Stockholm, 16 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON TIDAK MAMPU PERTAHANKAN SEJARAH MODEL SOEKARNO-JAWA, AKHIRNYA MERABA DARI TONG SAMPAH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON SUDAH SEMPOYONGAN TIDAK MAMPU LAGI PERTAHANKAN SEJARAH MODEL SOEKARNO PENIPU LICIK & PENCAPLOK ACHEH, MALUKU SELATAN & PAPUA BARAT

 

"Mengapa RIS memilih Soekarno-Hatta menjadi pemimpinnya. Mengapa NIT menyerahkan urusannya kepada RIS? Dua fakta ini sangat sederhana implikasinya: RIS dan NIT menyerahkan urusan mereka kepada Soekarno-Hatta. Tentu saja mereka tahu Soekarno-Hatta

gandrung akan RI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yaitu wilayah yang disatukan oleh penderitaan bersama selama 350 tahun di bawah cengkraman imperialis Belanda. Jadi penjelasan si Mad tentang ini sangat njlimet" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Thu, 16 Jun 2005 00:45:08 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Nah coba perhatikan, begitu Ahmad Sudirman menjelaskan bagaimana itu yang terjadi sebenarnya dalam tubuh RIS sebelum RIS dilebur jadi RI-Jawa-Yogya, lalu menjelma jadi NKRI, pada 15 Agustus 1950.

 

Rupanya, memang karena jalur sejarah proses pertumbuhan RI-Jawa-Yogya pada periode 14 Desember 1949 sampai 15 Agustus 1950 tidak pernah diungkapkan secara jelas dan gamblang oleh para guru dan dosen sejarah di RI, maka ketika Ahmad Sudirman membukakan itu semua, ternyata Muba Dijon kalang kabut dan mukanya duabelas pas, saking bingungnya, sehingga dari mulutnya keluar kata: “Njlimet”

 

Bagaimana itu Muba Dijon tidak merasakan menjelimet, karena memang sebelumnya tidak pernah mendengar, apalagi membaca. Jadi memang wajar saja ketika Ahmad Sudirman membongkar kejahatan Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya menelan 15 Negara/Daerah Bagian RIS memakai mulut RI-Jawa-Yogya, itu kepala Muba Dijon, berputar-putar, dan matanya berkunang-kunang, saking puyeng dan pusing tujuh keliling.

 

Muba Dijon, kalau kalian hanya mampu memberikan jawaban: “Mengapa RIS memilih Soekarno-Hatta menjadi pemimpinnya. Mengapa NIT menyerahkan urusannya kepada RIS? Dua fakta ini sangat sederhana implikasinya: RIS dan NIT menyerahkan urusan mereka kepada Soekarno-Hatta. Tentu saja mereka tahu Soekarno-Hatta gandrung akan RI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yaitu wilayah yang disatukan oleh penderitaan bersama selama 350 tahun di bawah cengkraman imperialis Belanda.”

 

Nah, inilah jawaban dari orang yang otaknya kosong dimakan racun tipu model mbah Soekarno.

 

Ketika Dewan Pemilihan Presiden RIS memilih Soekarno untuk dijadikan sebagai Presiden RIS, itu bukan berarti bahwa RIS gandrung pada Soekarno-Hatta akan RI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

 

Inilah kesalahan fatal, yang dilontarkan Muba Dijon. Mengapa ? Karena sudah jelas dan gamblang itu RIS telah memiliki Konstitusi yang menganut Negara Federal. Bagaimana RIS yang Negara-nya berbentuk Federasi, gandrung akan Soekarno yang punya ambisi untuk menelan seluruh wilayah di luar wilayah de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya.

 

Kan tidak masuk akal, 15 Negara/Daerah Bagian RIS yang telah membangun RIS hanya sekedar akhirnya diserahkan kepada Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya. Kalau akhirnya mau dileburkan kedalam tubuh RI-Jawa-Yogya, tidak perlu itu bangsa-bangsa yang ada di Nusantara ini membangun dan mendirikan Negara-nya masing-masing.

 

Dan itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya masuk RIS pada 14 Desember 1949 sudah mengakui dan menerima serta menandatangani Konstitusi RIS yang berbentuk Negara Federasi itu.

 

Jadi, tidak ada alasan yang logis, kalau Negara yang telah disepakati bersama oleh 16 Negara/Daerah Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1950, mau dihancurkan dan dileburkan kedalam RI-Jawa-Yogya, kalau bukan memang itu tipu muslihat dan taktik, strategi Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya dalam bangunan RIS.

 

Soekarno yang berambisi untuk memperluas wilayah RI-Jawa-Yogya guna membentuk kesatuan dengan menghancurkan bentuk federasi RIS adalah memang merupakan usaha penghancuran bangunan Federasi RIS.

 

Dan memang terbukti, itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya melumat habis semua orang yang mendukung dan memmbangun RIS dalam bentuk federasi. Lihat saja Sultan Hamid II yang membangun Negara Federasi RIS disapu dan dilumat habis oleh Soekarno. Mana ada tokoh-tokoh dari Negara/Daerah Bagian RIS yang dibawa bersama dalam Kabinet-Kabinet yang dipilih dan dibangun Soekarno dalam perjalanan roda Pemerintahnya. Semua hanya orang-orang Jawa dari kelompok unitaris dibawah komando Soekarno. Sedangkan orang-orang federalis, semuanya disapu bersih.

 

Memang kelihatan, itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya masuk kedalam tubuh RIS pada 14 Desember 1949 adalah pertama, untuk ikut serta dalam RIS diakui kedaulatan oleh Belanda. Dan kedua, menghancurkan kelompok lawan-lawan politiknya dari kelompok federalis yang telah membangun RIS, untuk digantikan dengan kelompok unitaris, yaitu kelompok kaum Jawa-nya Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya.

 

Jadi Muba Dijon, kalian memang sudah tidak memiliki fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat guna dipakai mempertahankan kejahatan dari Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya yang telah menelan 15 Negara/Daerah bagian RIS, Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Kemudian tentang Negara Pasundan, kalian Muba menyatakan: ”Perkara penentangan masyarakat Sunda terhadap pendirian negara Pasundan, itu adalah satu-satunya fakta tanggapan terhadap pendirian negara Pasundan itu dan keinginan masyarakatlah yang akhirnya menang.”

 

Nah, itu memang Muba Dijon hanya bercuap seenaknya saja. Muba Dijon, kalian tau, berapa banyak orang Sunda yang ada di Yogyakarta pada tanggal tanggal 16 Maret 1948, ketika Soekarno dilapangan Yogyakarta berpidato propaganda untuk melakukan permusuhan terhadap Negara Pasundan ?

 

Itu hanyalah segelintir orang Sunda, bukan masyarakat Sunda yang ada di Sunda. Itu hanyalah para cuak dan kacung-kacungnya Soekarno yang ada di Yogyakarta pada waktu itu untuk bisa diperalat Soekarno guna dijadikan alat ujung tombak melawan Pemerintah Wali Negara R.A.A. Wiranatakusumah dari Negara Pasundan. Itulah kacung-kacungnya Soekarno yang otaknya telah termakan propaganda bohong dan busuk dari Soekarno.

 

Sama juga seperti sekarang, itu para cuak dan kacung-kacung orang Acheh yang diperalat oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Jenderal Endriartono Sutarto untuk dijadikan ujung tombak melawan bangsa Acheh yang sedang berjuang untuk menentukan nasib sendiri dibawah pimpinan Wali Negara Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Kemudian, soal Dekrit Presiden 5 juli 1959, yang kalian katakan  inkonstitusional itu, kalian tidak sebutkan alasannya. Baru setelah Ahmad Sudirman menjelaskan mengapa itu dinamakan inkonstitusional, atau hanya logika-logikaan, yaitu ”karena dalam UUDS 1950 tidak menjelaskan bahwa Presiden bisa membubarkan Konstituante. UUDS 1950 menganut sistem ketatanegaraan bersifat parlementer. Dimana pemerintah bisa membubarkan parlemen, sebaliknya parlemen dapat menjatuhkan pemerintah. Walaupun Presiden hanya berkedudukan sebagai Kepala Negara (Pasal 45 ayat 1), Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen. Karena Soekarno menganggap parlemen (DPR) sama tingkat dan kekuatannya dengan Konstituante (pembuat UUD), maka itu Konstituante disantapnya juga dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.” (Ahmad Sudirman, 15 juni 2005)

 

Barulah mata kalian terbuka, dan paham mengapa Dekrit Presiden 5 juli 1959 adalah inkonstitusional.

 

Dan alasan kalian Muba Dijon bahwa ”NKRI kemudian kembali menjadi RI 1945 dengan sangat terpaksa karena eksistensi NKRI berada dalam keadaan bahaya akibat gagalnya konstituante hasil Pemilu 1955 membuat konstitusi pengganti UUDS 1950 yang memang ditegaskan statusnya sementara itu. NKRI "kembali" menjadi RI 1945 itu ditandai dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk mengatasi kemandulan konstituante walaupun mereka sudah bersidang selama 3-4 tahun (1955/56-1959).” (Muba Dijon, 15 juni 2005) 

 

Itu alasan yang penuh kebohongan. Justru yang benar adalah, memang Soekarno, dengan politik unitari-RI-Jawa-Yogya dengan pancasila-nya tidak ingin sebagian bahkan hampir separuh dari anggota Konstituante yang menghendaki UUD Islam.

 

Dimana fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya adalah pada tanggal 30 Mei 1959 dilangsungkan pemungutan suara, ternyata suara yang ingin kembali ke UUD 1945 sebanyak 269 anggota, sedangkan 199 anggota menghendaki UUD yang berdasarkan Islam. Menurut pasal 137 UUD 1950 dinyatakan bahwa UUD bisa disyahkan dengan suara mayoritas dua pertiga dari jumlah suara yang masuk. Kemudian, karena hasil pemungutan suara pertama tidak mencapai mayoritas dua pertiga jumlah suara, maka pada tanggal 1 Juni 1959, diadakan lagi pemungutan suara kedua, ternyata hasilnya 263 setuju ke UUD 1945, sedangkan 203 menghendaki UUD yang berdasar Islam. Karena dalam pemungutan suara ini juga tidak mencapai jumlah dua pertiga dari jumlah suara yang masuk, maka besoknya, tanggal 2 Juni diadakan lagi pemungutan suara, ternyata 264 menginginkan UUD 1945, dan 204 menghendaki UUD Islam.

 

Nah disinilah, Soekarno memainkan kartu sulapnya dengan memakai alasan karena anggota Konstituante tidak berhasil menghasilkan suara mayoritas kembali ke UUD 1945, kemudian Soekarno dengan Surat Keputusan Presiden Tentang Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan Perang 14 Maret 1957 dan bersama Kabinet Darurat Ekstraparlementer yang disetujui oleh TNI dan pembenaran dari Mahkamah Agung, dengan lantangnya di Istana Merdeka pada tanggal 5 Juli 1959 membacakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

 

Jadi, Muba Dijon budek, yang kalian katakan: ”sangat terpaksa karena eksistensi NKRI berada dalam keadaan bahaya akibat gagalnya konstituante hasil Pemilu 1955 membuat konstitusi pengganti UUDS 1950 yang memang ditegaskan statusnya sementara itu” adalah alasan yang penuh kebohongan.

 

Itu dari sejak 14 Maret 1957, Soekarno telah mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Tentang Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan untuk dipakai menjerat seluruh wilayah yang telah ditelannya. Jadi itu Soekarno telah memakai payung hukum yang dibuatnya sendiri untuk menjerat dan mengikat erat-erat wilayah yang ditelannya memakai RIS. Dengan memakai Surat Keputusan Presiden Tentang Keadaan Bahaya Tingkat Keadaan Perang 14 Maret 1957, itu artinya Soekarno dengan TNI-nya telah mengikat erat-erat wilayah aneksasiannya. Kemudian dua tahun setelah itu, 5 Juli1959, kesempatan Soekarno untuk menyapu UUDS 1950 dan UUD yang  berdasar Islam, dan memilih kembali UUD 1945-nya RI-Jawa-Yogya.

 

Jadi, memang Soekarno, dari sejak awal masuk RIS, 14 Desember 1949, telah menjalankan taktik dan strategi Soekarno untuk meluaskan wilayah RI-Jawa-Yogya, dari wilayah Yogyakarta meluas kewilayah lainnya yang telah berdiri diatasnya 15 Negara/Daerah yang tergabung dalam RIS, ditambah dengan Acheh dan Maluku Selatan. Kemudian, untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya yang ingin menjadikan UUD Islam dipakai sebagai dasar fondasi negara.

 

Seterusnya, itu Muba Dijon hanya bisa menuliskan istilah empathy, tetapi ketika dicek oleh Ahmad Sudirman pengertian istilah itu, ia hanya bisa berceloteh entah dari mana sumbernya celotehannya itu. Mengapa?

 

Karena ketika Ahmad Sudirman menyatakan bahwa arti empati, yaitu keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

 

Nah, itu pengertian empati adalah hasil pemikiran dari ratusan orang-orang yang telah menguasai permasalahan dalam makna, arti, tujuan dari kata empati itu yang dihimpunkan dalam kamus besar bahasa Indonesia yang dipelopori oleh Anton M. Moeliono.

 

Jadi, Ahmad Sudirman justru memakai pengertian yang telah disepakati oleh ratusan orang yang telah menggali dan mengumpulkan data-data tentang arti dari kata empati.

 

Sedangkan Muba Dijon, hanya bercuap saja, sambil menyodorkan contoh penggunaan ”tip-ex”. Mana itu Muba Dijon memberikan arti empati. Dan darimana sumbernya, yang ia tulis hanya ”Definisi yang dia lambungkan sangat kaku dan tidak menunjukkan "empathy" itu sendiri. Begini deh Mad, aku kasih contoh.”

 

Kalau yang namanya ujian, sudah itu Muba Dijon masuk kelaut. Bagaimana ia bisa lulus ujian di ITB atau di UI, kalau hanya bercuap tanpa memakai referensi yang benar dan jelas. Paling lulusnya dikatrol.

 

Muba Dijon, lain kali kalau kalian mau menjelaskan istilah, tuliskan arti istilah itu dan sebutkan darimana sumbernya. Jangan hanya meraba-raba pakai contoh  ”tip-ex”.

 

Kemudian, Muba Dijon ini bercuap tentang Islam, tetapi ketika disuruh untuk mencontoh Rasulullah saw, ia mati kutu, menolaknya setengah mati. Mengapa ?

 

Karena, itu Muba Dijon budek menghubungkan perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Perempuan Yahudi. Sambil mengajukan alasan: ”mereka tidak setuju dengan perkawinan itu mengingat kebiadaban Yahudi atas Palestina, tetapi tidak bisa menolak rencana hasan tiro itu atas pertimbangan hak azasi.”

 

Nah, alasan Muba Dijon ini, benar-benar bukan alasan yang bisa diterima oleh Islam. Mengapa ? Karena soal perkawinan dalam Islam itu sudah ditentukan oleh Allah SWT dan sudah dicontohkan Rasulullah saw.

 

Mengapa harus dihubung-hubungkan dengan hak azasi segala macam, dan seterusnya dengan kebiadaban Yahudi atas Palestina ?.

 

Kalau dihubungkan dengan kebiadaban Yahudi atas Palestina, adalah sama juga dengan kebiadaban TNI-budek-Jawa dengan Para Jenderal TNI-nya yang membunuh dan memperkosa rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Jadi, karena rakyat Acheh mengetahui 100 % bahwa Rasulullah saw menikah dengan perempuan Yahudi bahkan dari kabilah Yahudi musuh Islam nomor satu di Madinah, dan Islam tidak melarang menikah dengan perempuan Yahudi, maka tidak ada alasan untuk menyatakan kepada rakyat muslim Acheh, mati kutu. Dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro menikah dengan perempuan Yahudi bukan karena hak asazi manusia, dan bukan mementingkan egonya.

 

Apakah ada yang protes kepada Rasulullah saw ketika Rasulullah saw menikah dengan Juwairiyah putri dari Bani Mustaliq musuh nomor satu umat Islam di Madinah ? Kan tidak ada.

 

Yang menjadi dasar menikah Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan perempuan Yahudi itu adalah dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT dan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Dan menikah itu harus melalui jalur hukum yan berlaku dalam Islam. Bukan karena hak azasi manusia atau solidaritas lainnya.

 

Apakah, kalian Muba Dijon tidak mencontoh Rasulullah saw ?.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 16 Jun 2005 00:45:08 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA DIJON TIDAK MEMILIKI FAKTA, BUKTI DAN HUKUM YANG KUAT TENTANG RIS & DEKRIT PRESIDEN 5 JULI 1959

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan email_ichwan@yahoo.co.uk

 

Njlimet, uncomprehensive, dan missapplication...!! Itulah tiga kata yang pantas untuk menanggapi tulisan si Mad ini.

 

1.Njlimet

Mengapa RIS memilih Soekarno-Hatta menjadi pemimpinnya. Mengapa NIT menyerahkan urusannya kepada RIS? Dua fakta ini sangat sederhana implikasinya: RIS dan NIT menyerahkan urusan mereka kepada Soekarno-Hatta. Tentu saja mereka tahu Soekarno-Hatta

gandrung akan RI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yaitu wilayah yang disatukan oleh penderitaan bersama selama 350 tahun di bawah cengkraman imperialis Belanda. Jadi penjelasan si Mad tentang ini sangat njlimet. Maksud hati menentang kenyataan NKRI, tapi fakta-fakta yang disodorkannya malahan sangat menunjang kenyataan NKRI itu. Perkara penentangan masyarakat Sunda terhadap pendirian negara Pasundan, itu adalah satu-satunya fakta tanggapan terhadap pendirian negara Pasundan itu dan keinginan masyarakatlah yang akhirnya menang.

 

2. Uncomprehensive

Aku telah bilang bahwa dekrit presiden itu sesuatu yang inkonstitusional, jadi memang tidak mengacu kepada konstitusi manapun, bahkan bertentangan. Walaupun demikian, seperti yang sudah aku jelaskan juga, realitas politiklah yang kemudian akan menerima atau menolak dekrit presiden itu. Kenyataannya memang demikian, dekrit Soekarno diterima oleh realita

politik bahkan menjadi bagian dari susunan perundang-undangan RI dan sampai sekarang tidak dikutak-katik, sementara dekrit Gus Dur tertolak oleh realita politik. Tidak perlu ada sandaran konstitusi bagi sebuah dekrit, tapi keabsahannya terpulang kepada realita politik: diterima atau ditolak. Yang diperlukan hanyalah awareness akan keadaan bahaya bagi eksistensi negara. Awareness itulah yang menjadi landasan Soekarno dan Gus Dur sehingga mereka mengeluarkan dekrit, dan kemudian realitas politik mengkonfirmasinya: menerima dekrit Soekarno dan menolak dekrit Gus Dur.

 

3. Missapplication

Sangat bodoh memang si Mad ini. Dia selalu kesulitan dalam membuat definisi. Yang bisa dia lakukan adalah membuka-buka buku atau browsing google dan menuliskan apa yang tertulis di sana, tanpa tahu maksudnya, apalagi aplikasinya. Tentu kamu masih inget, betapa belepotannya kamu ketika mendefinisikan "sinkretisme". Aku kemudian menjelaskannya secara applicative. Hal yang sama kini terjadi lagi dalam upaya kamu menjelaskan kata "empathy", sebuah istilah psikologi. Definisi yang dia lambungkan sangat kaku dan tidak

menunjukkan "empathy" itu sendiri. Begini deh Mad, aku kasih contoh.

 

Misalnya kamu sedang menulis pake tinta, dengan hati-hati, karena kamu tidak mau ada kesalahan dan coretan di sana. Tak dinyana, kamu melakukan suatu kesalahan, dan celingukan mencari sesuatu untuk mengatasi kesulitan itu tanpa harus membuat coretan.

Aku yang memperhatikan kamu kemudian memberikan tip-ex kepadamu.

 

Apa yang aku lakukan kepadamu adalah sebuah aplikasi empathy. Tanpa kamu teriak-teriak aku sudah tahu apa yang kamu inginkan. Tip-ex itulah satu-satunya yang kamu butuhkan saat itu. Dan dengan demikian aku berikan sesuatu yang tepat menjadi keinginanmu. Kelihatan nggak konsep "empathy" dalam "definisi" melalui contoh aplikasi sederhana di atas? Tentu saja kalau hasan tiro atau kamu tanya masyarakat Aceh: "Kalian tahu kan Yahudi itu ahli kitab dan tidak terlarang wanitanya dinikahi laki-laki muslim", tentu mereka akan berpikir, "kenapa lagi bicara tentang yahudi yang menjijikan itu?", tapi tak urung mereka menjawab, "ya". Itu juga yang aku sebutkan bahwa aku tidak mempermasalahkan secara fiqih perkawinan hasan tiro dengan perempuan yahudi itu. Tapi jika kamu atau hasan tiro kemudian melanjutan pidatonya: "Kalian memang cerdas... aku akan  menikah dengan Dora,

perempuan yahudi itu". Kata yang tepat bagi masyarakat Aceh mendengar kata-kata terakhirmu itu adalah "mati kutu": mereka tidak setuju dengan perkawinan itu mengingat kebiadaban Yahudi atas Palestina, tetapi tidak bisa menolak rencana hasan tiro itu atas

pertimbangan hak azasi. Maukah kamu melihat "rakyatmu" mati kutu seperti itu? Kenapa hasan tiro lebih mementingkan egonya (walau hak azasi tidak menentang perbuatannya) daripada aware dan lalu memberikan empathy-nya kepada "rakyatnya"?

 

Sudahlah, Mad, kamu memang inadequate dan inferior sehingga sangat mudah bagiku mematahkan argumentasi njlimet, uncomprehensive, dan missapplication-mu itu.

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------