Stockholm, 17 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA, BAMBANG & RAHMAT SANTOSO TIDAK LAGI PUNYA KEKUATAN UNTUK MEMBENTENGI YUDHOYONO & SUTARTO

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA, BAMBANG HUTOMO & RAHMAT SANTOSO TIDAK LAGI PUNYA KEKUATAN UNTUK MEMBENTENGI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO  & ENDRIARTONO SUTARTO

 

"Selamat dan salut utk TNI, damai --bagus ; 'menyerah' dan kembali ke masyarakat dan hidup normal sangat bagus; melawan dan menyengsarakan masyarakat--> harus kita sikat.” (Bambang HW & Rahmat Santoso, bambang_hw@rekayasa.co.id ,Fri, 17 Jun 2005 14:04:43 +0700)

 

”Kebalikan bung Ahmad, yang selalu bongkar-bongkar tong sampahnya kolonial Belanda itukan anda sendiri. Lihat tuh apapun argumen yang tidak sejalan dengan anda, anda selalu mengkanternya dengan cuplikan sejarah yang anda korek-korek dari tong sampah. Argumen anda selalu basi..hanya ilmu ngeyel dan tebal muka yang bisa membuat anda bertahan di mimbar ini.” (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Thu, 16 Jun 2005 21:31:49 -0700 (PDT))

 

Baiklah Bambang HW & Rahmat Santoso di Jakarta, dan Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

 

Wartawan Jawa Pos yang hanya mengikuti ekor Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI budek-Jawa-nya, didukung dari belakang oleh Bambang Hutomo melalui jalur Rahmat Santoso dari tempat kerjanya di Rekayasa, Jakarta Indonesia. Ternyata mereka berdua ini, khususnya Dharminta sudah tidak mampu lagi memberikan jawaban yang jelas dan benar, baik ditinjau dari sudut fakta, bukti, sejarah maupun dari sudut hukum mengenai legalitas Acheh dimasukkan kedalam sangkar burung garuda panca sila RI-Jawa-Yogya dengan TNI-nya.

 

Ketika Ahmad Sudirman memberikan penjelasan yang jelas dan gamblang dalam tulisan sebelum ini berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum, bagaimana itu Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya secara licik dan penuh tipu muslihat mendorong agar berdiri Negara-Negara yang ada di Nusantara diluar RI-Jawa-Yogya dalam bentuk Negara Federasi yang dinamakan Republik Indonesia Serikat. Dan RI-Jawa-Yogya-nya Soekarno juga merupakan salah satu Negara Bagian dari Negara Federasi RIS ini. Tetapi, setelah RIS berdaulat, lalu dihancurkan dan dileburkan oleh Soekarno dan keroconya, lalu dimasukkan kedalam mulut RI-Jawa-Yogya.

 

Nah, ternyata argumentasi Ahmad Sudirman ini, tidak bisa dijawab oleh Dharminta berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum, kecuali Dharminta hanya mampu menuliskan: ”Kebalikan bung Ahmad, yang selalu bongkar-bongkar tong sampahnya kolonial Belanda itukan anda sendiri. Lihat tuh apapun argumen yang tidak sejalan dengan anda, anda selalu mengkanternya dengan cuplikan sejarah yang anda korek-korek dari tong sampah. Argumen anda selalu basi..hanya ilmu ngeyel dan tebal muka yang bisa membuat anda bertahan di mimbar ini.”

 

Nah jelas, jawaban Dharminta ini ternyata jauh dari apa yang sepatutnya seorang yang sudah menelan dan memakan bangku perguruan tinggi jurusan jurnalistik dan sudah menduduki kursi redaksi Jawa Pos. Jawaban Dharminta itu hanyalah sebagai jawaban dari seorang jalanan yang otaknya sudah kosong, yang hanya dipenuhi oleh ampas hasil perasan sampah mitos kosong yang  dijadikan batu landasan berdirinya RI-Jawa-Yogya buatan mbah Soekarno-Jawa dan dikembangkan serta diteruskan oleh para penerusnya.

 

Jadi, bagaimana bisa orang-orang model Dharminta yang ngaku wartawan lagi, dari Jawa Pos lagi yang memakai nama Jawa, tetapi otaknya kosong molongpong, hanya diisi oleh ramuan  mitos Jawa tentang RI-Jawa-Yogya yang gombal.

 

Karena itu mana mungkin bisa alasan dan argumentasi Dharminta Jawa budek ini bisa dijadikan sebagai alasan untuk terus dipakai menjerat dan menduduki Acheh oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Jenderal Djoko Santoso, Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra, Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto, dan para keroco Komisi I DPR, seperti Permadi, Theo L Sambuaga, dan Efendy Choirie.

 

Dharminta, selama kalian hanya berguman dengan alasan tong sampah kolonial Belanda, maka selama itu kalian adalah hanya terus berada dalam jurang Ciliwung. Mengapa ?

 

Karena, itu ketika Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya menelan, memasukkan Negara/Daerah Bagian RIS, mencaplok Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, itu Belanda sudah tidak ada lagi kedaulatannya di Nusantara itu. Dan itu justru Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya adalah penerus penjajah Belanda atau Negara-Negara yang ada di Nusantara, juga atas Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

 

Jadi, kalau kalian Dharminta mengatakan: ”bung Ahmad, yang selalu bongkar-bongkar tong sampahnya kolonial Belanda”. Itu adalah alsan dan argumentasi yang gombal alias kosong dan rapuh.

 

Nah, disinilah kalian Dharminta kelihatan bagaimana lemahnya sebenarnya argumentasi yang dijadikan dasar untuk mempertahankan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Buktinya, hanya sanggup bercuap: ”tong sampahnya kolonial Belanda”. Padahal realinya itu bukan tong sampah kolonial Belanda, melainkan kolonial RI-Jawa-Yogya dibawah Soekarno penipulicik dari Jawa.

 

Dan tentu saja siapa yang tidak punya malu alias tebal muka dan hanya berputar-putar dalam lingkaran yang beralel ”basi”, kalau bukan Dharminta dari Jawa Pos satu itu.

 

Dharminta, kalian mati kutu.

 

Kemudian, itu Bambang Hutomo dari Jakarta beserta rekan sekantornya Rahmat Santoso dari Perusahaan Rekayasa, telah ikut bersama Dharminta memberikan semangat dengan cara melambungkan propaganda murahan yang dilambungkan pihak Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi saputra, Pangdam di Acheh, yang menggantikan Endang Suwarya.

 

Itu Bambang Hutomo dan Rahmat Santoso tanpa berpikir panjang langsung saja mengangkat kampanye dan propaganda murahan yang dilambungkan Dharminta yang isinya: ”enam anggota GAM menyerah” sambil ditambah dengan kata-kata: ”Selamat dan salut utk TNI, damai --bagus ; 'menyerah' dan kembali ke masyarakat dan hidup normal sangat bagus; melawan dan menyengsarakan masyarakat--> harus kita sikat.”

 

Hutomo dan Santoso, kalian berdua dari Jawa, coba sedikit kalau memberikan tanggapan terhadap apa yang dilambungkan Ahmad Sudirman ini memakai otak, bukan hanya otak palsu yang dipasang di dengkul.

 

Kalau itu cerita yang dilambungkan Dharminta tidak diteliti secara ketat, maka kalian akan mudah terjerumus kedalam propaganda murahan yang dilambungkan oleh Ferry Firmansyah anak buahnya Supiadin Yusuf Adi Saputra yang orang Sunda satu dan kacungnya Djoko Santoso dan keroconya Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Dan tentu saja, propaganda murahan hasil lambungan Ferry Firmansyah yang berisikan label ”khilaf” itu tidak akan mengurangi kekuatan TNA dan kekuatan bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Dan justru yang harus dikutuk adalah kejahatan pasukan non-organik TNI budek-Jawa yang jumlahnya lebih dari 50.000 terus saja menduduki dan menjajah Acheh. Bukan hanya menjajah tetapi juga membunuh, menyiksa, memperkosa, menculik rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 16 Jun 2005 21:31:49 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: Re: MUBA DIJON TIDAK MAMPU PERTAHANKAN SEJARAH MODEL SOEKARNO-JAWA, AKHIRNYA MERABA DARI TONG SAMPAH

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, alasytar_acheh@yahoo.com, apalahu2000@yahoo.co.uk, agungdh@emirates.net.ae, abdul.muin@conocophillips.com, ahmedjpr@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, as_fitri04@yahoo.com, Muhammad al qubra acheh_karbala@yahoo.no

 

MUBA DIJON TIDAK MAMPU PERTAHANKAN SEJARAH MODEL SOEKARNO-JAWA, AKHIRNYA MERABA DARI TONG SAMPAH

 

Kebalikan bung Ahmad, yang selalu bongkar-bongkar tong sampahnya kolonial Belanda itukan anda sendiri. Lihat tuh apapun argumen yang tidak sejalan dengan anda, anda selalu mengkanternya dengan cuplikan sejarah yang anda korek-korek dari tong sampah. argumen anda selalu basi..hanya ilmu ngeyel dan tebal muka yang bisa membuat anda bertahan di mimbar ini.

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara, Indonesia

----------

 

Date: Thu, 16 Jun 2005 21:17:44 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: ENAM ANGGOTA GAM MENYERAH

To: muba zir <mbzr00@yahoo.com>, Ahmad Sudirman <ahmad_sudirman@hotmail.com>

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang bambang_hw@rekayasa.co.id

 

Enam Anggota GAM Menyerah di Manggeng

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara, Indonesia

 

Aceh - Setelah delapan orang anggota Anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyerahkan diri ke Pos TNI pekan lalu, kini enam  anggota GAM lainnya menyusul menyerahkan diri.

 

Dua di antara anggota GAM itu membawa serta senjata milik mereka, yaitu Bakri Adi (22) dan Permadi (25), keduanya anggota TNA Sagoe Manggeng. Seorang warga Desa Suka Damai, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan seluruh anggota GAM yang akan menyerah semula takut menyerahkan diri. Ketakutan itu kerena tidak ada jaminan keamanan terhadap anggota GAM, tuturnya.

 

Namun setelah mendapat jaminan dari Komandan Kompi TNI Yonif 143 Sriwijaya, Kapten Ferry Firmansyah, para Anggota GAM baru mau menyerahkan diri.

 

Menurut Ferry, empat anggota GAM lain adalah Andi Saputra, warga Desa Pusu Ingin Jaya, Saiful (20), dan Sahidin (40) bersama istrinya Winda (30), kata Ferry.

 

Menurut Ferry,  saat menyerah Bakri Adi dan Permadi tidak membawa senjata. Setelah dibujuk keduanya menunjukkan senjata mereka yang disimpan di semak-semak di daerah perbukitan Kecamatan Manggeng.

 

Dua pucuk senjata itu jenis AK standar buatan Amerika merek U.S. Carbone Caliber 30 MA dan satu Jungle Rakitan berikut 130 amunisi.

 

Saat  wartawan mengunjungi Pos TNI tersebut, terdapat 22 anggota GAM yang menyerah sejak 27 Mei 2005 lalu. Para anggota GAM yang menyerah mengaku khilaf. Kebanyakan anggota GAM yang menyerah itu, umumnya mengeluhkan kondisi kesehatan mereka yang memburuk selama berada di gunung. Sebab itu, mereka memilih menyerahkan diri kepada aparat keamanan. “Di hutan kami jarang makan,” ujar Bakri Adi yang dijuluki Young Panjawi (*).

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 14:04:43 +0700

From: "Bambang HW" bambang_hw@rekayasa.co.id

To: "matius dharminta" <mr_dharminta@yahoo.com>, "muba zir" <mbzr00@yahoo.com>, "Ahmad Sudirman" ahmad_sudirman@hotmail.com

Cc: "AcehA_yoosran" <a_yoosran@yahoo.com>, "Acehabu_dipeureulak" <abu_dipeureulak@yahoo.com>, "AcehAhmad_mattulesy" <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, "AcehAhmadGPK" <ahmad@dataphone.se>, "Acehalasytar_acheh" <alasytar_acheh@yahoo.com>, "acehalchaidar" <alchaidar@yahoo.com>, "Acehapalambak2000" <apalambak2000@yahoo.ca>, "Acehburamu" buramu@plasa.com

Subject: Re: ENAM ANGGOTA GAM MENYERAH

 

Selamat dan salut utk TNI, damai --bagus ; 'menyerah' dan kembali ke masyarakat dan hidup normal sangat bagus; melawan dan menyengsarakan masyarakat--> harus kita sikat..

 

Tks.

 

Bambang HW & Rahmat Santoso

 

bambang_hw@rekayasa.co.id

Jakarta, Indonesia

----------