Stockholm, 20 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA, ITU SUPIADIN BEBASKAN RAKYAT ACHEH SETELAH DICEKOKI PANCASILA, MITOS RI-JAWA-YOGYA & HASIL REKAYASA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA, ITU MAYJEN TNI SUPIADIN YUSUF ADI SAPUTRA BEBASKAN RAKYAT ACHEH YANG DIANGGAP GAM & SIMPATISAN SETELAH DICEKOKI PANCASILA, MITOS RI-JAWA-YOGYA & HASIL REKAYASA

 

"Pengembalian para mantan anggota dan simpatisan ini kita lakukan dihadapan khalayak ramai juga dengan bertujuan, bahwa TNI tidak menyalahi janjinya bahwa bagi mereka yang menyerah tidak akan diperlakukan dengan buruk, dan ini juga bukan rekayasa” (Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra, kutipan Dharminta, 20 Juni 2005)

 

Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

 

Pagi ini, Dharminta wartawan Jawa Pos budek, mencoba melambungkan cerita pembebasan rakyat Acheh yang dituduh anggota GAM, simpatisan, dan setelah dilakukan pembinaan dalam LP-LP.

 

Kalau diteliti dari apa yang dilambungkan Dharminta dalam cerita hasil kutipannya itu, maka akan ditemukan beberapa poin yang mengarah kepada suatu usaha propaganda buruk yang dilakukan oleh pihak TNI di Acheh, melalui Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra ini.

 

Nah, ternyata dari cerita diatas paling sedikit ditemukan empat poin yang merupakan dasar dan alasan yang dipakai oleh pihak TNI di Acheh untuk melakukan propaganda dengan tujuan untuk menipu dan membohongi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Pertama, pihak TNI telah melakukan penangkapan rakyat Acheh yang dituduh sebagai simpatisan GAM, dimana jumlahnya tidak disebutkan berapa banyak.

 

Kedua, pihak TNI menyebarkan cerita anggota GAM yang menyerah lalu dimasukkan kedalam LP, tanpa diadili. TNI jarang berhasil menangkap pasukan TNA. Paling dipropagandakan pasukan TNA terbunuh dalam tembak-menembak, yang lainnya menyerah.

 

Ketiga, pihak TNI melakukan propaganda dengan menyebarkan cerita pembinaan dalam LP yang berisikan pencucian otak dengan cerita pancasila, mitos RI-Jawa-Yogya, dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Keempat, pihak TNI melakukan rekayasa dengan acara propaganda yang memakai tutup selimut hitam yang bernama pengembalian mantan anggota dan simpatisan TNA/GAM kedalam masyarakat.

 

Nah sekarang, kita lihat dan analisa dari empat poin diatas itu.

 

Pertama, TNI dan POLRI melakukan tindakan penangkapan orang-orang Acheh yang dituduh sebagai simpatisan setelah menerima cerita dari para cuak-cuaknya. Berapa banyak orang-orang Acheh yang dituduh debagai simpatisan, tidak dijelaskan oleh pihak TNI. Yang penting kalau ada cerita dari para cuak-nya TNI bahwa sipulan itu simpatisan TNA/GAM, maka langsung orang tersebut ditangkapnya.

 

Kedua, TNI dan POLRI jarang berhasil menangkap pasukan TNA, paling hanya diceritakan bahwa dalam bentrokan senjata, telah ditewaskan anggota TNA/GAM dan ditemukan beberapa butir peluru dan senjata. Sedangkan kalau ada yang dipropagandakan pasukan TNA tertangkap, itu karena adanya propaganda bahwa pasukan TNA menyerahkan diri. Kemudian, setelah menyerahkan diri, tidak dilakukan proses hukum, melainkan langsung didekamkan dalam LP.

 

Ketiga, ketika para simpatisan dan orang-orang Acheh yang menyerah pada TNI itu berada dalam LP-LP, lalu mereka terus dijejali dengan doktrin yang berisikan santapan pancasila dan cerita mitos RI-Jawa-Yogya yang dibumbui dengan cerita perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang telah diburuk-burukan. Dimana cerita mitos RI-Jawa-Yogya, pancasila dan cerita Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang telah diburuk-burukan itu disuguhkan kepada setiap rakyat Acheh yang mendekam dalam LP dengan tujuan untuk melemahkan dan menghancurkan kekuatan perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, dan agar supaya tanah Acheh tetap berada dalam pendudukan dan penjajahan RI-Jawa-Yogya dengan TNI-nya.

 

Keempat, ketika pihak TNI dibawah pimpinan Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra mempertimbangkan bahwa sudah saatnya untuk melambungkan propaganda didepan rakyat Acheh, maka dilakukanlah usaha rekayasa yang memakai selimut hitam bertuliskan ”Mereka sudah menyerah dan sudah menerima pembinaan dan sudah dinilai dan pantas untuk bisa bergabung kembali ke masyarakat, ya kita pulangkan mereka kepada keluarganya”. Dimana tujuan dari propaganda hasil rekayasa ini bermaksud untuk merobah image TNI dimata rakyat Acheh, dari image pembunuh menjadi image pelindung rakyat Acheh. Dan untuk menyatakan bahwa usaha TNI itu bukan hasil rekayasa, maka berpidatolah Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra: ”Pengembalian para mantan anggota dan simpatisan ini kita lakukan dihadapan khalayak ramai juga dengan bertujuan, bahwa TNI tidak menyalahi janjinya bahwa bagi mereka yang menyerah tidak akan diperlakukan dengan buruk, dan ini juga bukan rekayasa”

 

Nah, agar supaya usaha kedok rekayasa ini tidak terbongkar, maka Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Supiadin Yusuf Adi Saputra buru-buru mendeklarkan bahwa usaha pengembalian ini bukan rekayasa. Padahal memang sebenarnya usaha rekayasa. Mengapa ?

 

Karena yang dilepaskan itu hanyalah orang-orang Acheh yang dituduh oleh para cuak-nya TNI. Dan berapa orang Acheh yang simpatisan, dan berapa yang dituduh sebagai anggota TNA/GAM yang menyerah, itu semuanya tidak disebutkan oleh pihak Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra. Melainkan hanya cukup dituliskan ”Ke 64 mantan anggota dan simpatisan GAM ini juga dibekali dengan sehelai surat keterangan pengampunan, yang menandakan bahwa mereka sudah berhak kembali ke masyarakat setelah melalui proses pembinaan, serta mengucapkan ikrar tidak akan bergabung lagi dengan kelompok GAM.”. Kemudian tentang mantan TNA/GAM disebutkan saja ”mantan anggota GAM, Nurdin Ahmad, (50), mengaku sangat bahagia sudah bias kembali beraktifitas di masyarakat sebagaimana biasa”

 

Nah, dari yang 64 orang yang dibebaskan, rupanya hanya seorang yang dipropagandakan sebagai mantan anggota TNA/GAM, yaitu Nurdin Ahmad, (50). Sedangkan yang lainnya adalah hanya simpatisan.

 

Jadi, inilah propaganda yang secara gencar dilambungkan oleh pihak TNI. Dan tentu saja Ahmad Sudirman mengetahui itu propaganda yang dilambungkan TNI dalam usaha perang modern di Acheh, yang celakanya digembar-gemborkan oleh Dharminta wartawan Jawa Pos budek dari Jawa itu.

 

Dharminta, kalian mati kutu dengan propaganda TNI budek-Jawa-nya Jenderal TNI Djoko Santoso dan Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi saputra.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 19 Jun 2005 21:47:21 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: MEREKA MULAI SADAR BAHWA SELAMA INI JADI KORBAN AMBISI H.D.TIRO CS

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, alasytar_acheh@yahoo.com, apalahu2000@yahoo.co.uk, agungdh@emirates.net.ae, abdul.muin@conocophillips.com, ahmedjpr@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, as_fitri04@yahoo.com

 

MEREKA MULAI SADAR BAHWA SELAMA INI JADI KORBAN AMBISI H.D.TIRO CS

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara

 

MEREKA MULAI SADAR BAHWA SELAMA INI JADI KORBAN AMBISI H.D.TIRO CS.

Pengakuan Mantan Panglima Sagoe : “Bagimu negeri, jiwa raga kami…”

PENGGALAN lagu wajib nasional diatas, bukan dinyanyikan oleh murid sekolah dasar dalam sebuah upacara bendera. Bukan pula dinyanyikan oleh prajurit tentara yang sedang melakukan apel dilapangan. Tapi penggalan lagu wajib berjudul Bagimu Negeri ini dinyanyikan oleh 64 orang mantan anggota dan simpatisan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

 

Ke 64 mantan anggota dan simpatisan GAM ini, diputuskan untuk bisa kembali bergabung bersama anggota masyarakat setelah mendapat pembinaan oleh aparat keamanan. Salah seorang mantan anggota GAM, Nurdin Ahmad, (50), mengaku sangat bahagia sudah bias kembali beraktifitas di masyarakat sebagaimana biasa. “Dulu saya tidak bisa bebas beraktiftas di kampung, karena takut ditangkap aparat keamanan, jumpa sama keluarga saja juga tidak leluasa,” jelas Nurdin. Disebutkan Nurdin, dirinya sudah bergabung dengan kelompok GAM Bireun, sejak 4 tahun lalu.

 

“Saya diajak bergabung, katanya untuk meneruskan perjuangan para pendahulu untuk menegakkan agama Islam, jadi saya sangat setuju dan langsung ikut bergabung,” jelas Nurdin, yang kemudian diberi jabatan sebagai Panglima Sagoe Bireun ini. Namun, diakui Nurdin, sejak awal ajakan seperti yang ditawarkan ternyata tidak pernah dirasakannya. “ Tujuan perjuangannya saya nilai sudah menyimpang, oleh karena itu saya memutuskan untuk menyerahkan diri dengan dua pucuk senjata api saya serahkan kepada aparat keamanan,” jelasnya.

 

Kini Nurdin Ahmad dan 63 mantan anggota dan simpatisan lainnya, telah kembali ke masyarakat dan bias menjalankan aktifitas sehari-hari sebagaimana layaknya warga lainnya. “Kini saya sudah mulai tenang, bias beribadah dengan tenang, dan bisa mencarirezeki juga dengan tenang,” ujarnya.

 

Hal senada juga diutarakan oleh Fauziah (20). Fauziah kini mengaku lega, tidak lagi harus menjalani kehidupan dalam rasa ketakutan. “Dulu saya hanya ingin tahu apa saja kegiatan GAM, oleh karenanya saya menyetujui ajakan untuk ikut latihan fisik, tapi setelah ikut latihan sebulan, kemudian saya tidak aktif lagi,” ujarnya.

 

Ke 64 mantan anggota dan simpatisan GAM ini juga dibekali dengan sehelai surat keterangan pengampunan, yang menandakan bahwa mereka sudah berhak kembali ke masyarakat setelah melalui proses pembinaan, serta mengucapkan ikrar tidak akan bergabung lagi dengan kelompok GAM.

 

Suasana haru pun mewarnai kegiatan pengembalian para mantan anggota dan simptisan GAM ini kepada keluarga mereka. Ratusan warga yang merupakan anggota keluarga dan handai taulan, berbondong-bondong mendatangi Gedung Olah raga (GOR) Alun-alun Kota Sigli untuk menjemput anggota keluarga mereka.

 

Sementara itu, Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen (TNI) Supiadin AS, menyatakan bahwa upaya mengembalikan mantan anggota dan simpatisan kelompok GAM ini, memang sudah menjadi program dari pemerintah daerah dan TNI. “Mereka sudah menyerah dan sudah menerima pembinaan dan sudah dinilai dan pantas untuk bisa bergabung kembali ke masyarakat, ya kita pulangkan mereka kepada keluarganya,” jelas Pangdam.

 

Disebutkan pangdam, semua anggota dan simpatisan GAM yang akan menyerahkan diri akan dijamin keselamatannya. “Pengembalian para mantan anggota dan simpatisan ini kita lakukan dihadapan khalayak ramai juga dengan bertujuan, bahwa TNI tidak menyalahi janjinya bahwa bagi mereka yang menyerah tidak akan diperlakukan dengan buruk, dan ini juga bukan rekayasa,” jelasnya. “Saya yakin, jika semua anggota GAM menyerahkan diri dan senjata mereka, maka dalam waktu singkat , perekonomian masyarakat akan bisa menanjak secara drastis,” jelasnya.

 

Selain di Kabupaten Pidie, sebanyak 144 mantan anggota dan simpatisan GAM di Kabupaten Bireun pun sudah dikembalikan kepada masyarakat. Sementara kabupaten Aceh Timur dan Aceh Selatan direncanakan akan dilakukan pula hal yang sama (*).

----------