Stockholm, 18 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON COBA TERUS HANTAM WALI NEGARA ACHEH PAKAI PENTUNGAN GAMMA-KEROPOS

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON MENCOBA TERUS HANTAM WALI NEGARA ACHEH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO PAKAI PENTUNGAN GAMMA-KEROPOS YANG DISEBARLUASKAN JOHN MACDOUGALL PENGASUH APAKABAR INDONESIA-L DARI USA YANG TELAH BANGKRUT

 

Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Pagi ini Muba Dijon melambungkan cerita karangan Nurlis Effendi, dan Muhammad Shaleh dari Majalah GAMMA yang berjudul ”ACEH, Hasan Tiro Pembual Besar” dan ”ACEH, Igauan Merdeka yang Terengah-engah” di forward-kan ke John MacDougall, dan disebarkan melalui milis INDONESIA-L di Amerika oleh John MacDougall Rabu 18 Agustus 1999.

 

Tulisan tersebut pernah dilambungkan oleh Teungku Lamkaruna Putra dan disambut oleh Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono pada Sabtu, 8 Mei 2004.

 

Jadi Muba Dijon, apa yang kalian lambungkan pagi ini adalah merupakan cerita sampah yang sudah diremas habis oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini setahun yang lalu, yang membuat Teungku Lamkaruna Putra dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono terjungkir di Acheh.

 

Nah disini Ahmad Sudirman akan lambungkan lagi jurus yang pernah disodokkan ke muka dan kepala Kolonel Laut Ditya Soedarsono setahun yang lalu.

 

Rupanya Kolonel Laut Ditya Soedarsono dapat kiriman dari Teungku Lamkaruna Putra berupa tulisan saudara Nurlis Effendi, dan Muhammad Shaleh dari Majalah GAMMA tahun 1999 yang berjudul "ACEH, Hasan Tiro Pembual Besar", dan juga pernah dipublikasikan oleh Milis Apakabar berbasis di Amerika, yang diasuh oleh John MacDougall, warga Amerika yang pandai berbahasa Indonesia, 18 Agustus 1999.

 

Tulisan tersebut, sebelum dikirimkan kepada Kolonel Laut Ditya, oleh Teungku Lamkaruna Putra pernah juga dikirimkan kepada Ahmad Sudirman pada tanggal 9 April 2004. Dimana tulisan "ACEH, Hasan Tiro Pembual Besar" yang ditulis oleh saudara Nurlis Effendi, dan Muhammad Shaleh dari Majalah GAMMA tahun 1999 itu banyak sekali isinya penuh kebohongan. Mengapa ?

 

Karena, Teungku Hasan Muhammad di Tiro bukan Sultan, melainkan Wali Negara. Kemudian, anak Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Karim, bukan sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisinya sebagai "raja" Acheh. Karena Acheh dibawah pimpinan Wali Negara bukan bentuk kerajaan.

 

Hasil riset perpustakaan menunjukkan bahwa pada awal tahun 1800 pulanglah seorang haji bernama Haji Abdussalam asal Jawa dari Mekkah dan singgah di Pidie.Lalu menetap di Pidie mengajarkan ilmu agama. Kemudian Raja setempat mengangkat Haji Abdussalam menjadi fakih (wali hakim) di sekitar Masjid Raya Pidie yang dipanggil Teungku Fakih Abdussalam.

 

Lalu Teungku Fakih Abdussalam menikah dan mendapat beberapa putra dan putri. Dua orang diantara anaknya, sorang putri bernama Aisyah, dan seorang putra bernama Ubaidillah. Keduanya punya keterkaitan dengan kehidupan Tgk Tjhik di Tiro Muhammad Saman. Masih pada awal 1800 datang pula ke Pidie seorang haji Bugis asal Sidenreng yang baru pulang dari Mekkah yang dikenal sebagai Teungku Sindri. Teungku Sindri ini juga mengajar agama di Pidie.

 

Pada tahun 1835 M (1250 H) Teungku Sindri menikah dengan Aisyah, putri Teungku Fakih Abdussalam. Pada tahun 1836 M (1251 H), dari perkawinan ini lahirlah Muhammad Saman. Kemudian dia menyandang gelar Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman.

 

Dalam tubuh Muhammad Saman mengalir darah Jawa (bisa jadi dari pesisir utara Jawa, sebab keturunan raja Mataram tidak pernah naik haji) dan darah Bugis. Lalu dia menikah dengan putri pamannya Ubaidillah. Dari perkawinan ini lahirlah Tgk Mat Amin, Tgk Ubaidillah (Tgk Bed), Tgk Lambada, Tgk Mahjeddin. Syeh Muhammad Saman masih memiliki seorang putra yakni Tgk M.Ali Zainal Abidin dan seorang putri, Nyak Fatimah (Mansur Amin, mansur_amin@mail.com , Fri, 01 Aug 2003 09:34:11 -0500)

 

Seterusnya menurut lampiran hasil karya H.J. Schmidt, Marechaussee in Atjeh, p.128. Tgk Tjheh Saman alias Teungkoe di Tiro meninggal 1891. Mempunyai 5 putra, yaitu Tgk Mat Amin meninggal 1896, Tgk Mahidin alias Tgk Tjheh Majet meninggal 5 September 1910, Tgk di Toengkob alias Tgk Beb meninggal 1899, Tgk Lambada meninggal 1904, Tgk di Boeket alias Tgk Moehamad Ali Zainoelabidin meningal 21 Mei 1910.

 

Teungku Hasan Muhammad di Tiro datang dari keturunan Tgk Mahidin yang memiliki putra Tgk Oemar meninggal 21 Mei 1910, Tgk Abdullah, Pocut Fatimah dan Pocut Amut. Pocut Fatimah menikah dengan Leube Muhammad. Dari perkawinan ini lahir Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 September 1930 di Kampung Tiro, sekitar 20 km dari Sigli.

 

Nah dari silsilah diatas tergambar bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah cicit dari Tgk Tjhik di Tiro Muhammad Saman dari pihak Ibu, yaitu dari Pocut Fatimah. Karena Teungku Hasan lahir di kampung Tiro, maka namanya menjadi Teungku Hasan di Tiro, atau kalau ditambahkan nama ayahnya menjadi Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dimana nama Tiro diambil dari tempat kampung kelahirannya di kampung Tiro. Dan hal ini pernah dinyatakan Teungku Hasan Muhammad di Tiro: ”Today is a national holiday, the Tengku Tjhik di Tiro day, commemorating the death of Tengku Tjhik di Tiro the Great, Muhammad Samman, who died on January 25, 1891, amidst the long war with the Dutch, at the Fortreess of Aneuk Galong, in Great Acheh province...It is difficult for me to assess his place in Achehnese history because he was my great grandfather."

 

Seterusnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro belum pernah pulang ke Acheh sejak meninggalkan RI tahun 1951, sebagaimana yang pernah dinyatakannya: "October 30, 1976, my first night in my homeland after being in exile for 25 years in the United Stateds"

 

Memang Teungku Hasan Muhammad di Tiro mempunyai bisnis perusahaan sendiri sebagaimana dinyatakan: "My own company had join-venture agreements with many of them which I affected, and myself retain a status of consultant to some of them....But I never mixed my business with my politics. So very few of them knew what I had in mind to do in Acheh Sumatra"

 

Tentang "duit mengucur dengan derasnya dari 1959 sampai 1961. Termasuk, duit dari Kaso Abdul Gani, Darul Islam Sulawesi di Kuala Lumpur", jelas itu saudara Nurlis Effendi, dan Muhammad Shaleh tidak menyertakan fakta dan buktinya. Sehingga tulisan tersebut adalah hanya tuduhan semata.

 

Selanjutnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak memimpin aksi Republik Islam Acheh yang dirubah menjadi Acheh Merdeka. Mengapa ?

 

Karena Teungku Muhammad Daud Beureueh pada bulan Desember tahun 1962 terkena tipu Soekarno dengan umpan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh" yang dijalankan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

 

Kemudian Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 dan diikuti oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh yang diselenggrakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin. Dimana prosesnya adalah ketika Soekarno memberikan amnesti dan abolisi kepada mereka yang dianggap memberontak kepada NKRI dengan batas akhir 5 Oktober 1961.

 

Dimana rincian kejadiannya adalah pada tanggal 4 Oktober 1961 datang 28 orang delegasi dari wakil-wakil semua lapisan masyarakat, para ulama, pemuda, pedagang, tokoh-tokoh adat, termasuk wakil pemerintah resmi sipil dan militer menjumpai Teungku Muhammad Daud Beureueh di Markasnya dengan misi meminta kepada Teungku Muhamad Daud Beureueh demi untuk kepentingan masyarakat Acheh seluruhnya agar sudi kembali ketengah-tengah masyarakat untuk memimpin mereka. Batas waktu tanggal 5 Oktober berakhir, dengan mempertimbangkan harapan rakyat Acheh yang tulus dan jaminan-jaminan kebebasan beliau untuk melanjutkan perjuangan telah membuka pintu untuk perundingan. Dimana perundingan-perundingan ini berlangsung sampai sepuluh bulan.

 

Dan pada tanggal 9 Mei 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama stafnya kembali ketengah-tengah masyarakat.

 

Dengan kembalinya Teungku Muhammad Daud Beureueh ke Masyarakat dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diselenggarakan pada bulan Desember tahun 1962 oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, berarti secara de-facto dan de-jure RIA yang diperjuangkannya telah hilang, karena telah dianggap kembali kepada NKRI yang berdasar pancasila.

 

Dari sejak Desember 1962 sampai tahun 1978 walaupun Teungku Muhammad Daud Beureueh masih bebas, tetapi kekuasaannya baik secara de-facto maupun de-jure atas RIA sudah lenyap. Pada tahun 1978 Soeharto menangkap dan mengamankan Teungku Muhammad Daud Beureueh ke Jakarta.

 

Sekarang dihubungkan dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dimana pada tanggal 4 September 1976 Teungku Hasan Muhammad di Tiro meninggalkan New York. Tiba di Acheh Utara pada tanggal 30 Oktober 1976. Dari 1 November sampai 29 November 1976 menetap di satu kamp kurang lebih 4 kilometer dari pos penjagaan tentara Jawa. Bertemu dengan Dr. Muchtar Hasbi yang datang ke kamp tersebut. Pada tanggal 4 Desember 1976 dideklarasikan ulang Acheh Sumatra merdeka. Tanggal 4 Desember adalah merupakan simbol dan sejarah satu hari setelah tentara Belanda menembak mati Teungku Thjik Maat di Tiro dalam perang Alue Bhot, Tangse, pada tanggal 3 Desember 1911. Kemudian Belanda menetapkan tanggal 4 Desember 1911 sebagai hari akhir kedaulatan Negara Aceh.

 

Nah, dari sedikit uraian diatas menunjukkan bahwa Negara Acheh yang dideklarasikan ulang 4 Desember 1976 itu bukan mereferensikan kepada Republik Islam Acheh yang telah punah, akibat Teungku Muhammad Daud Beureueh menyerah kepada Soekarno melalui menerima amnesti 1962, melainkan sebagai pelanjut dari Negara Acheh yang dari sejak tertembak mati Teungku Thjik Maat di Tiro dalam perang Alue Bhot, Tangse, pada tanggal 3 Desember 1911, Negara Acheh berada dibawah pendudukan dan penjajah Belanda.

 

Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) adalah merupakan wadah perjuangan untuk pembebasan Negara Acheh yang telah dijajah oleh RIS dan RI-Jawa.-Yogya. Kemudian Acheh Sumatra National Liberation Front adalah merupakan gerakan Islam, sebagaimana yang dinyatakan Teungku Hasan Muhammad di Tiro:”Even our National Liberation Front must be an Islamic Movement in the first place. Otherwise no Achehnese would want to risk his life for it"

 

Seterusnya, memang Teungku Hasan Muhammad di Tiro ketika masih belajar teori politik dan filsafat politik menyinggung juga Nietzsche. Tetapi bukan berarti Teungku Hasan Muhammad di Tiro menjadi penganut ajaran Nietzsche.

 

Selanjutnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, pertama membina kesadaran bangsa Acheh atas sejarahnya, kekuatan politik, dan bagaimana memperjuangkan melalui jalur politik, bukan dengan jalur senjata pada awalnya, sebagaimana pernah dinyatakan Teungku Hasan Muhammad di Tiro:”We never talk about the guns first, but the political ideas first...Only people with strong political consciousness, who have grasped the political theory of their independence movement can wage a protracted guerilla war to achieve that independence"

 

Dan menyinggung seorang pemimpin pernah Teungku Hasan Muhammad di Tiro menyatakan: "The leader is always the one who should lead the prayer...If a man is not fit to lead in prayer, he is not fit to lead the country and the state...In the present case I am the one who stand as the Imam, the leader, by appointment of the people".

 

Kemudian tentang keputusan untuk menyelamatkan sumber gas alam yang telah dirampok oleh kolonialis RI-Jawa-Yogya melalui Mobil dan Bechtel. Dimana pertama kali pada tanggal 16 Oktober 1977 telah diputuskan dalam rapat Kabinet Pemerintah Negara Acheh yang berdaulat, bahwa sumber gas alam Acheh harus diselamatkan.

 

Dimana alasan dari penyelamatan sumber gas alam ini adalah Acheh Sumatra National Liberation Front sebagai pelindung dan yang mempertahankan hak rakyat Acheh berkewajiban untuk menyetop perampokan sumber gas alam oleh kolonialis RI-Jawa-Yogya melalui Mobil dan Bechtel. Pihak Mobil dan Bechtel boleh tinggal di Negeri Acheh apabila tidak lagi melayani pihak kolonialis RI-Jawa-Yogya perampok negeri Acheh, tetapi melayani kepada pihak Acheh Sumatra National Liberation Front dan Pemerintah Negara Acheh yang berdaulat.

 

Pada tanggal 15 Maret 1979 Wali Negara Acheh membuat dekret, bawa selama Teungku Hasan Muhammad di Tiro di luar negeri, Pemerintah Negara Aceh dipimpin oleh Dewan Menteri. Perdana Menteri Dr Muchtar Hasbi, Wakil Perdana Menteri I Teungku Ilyas Laube, Wakil Perdana Menteri II Dr. Husaini Hasan, Wakil Perdana Menteri III Dr. Zaini Abdullah, Wakil Perdana Menteri IV Dr. Zubir Mahmud. Central Comitte National Liberation Front dalam keadaan darurat bertindak sebagai lembaga Legislatif untuk mengesahkan kerja Kabinet.

 

Pada tanggal 29 Maret 1979 Teungku Hasan Muhammad di Tiro meninggalkan Batee Iliek untuk pergi keluar negeri dalam rangka misi untuk meneruskan perjuangan menghadapi penjajah RI-Jawa-Yogya yang lebih luas dan menyeluruh, baik secara politis maupun secara militer.

 

Selanjutnya, Muba Dijon mengambil cerita yang juga masih dilambungkan oleh GAMMA bulan Agustus 1999. Yang sumber beritanya datang dari KBRI Stockholm, H.M. Noer Nekmat yang berkunjung ke Stockholm pada 24-25 Juli 1999, cerita dari Fauzi Hasbi Abdullah, cerita dari Arjuna, Dr.Zaini Abdullah, Dr. Husaini Hassan, dan Yusuf Daud.

 

Nah, dari cerita tahun 1999 itu yang dilambungkan GAMMA mengarah kepada usaha penentangan dan sikap permusuhan dari pihak-pihak yang pada awalnya berjuang bersama dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, seperti  Fauzi Hasbi Abdullah dan Arjuna. Ditambah dengan cerita model KBRI Stockholm.

 

Kalau kita pelajari apa yang dilambungkan GAMMA tahun 1999 dan melihat apa yang telah terjadi sampai detik sekarang ini, ternyata usaha untuk menjatuhkan dan merobohkan perjuangan bangsa Acheh untuk menentukan nasib sendiri dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak mencapai hasil. Teungku Hasan Muhammad di Tiro beserta Stafnya sampai detik ini masih tetap teguh dan tetap dalam garis perjuangan untuk menentukan nasib sendiri. Kekuatan TNA tetap kuat berada dibawah pimpinan Tengku Hasan Muhammad di Tiro dan Panglima TNA-nya Muzakkir Manaf.

 

Dan memang terbukti pertentangan yang dibesar-besarkan oleh pihak GAMMA dalam tulisannya 6 tahun yang lalu itu, ternyata tidak mempengaruhi sedikitpun kekuatan bangsa Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam menghadapi penjajah RI-Jawa-Yogya dengan TNI-nya.

 

Jadi, cerita yang dilambungkan Muba Dijon 6 tahun yang lalu ini, hanyalah merupakan sampah yang tidak memberikan pengaruh dan melemahnya kekuatan bangsa Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya.

 

Wali Negara Teungku Hasan Muhammad di Tiro masih tetap tegak dan mampu memimpin Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia. Dan pihak penjajah RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI-nya masih terus berusaha untuk mencoba menghancurkan kekuatan perjuangan bangsa Acheh yang dipimpin Teungku Hasan Muhammad di Tiro, tetapi sampai detik sekarang ini usaha pihak penjajah RI tidak berhasil.

 

Selanjutnya disini sedikit dikupas tentang perbedaan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi yang disebutkan oleh GAMMA sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Gerakan Aceh Merdeka yang keluar dari Gerakan Aceh Merdeka pada 1980. Dimana Teungku Fauzi Hasbi ini adalah ayahnya Teungku Lamkaruna Putra. Dan Teungku Lamkaruna Putra memanggil Teungku Fauzi Hasbi dengan sebutan Teungku Fauzi Hasbi Geudong.

 

Sebenarnya wajar adanya perbedaan pendapat, idea, taktik, strategi dalam perjuangan dimanapun juga. Hanya kelihatan disini beberapa perbedaan pendapat antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong telah diperluas dan diperuncing sehingga menimbulkan perbedaan langkah perjuangan, yang akhirnya Ahmad Sudirman melihat bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari sejak menginjakkan kakinya di bumi Acheh tanggal 30 Oktober 1976 sampai keluar dari Negeri Acheh pada tanggal 29 Maret 1979, sampai detik ini tetap berjuang mempertahankan kedaulatan negara Acheh yang telah dideklarasikan ulang pada tanggal 4 Desember 1976 di daerah Tiro, Acheh. Sebaliknya Teungku Fauzi Hasbi Geudong kembali masuk ke sangkar wilayah daerah kekuasaan penjajah RI dan TNI-nya.

 

Selanjutnya Ahmad Sudirman setelah pelajari beberapa perbedaan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong ini, ternyata ada beberapa perbedaan, yaitu yang menyangkut masalah bendera, isi deklarasi ASNLF, wilayah daerah kekuasaan, bahasa persatuan, dasar negara, penguasa Jawa, mempergunakan kata Insya Allah, menyerang perusahaan minyak Amerika, dasar perjuangan dan tanggal deklarasi.

 

Dan kelihatan Teungku Fauzi Hasbi Geudong melihat dari sudut Republik Islam Acheh (RIA) sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro melihat dari sudut penerusan kedaulatan Negara Acheh yang telah diduduki, dan telah dijajah oleh Belanda dan Jepang, dan sedang berlangsung oleh RI-Jawa-Yogya.

 

Masalah bendera, memang ada beberapa bendera hampir mirip bendera ASNLF, misalnya bendera Suriname, Korea Utara, Israel. Dimana kalau bendera Suriname, Korea utara dan Israel ditengahnya gambar bintang, sedangkan bendera ASNLF ditengahnya gambar bulan dan bintang.

 

Soal bait terakhir deklarasi ASNLF, ternyata tidak ditemukan dalam isi deklarasi 4 Desember 1976 bunyi bait "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid bak peutheun naggroe meutuah njoe" (Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini) model Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Atau bunyi bait "Meu ribe-ribe droe endatu bangsa Atjeh ka mugule mate syahid nibak peutheun nanggroe njang mulia njoe" (Beribu-ribu moyang bangsa Aceh telah mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini") model Teungku Fauzi Hasbi Geudong.

 

Tentang masalah wilayah daerah kekuasaan. Itu yang namanya wilayah daerah kekuasaan bisa saja mengklaim daerah mana-mana saja. Tetapi, itu pengklaiman hanyalah secara teoritis. Karena de-factonya harus melalui perjuangan, bukan hanya melalui penggambaran peta diatas kertas saja. Karena itu masalah wilayah daerah kekuasaan de-facto hanya bisa diraih melalui perjuangan dan perundingan, bukan melalui penulisan diatas kertas.

 

Mengenai bahasa persatuan, bisa saja, bahasa Acheh sebagai bahasa persatuan, kemudian bahasa Melayu Pase sebagai bahasa kedua yang wajib dipelajari disekolah-sekolah.

 

Menyinggung dasar negara memang karena seluruh rakat Acheh adalah muslim maka jelas dasar negara harus berdasarkan kepada Islam. Dan Negara Acheh yang dideklarasikan ulang pada 4 Desember 1976 bukan bentuk kerajaan melainkan bentuk kesatuan. Soal ASNLF (Acheh Sumatra National Liberation Front) itu hanya merupakan wadah pergerakan perjuangan rakyat Aceh yang berdasarkan Islam untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

 

Mengenai penjajahan terhadap Negeri Acheh, memang seperti yang dinyatakan dalam deklarasi ulangan 4 Desember 176 yaitu "penjajahan itu, baik dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit putih atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh, Sumatera."

 

Jadi disini, yang ditentang oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro sebagaimana yang tertuang dalam deklarasi ulangan Negara Aceh 4 Desember 1976 adalah penjajahan. Nah karena pihak RI yang pada awalnya dipegang dan dilakukan oleh Soekarno, diteruskan oleh Soeharto, kemudian dipegang oleh BJ Habibie, dan diteruskan oleh Abdurrahman Wahid, lalu  oleh Megawati, dan sekarang oleh Susilo Bambang Yudhoyono, yang kesemuanya adalah orang Jawa, kecuali BJ Habibie, maka mereka itu yang sebagian besar orang Jawa dianggap sebagai penjajah yang menjajah Negeri Acheh.

 

Mempersoalkan pengucapan kata Insya Allah atau jika Allah berkehendak, memang itu harus diucapkan oleh setiap muslim. Hanya ada sebagian muslim yang mengatakan Insya Allah akan melakukan hal tersebut, tetapi ternyata dalam prakteknya tidak dilakukan. Misalnya Insya Allah akan saya datang besok, tahu-tahu tidak muncul besoknya, tanpa ada pemberitahuan pembatalan tidak datang.

 

Menyinggung masalah penyelamatan sumber gas alam yang dikuasai oleh perusahaan minyak Amerika yang bekerja sama dengan pihak penjajah RI. Dimana Teungku Fauzi Hasbi Gedong menyatakan bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro memerintahkan kepada Teungku Fauzi Hasbi Geudong: "bunuh orang Amerika sebanyak-banyaknya di Lhokseumawe (bekerja di proyek vital). Kemudian Teungku Fauzi Hasbi Geudong bertanya: "Apa gunanya menembak orang Amerika?" Dijawab Teungku Hasan di Tiro : "Jika kita menembak orang Amerika, maka PBB akan segera turun dan kita segera akan merdeka".

 

Ternyata, setelah Ahmad Sudirman baca apa yang dikemukakan oleh Teungku Fauzi Hasbi Geudong tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwa menurut Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 16 Oktober 1977 telah diputuskan dalam rapat Kabinet Pemerintah Negara Aceh yang berdaulat, bahwa sumber gas alam Aceh harus diselamatkan. Alasan dari penyelamatan sumber gas alam ini adalah Acheh Sumatra National Liberation Front sebagai pelindung dan yang mempertahankan hak rakyat Acheh berkewajiban untuk menyetop perampokan sumber gas alam oleh kolonialis RI-Jawa-Yogya melalui Mobil dan Bechtel. Pihak Mobil dan Bechtel boleh tinggal di Negeri Acheh apabila tidak lagi melayani pihak kolonialis RI-Jawa-Yogya perampok negeri Acheh, tetapi melayani kepada pihak Acheh Sumatra National Liberation Front dan Pemerintah Negara Acheh yang berdaulat.

 

Begitu juga tentang tanggal deklarasi Negara Acheh 4 Desember, merupakan simbol jatuhnya Negara Aceh dibawah pimpinan pemimpin perang Teungku Tjhik Maat yang satu hari sebelumnya, 3 Desember 1911 ditembak oleh pasukan Belanda dalam perang di Alue Bhot, Tangse. Jadi pada tanggal 4 Desember 1911 merupakan hilangnya kemerdekaan Negara Acheh.

 

Berdasarkan tanggal inilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara simbolis menghidupan dan meneruskan kembali kedaulatan Negara Acheh yang telah lenyap karena diduduki dan dijajah Belanda. Dan setelah Negara Acheh dinyatakan merdeka dan berdaulat kembali, tidak menjadikan Negara Aceh sebagai bentuk kerajaan, melainkan sebagai negara kesatuan.

 

Sedangkan Teungku Fauzi Hasbi Geudong ingin meneruskan Proklamasi 15 Agustus 1961 Republik Islam Aceh, walaupun RIA telah hilang lenyap secara de-facto dan de-jure akibat bulan Desember 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh di Acheh kena jerat dan tipuan Soekarno yang menyodorkan umpan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh" yang dijalankan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

 

Disini Ahmad Sudirman melihat memang alasan Teungku Fauzi Hasbi Geudong yang tidak perlu lagi mengadakan proklamasi baru, tetapi meneruskan Proklamasi 15 Agustus 1961 Republik Islam Acheh, adalah tidak kuat secara de-jure dan de-facto, karena memang pihak pimpinan RIA telah menyerah kepada RI Soekarno melalui "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" yang dijalankan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin pada bulan Desember 1962.

 

Jadi Muba Dijon, cerita model GAMMA yang kalian kutip kembali dengan tujuan untuk menjatuhkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Staf-nya tidak akan berhasil. Ahmad Sudirman telah memporak-porandakan. Lain kali, kalau kalian mau mengutip cerita lama, harus diuji dulu dan perhatikan apakah Ahmad Sudirman telah membahasnya atau belum. Karena kalau tida, kalian Muba Dijon akan jatuh tersungkur.

 

Muba Dijon, kalian mati kutu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 16:13:11 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Hasan Tiro Pembual Besar

To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan <email_ichwan@yahoo.co.uk>, AcehFzn_1 <fzn_1@yahoo.com>, acehhabearifin <habearifin@yahoo.com>,AcehHasan hasan_saleh1945@yahoo.com

 

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/08/18/0042.html

 

GAMMA: ACEH, Hasan Tiro Pembual Besar

1999/12/23/

 

Tanjong Bungong Sok Feodal

 

BUALAN HASAN TIRO cukup dahsyat. Mengelabui rakyat lewat nama besar Teungku Chik Di Tiro. Aceh pun banjir darah.

 

SYAHDAN, adalah seorang "sultan" yang hendak memegang tampuk kepemimpinan di Aceh, dengan nama monarkis yang amat panjang: Al Mudzabbir Al Maulana Al Malik Al Mubin Profesor Doktor Sultan Di Tiro Muhammad Hasan Ibnal Sultan Maat di Tiro. Memang panjang ge larnya itu. Sepanjang riwayat bualannya dari Swedia dan untaian Aceh yang berdarah-darah akibat ulah Hasan Al Chazibul Akbar Di Tiro.

 

Nama berbaris-baris itu terdengar jumawa. Anehnya, Hasan mengangkat anak tunggalnya, Karim Hasan, sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisinya sebagai "raja" Aceh. Cara yang feodalistis dan dinastik ini sangat bertentangan dengan sikap masyarakat Aceh yang egaliter dan demokratis.

 

Hasan yang kini berusia 76 tahun juga sering mengaku sebagai keturunan ulama Di Tiro, bahkan berani mengklaim dirinya sebagai pewaris tunggal Teungku Chik Di Tiro. Padahal, menurut catatan sejarah, ahli waris Teungku Chik Di Tiro (dari garis keturunan lak i-laki) berakhir pada 5 September 1910. Yakni, setelah wafatnya Teungku Chik Mayet di Tiro yang gugur membela Indonesia melawan Belanda. Bukan seperti Hasan Muhammad Tanjong Bungong yang lari ke luar negeri diuber-uber tentara republik. Lelaki bertubuh kurus pendek ini lahir di Tanjong Bungong, Lamlo, Pidie, sebagai putra kedua Leubee Muhammad Tanjong Bungong, pada 1923. Tidak sebuah riwayat pun yang menukilkan ayahnya, Leubee Muhammad, sebagai seorang ulama maupun berdarah biru. Juga ti dak ada pertautan dengan Teungku Chik Di Tiro. Hasan lahir sebagai anak petani.

 

Jika merunut garis keturunan, maka Hasan mesti menyebut nama lengkapnya Hasan Leubee Muhammad Tanjong Bungong, bukan Hasan Tiro, konon pula sultan. Dia juga keturunan orang Jawa-Banten. Aneh bukan? Jika dia menyebut Aceh anti-Jawa --seperti komentarnya le wat saluran TV2 Swedia yang menyebut Jawa sebagai orang bodoh. Nah, Hasan sama saja dengan meludah ke atas.

 

Hasan memang bukan pula orang yang pintar-pintar amat. Dia memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat, lalu melanjutkannya pada Madrasah Blang Paseh yang didirikan Abu Daud Beureu-eh pada 1938. Alam pikirannya biasa-biasa saja dan cenderung sebagai anak pend iam

di sekolah. Dia sekelas dengan Hasan Saleh, tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

 

Untuk membina mentalnya, Abu Daud Beure-eh mengirimnya ke Normal School, Bireuen, Aceh Utara. Perguruan yang dipimpin Moehammad El-Ibrahimy. Hasan mulai nakal. Dia dikeluarkan dari sekolah lantaran berkelahi dengan Ismail Payabujuk. Hasan terdampar lagi di tempat Abu Daud Beureu-eh. Hasan kemudian muncul menjadi Ketua Barisan Pemuda Indonesia (BPI) Kecamatan Lamlo, Pidie. Di Lamlo pula, Hasan mengibarkan bendera Merah Putih, dan membuat pernyatan atas nama keluarga Tiro sebagai pendukung setia Republik Indonesia pada Agustus 1945.

 

Lalu, abang kandungnya, Zainal Abidin, memohon bantuan Abu Daud Bereu-eh agar dikirim ke Yogyakarta. Hasan masuk ke Universitas Islam Indonesia. Dan, atas rekomendasi Abu Daud Bereu-eh, Hasan bisa berkenalan dengan Syafruddin Prawiranegara, dan bekerja di pemerintahan Republik Indonesia sambil kuliah, pada 1949 hingga 1951. Syafruddin merekomendasikan Hasan untuk berangkat ke Amerika dan bekerja di kantor Perwakilan Indonesia di PBB, dari 1951 hingga 1954.

 

Di Amerika, Hasan mendengar Abu Daud Beureu-eh bergabung dengan DI/TII, maka dia pun ikut, pada 1954. Nama Hasan mulai dikenal sejak dia membuat surat yang ditujukan kepada Ali Sostroamidjojo. Isinya, hentikan agresi TNI dan kekejaman terhadap rakyat Aceh , Jawa Barat, dan Sulawesi. Jika tidak, Hasan mengancam akan membawa persoalan tersebut ke forum PBB. Jawaban pemerintah, paspor Hasan Tiro ditarik. Namun, dia masih punya tabungan dan bisa membayar denda US$ 500. Dengan duit sebesar itu, dia bisa menetap di Amerika. Hasan kemudian diangkat S.M. Sukarmaji Mariam Kartosuwiryo sebagai wakil DI di luar negeri, tahun 1956.

 

Di Amerika, Hasan sempat berpacaran dengan seroang wartawati majalah Time, dan berencana mengawininya. Namun, dia mesti pulang ke Aceh untuk memutuskan tunangan dengan pilihan orangtuanya pada 1958. Inilah pertama kalinya dia menginjak Aceh sejak ditingga linya delapan tahun lalu. Ketika pulang itulah Hasan menerima duit jutaan dolar dari Darul Islam. Tujuannya untuk membeli senjata. Isu bakal dapat senjata besar-besar main santer pada 1959, sebab barter Aceh-Malaysia sudah buka. Hasan pun berangkat lagi k e luar negeri.

 

Sejak berada di luar negeri, Hasan SELALU MEMBERI ANGIN pada pimpinan Darul Islam, terutama melalui Abu Daud Bereu-eh, bahwa dirinya SUDAH MEMILIKI KONTAK INTERNASIONAL. Dan, ujung-ujungnya, perlu duit untuk beli senjata. Duit pun mengucur dengan derasnya dari 1959 sampai 1961. Termasuk, duit dari dari Kaso Abdul Gani, Darul Islam Sulawesi di Kuala Lumpur. Diketahui kemudian, Hasan TELAH MENGAWINI seorang WANITA KETURUNAN YAHUDI - Swedia yang telah memberikannya seorang putra bernama Karim Hasan.

 

Ada yang bilang dia berprofesi sebagai makelar. Tetapi, ada juga yang bilang dia punya perusahaan yang bergerak dalam bidang perminyakan, yaitu Dural Internasional Limited 1001 New York. Sayangnya, nama perusahaan ini belakangan diketahui HANYA FIKTIF semata. Tokoh-tokoh DI/TII tentu terus menanyakan perihal senjata api itu. Namun, selalu saja dijawab tunggu dulu.

 

Di Aceh, Abu Daud Beureu-eh sudah membentuk gerakan sendiri bernama Republik Islam Aceh (RIA), yang diproklamasikan 15 Agustus 1961. Lalu, Abu Daud Berueu-eh mengirim utusan ke Amerika, Teungku Zainal Abidin, abang kandung Hasan Tiro untuk menagih soal senjata itu. "Tidak usah khawatir, Abang pulang saja ke Aceh, barangkali duluan senjata tiba ke Aceh ketimbang Abang," kata Hasan pula, sambil menyebut senjata dibawa pakai helikopter. Zainal pula dan melapor lagi pada Abu Beureu-eh, pada 1974. Saat itu juga dipersiapkan tempat pendaratan helikopter. Hutan di Nisam, Aceh Utara, dibersihkan.

 

Namun, senjata tidak kunjung datang. Hasan beralasan tidak bisa mengirimn lewat udara, tetapi harus lewat laut dengan kapal selam. Nah, Abu Daud Beureu-eh kembali memerintahkan alur pantai untuk memudahkan kapal selam masuk. Lagi-lagi, ia terkecoh. Sementara, Hasan sudah berada di Bangkok.

 

Utusan kembali dikirim, kali ini Doktor Muchtar Hasbi Abdullah. Mereka berjumpa di Bangkok. Hasan membawa Doktor Muchtar pada salah satu pangkalan --diduga di teluk Subic Filipina--, dan Hasan lagi-lagi membual dengan me nyebutnya untuk dikirim ke Aceh.

 

Bertahun-tahun penipuan itu tersimpan. Akhirnya, Darul Islam berproses. Abu Daud Beureu-eh pun semakin tua. Dia memilih hidup dalam masjid, berkhotbah dan menjadi imam masjid Hingga akhirnya, Abu Daud Beureu-eh diculik dan matanya dibutakan hingga akhir hayatnya.

 

Sedangkan, gerakan Republik Islam Aceh terus melakukan aktivitas di pegunungan. Hingga suatu malam dalam 1977 datanglah berita bahwa Hasan Tiro pulang ke Aceh untuk memimpin pergerakan. Hasan hanya membawa pulang tiga pucuk pistol colt dan dua pucuk doublelub --penembak gajah. Lalu, Hasan memimpin aksi, nama Republik Islam Aceh diubah menjadi Aceh Merdeka. Penamaan Aceh Merdeka itu juga sebenarnya adalah topeng untuk menutup-nutupi wajah Hasan sesungguhnya. "Dia gampang bersumpah. Abu kan ulama, jadi cepat memaafkannya," kata Teungku Fauzi Hasbi Abdullah, salah seorang saksi sejarah Aceh. Sebab, jika memakai Aceh merdeka, maka label Islam yang menonjol. Dan, itu penting untuk pergerakan di Aceh.

 

Sedangkan, yang sesungguhnya Hasan lebih sering memakai Front Liberation Aceh Sumatera. Alasan penamaan asing tersebut guna mudah mendapat perhati an internasional. "Kalau Islam sulit berjuang," begitu alasan Hasan, sebagaimana diulangi Teungku Fauzi Hasbi Abdullah, bekas Kepala Staf Angkatan Perang Aceh Merdeka. Waktu terus berjalan hingga diproklamasikannya Aceh Merdeka. Sebenarnya, proklamasinya berlangsung pada 20 Mei 1977.

 

Jadi, bukan pada 4 Desember1976 sebagaimana diinginkan Hasan. Kabinet pun disusun. Hasan Tiro mengangkat dirinya menjadi Wali Nanggroe Aceh Merdeka. Lantas, Hasan mulai mendoktrin ajaran yang digemarinya bahwa berjuang untuk memerdekakan Aceh cukup dengan 15 orang buta huruf. Jadi, setiap sekolah mesti dibakar. Mirip dengan teori Mao Tze Tung dari Cina. Selain itu, pantang baginya mendengar ada anak b uahnya menjawab perintahnya dengan kalimat "insya Allah", sebab menurutnya itu jawaban orang malas. Itu menunjukkan, Hasan ternyata penganut ajaran Nietzsche dan Machiavelli. Hasan pernah menginstruksikan Fauzi untuk menembak dua pegawai asing di Mobil Oil dan pembajakan Kapal PT Sandiwijaya.

 

Alasannya, biar PBB cepat mengetahui pergolakan di Aceh. Setelah sempat perang mulut. Fauzi menggerakkan anak buahnya, akibatnya seorang pekerja asing itu tewas, dan satunya lagi luka tembak. Rupanya, penembakan dua karyawan asing Mobil Oil merupakan awal bencana bagi Aceh Merdeka. Sebab, setelah peristiwa itu yang datang bukannya utusan PBB, namun sepasukan RPKAD yang dipimpin Letnan Satu Sjafrie Sjamsoeddin --kini mayor jenderal dan staf ahl i Panglima TNI. Hasan dan pengikutnya akhirnya menyelamatkan diri ke hutan. Lalu, Hasan bersumpah akan selalu bersama-sama dengan seluruh anggota Aceh Merdeka. "Hanya ada satu perjuangan, merdeka atau syahid," kata Hasan, waktu itu.

 

Namun, setelah terdesak diuber-uber tentara terus, Hasan mulai mencari dalih menyelamatkan diri. Dia minta izin pada Doktor Muchtar, Wakil Wali Naggroe, untuk berkunjung ke luar negeri selama dua bulan. Alasannya untuk mengambil senjata, berurusan dengan PBB, serta menjalin hubungan diplomatik dengan luar negeri.

 

Sementara, gerakan Aceh Merdeka mulai mengendur. Satu per satu stafnya ditangkap, di antaranya ada yang tewas seperti Muchtar. Pergerakan Aceh Merdeka pun terhenti. Lalu, bergaung lagi tahun 1986-1989. Kembali Hasan MENABUR JANJI. Namun, hasilnya berbagai tindak kekerasan terjadi di Aceh. Operasi militer diberlakukan di Aceh hingga 1998

dengan korban tak kepalang.

 

Bila dikaji-kaji, sesungguhnya wajah Hasan yang sebenarnya tak banyak diketahui masyarakat ramai --termasuk juga di kalangan pengikutnya di lapis bawah. Mungkin, karena tampil dari kewibawaan Daud Beureu-eh yang dicintai rakyat, pengikutnya menganggap Has an adalah penerus perjuangan suci tokoh DI/TII yang telah tiada itu. Mitos pun berkembang semacam FANATISME BUTA.

 

Belakangan, terbukti banyak pengikut Hasan pada gelombang kedua ini keluar dari Aceh Merdeka, di antaranya memang tewas dan ditangkap. Kini, gelombang ketiga kembali berkobar di Aceh. Hasan kembali berjanji bahwa Aceh akan merdeka tahun depan. Konon, sebuah kapal selam lengkap pengangkut senjata akan merapat ke pantai Aceh. BUALAN APA LAGI INI?

 

Nurlis Effendi, dan Muhammad Shaleh

----- End of forwarded message from Majalah GAMMA -----

----- End of forwarded message from apakabar@Radix.Net -----

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 17:20:53 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: GAM memang sudah terpecah-pecah sejak lama..

To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan email_ichwan@yahoo.co.uk

 

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/08/18/0046.html

……….

Demonstrasi juga diisi dengan pidato politik dari Menteri Pendidikan dan Penerangan Gerakan Aceh Merdeka, Dr. Husaini Hassan, dan tokoh Gerakan Aceh Merdeka, Yusuf Daud. Uniknya, salah satu butir petisi mereka menyebut perlunya dialog antara pemerintah In donesia dan Gerakan Aceh Merdeka. "Kami mengharapkan adanya pihak ketiga atau badan internasional untuk penyelesaian secara damai," kata Husaini.

 

Padahal, selama ini Gerakan Aceh Merdeka tak kenal kompromi. Sumber di KBRI malah berbisik bahwa Gerakan Aceh Merdeka di sana telah terbelah dua. Yakni, kelompok Husaini yang bersikap kooperatif, dan kelompok Hasan Tiro bersama konconya, dr. Zaini Abdullah, yang bergaris keras.

 

Memang, sepintas komunitas Gerakan Aceh Merdeka di Swedia tampak rukun. Ada yang berprofesi sebagai guru, dokter, pegawai swasta, perawat rumah sakit, buruh pabrik, dan sebagainya. Anak-anak Aceh biasa memakai jeans, sweater berwarna-warni, dan bercakap d alam bahasa setempat. Kaum perempuannya tetap setia berjilbab.

 

Pemerintah Swedia memang mendidik para pencari suaka politik. "Kami diajari bahasa Swedia dan keterampilan agar bisa mandiri," kata Husaini. Ia dan Yusuf Daud masuk ke Swedia pada 1980 atas bantuan Palang Merah Internasional dan UNHCR (lembaga internasion al yang mengurus kaum pengungsi). Sebelumnya, Husaini sempat tiga tahun

bergerilya di hutan Aceh.

 

Keterbelahan itu makin terang, karena kantor Gerakan Aceh Merdeka di Swedia ternyata tidak satu, tapi dua. Satunya terletak di Fitja, 18 kilometer di Selatan Stockholm, yang merupakan kubu Husaini dan Yusuf Daud. Satunya lagi, di Nordsborg, dikomandoi Zaini, yang setia kepada Hasan Tiro.

 

Markas Gerakan Aceh Merdeka di Fitja satu blok dengan apartemen hunian  penduduk. Ada satu ruang rapat dengan 20 kursi, satu ruang pertemuan kecil, dilengkapi dapur dan ruang kerja lengkap dengan perpustakaan, komputer, telepon, dan faksimili. Di ruang bes ar hanya ada peta Sumatera dan sebuah bendera Gerakan Aceh Merdeka. "Anak-anak kami juga belajar di sini," kata Yusuf Daud, 40 tahun, ayah tiga anak. "Mereka sengaja kami besarkan dalam suasana revolusi," tambah Husaini, 60 tahun, juga punya tiga anak, ke pada Gamma, 6 Agustus lalu.

 

Pecahnya kubu Gerakan Aceh Merdeka ini makin transparan dari hasil wawancara Gamma dengan Hasan Tiro, Zaini, dan Husaini di tempat terpisah (lihat: Dari Swedia Impian Terbelah). Malah mengemuka pula dalam dua pertemuan berskala internasional, yaitu Intern ational Forum on Aceh (IFA) di Washington, D.C., yang dihadiri Husaini pada April lalu, dan di Bangkok, Thailand, yang diikuti Zaini pada Juli silam.

 

Pertemuan Washington lebih moderat. Dari tiga pilihan terhadap masa depan Aceh --otonomi, federasi, dan merdeka—mayoritas memilih referendum. Bedanya, Husaini membuka pintu dialog dengan pemerintah Indonesia, sedangkan Zaini, no way.

 

Zaini dalam pertemuan Bangkok yang hadir atas nama Hasan Tiro –yang dipanggilnya sebagai Paduka Yang Mulia—berbicara tentang suatu Negara Aceh yang tanpa hubungan dengan Indonesia. Zaini lalu mengutip The London Times dan The New York Times terbitan 18 73, yang menukilkan fakta bahwa saat itu tentara Belanda berperang melawan tentara

Negara Aceh.

 

Syahdan, ketika Belanda hengkang pada 1949, menurut Zaini, mestinya Belanda mengembalikan Aceh ke pangkuan Negara Aceh. "Belanda telah melanggar hukum internasional," kata Zaini. Ia lalu menuduh apa yang disebutnya sebagai pemerintahan Indonesia-Jawa tela h menjajah Aceh sejak 1949.

 

Zaini bahkan nekat menyebut bahwa Gerakan Aceh Merdeka lepas dari almarhum Teungku Muhammad Abu Daud Beureu-eh yang dulu berjuang menegakkan Darul Islam (DI). Yang diimpikan Hasan Tiro adalah Negara Aceh yang bermula dari kerajaan Aceh sejak masa Sultan A li Mughayat Shah (1500-1530) sampai ke era dirinya. Ia pun telah menyiapkan seorang putra mahkota, yakni Karim Di Tiro, yang kini berada di New York. Dora, istri Hasan Tiro, dan ibu Karim adalah seorang keturunan Yahudi Belgia, penganut nonmuslim.

 

Zaini yang menemui langsung wartawan Gamma di Hotel Prince Philip di Skaerholmen, di luar kota Stockholm, terkesan tak menyangkal kabar tentang perpecahan Gerakan Aceh Merdeka itu. "Kami telah memecat mereka dari Gerakan Aceh Merdeka," kata Zaini.

 

Beda dengan Husaini, "Kami mutlak tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah Indonesia," kata Zaini. Kubu Zaini yang mendukung Hasan Tiro bahkan hanya mau berhubungan dengan Kerajaan Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan PBB. Namun, bila dibandingkan dip lomasi Ramos Horta dalam menggaungkan kasus Timor Timur di dunia internasional, Gerakan Aceh Merdeka sangat ketinggalan. Timor Timur kini malah akan memasuki referendum, merdeka atau integrasi. Padahal, kasus Timor Timur hanya tua setahun dibanding kasus Aceh.

 

Semakin mencurigakan, Hasan Tiro pun seperti menjauhi publikasi. Gamma yang berupaya keras mewawancarai Hasan Tiro selalu dihadang dengan seribu kilah. Misalnya, "Bapak (Hasan Tiro, Red.) sedang di luar negeri," atau "Bapak sibuk sekali".

 

Untunglah, Gamma berhasil melihat kembali rekaman wawancara Hasan Tiro yang tampil di televisi Swedia TV2, akhir Juli lalu. Hasan Tiro tampak sangat emosional. Tak mencerminkan seorang tokoh yang karismatis. Suaranya sangat kecil, nyaring, dan napasnya te rengah-engah Tanpa argumen yang kuat --hingga mirip igauan-- Hasan Tiro merasa optimistis Aceh akan merdeka pada tahun 2000 (lihat: Dari Swedia Impian Terbelah).

 

Namun, jangankan dengan Gamma, bahkan delegasi "Aceh Sepakat" Medan, yang diketuai H.M. Noer Nekmat yang berkunjung ke Stockholm pada 24-25 Juli lalu, juga gagal menemui Hasan Tiro. Mereka cuma bisa bertemu Zaini yang lagi-lagi berbicara tentang biografi Hasan Tiro –yang sangat feodalistis (lihat: Tanjong Bungong Sok Feodal).

 

Aceh bagi Hasan Tiro merupakan tongkat estafet kerajaan sejak Teungku Panglima Polem, Teungku Chik Di Tiro, hingga ke Teungku Umar Johan Pahlawan. Disebutkan, salah seorang anak dari Teungku Umar yang masih hidup adalah Hasan Di Tiro. Sebab, ibu kandung Hasan Di Tiro adalah adik kandung dari Teungku Umar, meskipun validitasnya sangat diragukan (lihat: Silsilah Hasan Tiro).

 

Keterbelahan Gerakan Aceh Merdeka juga tercium Noer Nekmat dengan terbentuknya Gerakan Aceh Merdeka tandingan, yaitu Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM), yang bertujuan merdeka, tapi tetap bernaung di bawah Indonesia. Majelis ini beranggota kan 90 kepala keluarga, sedangkan kubu Zaini hanya tujuh kepala keluarga saja. "Mereka sangat ingin kembali ke Indonesia," kata Noer Nekmat kepada Bambang Sukmawijaya dari Gamma.

 

Arjuna, mantan Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Pidie yang turun gunung pada 1998 lalu, bahkan menyebut Gerakan Aceh Merdeka di Aceh sudah putus hubungan dengan Hasan Tiro. Arjuna yang dulu bergelar "Rambo" keluar dari Gerakan Aceh Merdeka, karena merasa Hasan Tiro seorang pembual belaka. "Seluruh janjinya cuma omong kosong," kata Arjuna kepada Gamma. "Bagaimana berjuang kalau perut lapar dan tanpa sebutir anak peluru pun," tambah Arjuna yang dikirim Gerakan Aceh Merdeka untuk pendidikan milit er ke Libya pada 1986. Senjata yang dimiliki Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pun ternyata diselundupkan pengikutnya yang berada di Malaysia.

 

Teungku Fauzi Hasbi Abdullah, mantan Kepala Staf Angkatan Perang Gerakan Aceh Merdeka yang keluar dari Gerakan Aceh Merdeka pada 1980, bercerita bagaimana Hasan Tiro tak patut dipercayai. Sebagai wakil DI/TII-Kartosuwiryo di Amerika Serikat, Hasan Tiro lagi-lagi membual akan mengirimkan senjata bila uang dikirimkan dari Indonesia. Saat itu, ia malah meminta agar orang DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) membersihkan sebuah kebun sebagai tempat pendaratan di suatu tempat di Aceh pada 1959.

 

Pengikut Daud Beureu-eh sampai menggelar 100 tikar besar agar mudah dilihat dari udara. Tak lama, pesawat pun muncul, tapi cuma berputar-putar. Mereka bersorak gembira sambil meloncat-loncat. Eh, tiba-tiba pesawat itu merendah dan memberondong orang-orang Darul Islam yang berlompatan ke sungai. "Ternyata, ABRI telah menyerang kami," kata Fauzi, terbahak-bahak.

 

"Tipulogi" ala Hasan Tiro juga terulang pada 1972. Padahal, tak kurang dari abangnya, Abu Teungku Zainal Abidin, yang datang ke Amerika menagih senjata yang dijanjikan. Ternyata, baru pada 1974 ia memberi kabar bahwa senjata tersebut akan dikirim dengan kapal selam. Daud Beureu-eh kemudian memerintahkan agar membersihkan pohon bakau dan alur sungai di kuala, namun lagi-lagi semua itu cuma dusta belaka.

 

Apa boleh buat, ketika Gerakan Aceh Merdeka memberontak pada 1976, mereka cuma punya sedikit senjata bekas Darul Islam. Tak mencengangkan bila pasukan RPKAD –kini Kopassus-- dengan mudah mengejar mereka. Sebetulnya, Hasan Tiro sudah bersumpah tidak akan lari dan siap mati syahid di bumi Aceh.

 

Ternyata, Hasan Tiro malah membuat paspor Aceh untuk Husaini, dengan tekenan sendiri. "Tunjukkan, di negara mana pun pasti diterima," kata Hasan Tiro, ditirukan Fauzi. Ternyata Husaini terganjal di Penang. Untunglah, pihak UNHCR di Malaysia menolong keber angkatan Husaini dan kawan-kawan ke Swedia. ` Hasan Tiro mulai pula berkilah akan ke Amerika Serikat untuk membeli senjata --sekaligus bernegosiasi dengan PBB pada 1980. Beberapa orang Gerakan Aceh Merdeka mengantarnya dari Pidie ke pantai Jeunib di Aceh Utara. "Sepanjang perjalanan, baunya sudah seperti mayat. Dia sudah lemas, malah dibikin tandu seperti Panglima Sudirman," kata Fauzi.

 

Fauzi dan kawan-kawan jugalah yang mengantarkan Hasan Tiro ke Singapura. Di sana, ada seorang Aceh yang mengurus Hasan Tiro menyusup ke Mozambik. Belakangan, Husaini memanggil Hasan Tiro agar datang ke Swedia. Sempat ditangkap di Jerman karena surat-surat nya mencurigakan, ia kemudian lari ke Inggris sebelum akhirnya berhasil mencapai Swedia. "Tapi, sekarang Husaini dan kawan-kawan dipecatnya pula," kata Fauzi.

 

Ikhtisar perjuangan Hasan Tiro sesungguhnya jauh dari keluhuran Daud Beureu-eh yang mencita-citakan syariat Islam (lihat: Mataku Dibutakan Jangan Menangis). Apalagi dibanding Ayatullah Khomeini di Iran. Bila demikian, untuk apa sebenarnya sejumlah orang masih mengelu-elukan Hasan Tiro, hatta korban tak berdosa berjatuhan?

……….

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------