Stockholm, 17 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON IKUTAN EKOR SUPIADIN MELAKUKAN PEMBANGKANGAN PADA TERTIB SIPIL

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON HANYA IKUTAN MENGHEMBUSKAN PEMBANGKANGAN PIHAK DANDIM & KAPOLRES PIDIE UNTUK MENGHANCURKAN PERDAMAIAN DI ACHEH MELALUI PEMBANGKANGAN TERHADAP PERATURAN YANG DIBUAT SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

 

"Apa yang terjadi di Pidie, itulah bukti bahwa fungsi sosial kemasyarakatan telah dijalankan dengan baik oleh TNI/Polri: memberikan penerangan kepada warga NAD tentang "dialog" GSA-RI, terutama pemuka-pemuka masyarakatnya, dan memfasilitasi mereka jika mereka hendak menunjukkan sikapnya. Manis sekali, kan? Jadi, apa yang salah dari TNI/Polri? Apa yang salah dari para tokoh masyarakat itu? Mereka bergaul dengan begitu baik, begitu manis. Tidak ada culik menculik di antara mereka seperti dilakukan celeng-celeng tna terhadap sejumlah tokoh masyarakat NAD.” (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Fri, 17 Jun 2005 12:32:27 -0700 (PDT))

 

"Aku suka kepada orang yang ngotot. Tetapi sangat menjijikan jika ada orang bego ngotot, seperti si Mad ini !! I'll be back soon. Mungkin besok. Ngasih kesempetan kamu dulu buat ngelap keringet dingin karena malu tidak juga mengerti apa itu "empathy" dan malahan mengarang cerita baru "Jenderal Soedirmam menuntut Bung Karno mundur". Oh ya, Sawitri sekarang adalah profesor psikologi Unpad. Mungkin sudah emiritus sekarang. Sangat mungkin beliau pernah ngajar kamu di Unisba. Leyla Ch Budiman adalah mantan pengasuh rubrik psikologi Kompas. Tak perlu lah aku banyak omong tentang Leyla, orang-orang pada kenal dia.” (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Fri, 17 Jun 2005 12:56:32 -0700 (PDT))

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Inilah kerja Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang didukung oleh anak buahnya Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra yang secara terang-terangan telah melakukan pembangkangan kepada apa yang telah diputuskan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dalam Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2005 Tentang Penghapusan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Sipil di Acheh.

 

Muba Dijon budek, kalau Dandim Pidie dan Kapolres Pidie dengan seenak udel sendiri menyuruh masyarakat disetiap Kecamatan yang ada di Pidie untuk melakukan demonstrasi anti Perundingan ASNLF-RI di Helsinki, Finlandia, maka itu namanya pihak TNI/POLRI telah melakukan pelanggaran hukum yang telah ditetapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, dan sekaligus telah melakukan pembangkangan atas apa yang telah dilakukan oleh pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam rangka penyelesaian damai di Acheh dengan melalui jalur politik yaitu jalur Perundingan ASNLF-RI di Helsinki, Finlandia.

 

Kalau kalian Muba Dijon, bersama para keroco TNI/POLRI di Pidie melakukan tindakan sepihak yang melanggar Tertib Sipil, maka itu sama dengan melakukan pembangkangan dari pihak TNI/POLRI kepada Pihak Penguasa Sipil dan tindakan itu adalah tindakan yang bisa menghancurkan perdamaian di Acheh.

 

TNI/POLRI tidak bisa melakukan tindakan sepihak dalam masyarakat yang telah memberlakukan Tertib Sipil. TNI/POLRI tidak bisa dan tidak dibenarkan untuk melakukan propaganda untuk kepentingannya sendiri di Acheh. Dan TNI/POLRI hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan hanya mengikuti komando yang diperintahkan oleh Jenderal Endriartono Sutarto dan Jenderal Djoko Santoso serta Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra. Inilah justru yang menimbulkan bencana besar bagi perdamaian di Acheh. Inilah  TNI/POLRI yang sebenarnya sumber dari benca di Acheh.

 

Seluruh masyarakat di Acheh menghendaki perdamaian di Acheh, tetapi ternyata pihak TNI/POLRI yang berada dibawah Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra terus melakukan tindakan sepihak untuk menggagalkan perdamaian di Acheh dengan cara mempropagandakan kepada masyarakat di Acheh khususnya di Pidie untuk melakukan demonstrasi anti Perundingan ASNLF-RI di Hensinki. Inilah tindakan yang membahayakan perdamaian di Acheh.

 

Dan Muba Dijon, yang ikut petentengan dengan gigi ompongnya, dan hanya mengikuti dan mengembek kepada cuapan pihak TNI/POLRI di Acheh, maka kalian Muba Dijon termasuk salah seorang yang melakukan tindakan penghancuran jalur damai melalui jalan politis dengan cara Perundingan ASNLF-RI di Helsinki.

 

Dan Muba Dijon adalah salah seorang yang menjadi kacungnya TNI yang ada di Dijon, Prancis yang kerjanya hanya berkoar mengikut kemana suara Jenderal TNI Endriartono dan jenderal TNI Djoko Santoso bercuap.

 

Muba Dijon, kalian mati kutu.

 

Kemudian, Muba Dijon masih juga budek disuruh untuk memberikan arti istilah empati, bukan memberikan jawabannya dan referensinya, melainkan hanya menjawab: ”Oh ya, Sawitri sekarang adalah profesor psikologi Unpad. Mungkin sudah emiritus sekarang. Sangat mungkin beliau pernah ngajar kamu di Unisba. Leyla Ch Budiman adalah mantan pengasuh rubrik psikologi Kompas. Tak perlu lah aku banyak omong tentang Leyla, orang-orang pada kenal dia.”

 

Coba perhatikan apa yang disuruh, lain yang dijawab. Pertanyaan ke kanan, dijawab ke kiri, kan ngaco, Muba Dijon budek ini.

 

Itu menuliskan Sawitri dan Leyla Ch Budiman bukan jawaban yang benar. Muba Dijon, bagaimana kalian, apakah benar kalian itu lulusan ITB atau UI ? Buat malu seluruh ITB atau UI saja. Dasar Jawa budek, kemanapun pergi, tetap budek.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 12:32:27 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: RUENGKHOM: DANDIM & KAPOLRES PIDIE PAKSA MASYARAKAT UNTUK MELAKUKAN DEMO ANTI DIALOG PNA/GAM-RI

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan email_ichwan@yahoo.co.uk

 

Arus besar masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari segala lapisan masyarakat, memang menolak dialog RI dengan GSA-Swedia itu. Itu memang sesuatu yang salah alamat dan (dengan demikian) tidak ada gunanya. Dialog tentang salah satu propinsi RI kok dengan warga negara Swedia...

 

Apa yang terjadi di Pidie, itulah bukti bahwa fungsi sosial kemasyarakatan telah dijalankan dengan baik oleh TNI/Polri: memberikan penerangan kepada warga NAD tentang "dialog" GSA-RI, terutama pemuka-pemuka masyarakatnya, dan memfasilitasi mereka jika mereka

hendak menunjukkan sikapnya. Manis sekali, kan?

 

Jadi, apa yang salah dari TNI/Polri? Apa yang salah dari para tokoh masyarakat itu? Mereka bergaul dengan begitu baik, begitu manis. Tidak ada culik menculik di antara mereka seperti dilakukan celeng-celeng tna terhadap sejumlah tokoh masyarakat NAD.

 

Oh ya, akibat perlindungan oleh TNI/Polri, para tokoh masyarakat itu sekarang aman dari  penculikan celeng-celeng tna. Dengan demikian celeng-celeng tna itu gagal mendapat uang tebusan, terus nggak bisa makan, terus kelaparan, dan akhirnya menyerahkan diri. Tentu saja, dengan tangan terbuka TNI/Polri dan masyarakat NAD menerima mereka yang telah kembali

sadar dan bergabung dalam kibar merah putih itu. Pilihannya memang begitu: menyerah diterima baik, ngeyel dicoba jalan persuasif, masih ngeyel juga...DOR!!

 

Kelaparannya celeng-celeng tna itu tentu saja tidak pernah menjadi bahan pemikiran GSA-Swedia, karena celeng-celeng tna itu memang difungsikan oleh GSA-Swedia sekedar untuk diumpankan kepada TNI agar bangkainya dapat dipamerkan ke masyarakat internasional sebagai "masyarakat sipil korban kegansan TNI". Sangat menjijikan memang kelakuan orang-orang yang tidak mempunyai empathy itu. Ah, jangankan mempunyai empathy, tahu saja apa itu empathy tidak...

 

Jadi, faktanya jangan diputer-puter. Itu hanya akan menunjukkan (lagi-lagi) perasaan inferior dan inadequate kamu.

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 12:56:32 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA DIJON COBA TERUS PERTAHANKAN TIPU TELAN JAHAT SOEKARNO DENGAN JURUS ”ORATOR”, AKHIRNYA HANYUT DI CILIWUNG

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 dityaaceh_2003@yahoo.com

 

Aku suka kepada orang yang ngotot... Tetapi sangat menjijikan jika ada orang bego ngotot, seperti si Mad ini...!! I'll be back soon... Mungkin besok... Ngasih kesempetan kamu dulu buat ngelap keringet dingin karena malu tidak juga mengerti apa itu "empathy" dan malahan mengarang cerita baru "Jenderal Soedirmam menuntut Bung Karno mundur".

 

Oh ya, Sawitri sekarang adalah profesor psikologi Unpad. Mungkin sudah emiritus sekarang. Sangat mungkin beliau pernah ngajar kamu di Unisba. Leyla Ch Budiman adalah mantan pengasuh rubrik psikologi Kompas. Tak perlu lah aku banyak omong tentang Leyla, orang-orang pada kenal dia.

 

Oh ya, kalau ada temen kamu yang sarjana psikologi tapi bukan karbitan seperti kamu, suruh dia ngomong tentang apa itu empathy...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

www.ahmad-sudirman.com


Banda Acheh, 17 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


TNI/POLRI INGIN GAGALKAN DIALOG RI DENGAN GAM DI HELSINKI, FINLANDIA

Nasruddin Abubakar

Banda Acheh - SUMATRA.

 

 

MILITER INDONESIA INGIN GAGALKAN DIALOG RI DENGAN GAM DI HELSINKI, FINLANDIA

 

Dear All,

SIRA sangat menyesali sikap pembangkangan militer Indonesia (TNI/Polri) khususnya Kodim dan Polres Acheh Pidie yang telah mengorganisir pasukannya untuk mengintimidasi dan memaksa masyarakat sipil melakukan demontrasi Anti Dialog RI dengan GAM pada hari Sabtu 18 Juni 2005, pukul 10: 00 pagi di Alun-alun kota Sigli kabupaten Pidie- Acheh.

 

TNI/ Polri juga mengancam masyarakat sipil dengan mengatakan bahwa aksi- aksi penentangan ini mesti terus dilanjutkan sampai pemerintah Indonesia  benar- benar menghentikan dialog dengan GAM. Aksi ini juga akan terus dilanjutkan di setiap Kecamatan yang ada di Kabubapaten Pidie. TNI/Polri sudah mencatat nama- nama di setiap  Kampung itu sebanyak 12 (dua belas orang), mareka ini mesti hadir setiap aksi diadakan di Kecamatan mareka masing- masing. Ini belum ditambah lagi dengan miilsi (para militer) yang sudah dilatih.

 

Dari tindakan militer Indonesia di atas menunjukan bahwa yang tidak menginginkan perdamain dan keamanan di Acheh adalah militer Indonesia bukan rakyat Acheh, karena apabila kondisi Acheh aman maka militer Indonesia tidak bisa lagi melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM serta berbagai bisnis militer di Acheh.

 

Oleh karena itu SIRA menyerukan kepada seluruh rakyat Acheh dimana pun berada untuk bersatu dan menyatukan langkah menentang setiap upaya yang dilakukan militer indonesia untuk menggagalkan proses dialog dan perdamaian yang sedang digagas oleh pemerintah Indonesia (RI) dan Gerakan Acheh Merdeka (GAM) di Helsinki Finlandia.

 

Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA)

 

Nasruddin Abubakar

Dewan Presidium

 

The Acheh Referendum Information Centre (SIRA)

Address: Jln. T. Panglima Polem No. 13 A Kp. Laksana, Banda Acheh - Sumatra

Phone/Fax: +62-651-24043, eMail: sirareferendum@hotmail.com

----------