Stockholm, 14 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON BUTA MELIHAT RI-JAWA-YOGYA MENELAN 15 NEGARA BAGIAN RIS & PERKAWINAN DENGAN PEREMPUAN YAHUDI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KELIHATAN ITU MUBA DIJON BUTA MELIHAT RI-JAWA-YOGYA MENELAN 15 NEGARA BAGIAN RIS & PERKAWINAN DENGAN PEREMPUAN YAHUDI

 

"Kamu selalu menulis: "RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan" atau "RIS dilebur dan dirobah menjadi RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan menjelma menjadi NKRI" atau juga "RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan telah menjelma menjadi NKRI" atau lain-lain yang seperti itu. Di kesempatan lain kamu juga bilang: "RI-Jawa-Jogya diterima menjadi anggota RIS". Bagaimana logikanya negara yang diterima menjadi anggota belakangan dan wilayahnya cuma secuil bisa nelen 15 negara bagian yang lebih gede-gede? Kalaupun memang ada penelanan (kata "penelanan" ini tidak bisa lain harus ditafsirkan sebagai pemaksaan kehendak "RI-Jawa-Jogya"), tentu ini akan menimbulkan konflik serius. Tetapi sejarah tidak mencatat adanya konflik itu, bahkan dalam tempo 8 bulan saja metamorfosa RIS menjadi NKRI ini selesai dengan tuntas tas tas!! Sejarah bahkan juga mencatat Soekarno-Hatta terpilih menjadi Presiden-Wapres RIS dan juga kemudian NKRI. Logika kamu sangat aneh belaka. Inadequate!!" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Tue, 14 Jun 2005 06:32:32 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Disini memang karena Muba Dijon dan sebangsanya mendengar RIS dengan 16 Anggota Negara/Daerah Bagian RIS baru pertama kali lewat mimbar bebas ini, dimana sebelumnya tidak pernah diajarkan dibangku sekolah maupun di perguruan tinggi oleh guru sejarahnya, maka ia mengalami kesulitan dalam usaha untuk mengerti jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI  dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Hal ini terbukti, ketika Ahmad Sudirman yang selalu mengatakan : “RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan” atau “RIS dilebur dan dirobah menjadi RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan menjelma menjadi NKRI” atau “RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan telah menjelma menjadi NKRI” atau “RI-Jawa-Jogya diterima menjadi anggota RIS”. Itu kalimat-kalimat model begitu sangat susah untuk dicerna oleh Muba Dijon dan sebangsanya. Mengapa ?

 

Karena, memang dalam sejarah yang diajarkan disekolah dan perguruan tinggi di RI, sedikit sekali atau bahkan tidak pernah diungkapkan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI yang menyangkut proses pada periode 14 Desember 1949 sampai 15 Agustus 1950. Paling hanya disinggung Belanda menyerahkan kedaulatan dan pengakuan kedaulatan kepada RI. Sehingga generasi baru RI yang tahu hanya RI, kalau ditanya RIS, mereka akan kesulitan, bahkan ada yang membelokkan bahwa itu adalah negara-negara boneka Belanda.

 

Nah, akibat dari proses pemberian pelajaran yang memang sudah diatur dan disistematiskan dimana jalur yang merugikan sejarah RI harus disisihkan dan kalau bisa dihapuskan dari panggung sejarah di Nusantara ini.

 

Oleh karena itu mengapa ketika Ahmad Sudirman menyatakan: “RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan”, sangat sulit untuk dicerna oleh Muba Dijon, sehingga perlu dijelaskan berpuluh kali.

 

Permasalahannya adalah sangat mudah sekali untuk dipahami yaitu, ketika Soekarno sebagai Presiden RIS mengesahkan UU Darurat No.11/1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS.

 

Sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah, mengapa Soekarno mengesahkan UU Darurat No.11/1950 itu diarahkan kepada 15 Negara/Daerah Bagian RIS untuk dimasukkan kedalam Negara RI-Jawa-Yogya ? Mengapa 15 Negara/Daerah Bagian RIS tidak diarahkan untuk dimasukkan kedalam Negara Indonesia Timur, atau Negara Sumatera Timur, atau Negara Pasundan ?

 

Nah, disini membuktikan bahwa memang itu semua sudah direncakan dari sejak awal bahwa masuknya Negara RI-Jawa-Yogya kedalam RIS adalah untuk menjadi batu loncatan agar bisa melakukan usaha probahan politik dalam struktur Negara RIS agar supaya 15 Negara/Daerah Bagian RIS bisa masuk kedalam perut Negara RI-Jawa-Yogya.

 

Jadi dengan adanya usaha Soekarno dari sejak awal untuk melakukan perobahan besar dalam tubuh RIS, maka tidak heran, kalau dalam jangka waktu dari 27 Desember 1949, yaitu dari sejak RIS diakui dan diserahkan kedaulatannya oleh Belanda, sampai 8 Maret 1950, itu Soekarno telah berhasil melahirkan UU Darurat No.11/1950.

 

Nah disini, kelihatan sangat jelas sekali bahwa Soekarno memang sudah melakukan rencana bahwa setelah RIS dengan Konstitusinya diakui dan diserahkan kedaulatannya oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, maka itu tubuh RIS akan dirobah sedemikian rupa untuk dilebur dan dimasukkan kedalam perut Negara RI-Jawa-Yogya.

 

Persoalananya adalah, 15 Negara/Daerah RIS tidak akan mudah dimasukkan kedalam perut Negara RI.-Jawa-Yogya, kalau RI-Jawa-Yogya, tidak menjadi anggota Negara Bagian RIS. Disamping itu, Belanda hanya akan menyerahkan kedaulatan dan mengakui kedaulatan kepada RIS, bukan kepada RI.

 

Jadi sekarang sangat mudah dimengerti, mengapa Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogya-nya mau tidak mau harus menjadi anggota Negara Bagian RIS agar supaya setelah RIS diakui kedaulatan dan diserahkan kedaulatan oleh Belanda mudak merobahnya dari dalam tubuh RIS, ketimbang dilakukan dari luar RIS. Karena kalau dilakukan dari luar RIS, itu RI-Jawa-Yogya harus melakukan dengan kekuatan militer dan kekuatan rakyat. Dan hal itu tidak mungkin bagi RI-Jawa-Yogya, yang wilayah kekuasaannya secara de-facto dan de-jure hanya di Yogyakarta dan sekitarnya saja.

 

Nah dengan dasar penjelasan diatas sudah bisa dimengerti mengapa dikatakan “RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan”

 

Nah, pengertian menelan disini sama dengan melahap atau memasukkan atau menjadikan bagian tubuh, atau meremas-remasnya kemudian dijadikan satu.

 

Jadi, RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan”. Itu logikanya adalah Negara RI-Jawa-Yogya yang merupakan Negara Bagian RIS melalui UU Darurat No.11/1950 telah melakukan pemasukan satu persatu Negara/Daerah Bagian RIS kedalam wilayah teritorial Negara RI-Jawa-Yogya yang dilakukan dari mulai tanggal 8 Maret 1950 sampai 14 Agustus 1950. Dimana setelah 15 Negara/Daerah Bagian RIS berhasil dimasukkan kedalam Negara RI-Jawa-Yogya, kemudian pada tanggal 14 Agustus 1950 Negeri Acheh melalui PP RIS No.21/1950 dimasukkan secara sepihak oleh Soekarno kedalam mulut Negara RI-Jawa-Yogya yang telah buncit akibat setelah menelan 15 Negara/Daerah bagian RIS.

 

Kemudian mengapa ketika akan memasukkan Negeri Acheh Soekarno perlu PP RIS No.21/1950, kenapa tidak cukup dengan UU Darurat No.11/1950 ?

 

Karena dalam UU Darurat No.11/1950 tidak berlaku bagi wilayah daerah diluar wilayah de-facto dan de-jure RIS. Karena Negeri Acheh diluar RIS, maka Soekarno dengan cara jalan singkat membuat surat peraturan sendiri yang dinamakan PP RIS No.21/1950.

 

Hanya tentu saja, cara yang dilakukan Soekarno menelan dan memasukkan Acheh kedalam Negara RI-Jawa-Yogya melalui RIS adalah cara yang ilegal dan tidak sah. Mengapa ? Karena Negeri Acheh bukan wilayah RIS dan bukan wilayah RI-Jawa-Yogya.

 

Nah, setelah 15 Negara/Daerah bagian RIS ditambah Acheh dan Maluku Selatan berhasil dimasukkan dan ditelan kedalam tubuh RI-Jawa-Yogya, maka RIS dilebur, kemudian RI-Jawa-Yogya yang telah buncit itu dijelmakan menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

 

Jadi sekarang, kalau Ahmad Sudirman menulis: ”RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan”, atau “RIS dilebur dan dirobah menjadi RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan menjelma menjadi NKRI” atau “RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan telah menjelma menjadi NKRI” atau “RI-Jawa-Jogya diterima menjadi anggota RIS”, itu dengan mudah dapat dipahami dan dimengerti.

 

Selanjutnya masih menyangkut masalah perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan perempuan Yahudi yang dianggap Muba Dijon melukai hati muslim Acheh dan muslim dunia umumnya atas kelakuan Yahudi menduduki Palestina.

 

Nah disini, masalah perkawinan dalam Islam tidak ada hubungannya dengan konflik di Palestina. Perkawinan dalam Islam harus mengacu kepada apa yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

 

Jadi, persoalan perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan perempuan Yahudi itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah konflik Palestina dimana Yahudi menduduki Negeri Palestina.

 

Soal pendudukan dan penjajahan, bukan hanya Yahudi menduduki Palestina saja, melainkan juga RI menduduki dan menjajah Acheh. RI menduduki dan menjajah Papua Barat. Rusia menduduki Chehnya. Inggris menduduki Irlandia Utara.

 

Jadi masalah pendudukan dan penjajahan Yahudi atas Palestina tidak ada kaitannya dengan perkawinan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan perempuan Yahudi. Itu Negeri Palestina bukan hanya Negeri milik Umat Islam melainkan milik umat Kristen juga. Itu Palestina bukan seratus persen milik umat Islam. Lain persoalan dengan Acheh. Itu Negeri Acheh dari masa kejayaannya seratus persen milik umat Islam, dan sekarang diduduki dan dijajah oleh RI.

 

Dan atas dasar apa masyarakat Acheh luka hati kalau Teungku Hasan Muhammad di Tiro menikah dengan perempuan Yahudi, yang sudah beberapa tahun yang lalu bercerai ?

 

Apakah atas dasar solidaritas terhadap bangsa Palestina dijajah Yahudi atau atas dasar contoh Rasulullah saw dan apa yang dijelaskan dalam Al Qur’an ?

 

Kalau atas dasar solidaritas terhadap Palestina yang dijajah oleh Yahudi, apakah lupa dan tidak mengerti bahwa Acheh juga sedang diduduki dan dijajah oleh RI dan TNI-nya ?

 

Disinilah kelihatan itu Muba Dijon sangat lemah argumentasinya. Dan kalau ditanyakan seluruh rakyat muslim Acheh tentang perkawinan Rasulullah saw, pasti seluruh rakyat muslim Acheh akan membenarkan Rasulullah saw menikah dengan perempuan Yahudi.

 

Karena masalah pekawinan itu sudah diatur oleh Allah SWT dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bukan dicontohkan dan harus solidaritas dengan Palestina yang jumlah penduduknya hampir sama antara penduduk muslim dan penduduk kristen yang diduduki oleh Yahudi.

 

Jadi Muba Dijon, kalian memang sudah kehabisan argumentasi, akhirnya hanya membawa-bawa masalah pribadi Teungku Hasan Muhammad di Tiro, yang ternyata setelah digali sangat lemah sekali argumentasi kalian itu, Muba Dijon.

 

Muba Dijon, kalian sudah tersungkur, mati kutu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 14 Jun 2005 06:32:32 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA DIJON MENCOBA PERTAHANKAN DWITUNGGAL SOEKARNO-HATTA DENGAN TALI IKATAN SURAT MENYURAT YANG RAPUH

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 dityaaceh_2003@yahoo.com

 

Ngaco... ngaco... ngaco.... Dikit aja deh yang aku komentarin balik... nggak ngerti-ngerti sih...

 

(1) Kamu selalu menulis: "RI-Jawa-Yogya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan" atau "RIS dilebur dan dirobah menjadi RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan menjelma menjadi NKRI" atau juga "RI-Jawa-Yogya yang telah buncit dan telah menjelma menjadi NKRI" atau lain-lain yang seperti itu. Di kesempatan lain kamu juga bilang: "RI-Jawa-Jogya diterima menjadi anggota RIS". Bagaimana logikanya negara yang diterima menjadi anggota belakangan dan wilayahnya cuma secuil bisa nelen 15 negara bagian yang lebih gede-gede? Kalaupun memang ada penelanan (kata "penelanan" ini tidak bisa lain harus ditafsirkan sebagai pemaksaan kehendak "RI-Jawa-Jogya"), tentu ini akan menimbulkan konflik serius. Tetapi sejarah tidak mencatat adanya konflik itu, bahkan dalam tempo 8 bulan saja metamorfosa RIS menjadi NKRI ini selesai dengan tuntas.. tas... tas...!! Sejarah bahkan juga mencatat Soekarno-Hatta terpilih menjadi Presiden-Wapres RIS dan juga kemudian NKRI. Logika kamu sangat aneh belaka... Inadequate..!!

 

(2) Aku tidak mempermasalahkan secara fiqih perkawinan hasan tiro dengan perempuan yahudi, tetapi perkawinan itu telah melukai hati muslim propinsi Aceh, Indonesia, dan muslim dunia umumnya atas kelakuan Yahudi menduduki Palestina. Jika hasan tiro menganggap dirinya sebagai pembela masyarakat Aceh, luka hati ini bisa disamakan dengan luka hatinya rakyat Amerika Serikat ketika Jacky Kennedy menikah dengan Onnassis, seperti pernah aku tulis dulu. Tapi memang nampaknya hasan tiro tidak peduli (atau karena saking bodohnya

dia tidak menduga) dengan luka hati seperti itu. Karena perkawinan itu terjadi sebelum "reproklamasi" 1976, maka bisa dipastikan dia sebenarnya tidak mempunyai rencana untuk menjadi "pemimpin" Aceh. Hal ini semakin menegaskan bahwa "reproklamasi" 1976 yang penuh sikap kebanci-bancian dan rasa inferior itu adalah suatu tindakan yang ujug-ujug, tanpa ada hujan tanpa ada angin...

 

Gitu aja deh...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------