Stockholm, 14 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON MENCOBA PERTAHANKAN DWITUNGGAL SOEKARNO-HATTA DENGAN TALI IKATAN SURAT MENYURAT YANG RAPUH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON TERUS MENCOBA PERTAHANKAN DWITUNGGAL SOEKARNO-HATTA DENGAN TALI IKATAN SURAT MENYURAT YANG RAPUH DAN MEMBANDINGKAN ANTARA TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN MOHAMMAD HATTA

 

"Hm. Kamu rupanya sudah sangat keterlaluan wahai Mad yang neurosis, inferior, dan inadeqaute itu. Benar bahwa Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta itu telah tanggal pada 1956, tapi tidak ada tendang menendang di situ. Bung Hatta hanya melaksanakan janjinya bahwa "Saya

akan mundur begitu terbentuk parlemen hasil pemilu". Dia menepati janjinya segera setelah parlemen hasil pemilu 1955 terbentuk. Dia memang seorang pemimpin besar yang malang melintang di eropa dan tentunya telah banyak belajar tentang demokrasi di eropa. Betapapun Soekarno membujuk agar Bung Hatta tetap mendampinginya, tapi Bung Hatta tetap dengan

keputusannya. Walaupun begitu, keduanya tetap aktif bersurat-suratan dan berdiskusi tentang Indonesia yang mereka lahirkan bersama beberapa founding father lainnya (di antara para founding father itu tersebutlah Mr. T.M. Hasan dan dr. M. Amir sebagai wakil Sumatera. Kamu kenal keduanya, Mad?)." (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Tue, 14 Jun 2005 00:36:35 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Muba Dijon mencoba berkelit dengan jurus: "bahwa "Saya akan mundur begitu terbentuk parlemen hasil pemilu" yang direferensikan kepada pernyataan Mohammad Hatta.

 

Disini Muba Dijon berusaha untuk menutupi kabut hitam pekat yang menutupi label "Dwitunggal Soekarno-Hatta" yang telah dicemari oleh adanya ambisi ekspansi politik Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya yang telah menjelma menjadi NKRI. Dimana dominasi Soekarno dengan politiknya telah menjadi kabut hitam pekat diatas dua sosok tubuh dan pikiran Soekarno dan Mohammad Hatta.

 

Sejak RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan, tumbuh dan mati Kabinet dibawah komando Soekarno terus bergulir. Mohammad Hatta hanyalah sebagai figur sebagai anak baik yang enggeh pada apa yang dikatakan Soekarno. Keinginan Soekarno adalah keinginan negara. Kata-kata Soekarno adalah kata-kata negara.

 

Setelah RIS dilebur dan dirobah menjadi RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan menjelma menjadi NKRI, Mohammad Hatta yang menjabat sebagai Perdana Menteri RIS menyerahkan mandat kepada Soekarno pada tanggal 15 Agustus 1950. Dan mereka berdua kembali menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan telah menjelma menjadi NKRI.

 

Sejak itulah mulai silih berganti Perdana Menteri bermunculan dalam kancah bangunan politik NKRI jelmaan RI-Jawa-Yogya. Diawali oleh Mohammad Natsir yang diangkat  dan dilantik sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Natsir 7 September 1950 oleh Soekarno. Masa hidup Kabinet Natsir hanya 7 bulan. Dan muncul Soekiman Wirjosandjojo yang diangkat dan dilatik menjadi Perdana Menteri oleh Soekarno pada bulan April 1951. Tetapi Kabinet Soekiman inipun hidupnya hanya satu tahun. Lalu diangkat dan dilantik Wilopo menjadi Perdana Menteri oleh Soekarno pada 3 April 1952. Kabinet Wilopo inipun hidupnya hanya 15 bulan, karena pada tanggal 1 Agustus 1953 diangkat dan dilantik Ali Sastroamidjojo dan Wongsonegoro menjadi Perdana Menteri dan Wakil Perdana Menteri oleh Soekarno. Baru saja Kabinet Ali-Wongso naik tahta RI, tumbanglah Ali Sastroamidjojo dan Wongsonegoro pada tanggal 12 Agustus 1955, dan dinaikkanlah Burhanuddin Harah menjadi Perdana Menteri oleh Soekarno.

 

Pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap inilah dilaksanakan pemilu untuk anggota DPR pada tanggal 29 September 1955 dan pada tanggal 15 Desember 1955 pemilu untuk pemilihan anggota Konstituante (Pembuat Undang-Undang Dasar).

 

Ketika anggota DPR hasil pemilu 29 September 1955 terbentuk, tumbanglah Kabinet Burhanuddin harahap, dan digantikan oleh Kabinet Ali II, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang dilantik pada 24 Maret 1956.

 

Nah, dikala Kabinet Ali II dibawah Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo bertandang diarena politik Negara RI-Jawa-Yogya yang menjelma NKRI inilah, itu Soekarno membatalkan perjanjian KMB pada tanggal 3 Mei 1956.

 

Dan sebagaimana yang telah ditulis dalam tulisan sebelum ini, yaitu pada masa Kabinet Ali II berkuasa inilah dibentuk Propinsi Irian Barat / Papua Barat yang Ibu Kotanya di Soa Siu, padahal masalah Papua Barat masih belum selesai.

 

Dimana pembentukan Propinsi Papua Barat ini dilakukan setelah Soekarno membatalkan perjanjian KMB. Karena telah dibatalkan perjanjian KMB, maka dengan gaya tipu sulap model Soekarno, dibuatlah Propinsi-Propinsian dengan mengklaim Ibu Kota Papua Barat adalah Soa Siu, dan diangkatlah Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore sebagai Gubernur Papua Barat model mbah Soekarno-Jawa penipu licik, yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

 

Nah, inilah puncak dari perpecahan Dwitunggal Soekarno-Hatta digelanggang politik RI-Jawa-Yogya yang telah menjelma menjadi NKRI. Dimana Mohammad Hatta hanya dianggap sebagai patung yang bisa bicara saja. Setelah berkali-kali muncul dan mati Perdana Menteri made in Soekarno muncul dipanggung politik RI-Jawa-Yogya ini, dan setelah Soekarno membatalkan perjanjian KMB, maka pada tanggal 1 Desember 1956, Mohammad Hatta menyatakan selamat tinggal pada Soekarno, waktu berpisah sudah tiba.

 

Walaupun DPR menerima mosi mengenai pembentukan Panitia Ad Hoc untuk mencari bentuk kerjasama Soekarno-Hatta, tetapi Panitia Ad Hoc yang dibentuk pada 29 November 1957 yang dikenal dengan Panitia sembilan  yang diketuai oleh Ahem Erningpradja, dengan para anggotanya: Anwar Tjokroaminoto, Achmad Sjaichu, Memet Tanumidjaja, Asrarudin, Katamsi Sutisna Sendjaja, M. Siregar, Anwar Harjono, dan I.J. Kasimo, tidak berhasil menjadikan Mohammad Hatta bersatu kembali dengan Soekarno. Dan Panitia sembilan ini dibubarkan pada bulan Maret 1958.

 

Jadi Muba Dijon, bukan Mohammad Hatta berjanji: "bahwa "Saya akan mundur begitu terbentuk parlemen hasil pemilu" 1955, tetapi karena memang itu Mohammad Hatta hanya dijadikan sebagai patung hidup untuk menunjukkan perpaduan antara Jawa dan Sumatra saja oleh Soekarno, biar dikatakan itulah Dwitunggal Jawa-Sumatra alias Soekarno-Hatta. Walaupun yang muncul diarena gelanggang politik Negara RI-Jawa-Yogya hanyalah politik model Soekarno-Jawa-nya itu.

 

Kalau dikemudian hari mereka berdua ada saling surat menyurat, itu hanya sebagai hubungan pribadi saja, sebagai tanda kenang-kenangan. Dan hubungan surat menyurat pribadi ini tidak mempengaruhi kebijaksanaan politik Soekarno sampai ia terjungkir dari kursi presidennya.

 

Selanjutnya, itu Muba Dijon, membandingkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Mohammad Hatta. Dimana Muba Dijon-Jawa ini ketika membandingkan dua figur hanya berdiri diatas kursi Soekarno dan memakai kacamata hitam mbah Soekarno.

 

Sehingga hasil studi perbandingan yang dilakukan Muba Dijon atas Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Mohammad Hatta hanyalah penuh nilai-nilai subjetifitas. Karena nilai objektifitasnya telah menguap ditiup angin mbah Soekarno.

 

Kita lihat dan perhatikan, tentang perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan perempuan Yahudi. Jelas perkawinan Teungku Hasan Muhammad di tiro dengan Perempuan Yahudi tidak bertentangan dengan Islam dan telah dicontohkan Rasulullah saw. Kemudian, Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak culas kepada teungku Muhammad Daud Beureueh. Soal beli senjata, itu adalah soal yang dituduhkan oleh kelompok yang menentang perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Karena sampai detik ini tidak ada fakta dan bukti yang jelas dan benar serta bisa dipertanggungjawabkan secara hukum tentang masalah pembelian senjata. Coba tunjukkan fakta dan buktinya Muba Dijon di mimbar bebas ini, tentang masalah pembelian senjata ini.Jangan hanya sekedar bercuap saja.

 

Selanjutnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak culas kepada kawan-kawan pendiri ASNLF di Acheh. Karena berdirinya ASNLF/GAM adalah ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro sudah berada di Acheh. Jadi coba sebutkan siapa itu yang dimasudkan dengan kawan-kawan pendiri ASNLF di tanah Acheh oleh Muba Dijon ini ?

 

Seterusnya, deklarasi ulang Negara Acheh tidak ada sangkut pautnya dengan NII dan RIA yang dibangun oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Jadi, tidak bisa dikatakan culas kepada Teungku Muhammad Daud Beureuh. Deklarasi ulang Negara Acheh adalah deklarasi kesinambungan dari Negara Acheh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, bukan dari RIA yang dibangun oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh.

 

Seterusnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro memilih taktik dan strategi perjuangan dengan Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia adalah merupakan pilihan taktik dan strategi yang tepat dan brilyan untuk menghadapi kekuatan penjajah RI dan TNI-nya. Taktik dan strategi perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari luar wilayah penjajah RI adalah suatu taktik dan strategi yang jitu dan tepat sekali. Jadi, bukan taktik dan strategi yang pengecut atau berjiwa banci.

 

Kemudian kalau dalam TNA berlaku aturan dan jenjang-jenjang menurut aturan kemiliteran itu adalah kebijaksanaan dari Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia dan TNA. Perjuangan bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri tidak gila dengan pangkat. Pasukan TNA berjuang untuk menentukan nasib sendiri dan pembebasan Negeri Acheh yang diduduki dan dijajah RI.

 

Tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pasukan non-organik dan organik TNI budek-Jawa di Acheh memang itu telah terbuka dan dibukakan oleh badan hak-hak asasi manusia seperti amnesti, bahwa memang benar yang melakukan pelanggaran tindak pidana HAM berat di Acheh adalah pihak TNI. Jadi pihak TNA tidak perlu melakukan kampanye, melainkan hanya menyodorkan fakta dan bukti bahwa para korban itu memang akibat pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan TNI.

 

Jadi Muda Dijon, kalian tambah mengelupur.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 14 Jun 2005 00:36:35 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: TATI, ITU MOHAMMAD HATTA AKHIRNYA DITENDANG KAKI POLITIK SOEKARNO-JAWA PENIPU LICIK 1 DESEMBER 1956

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit editor@jawapos.co.id

 

Hm... Kamu rupanya sudah sangat keterlaluan wahai Mad yang neurosis, inferior, dan inadeqaute itu.... Benar bahwa Dwi-Tunggal Soekarno-Hatta itu telah tanggal pada 1956, tapi tidak ada tendang menendang di situ. Bung Hatta hanya melaksanakan janjinya bahwa "Saya

akan mundur begitu terbentuk parlemen hasil pemilu". Dia menepati janjinya segera setelah parlemen hasil pemilu 1955 terbentuk. Dia memang seorang pemimpin besar yang malang melintang di eropa dan tentunya telah banyak belajar tentang demokrasi di eropa. Betapapun Soekarno membujuk agar Bung Hatta tetap mendampinginya, tapi Bung Hatta tetap dengan

keputusannya. Walaupun begitu, keduanya tetap aktif bersurat-suratan dan berdiskusi tentang Indonesia yang mereka lahirkan bersama beberapa founding father lainnya (di antara para founding father itu tersebutlah Mr. T.M. Hasan dan dr. M. Amir sebagai wakil Sumatera... Kamu kenal keduanya, Mad?). Kata-kata Bung Hatta tentang pengunduran dirinya, serta surat-suratnya kepada Bung Karno, terarsip dengan baik... Coba tanya anaknya deh, mbak Meutia Swasono-Hatta misalnya... Bohong itu dosa loh Mad... aku ingatkan itu...

 

Kemudian, Bung Hatta jelas tidak bisa disamakan dengan bandit hasan tiro. Maqam keduanya jelas-jelas berbeda. Bung Hatta seorang yang sangat terhormat, sementara hasan tiro jelas seorang bandit yang sangat tercela.

 

Yang pasti Bung Hatta TIDAK PERNAH: (1) kawin dengan seorang perempuan Yahudi di mana perbuatan itu sangat menyakiti hati sebagian besar muslim yang membenci Yahudi karena pendudukan mereka atas tanah Palestina, (2) culas kepada Daud Beureuh dengan mengemplang dana buat beli senjata, (3) culas terhadap kawan-kawan pendiri group toneel asnlf di tanah Aceh dengan, sekali lagi, membawa dana untuk beli senjata tetapi itu tidak pernah menjadi kenyataan, (4) mempunyai mental inferior dengan memilih kata "reproklamasi" dan mengaitkannya kepada Allahyarham Daud Beureuh (atau, koreksi kamu, kepada Sultan Iskandar Muda... Wah... ini malahan kejauhan dilihat dari maqam Sultan Iskandar Muda dan jarak waktunya...), (5) mempunyai mental banci dan pengecut dengan menjauhi wilayah konflik dan memilih hidup senang dan tenang di Swedia,

(5) tidak berprikemanusiaan dengan mengiming-iming pangkat dan kesejahteraan kepada rakyat Aceh yang lugu (yang kemudian disebut sebagai "rakyat Aceh yang telah sadar menentukan nasibnya sendiri"), menjadikannya celeng tna, dan mengumpankannya kepada peluru TNI, lalu bangkai-bangkai celeng tna itu diumumkan kepada dunia sebagai "rakyat tak berdosa yang dibantai TNI" agar group toneelnya mendapat perhatian dunia.

 

Sori jika aku keterlaluan... kamu sih Mad yang mulai...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------