Sandnes, 16 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


BERFIKIR SECARA IDIOLOGIS & BERFIKIR SECARA ADAT DAN BUDAYA

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.



MENYOROT BERFIKIR DARI SUDUT IDIOLOGIS & BERFIKIR DARI SUDUT ADAT KEBIASAAN & KEBUDAYAAN

 

Omar Puteh melanjutkan:

"Tetapi begitupun jangan silap, sayapun tidak akan meletakkan saudara Hussaini Daud Sp selevel dengan Tok Guru Al Ustadz Nik Aziz. Walaupun Kerajaan Negeri Kelantan, "Nik Azis Government" itu, telah disebut-sebut juga sebagai Serambi Mekah, sedangkan Acheh, masih sedang berjuang untuk memancung "Indonesia" dari serambinya agar "Acheh Self Governement" dapat meletakkan kembali diserambi Acheh, sebuah Negara Acheh Sumatra dengan hegemonynya: Acheh SeuramoŽ Meukah-Acheh Serambi Meukah!"

 

Prediksi Omar Puteh diatas keliru 180 derajat. Dia kira Husaini Daud senang andaikata dirinya dilevelkan sejajar dengan Ustaz Nik Aziz. Tidak, sekalikali tidak. Pertama yang harus Omar Puteh pahami bahwa Nik Aziz itu masih berenang dalam "lumpurnya Kualalumpur", sebagaimana PPP yang masih berenang dalam lumpurnya Pancasila. Sesungguhnya Kelantan itu tidak merdeka. Sedangkan Husaini Daud Sp kendatipun merupakan orang biasa saja, alhamdulillah mampu membebaskan diri dari ikatan system thaghut Indonesia munafiq itu.

 

Memang nampak jelas kalau Omar Puteh itu kosong dari Ide yang "Haq" alias kosong dari Idiology, kendatipun dia menganggap dirinya sebagai "guru" dari Idiolog Acheh Merdeka. Hal ini terbukti ketidak mampuannya untuk mengkritisi terhadap julukan "Acheh Serambi Mekkah". Omar Puteh tidak mampu memahami bahwa bangsa Acheh sekarang ini justru ingin melepaskan diri dari ikatan Serambi Mekkah (Seuramoe Makah).Sampai disini sebaiknya saya berhenti dulu untuk melanjutkan keterangannya agar dapat melihat sejauh mana Omar Puteh itu berjingkrak-jingkrak untuk tidak menerima pernyataan saya ini.

 

Sungguh bangga sekali bagi bangsa Acheh ketika Negara Acheh (dari jaman Rasulullah Muhammad saww sampai jaman Imam Ali Bin Abi Thalib) digelar "Serambi Mekkah". Hal ini disebabkan Mekkah ketika itu benar-benar Islami, yang mengandung pengertian bahwa Acheh sebagai serambinya juga benar-benar Islami. Namun setelah wafatnya Imam Ali, mekkah benar-benar jahiliah kembali. Orang-orang hipokrit yang senantiasa melawan Rasulullah dulu, mulai memiliki kesempatan kembali untuk menguasai Mekkah dan juga Madinah melalui pilihan orang ramai dan kelicikan Amru bin Ask.-- lalu merobah System Islam yang telah dibangun Rasul bersama Imam Ali dan sahabat-sahabat setianya. Mereka telah merobah Mekkah dan Madinah yang Islami menjadi jahiliah kembali sebagaimana disebutkan Said Qutub "Jahiliah Modern".

 

Ketika itu saja orang-orang Acheh idealis tidak lagi merasa bangga dengan julukan serambi Mekkah, apalagi sekarang tentu lebih sangat tidak bangga lagi, kecuali orang-orang yang masih terikat dengan adat kebiasaan sebagaimana penampilan Omar Puteh. Perlu diketahui bahwa semua orang yang masih senang bergabung dalam Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), boneka Indonesia munafiq sangat mendambakan julukan Serambi Mekkah buat Acheh. Mereka mengira Acheh tidak lagi Serambi Mekkah. Padahal sampai sekarang Acheh masih sebagai Serambi Mekkah yaitu sama jahilnya dengan Mekkah sekarang (Jahiliah Modern)

 

Andaikata masih banyak orang yang tidak mampu memahami kejahiliahannya Mekkah dan Saudi Arabianya sekarang, orang-orang tersebut sama lugunya seperti orang-orang Alim Palsu yang bersekongkol dalam system Munafiqnya, Indonesia - Jawa. Mereka tidak memiliki kemampuan berfikir secara Idiologis. Mereka sangat terikat dengan adat kebiasaan dan kebudayaan.

 

Insya Allah akan bersambung

Billahi fi sabililhaq

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia

----------