dibumi hanguskan. Lantas apakah benda yang dapat dimiliki oleh Abu Nawas, Husen al Mudjahat, setelah itu dan dihari tuanya?

 

Abu Nawas, Husen al Mudjahat telah menjadi bodoh!  Abu Nawas, Husen al Mudjahat telah menjadi gila sebagai anggota militia anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam itu, yang sebelumnya telah terlibat menyembelih ratusan ribu bangsa Acheh! Apakah Abu Nawas, Husen al Mudjahat tidak mempunyai instink-firasat untuk menyadarinya?!

 

Jadi patutlah semua bangsa Acheh ketahui, gerakan Panglima Agung Teuku Ibrahim inilah sebagai sebuah gerakan ke-I (pertama) yang menghendaki Acheh diperintah kembali oleh bangsa Acheh sendiri.

 

Gerakan penyembelihan Panglima Agung Teuku Ibrahim dan pasukannya telah dipandang sebagai kejahatan berulang pertama intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, kepada bangsa Acheh, dengan mempengaruhi "ulama": Tengku Daud Beureuh-éh, sebagai Ketua Militia? dari anak-anak Jawa ex Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam.

 

Tidak lama setelah peyembelihan Panglima Agung Teuku Ibrahim dan pasukannya, dia dan tiga “ulama” lainnya, pada tanggal 15 Oktober, 1945, mulai dipaksa pula membuat pernyataan yang sangat kotroversil oleh intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam.

 

Dari “behaviour” Tengku Daud Beureuh-éh dan tiga “ulama” ini, telah dibaca oleh mata sejarah politik bangsa Acheh, sebagai kejahatan berulang kedua intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, mempengaruhi "ulama", dan meletakkan mereka berempat sebagai "ulama" militia anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam?

 

Gerakan Ke-II (kedua) yang mengkehendaki Acheh diperintah oleh bangsa Acheh sendiri kemudian dilanjutkan oleh Teuku Abdullah Keumala atau kemudian lebih dikenal dengan Teuku Abdullah Tjumbôk.

 

Tengku Daud Beureuh-éh, sebagai Ketua Miltia? anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, kembali pada tahun 1946, menyembelih Teuku Abdullah Keumala atau Teuku Abdullah Tjumbôk dan seluruh Hulubalang-Hulubalangnya anak cucu Iskandar Muda, diseluruh Acheh dengan bantuan intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, yang keluar dari tempat persembunyian mereka diperkampungan-perkampungan, diperkebunan-perkebunan:  Kelapa sawit, karet dan pinus dengan bersenjata lengkap.  Peristiwa serupa ini telah dibentangkan oleh Tengku Hasan di Tiro dalam: Sumatra siapa punya?

 

PS II: Dari kewujudan keadaan yang menggambarkan bahwa, anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam tidak pernah keluar meninggal ex-wilayah tanah jajahan Hindia Belanda (khususnya di Acheh) dan balik kembali ke Pulau Jawa tetapi terus hendak mempertahankannyalah maka Tengku Hasan di Tiro bangun menyadari ( khususnya bangsa Acheh) bangsa Acheh bahwa wilayah yang masih ditempati oleh anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam adalah wilayah sah kepunyaan bangsa Acheh, warisan Endatu (nenek moyang mereka) warisan sah sejarah bangsa Acheh itu sendiri:

 

Lahirlah: Reproklamasi 4 Desember, 1976!   Anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, musti keluar angkat kaki dari bumi Acheh!  ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam musti keluar angkat kaki dari bumi Acheh!

 

Dalam gerakan kedua ini, Abu Nawas, Husen al Mudjahat, dari kejadian terpisah, meyembelih anak cucu Raja dari Kerajaan Benoa, Temiang, Tengku Arifin (Raja Benoa, Temiang yang membunuh Gajah Mada dan bala tentaranya di tahun 1364) dan merampas istrinya Tengku Mahani lantas mengawininya.  Dari perkawinan itu terlahirlah:  Abu Nawas, Helmy Mahendra, yang sangat-sangat memusuhi bangsa Acheh hari ini.  Yang sekarang ini telah dilantik sebagai anggota DPRD-Penjajah Indonesia Jawa.

 

Gerakan penyembelihan Teuku Abdullah Keumala atau Teuku Abdullah Tjumbok dan Hulubalang-Hulubalang seluruh Acheh, telah dipandang sebagai kejahatan ketiga intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam mempengaruhi para "ulama" dibawah Tengku Daud Beureuh-éh sebagai Ketua Militia?

 

Keberhasilan Tengku Daud Beureuh-éh, Ketua Militia? dipengaruhi oleh intelijen (SGI) anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, yang terlibat menyembelih Panglima Panglima Agung Teuku Ibrahim dan seluruh pasukannya dan Teuku Abdullah Keumala atau Teuku Abdullah Tjumbok dan Hulubalang-Hulubalang seluhuh Acheh, kemudian telah dipangkatkan dengan pangkat: Mayor Djenderal (Tituler) dan diduduki pada kerusi Gubernur Acheh, Langkat dan Tanah Karo.

 

Tengku Daud Beureuh-éh telah menjadi bodoh! Tengku Daud Beureuh-éh telah menjadi gila sebagai Ketua Milita? dari anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, yang sebelumnya telah terlibat menyembelih ratusan ribu bangsa Acheh!  Apakah Tengku Daud Beureuh-éh, Ketua Militia? itu tidak punya instink-firasat untuk menyadarinya?!

 

Apakah yang dimiliki Tengku Daud Beuereuh-éh dihari tuanya, selain hanya "kebutaan kedua belah mata" beliau, diinjeksi buta oleh Suharto Kleptokracy ditempat pengasingannya di Jakarta?

 

Pada tanggal 14 Agustus, 1950, atau persis lima tahun setelah Panglima Agung Teuku Ibrahim dan pasukannya, merampas senjata dari genggaman Jepang, maka wilayah Negara Acheh Sumatra (kemudian disebutkan sebagai propinsi) Acheh, dicaplok dari genggaman Acheh dan dijadikan sebagai bahagian dari wilayah propinsi Sumatra Utara. Jabatan "Gubernur Militer" Acheh, Langkat dan Tanah Karo dari Tengku Daud Beureuh-éh pun dicopot dan kemudian hanya diduduki pada kerusi timpang "Residen Acheh" saja.

 

Dari ketidak menentunya "penyesalan" diri inilah, Tengku Daud Beureuh-éh menerima lagi tawaran dari seberang laut dari NII dari Imam Soemardjan Kartosoewiryo.

 

Dalam keterlibatan Tengku Daud Beureuh-éh, dengan NII/DI-TII, bangsa Acheh tidak pernah menyalahkan beliau, karena apa yang beliau lakukan kemudian itu adalah atas kesadaran kembali beliau sebagai tantangan:  (1). Bagaimanakah sebenarnya jahatnya Soekarno si Penipu licik dengan struktur penjajahan Penjajah Indonesia Jawa, misi dari anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam! (2). Karena perjuangan NII-DI/TII dari Imam Soemardjan Kartosoewiryo adalah sebuah perjuangan dari wadah ummat Islam, yang sebenarnya paling berhak menerajui "Islam Indonesia" di seluruh wilayah-wilayah dimana mereka yang sebenarnya terkorban, sedangkan lainnya membonceng sebagai broker kemerdekaan.

 

Apa itu Republik Islam Acheh? Nothing!

 

Beliau kemudian baru menyadari sepenuhnya kesilapan, kesalahan dan kejahatannya yang lalu, setelah Tengku Hasan di Tiro me-reproklamasikan kemerdekaan negara sinambung-successor state: Negara Acheh Sumatra pada 4 Desember, 1976, sebagai sebuah legimitasi sejarah bangsa Acheh!

 

Maka sejak reproklamasi kemerdekaan 4 Desember, 1976 itulah alhamdulillah, Tengku Daud Beureuh-éh telah kembali resmi, menjadi sebagai bangsa Acheh, sebagai warga negara, Negara Acheh Sumatra!

 

Ini, sebagaimana telah beliauperlihatkan kepada Omar Putéh Cs, kartu ucapan Selamat hari Raya dari kiriman Dr Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir, yang dikeluarkan dari tempat lapik duduk beliau, di Mesjid Jamik Beureunun, yang sebelumnya kedua mereka tidak pernah melakukannya, sebagai tanda penghormatan kepada Tengku Daud Beureuh-éh, karena telah mendapatkan jalan tempuhan akhir perjuangan politik yang sesungguhnya riil dan mulia: Sebagai bangsa Acheh dan sebagai warga negara, Negara Acheh Sumatra!.

 

Dari uraian singkat diatas, dapatlah kita ulangi:

 

(1). Bahwa bangsa Acheh dibawah pimpinan  Panglima Agung Teuku Ibrahim:  Sejak 14 Agustus, 1945, telah menolak Indonesia (Jawa) itu dengan kekuatan senjata!

 

(2). Bahwa, bangsa Acheh dibawah pimpinan Teuku Abdullah Kemala atau Teuku Abdullah Tjumbok, kembali telah menolak Indonesia (Jawa) sejak February 1946 dengan kekuatan senjata!

 

(3). Bahwa, bangsa Acheh dibawah pimpinan Tengku Tjhik di Tiro, Hasan Muhammad, telah kembali menolak Penjajah Indonesia Jawa dengan:  Kekuatan Hukum, Reproklamasi  4 Desember, 1976 dan dengan segala kekuatan hukum sokongan nyata 99% dari seluruh populasi bangsa Acheh didunia dan kekuatan senjata dari TNA, Tentara Negara Acheh!

 

Berikut akan kita uraikan mengapakah Sjafruddin Prawiranegara dengan ketakutan melarikan diri ke Acheh dan kemudian disokong oleh “orang orang yang sesat” dengan: Pemberian fasilitas pemancar Radio dan kapal terbang, biaya utusan ke India dan New York, makan-minum dan uang saku menteri-menteri kabinet Soekarno si Penipu licik, sehingga-hingga Megawati Soekarno Putripun dibesarkan dengan uang Acheh, kemudian dipublikasikan bahwa Acheh pernah menyokong Negara Republik Indonesia?  No! Never and Never!

 

Mengapakah Sjafruddin Prawira negarapun menentang Soekarno si penipu licik atau RI?

 

(bersambung: Plus III + Membaca Isi Rundingan Rondingan Ke 3 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway

----------