Sandnes, 19 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


TAKTIK & STRATEGI TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN SIASAH FATANAH-NYA DI ACHEH

Muhammad Al Qubra

Sandnes - NORWEGIA.



KEBERHASILAN TAKTIK & STRATEGI TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DENGAN SIASAH FATANAH-NYA YANG DITERAPKAN DI ACHEH & DI DUNIA INTERNASIONAL

 

Aplikasilah dirimu pada jalan yang "Haq" selagi nyawa masih menyatu dengan tubuh di Dunia ini. Disamping bejat, musuh-musuh ASNLF ini juga buta "Siasah Fatanah". Mereka yang menagih janji kepada Wali Negara Tgk. Muhammad Hasan di Tiro memang lugu dan tidak memahami kalau wali menggunakan "Siasah" sebagaimana pernah populer dulu bahwa Acheh akan Merdeka pada waktu yang tidak lama lagi (Sibak Rukok treuk)

 

Umumnya orang-orang Acheh yang sudah lama "tertidur"dalam system thaghut indonesia hipokrit, termasuk orang-orang alim palsu tidak mampu berfikir bahwa bersatupadunya dalam system Indonesia Munafiq membuat 'Aqidah mereka sirna disisi Allah kendatipun mereka guru pesantren, Majlis "Ulama" Acheh alias Majlis "Bal'am" Acheh, Tokoh Politik PPP, Ketua-ketua adat dan kebudayaan (LAKA), Pengurus-pengurus Haji, Pendakwah-pendakwah musiman Maulid (Pendakwah type Pengkhidmad), Dosen-dosen IAIN Arraniri dan dosen-dosen agama di Unsyiah, guru-guru agama di berbagai jajaran pendidikan, Khatib - khatib di mesjid - mesjid Dhirar dan lain-lain sebagainya.

 

Klasifikasi orang-orang yang saya sebutkan diatas adalah orang-orang yang bersekongkol dalam system penjajah Indonesia Munafiq, namun mereka tidak sadar disebabkan mereka tidak memahami Siasah Fatanah Rasulullah sendiri. Kalau kepada orang seperti mereka kita katakan tidak memiliki senjata, mereka pasti tidak mau melawan penjajah Indonesia Munafiq.

Mereka tidak mampu memahami bahwa modal utama perjuangan adalah pemantapan "Idiology" yang Islami.  Imam Khomaini juga tidak memiliki senjata, namun disebabkan kemantapan Idiology mereka akhirnya senjata yang berada ditangan tentera Shah Palephi jatuh ketangan pejuang-pejuang dibawah komando Imam.

 

Kepada mereka yang saya sebutkan diatas kita tidak boleh meng infokan hal-hal yang menakutkan, sebab memangnya mereka menganut prinsip kemenangan bukan prinsip kebenaran. Artinya mereka bersedia menjadi bahagian dari ASNLF jika mendapat info bahwa kemungkinan besar ASNLF akan berhasil untuk Merdeka. Andaikata mereka tidak mendapat kepastian  bahwa ASNLF akan berhasil, mereka akan mempengaruhi orang ramai untuk meremehkan ASNLF.

 

Ketika saya masih di Acheh sekitar 5 tahun yang lalu, hampir setiap pegawai negeri memberikan sumbangan bulanan buat perjuangan ASNLF. Ketika itu sepertinya Acheh sudah merdeka secara Defakto. Disekolah tempat  saya mengajar sebelumnya, nampak sepertinya semua guru mengaku sebagai bahagian dari perjuangan tersebut. Pelajar-pelajar SLTP dan SLTA dengan mudahnya memasuki komplek SLTP dan SLTA lainnya untuk menurunkan bendera merah putih, lalu merobeknya.

 

Namun begitu TNI/POLRI di kirim ke Acheh secara besar-besaran, mereka dari pegawai Indonesia Munafiq itu langsung berobah sikapnya. Ini berarti mereka senantiasa memihak kepada yang menang bukan yang benar.

 

Ketika turunnya ayat perintah untuk hijrah sebahagian orang-orang yang sudah mengakui Islam dengan lidah, bersikukuh untuk tidak berhijrah dengan berbagai alasan yang tidak logis. Akibatnya mereka itu termasuk dalam golongan yang memerangi Rasulullah di medan Uhud dan mati sebagai orang yang tidak beriman.Hijrahnya dalam kontek ini adalah aplikasi atau manifestasi daripada Iman yang tersembunyi didada.

 

Orang-orang yang bergabung dalam system thaghut Indonesia munafiq tidak memahami bahwa ketauhidan itu tidak terbatas pada ucapan lidah (type Snouck Hurgronje), namun yang menentukan tidaknya kita Beriman dan Islam setelah pengakuan lidah adalah amalan, perbuatan, aksi atau aplikasi dalam kehidupan nyata.

 

Orang-orang yang bergabung dalam system Indonesia Munafiq ditinjau dari kacamata Kebudayaan adalah "Islam", namun jika ditinjau dari kacamata Idiologis (secara 'aqidah) mereka tidak termasuk dalam golongan orang Islam benaran -- mereka tergolong dalam golongan Hipokrit, kecuali  Taqiah (Wami nan nasimayyaqulu amanna billahi wabil yaumil akhiri, wamahum bimukminin -- QS. 2: 8)

 

Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS,90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS,7:157&QS,90:12-18)).

 

Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan sistem Allah. Untuk mendirikan system Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25). Setelah periode para Rasul berakhir, tugas mendirikan sistem Allah dilanjutkan para Imam (ulama warasatul Ambiya).

 

Andaikata di suatu negeri tidak ada ulama warasatul ambiya, tugas tersebut akan diambil alih oleh penyeru-penyeru kebenaran secara kolektif sebab tugas mendirikan sistem Allah adalah Haq lawan kata daripada Bathil. Hal ini perlu digarisbawahi sebab banyak orang yang terkecoh dengan pendapat klasik yang mengatakan hukumnya wajib. Haq dalam konteks ini kedudukannya di atas wajib.

 

Bila hukumnya wajib, andaikata tidak didirikan paling-paling berdosa. Sedangkan perkara dosa masih ada jalan untuk meminta ampun. Sedangkan perkara Haq, bila tidak didirikan hukumnya bathil. Resiko berada dalam sistem yang batil adalah neraka. Andaikata kita tidak berada dalam sistem Allah (Haq), otomatis kita berada dalam sistem Thaghut (bathil) kecuali taqiah. Untuk kasus ini Allah berfirman; Qul Ja al Haqqu wazahaqal Baathil, innal Bathila kana Zahuuqa)

 

Jalan yang mulus lagi menyenangkan adalah jalan qabil, pembunuh manusia, jalan Namruz, Firaun, Jalan Kaisar-Kaisar di Roma, Jalan Abu Sofyan, jalan Muawiyah, jalan Yazid, Jalan orang-orang yang bersatu padu dalam system Thaghut Hindunesia-Jawa kecuali "Taqiah" dan Basyar-basyar. Kesemuanya adalah jalan orang-orang yang mencari kebahagiaan di dunia ini diatas penderitaan orang lain.

 

Mereka itu umumnya baik secara langsung mahupun tidak langsung, penentang ayat-ayat Allah. Mereka sekedar bereksistensi dan tak pernah beresensi. Manakala berbicara tentang negara Islam, Kedaulatan Allah, Sistem Allah sebagian mereka langsung menentangnya, sementara sebagian yang lain merasa grogi, memperlihatkan sikap yang tidak senang dengan mengemukakan berbagai dalih, tidak mungkinlah, mustahillah, mimpilah, dsb. Mereka mengaku diri sebagai orang beriman, Islam. Mereka sesungguhnya telah dinyatakan Allah dengan jelas dalam AlQuran Karim surat AlBaqarah ayat 8-20. Hal ini juga terdapat dalam surah Surah yang lainnya seperti Surah Al-Munafiqun dari ayat 1 sampai ayat 8 dan juga ayat-ayat di surah-surah lainnya.

 

Tujuan hidup manusia.

 

Ada beberapa pendapat yang beredar di kalangan umat Islam tentang tujuan hidup. Ada yang mengatakan tujuan hidup adalah untuk mencari kesenangan, kebahagiaan, kesejahteraan, ketenteraman, keamanan, and keharmonisan. Orang-orang yang mengakui tujuan hidup seperti itu, sangat tidak mungkin untuk diajak mendirikan sistem Allah. Mereka tidak mahu mengambil resiko yang akan membahayakan kehidupannya.

 

Sementara yang lain meyakini bahawa tujuan hidup adalah untuk beribadah. Mereka meyakini bahawa yang dimaksudkan ibadah hanyalah sholat, shaum (puasa) bertahlil dan bersamadiyah, berdo'a, membaca Quran dan naik Haji ke Baitullah. Mereka itu keliru 180 derajat. Kekeliruan ini disebabkan ketidaktepatan dalam menterjemahkan kata "liya`buduni" dalam Surah Azzariyat ayat 56. Adapun terjemahan yang tepat adalah: "tunduk patuh kepadaKU" lengkapnya: "tidaklah kujadikan jin dan mnusia kecuali untuk tunduk patuh kepadaKu".

 

Namun demikian tidaklah salah kita terjemahkan beribadah kepada-Ku asal saja kita mampu memahami apakah "ibadah" itu sesungguhnya?. Apa saja kegiatan manusia di dunia ini disebut ibadah mulai dari aktivitas yang terkecil (kedip mata) sampai membangun daulah Allah (system Allah). Tinggal lagi alamat ibadah tersebut ada dua, yaitu Allah dan Thaghut.

 

Kedip mata saat membaca Kitab Al-Quran untuk membuat lebih jelas/terang berarti beribadah kepada Allah, sedangkan kedip mata saat berjumpa dengan lawan jenis adalah beribadah kepada Thaghut. Mendirikan system Allah berarti beribadah kepada Allah sedangkan mendirikan system Thaghut berarti beribadah kepada Thaghut.

 

Disamping itu kita juga harus memahami benar bahwa ibadah itu memiliki dua dymensi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya bagaikan dua sisi amata uang. Yaitu sisi ritual (hablum minallah) dan sisi sosial (hablum minan Naas). Ibadah dalam persepsi orang sesat, hanyalah mencakup sisi ritual saja, mereka cenderung mangabaikan sisi sosialnya, termasuk ibadah sosial yang terbesar yaitu mendirikan sistem Allah (kedaulatan Allah).

 

Kembali ke persoalan semula "GAM memang sudah terpecah pecah" yang di lambungkan Muba Zir sebagaimana pernah juga di forward oleh arwah Sumitro tahun lalu.

 

Kalau kita mau berguru pada  sejarah, justru disana kita temui jawabannya kenapa terjadinya perpecahan didalam suatu komuniti manusia. Perpecahan pertama terjadi akibat ulah Qabil (Symbolosasi Pembunuh) yang melanggar peraturan Allah tentang perkawinan. Eksesnya secara Idiologis, manusia terpecah kepada dua golongan sejak peristiwa itu sampai hari ini yaitu golongan "Qabil" dan golongan "Habil"

 

Setelah Nabi Musa dan Harun as menjelamatkan bani Israil ke Palestin juga timbul perpecahan akibat ulahnya si Samwel. Eksesnya Agama Islam yang dilanjutkan Nabi Musa dan Harun itu sampai berobah 180 derajat di tangan seorang tokoh yang terkenal bernama Yahuda dan nama agamapun bertukar dengan nama Yahudi.

 

Adalah hal yang sama terjadi pada Nabi 'Isa bin Maryam penerus Islamnya Musa wa Harun oleh seorang tokoh lain bernama Nashara dan agamapun bertukar dengan nama Nasrani (lihat Al Qur-an: Innad dina 'indallahil Islam)

 

Selanjutnya Allah menurunkan Muhammad saww sebagai utusan terakhir. Disinipun terjadi perpecahan yang terkenal sampai hari ini yaitu Shi'ah Imamiah 12 dan Ahlussunnah Wal jama'ah. Satu golongan meyakini bahwa khalifah fil ardh ditunjuk oleh Rasulullah sendiri sementara golongan yang lain meyakini bahwa khalifah itu harus dipilih orang ramai.

 

Dalam komunitas perjuangan ASNLF juga terjadi hal yang serupa, namun yang membelot itu hanya segelintir -- kenapa dipersoalkan ? Yang penting kita harus mampu memahami golongan mana yang "Haq" dan golongan yang mana yang "Bathil" Sesungguhnya kehidupan itu bukan saja di dunia tapi juga di Akhirat yang kekal selama-lamanya. Justru itu aplikasilah dirimu pada jalan yang "Haq" selagi nyawa masih menyatu dengan tubuh di Dunia ini.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Muhammad Al Qubra

 

acheh_karbala@yahoo.no

Sandnes, Norwegia.

----------

 

Date: Fri, 17 Jun 2005 17:20:53 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: GAM memang sudah terpecah-pecah sejak lama..

To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit <editor@jawapos.co.id>, AcehEmail_ichwan email_ichwan@yahoo.co.uk

 

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1999/08/18/0046.html

……….

Demonstrasi juga diisi dengan pidato politik dari Menteri Pendidikan dan Penerangan Gerakan Aceh Merdeka, Dr. Husaini Hassan, dan tokoh Gerakan Aceh Merdeka, Yusuf Daud. Uniknya, salah satu butir petisi mereka menyebut perlunya dialog antara pemerintah In donesia dan Gerakan Aceh Merdeka. "Kami mengharapkan adanya pihak ketiga atau badan internasional untuk penyelesaian secara damai," kata Husaini.

 

Padahal, selama ini Gerakan Aceh Merdeka tak kenal kompromi. Sumber di KBRI malah berbisik bahwa Gerakan Aceh Merdeka di sana telah terbelah dua. Yakni, kelompok Husaini yang bersikap kooperatif, dan kelompok Hasan Tiro bersama konconya, dr. Zaini Abdullah, yang bergaris keras.

 

Memang, sepintas komunitas Gerakan Aceh Merdeka di Swedia tampak rukun. Ada yang berprofesi sebagai guru, dokter, pegawai swasta, perawat rumah sakit, buruh pabrik, dan sebagainya. Anak-anak Aceh biasa memakai jeans, sweater berwarna-warni, dan bercakap d alam bahasa setempat. Kaum perempuannya tetap setia berjilbab.

 

Pemerintah Swedia memang mendidik para pencari suaka politik. "Kami diajari bahasa Swedia dan keterampilan agar bisa mandiri," kata Husaini. Ia dan Yusuf Daud masuk ke Swedia pada 1980 atas bantuan Palang Merah Internasional dan UNHCR (lembaga internasion al yang mengurus kaum pengungsi). Sebelumnya, Husaini sempat tiga tahun

bergerilya di hutan Aceh.

 

Keterbelahan itu makin terang, karena kantor Gerakan Aceh Merdeka di Swedia ternyata tidak satu, tapi dua. Satunya terletak di Fitja, 18 kilometer di Selatan Stockholm, yang merupakan kubu Husaini dan Yusuf Daud. Satunya lagi, di Nordsborg, dikomandoi Zaini, yang setia kepada Hasan Tiro.

 

Markas Gerakan Aceh Merdeka di Fitja satu blok dengan apartemen hunian  penduduk. Ada satu ruang rapat dengan 20 kursi, satu ruang pertemuan kecil, dilengkapi dapur dan ruang kerja lengkap dengan perpustakaan, komputer, telepon, dan faksimili. Di ruang bes ar hanya ada peta Sumatera dan sebuah bendera Gerakan Aceh Merdeka. "Anak-anak kami juga belajar di sini," kata Yusuf Daud, 40 tahun, ayah tiga anak. "Mereka sengaja kami besarkan dalam suasana revolusi," tambah Husaini, 60 tahun, juga punya tiga anak, ke pada Gamma, 6 Agustus lalu.

 

Pecahnya kubu Gerakan Aceh Merdeka ini makin transparan dari hasil wawancara Gamma dengan Hasan Tiro, Zaini, dan Husaini di tempat terpisah (lihat: Dari Swedia Impian Terbelah). Malah mengemuka pula dalam dua pertemuan berskala internasional, yaitu Intern ational Forum on Aceh (IFA) di Washington, D.C., yang dihadiri Husaini pada April lalu, dan di Bangkok, Thailand, yang diikuti Zaini pada Juli silam.

 

Pertemuan Washington lebih moderat. Dari tiga pilihan terhadap masa depan Aceh --otonomi, federasi, dan merdeka—mayoritas memilih referendum. Bedanya, Husaini membuka pintu dialog dengan pemerintah Indonesia, sedangkan Zaini, no way.

 

Zaini dalam pertemuan Bangkok yang hadir atas nama Hasan Tiro –yang dipanggilnya sebagai Paduka Yang Mulia—berbicara tentang suatu Negara Aceh yang tanpa hubungan dengan Indonesia. Zaini lalu mengutip The London Times dan The New York Times terbitan 18 73, yang menukilkan fakta bahwa saat itu tentara Belanda berperang melawan tentara

Negara Aceh.

 

Syahdan, ketika Belanda hengkang pada 1949, menurut Zaini, mestinya Belanda mengembalikan Aceh ke pangkuan Negara Aceh. "Belanda telah melanggar hukum internasional," kata Zaini. Ia lalu menuduh apa yang disebutnya sebagai pemerintahan Indonesia-Jawa tela h menjajah Aceh sejak 1949.

 

Zaini bahkan nekat menyebut bahwa Gerakan Aceh Merdeka lepas dari almarhum Teungku Muhammad Abu Daud Beureu-eh yang dulu berjuang menegakkan Darul Islam (DI). Yang diimpikan Hasan Tiro adalah Negara Aceh yang bermula dari kerajaan Aceh sejak masa Sultan A li Mughayat Shah (1500-1530) sampai ke era dirinya. Ia pun telah menyiapkan seorang putra mahkota, yakni Karim Di Tiro, yang kini berada di New York. Dora, istri Hasan Tiro, dan ibu Karim adalah seorang keturunan Yahudi Belgia, penganut nonmuslim.

 

Zaini yang menemui langsung wartawan Gamma di Hotel Prince Philip di Skaerholmen, di luar kota Stockholm, terkesan tak menyangkal kabar tentang perpecahan Gerakan Aceh Merdeka itu. "Kami telah memecat mereka dari Gerakan Aceh Merdeka," kata Zaini.

 

Beda dengan Husaini, "Kami mutlak tidak ingin bekerja sama dengan pemerintah Indonesia," kata Zaini. Kubu Zaini yang mendukung Hasan Tiro bahkan hanya mau berhubungan dengan Kerajaan Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan PBB. Namun, bila dibandingkan dip lomasi Ramos Horta dalam menggaungkan kasus Timor Timur di dunia internasional, Gerakan Aceh Merdeka sangat ketinggalan. Timor Timur kini malah akan memasuki referendum, merdeka atau integrasi. Padahal, kasus Timor Timur hanya tua setahun dibanding kasus Aceh.

 

Semakin mencurigakan, Hasan Tiro pun seperti menjauhi publikasi. Gamma yang berupaya keras mewawancarai Hasan Tiro selalu dihadang dengan seribu kilah. Misalnya, "Bapak (Hasan Tiro, Red.) sedang di luar negeri," atau "Bapak sibuk sekali".

 

Untunglah, Gamma berhasil melihat kembali rekaman wawancara Hasan Tiro yang tampil di televisi Swedia TV2, akhir Juli lalu. Hasan Tiro tampak sangat emosional. Tak mencerminkan seorang tokoh yang karismatis. Suaranya sangat kecil, nyaring, dan napasnya te rengah-engah Tanpa argumen yang kuat --hingga mirip igauan-- Hasan Tiro merasa optimistis Aceh akan merdeka pada tahun 2000 (lihat: Dari Swedia Impian Terbelah).

 

Namun, jangankan dengan Gamma, bahkan delegasi "Aceh Sepakat" Medan, yang diketuai H.M. Noer Nekmat yang berkunjung ke Stockholm pada 24-25 Juli lalu, juga gagal menemui Hasan Tiro. Mereka cuma bisa bertemu Zaini yang lagi-lagi berbicara tentang biografi Hasan Tiro –yang sangat feodalistis (lihat: Tanjong Bungong Sok Feodal).

 

Aceh bagi Hasan Tiro merupakan tongkat estafet kerajaan sejak Teungku Panglima Polem, Teungku Chik Di Tiro, hingga ke Teungku Umar Johan Pahlawan. Disebutkan, salah seorang anak dari Teungku Umar yang masih hidup adalah Hasan Di Tiro. Sebab, ibu kandung Hasan Di Tiro adalah adik kandung dari Teungku Umar, meskipun validitasnya sangat diragukan (lihat: Silsilah Hasan Tiro).

 

Keterbelahan Gerakan Aceh Merdeka juga tercium Noer Nekmat dengan terbentuknya Gerakan Aceh Merdeka tandingan, yaitu Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM), yang bertujuan merdeka, tapi tetap bernaung di bawah Indonesia. Majelis ini beranggota kan 90 kepala keluarga, sedangkan kubu Zaini hanya tujuh kepala keluarga saja. "Mereka sangat ingin kembali ke Indonesia," kata Noer Nekmat kepada Bambang Sukmawijaya dari Gamma.

 

Arjuna, mantan Panglima Perang Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Pidie yang turun gunung pada 1998 lalu, bahkan menyebut Gerakan Aceh Merdeka di Aceh sudah putus hubungan dengan Hasan Tiro. Arjuna yang dulu bergelar "Rambo" keluar dari Gerakan Aceh Merdeka, karena merasa Hasan Tiro seorang pembual belaka. "Seluruh janjinya cuma omong kosong,"

kata Arjuna kepada Gamma. "Bagaimana berjuang kalau perut lapar dan tanpa sebutir anak peluru pun," tambah Arjuna yang dikirim Gerakan Aceh Merdeka untuk pendidikan milit er ke Libya pada 1986. Senjata yang dimiliki Gerakan Aceh Merdeka di Aceh pun ternyata diselundupkan pengikutnya yang berada di Malaysia.

 

Teungku Fauzi Hasbi Abdullah, mantan Kepala Staf Angkatan Perang Gerakan Aceh Merdeka yang keluar dari Gerakan Aceh Merdeka pada 1980, bercerita bagaimana Hasan Tiro tak patut dipercayai. Sebagai wakil DI/TII-Kartosuwiryo di Amerika Serikat, Hasan Tiro lagi-lagi membual akan mengirimkan senjata bila uang dikirimkan dari Indonesia. Saat itu, ia malah meminta agar orang DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) membersihkan sebuah kebun sebagai tempat pendaratan di suatu tempat di Aceh pada 1959.

 

Pengikut Daud Beureu-eh sampai menggelar 100 tikar besar agar mudah dilihat dari udara. Tak lama, pesawat pun muncul, tapi cuma berputar-putar. Mereka bersorak gembira sambil meloncat-loncat. Eh, tiba-tiba pesawat itu merendah dan memberondong orang-orang Darul Islam yang berlompatan ke sungai. "Ternyata, ABRI telah menyerang kami," kata Fauzi, terbahak-bahak.

 

"Tipulogi" ala Hasan Tiro juga terulang pada 1972. Padahal, tak kurang dari abangnya, Abu Teungku Zainal Abidin, yang datang ke Amerika menagih senjata yang dijanjikan. Ternyata, baru pada 1974 ia memberi kabar bahwa senjata tersebut akan dikirim dengan kapal selam. Daud Beureu-eh kemudian memerintahkan agar membersihkan pohon bakau dan alur sungai di kuala, namun lagi-lagi semua itu cuma dusta belaka.

 

Apa boleh buat, ketika Gerakan Aceh Merdeka memberontak pada 1976, mereka cuma punya sedikit senjata bekas Darul Islam. Tak mencengangkan bila pasukan RPKAD –kini Kopassus-- dengan mudah mengejar mereka. Sebetulnya, Hasan Tiro sudah bersumpah tidak akan lari dan siap mati syahid di bumi Aceh.

 

Ternyata, Hasan Tiro malah membuat paspor Aceh untuk Husaini, dengan tekenan sendiri. "Tunjukkan, di negara mana pun pasti diterima," kata Hasan Tiro, ditirukan Fauzi. Ternyata Husaini terganjal di Penang. Untunglah, pihak UNHCR di Malaysia menolong keber angkatan Husaini dan kawan-kawan ke Swedia. ` Hasan Tiro mulai pula berkilah akan ke Amerika Serikat untuk membeli senjata --sekaligus bernegosiasi dengan PBB pada 1980. Beberapa orang Gerakan Aceh Merdeka mengantarnya dari Pidie ke pantai Jeunib di Aceh Utara. "Sepanjang perjalanan, baunya sudah seperti mayat. Dia sudah lemas, malah dibikin tandu seperti Panglima Sudirman," kata Fauzi.

 

Fauzi dan kawan-kawan jugalah yang mengantarkan Hasan Tiro ke Singapura. Di sana, ada seorang Aceh yang mengurus Hasan Tiro menyusup ke Mozambik. Belakangan, Husaini memanggil Hasan Tiro agar datang ke Swedia. Sempat ditangkap di Jerman karena surat-surat nya mencurigakan, ia kemudian lari ke Inggris sebelum akhirnya berhasil mencapai Swedia. "Tapi, sekarang Husaini dan kawan-kawan dipecatnya pula," kata Fauzi.

 

Ikhtisar perjuangan Hasan Tiro sesungguhnya jauh dari keluhuran Daud Beureu-eh yang mencita-citakan syariat Islam (lihat: Mataku Dibutakan Jangan Menangis). Apalagi dibanding Ayatullah Khomeini di Iran. Bila demikian, untuk apa sebenarnya sejumlah orang masih mengelu-elukan Hasan Tiro, hatta korban tak berdosa berjatuhan?

……….

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis

----------