Stavanger, 19 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS II + ADAT SINGGONG LANGSUNG DAN ADAT SINGGONG MENYAYONG

Omar Puteh

Stavanger – NORWEGIA.



MASIH MENYOROT ADAT SINGGONG LANGSUNG DAN ADAT SINGGONG MENYAYONG.

 

Suatu yang menarik juga bagi kami: Antara saya, Omar Putéh meneruskan sebuah bentuk “diskusi” dengan saudara Husaini Daud Sp, sambil menyelang-nyelingkan tulisan-tulisan kami, walaupun mungkin terlanggar tobéng-tobéng kampong!

 

Saudara Husaini Daud Sp, saya tuliskan setiap motto pada setiap tulisan-tulisan saya yang berjudul: Adat Singgongan Langsung Dan Singgongan Menyayong, sebenarnya hanya sebagai pampangan saja sementara saya membuat kesimpulan akhir lain. Makanya motto itu kelihatan seperti gantungan pita-pita bertulis! Saya pikir, sekalian “pita-pita” itu, semacam demonstrasi.

 

Tetapi jelasnya tulisan motto itu adalah sebuah pribahasa atau sebuah pepatah Acheh!

 

Tetapi begitupun suka juga saya katakan bahwa diujung konteks ini, saya masih percaya pasti ada sebuah kecendrungan akan sebuah perumpaan Melayu Deli: Rencong tunduk, Acheh badondam!

 

Saudara Husaini Daud Sp bahwa, pribahasa atau pepatah itu berbeda dengan kata kiasan ataupun perumpaan, sebagaimana ia berbeda juga dengan ungkapan. Jadi saudara Husaini Daud Sp perlu juga memahami dengan betul perbedaan-perbedaan kesemuanya itu. Maksud dan tujuan kearah pemahaman yang sama, telah saya rincikan pada awal paparandari rupa judul diatas.

 

Saya tahu pepatah Acheh itu sebenarnya berbunyi: Matée aneuk meupat djrat, mata adat hana pat ta minta! Tetapi bunyi pepatah ini telah digubah oleh Wali Negara, Tengku Hasan di Tiro, sehingga dengan gubahan itu dan bunyi pepatahnya menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, lebih patriotis, lebih progresip dan lebih dinamis! Jadi saudara Husaini Daud Sp bukan saya yang merobahnya, tetapi saya hanya menyunting belaka.

 

Pendapat Saudara Husaini Daud Sp, pun salah. Saya yakin bahwa, pepatah asalpun dapat dipastikan telah dicipta oleh seorang sastrawan-philosofis, bukan orang tanggung-tangung dan bukan orang calang-calang! Tentu pastinya seperti Made in Dayah Tjhik. Buktinya pribahasa atau pepatah itu terus berjalan mengikut masa yang sedang berlari kencang. Begitulah kiranya juga dengan gubahan itu, Made by Wali Negara in Sweden. Dan seperti inipun, bukan tidak mungkin seorang dari Rangkang dapat melahirkan sebuah pepatah yang punya kekuatan philpsofis juga.

 

Sayapun tidak cepat-cepat meyalahkan saudara Husaini Daud Sp, tetapi tetap berharap akan dapat terus meyesuaikan diri dengan Acheh Merdeka itu sendiri. Jangan bimbang dan jangan ragu, temui saudara Iqbal Idris segera. Beliau itu akan dapat menjelaskan banyak, apalagi beliau itu mempunyai khazanah-kazhanah lama, baik berupa kaset-kaset ataupun makalah-makalah. Terima kasih atas respon baik anda.

 

Nah sekarang ini, coba saudara Husaini Daud Sp bandingkan pepatah Acheh diatas dengan pepatah Made in Husaini Daud Sp seperti dibawah ini:

 

“Biarlah hancur pusara, biarlah hancur badan, asal nyawa selamat di akhirat nanti”. Ini bukan pepatah! Tetapi ini, menyerupai suatu bunyi retorika teungeuet, retorkta pondan! Jika kesemua kata-kata dalam sebaris kalimat itu ditumbuk-ulak bisa dijadikan belacan! Dan kalaulah yang sebegitupun saudara Husaini Daud Sp telah juga kriteriakan sebagai pepatah:

 

(a) Dimanakah seni-dinamika “pepatah” saudara itu?

(b) Dimanakah philosopis “pepatah” saudara itu?

(c) Dimanakah roh “pepatah” saudara itu?

(d) Dimanakah roh yang menghidupklan seni-dinamika dan yang menghidupkan pilosophis “pepatah “ anda itu?

 

Dari contoh pepatah “Islaminya Made in Husaini Daud Sp ini”, dapatlah diketahui oleh semua orang didunia bahwa, rupanya saudara Husaini Daud Sp, sememangnya tidak tahu dan juga tidak mau berlagak tahu:

 

(1) Apakah yang dimaksudkan dengan pepatah atau pribahasa itu?

(2) Apakah yang dimaksudkan dengan perumpaan itu atau kiasan itu ?dan (3) Dan ungkapan itu?

 

Kalau saudara Husaini Daud Sp tidak mau berlagak tahu, maka jangan ikut lagi gaya orang lain. Lebih baik terus berlagak bodoh ketimbang berlagak pandir!

 

“Mirah ngon sampoh aki, putéh ngön sampôh darah!” Husaini Daud Sp, untuk apakah ungkapan yang serupa ini? Tolong beri jawaban!

 

Saudara Husaini Daud Sp, perlu saudara ketahui bahwa, seorang yang idealis itu, belum tentu mampu membuat (kata) pepatah atau pribahasa, (kata) ungkapan, (kata) kiasan ataupun (kata) perumpaan. Biasanya yang mampu menciptakan pepatah-petitih atau pribahasa itu, adalah orang yang sememangnya kuat indra philosfisnya, seperti: Ahli Tasauf, Philosof, ahli pikir dan mungkin siapapun juga, yang mau kuat berfikir dan mau kuat merenung jauh: Menembusi gunung, melangkahi laut dan merintasi darat, terus kelangit, lewat awan kutub utara dan lewat awan kutub selatan, menjangkau masa, menjangkau dunia!

 

Tetapi begitupun bukan musti ianya datang dari si penyair, sipenyajak atuapu sipenyeni.

(1) Saudara Husaini Daud Sp, siapakah atau yang orang type bagaimanakah yang dikatakan seorang itu, sebagai seorang idealis?

(2) Apakah yang saudara Husaini Daud Sp maksudkan dengan pepatah Islami dan Qurani yang berbobot?

(3) Apakah arti bobot itu dan apakah yang dimaksudkan dengan ber-bobot itu pula?

(4) Dan bagaimanakah yang dimaksudkan pepatah yang berbobot? Dan juga apa itu yang dimaksudkan dengan pepatah logis dan non-logis?

(5) Dan apa pula itu pepatah bertipe akademis? Ek kilang!!!

(6) Seuleuweue na sumpruët? Coba jelaskan!

 

Kalaulah saudara Husaini Daud Sp mendakwa bahwa diri anda adalah seorang akademis yang idealis, tetapi sebaliknya, saya berani mengatakan bahwa, anda adalah seorang akademis aroganis yang anarkis!

 

Tahukah saudara Husaini Daud Sp, apa arti Rangkang? Ia mempunyai tiga arti. Dua arti sebenar dan sebuah lagi dengan arti kiasan. Salah sebuah arti sebenar itu, bermaksudkan nama salah sebuah jenjang institusi akademika pendikan di Acheh:

 

(1) Balai, (2) Rangkang, (3) Dayah Tjut (4) Dayang Manjang dan (5) Dayah Tjik.

 

Kalaulah juga saya masih tersilap dengan jenjangan-jenjangan institusi itu, maka silahkan saudara Husaini Daud Sp buat rujukan dengan tulisan Prof Ali Hasyimi ataupun mungkin masih ada tersimpan dalam khazanah majalah Sinar Darussalam, Universitas Sijah Kuala

 

Jadi tidak patutlah saudara Husaini Daud Sp down-kan “Rangkang” itu, sementara anda pernah naik ke jenjang yang sedikit mentreng. Bagaimanapun saya sangat setuju dengan infrastruktur pendidikan Acheh itu nantinya dalam Self Government yang mengikut jenjang-jenjang institusi Negara Acheh itu, mengapakah saudara Husaini Daud Sp seperti tidak?

 

Saudara Husaini Daud Sp bisa tanyakan kepada saudara Iqbal Idris prihal pepatah dan petitih! Saya yakin, saudara Iqbal Idrislah yang mempunyai koleksi pribahasa atau pepatah, kata kiasan ataupun ungkapan yang baik-baik, baik dalam bahasa Acheh, bahasa Arab, bahasa Melayu dan juga bahasa Inggeris. Saudara Husaini Daud Sp-pun bisa pergi menjumpai saudara Iqbal Idris dan sekaligus dapatkan pelajaran Ideologi Acheh Merdeka dari beliau itu disana.

 

Husaini Daud Sp! Mengapakah saudara mengklasifikasikan Islam itu menjadi Islam Ideologi dan Islam Kebudayaan? Sementara orang lain pula ada mengatakan Islam Qadiani, Islam Jamaah, Islam Jihad, Islam Pancasila dan lain-lain sejenisnya.

 

Kalau demikian apakah Islam itu? Apa Ideologi itu? Dan apakah Kebudayaan itu? Islam itu adalah agama dari Allah SWT! Ideologi hasil dari budaya manusia. Kebudayaan itu sendiri juga dari budaya manusia.

 

Islam Ideologi dan Islam Kebudayaan ciptaan Drs Husaini Daud Sp??? Dan dalam tulisan lain saudarapun ada menyebutkan Ideologi Islam. Bagi kebanyakan orang, akan mengatakan tidak ada Ideologi Islam itu, karena Islam itu, agama Allah SWT dan karena Islam itu bukan budaya.

 

Tidak ada Ideologi Islam! Yang ada sunnah Rasulullah! Memang istilah "Ideolgi Islam" ini telah terlalu lama diperdebatkan hingga istilah itu sudah menjadi klassik!

 

Sebenarnya orang-orang Islamlah yang menyalahkan gunakan Islam itu, sebagai ideological point mereka. Sebagaimana Husaini Daud Sp menggunakan Islam itu, sebagai ideologinya, sebagai ideological pointnya?

 

Sekelompok orang-orang Islam yang memperalat Islam untuk kepentingan ideologi kumpulan mereka, maka dari kumpulan orang-orang Islam itulah yang telah melahirkan kumpulan orang-orang Islam seperti Islam Jemaah, Islam Jihad dan Islam Pancasila atau Islam radikal lainnya, yang sangat jauh menyimpang dari Islam itu sendiri. Lihatlah mereka dari Islam Jihad, Islam Jamaah dan Islam Pancasila telah membiarkan bangsa Acheh disembelih oleh ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, setiap hari, yang hari ini, telah mencapai 70.000 jiwa lebih!

 

Malah disinyalir, mereka juga terlibat di Acheh, sebagai agen mesin penyembelih dengan Islam Ideologi, Islam Jihad, Islam Jamaah ataupun Islam Pancasila mereka.

 

Baiknya contohilah Sunnah (ideology?) Concept NII-nya, dari Presiden NII, Imam Soekarmadji Maridjan Kartosoewiryo, yang dianggap sebagai ideologi konsepsionil yang Islamis dan yang terbaik didunia!

 

Masyarakat Islam dari warga negara NII-nya Imam Agung Soekarmadji Maridjan Kartosuwiryo berbeda dengan masyarakat Islam dari warga negara Imam Ayatollah Khomeini, sebagaimana berbedanya degan masyarakat "Islam"-nya marhenis Soekarno si Penipu licik, yang tidak pernah mau ikut sebagaimana ummat Islam-nya NII! berjuang untuk kemerdekaan dari kuasa penjajah asing, tetapi ketika "Sunda" hampir merdeka mereka (PNI) cepat-cepat mendaftakan diri pakai Akta Notaris sebagai "Broker Kemedekaan".

 

Masyarakat Islam dari warga negara NII-nya Imam Agung Soekarmadji Maridjan Kartosoewiryo pernah mengalami perjuangan menentang penjajah/agressor asing, tetapi masyarakat Islam dari warga negara Imam Ayatollah Khomeini tidak, kecuali berhadapan dengan pemerintah tyrani Mohammad Reza Shah Pahlevi. Karena Parsia atau Iran itu kemerdekaannya "dianugrahkan" oleh penjajah Inggeris, karena jasanya tidak berpihak kepada Adolf Hitler, Nazi-Jerman, ketika Perang Dunia ke-II.

 

Imam Ayatollah Khomeini sendiripun tidak tahu bagaimana memperjuangkan kemerdekaan Parsia atau Iran ketika itu, kecuali yang pernah dilakukan "sedikit" oleh Imam Djamaluddin al Afghani. Shah Iran, Reza Shah sendiripun, ex-pengembala kambing adalah seorang sersan tentara Inggeris ketika itu, kemudian bisa melonnjak menjadi Kepala Negara.

 

Dan coba pula kita lihat dengan “ideologi Islam” dari Islam Jihad, Islam Jamah dan Islam Pancasila misalnya: Bagaimanakah dia telah digunakan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, membantu menyembelih 15.000 lebih ummat Kristen di Maluku, di Melanesia yang sedang berjuang untuk kemerdekaan bangsanya, tetapi dituduh berperang memerangi ummat Islam Maluku, di Melanesia, sedangkan sepanjang sejarah intgritas ummat Maluku Kristen dengan ummat Maluku Islam, di Melanesa, tidak pernah berbunuh-bunuhan, tetapi hidup rukun dan damai sejak ribuan tahun yang lalu.

 

Begitu juga dengan di Poso, ummat Islam dengan ummat Kristen, disana oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, yang dari kalangan mereka mengadopsikan Islam Jihad, Islam Jamaah dan Islam Pancasila dalam susupan. Mereka Penjajah Indonesia Jawa melaga ummat Islam Poso dengan ummat Kristen Poso seperiti melaga ayam jantan hutan Gunung Veerbek, untuk meredam perjuangan kemerdekaan disana, sama seperti mereka meredam perjuangan bangsa Maluku di Melanesia.

 

Adat melaga-laga ummat Islam dengan ummat Kristen telah menjadi adat idelogi Islam Jihad, Islam Jamaah dan Islam Pancasila!

 

Saudara Husaini Daod Sp! Mengapakah tiba-tiba muncul dibenak saudara tukaran nama Omar Putéh dengan Razali Paya?

 

Banyak “orang yang berpikiran negatip” yang pernah menyebut dan menuliskan nama itu , dengan beranggapan bahwa, dengan mereka berbuat demikian, maka saya akan terejek dan terngenyek, seperti yang pernah dilakukan oleh MB GAM atau MP GAM atau sekarang ini oleh saudara Husaini Daud Sp?

 

Ataupun mungkin, karena sejak dari awal diskusi ini, saya tidak terus berkesempatan menuliskan nama saudara seperti ini pakai alias: Drs Husaini Daud Tobing alias Husaini Daud Tobing Sp. Atau Drs Husaini Daud Tobéng alias Husaini Daud Tobéng Sp?

 

Husaini Daud Sp, pakai saja Tobing karena i-nya ada titik diatas, dan kalau balik ke Tapanuli akan di Tor-Torkan, dan mudah mendapatkan kerja di Medan.

 

Sama seperti di Acheh, kalau SGI tanyakan siapa nama kamu? Maka kalau yang ditanyakan itu menjawab saja: Kopi-O, maka akan selamat, tampa dimintakan lagi oleh Jawa-Jawa Chauvinis itu KTP MP, Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, karena telah berujung nama O!

 

Terus terang saya katakan, tidaklah saya pernah terpikir melakukan tingkat yang demikian! Bagi saya apa yang saudara lakukan seperti itu: Pakai alias segala, teranggap sebagai sesuatu yang biasa dalam diskusi untuk "merangsang" kawan (jangan baca:lawan) berdiskusi. Malahan bagi saya, hal seperti itu suatu yang membanggakan saya, bukan sebaliknya.

 

Suatu hari, saya telah terlantik sebagai Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka di Malaysia, telah diberikan pandangan dan nasihat oleh saudara Yusra Habib Abdul, Gani, bekas Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka di Malaysiasebelumnya, ketika sedang berada disebuah rumah di Green Wood, Gombak, Kuala Lumpur, Malayisa, agar menuliskan sebuah surat : Kehadapan Paduka Yang Mulia Wali Negara, Negara Acheh Sumatra, Tengku Tjhik di Tiro Hasan Muhammad. Dan surat itu, katanya bisa dititipkan saja nantinya kepada Yusuf Daud Paneuek, anak Daud Paneuek (kemudian telah melantik dirinya sendiri sebagai Sekjen MB GAM) yang akan segera balik ke Swedia dengan istri dan kedua anaknya.

 

Saudara Yusra Habib Abdul Gani, menasihatkan saya demikian, sebagai kebiasaan adat- resam bagi seseorang yang baru menjabat dan memangku Ketua Biro Penerangan, sebagai wajib melaporkan diri terlebih dahulu, kehadapan Wali Negara, karena Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka di Kuala Lumpur; Malaysia ketika itu akan bertanggung jawab langsung kepada Wali Negara.

 

Saudara Yusra Habib Abdul Gani paham betul bahwa, saya sebagai orang yang paling susah membalas surat siapapun. Dihari itu, dihari saya menyiapkan surat itu, berarti saya baru berkontak kembali dengan Wali Negara, setelah kurang lebih 6 tahun berpisah....

 

Tidak lama kemudian, hanya waktu berselang semingguan saja, balasan surat Wali Negara kepada saya.pun tiba. Tertera disana, dimuka amplop surat itu nama: Razali Paya!

 

Dan begitulah seterusnya dan seterusnya, senantiasa setiap surat-surat kiriman Wali Negara kepada saya, akan tertera nama: Razali Paya! Saudara Husaini Daud Sp, jadi sekitar 11 tahun yang lalu Wali Negara sendiri telah mengabadikan nama itu sebagai Razali Paya!

 

Mulanya saya terpikir, Wali Negara meletakkan nama nenek lelaki saya, tampa meletakkan lagi nama orang tua lelaki saya didepannya, mungkin karena Wali Negara terpengaruh dengan nama Ketua Misi 9: Teuku Paya, sebuah misi, yang kemudian dinamakan “Misi Teuku Paya” yang pernah menjalankan tugas ke Pulau Penang untuk mendapatkan logistik perang, dari “pemerintahan Inggris Lord Francis Light”, di Penang, ketika Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman, sebagai Panglima Perang Tertinggi dan sebagai Wali Negara I (pertama). Tetapi kemudian, saya teringat kelain point pula, mungkin Paya itu adalah sebuah nama Spanyol. Karena sayapun teringat suatu ketika Wali Negara yang dapat bertutur berbilang bahasa, pernah berbicara dengan seorang wartawan Jepang didepan saya dengan berbahasa Spanyol.

 

Ingatan ini pula, yang membawa saya kesana, kemasa, sewaktu saya bekerja dengan sebuah perusahaan minyak asing, seorang pilot helikopter Alloute yang berkebangsaan Spanyol, sebagai pekerja charteran dengan sebuah perusahaan Perancis: Schlumberger, pernah mengunjungi kantor saya, setelah mengetahui diujung nama saya tertulis nama: PAYA. Dia langsung bertanya apakah saya dari Spanyol? Tidak! Jawab saya singkat.

 

Jadi Husaini Daud Sp nama itu, sememangnya telah juga Wali Negara abadikan untuk saya, walaupun nama itu juga telah lama menjadi nama gandengan nama saya sendiri. Kami sekeluarga dari kecil sudah merasakan kebanggaan dengan nama Paya itu, karena itu adalah nama orang awal, (nan ureung Acheh djameuen) nama nenek lelaki kami.

 

Ayah dari Tengku Paya, bernamakan dengan nama orang awal (nan ureung Acheh djameuen) : Haloih (Halus), seorang pemilik satu-satunya Djông (Tongkang besar) di Kuala Peusangan, yang senantiasa ulak-alik, membawa penumpang antara Kuala Peusangan ke Lho' Seumawe. Dan mungkin karena beliau juga sebagai Juru Mudi dari Djông itu, maka terabadikanlah nama Haloih menjadi: Tengku Djuroë Mudoë Halôih (Juru Mudi Halus). Dan terpanggilah Nek Paya, nenek lelaki saya itu lengkapnya dengan nama: Tengku Paya Djuroë Mudoë Haloih!

 

Tetapi mengapakah Tengku Djuroe Mudoë Haloih, menamakan salah seorang anak lelakinya dengan nama Paya, saya sendiripun tidak dapat menjawabnya. Apalagi diceritakan dalam cerita keluarga bahwa, nenek lelaki saya itu, juga datang dari keluarga Teuku Tjadék (nama orang awal-nan ureueng Acheh djameuen), pembantu utama Tengku Tjhik Peusangan Mengapakah pula Teuku Tjadék membiarkan Tengku Djuroe Mudoë Haloih, memberikan nama kepada salah satu anak lelakinya dengan nama Paya?

 

Jadi Husaini Daud Sp, bagi saya, nama itu telah menjadi nama kebanggaan keluarga dan diantara kami dalam keluargapun, telah mempredikatkan nama Paya pada nama kami, sejak puluhan tahun yang lalu, sejak kami mengenal nama Paya itu, adalah nama nenek lelaki kami!

 

Di Iran, negera syi'ah yang anda banggakan itupun, sangat mengenal nama Dr Ali Paya. Di Mayo Clinic, sebuah klinik yang sangat terkenal di Amerika dan sangat diidamkan oleh Kepala-Kepala Negara seluruh Dunia yang sakit, juga terdapat disana sebaris nama berpredikat Paya diantaranya:. Dr Miguel Adolfo Paya atau Dr Carlos V. Paya. Oposisi Leader di Cuba pun berpredikat Paya: Sardinas, Oswaldo Paya

 

Demikianlah nama saya itu berprediakat Paya yang kembali diabadikan oleh Wali Negara dengan nama: Razali Paya. Sedangkan nama Omar Putéh itu, telah diabadikan oleh saudara Yusra Habib Abdul Gani di majalah Suara Acheh Merdeka.

 

Untuk pengetahuan saudara Husaini Daud Sp, mengapakah saya ikut menyebutkan nama Yusra Habib Abdul Gani dalam diskusi kita ini?

 

Karena setelah mendapatkan surat balasan yang saudara Yusra Habib Abdul Gani sarankan itulah Wali Negara telah mengabadikan nama Razali Paya. Selain itu saudara Husaini Daud Sp, perlu juga mengenal lebih dekat dengan beliau.

 

Saudara Yusra Habib Abdul Gani selain pengasas utama penerbitan Majalah Suara Acheh Merdeka di Kuala Lumpur, Malaysia dan beliau juga dikenal sebagai Kepala Pemerintahan Negara Acheh di Malaysia. Hampir keseluruhan kerja-kerja rutin Pemerintahan Negara Acheh ketika itu, beliau yang laksanakan. Malahan majalah Tempo atau Gatra menuliskan jabatan beliau sebaga"PM"?

 

Dapat dikatakan ketika itu, tidak ada Yusra Abdul Gani maka tidak ada Pemerintahan Negara Acheh. Yusra Abdul Gani telah mengabdikan seluruh jiwa dan raganya lebih dari 100% untuk bangsa Acheh dan untuk negara Acheh.

 

Beliau mencampakkan jabatannya dan seluruh attribut yang diperolehnya dari Penjajah Indonesia Jawa di Jakarta, kedalam Kali Ciliwung dan S H-nya, Sarjana Hukumnya ke Laut Jawa atau ke Selat Karikmata.

 

Dalam briefingnya kepada para Taruna Gayo Lingëe + Gayo Alas dan Gayo Luas yang akan mendapatkan pendidikan militer di luar negeri, beliau berucap: "Semua pemuda-pemuda Gayo wajib mengikut latihan militer untuk membela bangsa Acheh, untuk membela Negara Acheh Sumatra, dan barang siapa pemuda Gayo yang tidak mau melakukannya, tanggalkan celanamu, pakai rok!" Beliau telah kehilangan dua syuhada, adik kandungnya yang sangat dicintai.

 

Saudara Husaini Daud Sp lihat itu Yusra Habib Abdul Gani dia itu punya S (besar) dan H (besar) tetapi telah mencampakkannya dan beliau senantiasa merendah serta mengecutkan diri, ketika berada didepan kestrukturan Ideologi Acheh Merdeka! Dan tanyakan kepada beliau, benarkah Wali Negara memberikan nasihat agar tidak asyik dulu dengan pembahasan masalah agama baik dalam bertutur atau dalam beressay?

 

Tetapi anda Husaini Daud Sp, tidak mendengarkannya dan malahan sedikit bandel!. Kami saksikan ketika menghantan Husaini si Ulama Bal'am dari Seulimum itupun masih menyematkan "Drs" itu. Dan kini, setiap kali pula dengan Sp, Sarjana Pendidikan, S (besar) dan p (kecil).

 

Bagaimanakah kalau anda mengikutkan jejak saudara Yusra Habib Abdul Gani, yang pernahpun menjadi Asisten Professor Hariman Siregar, si Menteri Kehakiman Penjajah Indonesia Jawa, tetapi tidak mau meletakkah sebarang label akademika Indonesia Jawanya?

Tidak usah lagi hanya dengan mengecilkan P (besar) menjadi hanya sebagai p (kecil) atau kemudian S (besar) menjadi s (kecil), tetapi simpanlah dulu Drs atau SP anda itu, dikocek celana sebelah kanan!

 

Maka dengan demikian, dapatlah anda melihat Rangkang itu sebagai Rangkang, nama dari sebuah jenjang institusi pendidikan nasional Acheh, bukan sebagai jambo keumit padé atau tempat pijôh ureung pula kacang! Dan agar saudara Husaini Daud Sp dapat bisa mendapatkan ideology Acheh Merdeka dari beliau, selain dari Iqbal Idris.

 

Dan percayalah pepatah Acheh itu punya kekuatan! Pepatah Acheh itu adalah sebagai sebahagian dari adat Acheh! Cantuman dari Adat Acheh dan Islamlah itulah yang sesungguhnya yang memberikan kekuatan bangsa Acheh!

 

(bersambung : Plus III + Adat Singgong Langsung Dan Adat Singgong Menyayong)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway

----------