Sandnes, 20 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MENGADUK MANISAN DALAM WAYAN BOLONG

Husaini Daud Sp

Sandnes - NORWEGIA.



WET LADJU LAM BRUEK RUHUNG

 

Kali ini Razali Paya memulai tulisannya dengan: "Suatu yang menarik juga bagi kami: Antara saya, Omar Putéh meneruskan sebuah bentuk "diskusi" dengan saudara Husaini Daud Sp, sambil menyelang-nyelingkan tulisan-tulisan kami, walaupun mungkin terlanggar tobéng-tobéng kampong!"

 

Berdiskusi itu memang bagus kalau tujuannya untuk mencari kebenaran. Namun perlu dipertanyakan apakah Omar Puteh memiliki tujuan seperti itu ? Kalau tidak sebaiknya berhenti saja daripada melakukan hal yang sia-sia. Kalau maksud anda sekedar berdiskusi, kenapa tidak anda forward secara pribadi. Andaikata anda forward secara pribadi, musuh kita tidak mengetahui persoalan rumah tangga kita. Cobalah anda renungkan kembali siapa sesungguhnya yang memulainya dan siapa yang "teungeut".

 

Selanjutnya coba anda baca kembali cuplikan tulisan saya dibawah ini:

 

"Tubuh yang tidak bernyawa tak ada artinya disisi Allah, dimana tubuh itu akan menjadi santapan cacing-cacing tanah. Sementara nyawanyalah yang menjadi persoalan yang sangat significan. Justru itu pepatah tersebut akan sirna dengan kaca mata yang Islami:" Apalah artinya memiliki pusara tempat bersemayamnya tubuh, sementara nyawa mendapat siksaan disebabkan anak tersebut tidak tunduk patuh kepada Allah ketika nyawa masih menyatu dengan tubuhnya. Justru itu akan muncul "pepatah" yang Islami: "Biarlah hancur pusara biarlah hancur badan asal nyawa selamat di Akhirat nanti. Melalui "pepatah" seperti inilah bangsa Acheh - Sumatra berani melawan Sipa-i Jawa untuk syahid, kendatipun tubuh dan pusaranya tidak diketahui setelah diculik serigala-serigala haus darah itu (baca TNI/POL RI)."(Husaini Daud Sp Sandnes, 12 Juni 2005)

 

Coba baca dua atau tiga kali lagi dan lihatlah bahwa tulisan pepatah itu berada dalam tanda petik.  Itu maksudnya bukan pepatah tapi penjelasan yang Islami. "Biar hancur pusara, biar hancur badan asal nyawa selamat diakhirat nanti", bukan pepatah hai Razali Paya. Itu merupakan argumentasi yang menyatakan kelirunya pepatah yang anda lambungkan itu alias tidak logis.

 

Selanjutnya Razali Paya menulis: "Saya tahu pepatah Acheh itu sebenarnya berbunyi: Matée aneuk meupat djrat, mata adat hana pat ta minta! Tetapi bunyi pepatah ini telah digubah oleh Wali Negara, Tengku Hasan di Tiro, sehingga dengan gubahan itu dan bunyi pepatahnya menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, lebih patriotis, lebih progresip dan lebih dinamis! Jadi saudara Husaini Daud Sp bukan saya yang merobahnya, tetapi saya hanya menyunting belaka."

 

Sebutkan dari buku mana anda kutib sebelum saya berikan komentar selanjutnya mengenai hal tersebut. Besar kemungkinan anda menjual nama wali demi membenarkan diri yang egois.

 

Razali Paya melanjutkan: "Pendapat Saudara Husaini Daud Sp, pun salah. Saya yakin bahwa, pepatah asalpun dapat dipastikan telah dicipta oleh seorang sastrawan-philosofis, bukan orang tanggung-tangung dan bukan orang calang-calang! Tentu pastinya seperti Made in Dayah Tjhik. Buktinya pribahasa atau pepatah itu terus berjalan mengikut masa yang sedang berlari kencang. Begitulah kiranya juga dengan gubahan itu, Made by Wali Negara in Sweden. Dan seperti inipun, bukan tidak mungkin seorang dari Rangkang dapat melahirkan sebuah pepatah yang punya kekuatan philpsofis juga."

 

Kenyataanya pepatah itu tidak logis sebagaimana telah saya jelaskan itu, buat apa anda menggunakan kata pasti made in inikah made in itukah sementara kenyataannya kosong. Sementara Rasulullah mengatakah: "Yang benar itu tetap benar walau keluar dari mulut anak yang ingusan". Hadist ini mengandung makna yang tersirat bahwa yang salah itu tetap salah kendatipun keluar dari mulut yang menamakan diri Filosof.

 

Selanjutnya kalau Razali Paya menganjurkan saya agar menjesuaikan diri dengan Acheh Merdeka, sepatutnya dia itu harus duluan menjerupai Acheh Merdeka. Namun kenyataannya dia itu keliru 180 derajat dan memiliki perangai yang licik. Buktinya kami di Stavangar pernah dia tipu membuat meeting untuk latihan pelapisan di Internasional Hus. Kali ini saya cukupkan disini dulu agar kelicikannya tidak terbongkar habis. malu ah diketahui orang luar. Namun kalau dia belum puas insya Allah terpaksa saya beberkan juga.

 

Ketika saya menghantam Husaini Bal'am, takterpikir seperti yang anda sangkakan, itu semata - mata untuk membedakan dengan Husaini-husaini lainnya. Kalau benar apa yang anda tuduhkan kenapa hanya sekali saja Drs itu saya gunakan. Adapun Sp yang saya tuliskan sampai hari ini dibelakang adalah singkatan nama kampung tempat saya lahir yang masih perlu saya rahasiakan sampai hari ini, bukan sarjana pendidikan sebagaimana tuduhan anda. Saya juga tidak dilahirhan di Teubeng. Teubeng juga tidak ada hubungannya dengan Tobeng sebagaimana ocehan Razali Paya.

 

Begitu juga Paya yang saya tuliskan dibelakang nama kamu saya ketahui itu panggilan baik dari teman-teman yang lain, namun kamu rupanya penuh sha'wasangka, Masya Allah.

 

Kemudian anda juga membawa - bawa nama Yusra Habib untuk membeladiri. Perlu saya sampaikan untuk mengimbangi ocehan kamu bahwa ketika Pemuda-pemuda Acheh di Stavanger yang pernah kontraversi dengan anda menanyakan perihal anda kepada Yusra Habib, jawabannya adalah sebaiknya Razali Paya itu mati dulu, barulah mengakui kesalahannya. Orang yang menginfokan saya berani bersumpah dalam hal ini, bukan macam anda yang suka pada hal yang belum pasti.

 

Sebetulnya masih banyak ocehan kamu yang saya anggap tak perlu saya tanggapi. Soalnya persis bagaikan orang mengaduk manisan dalam wayan bolong (wet ladju lam bruek ruhung).

 

Billahi fi sabililhaq

 

Husaini Daud Sp

 

husaini54daud@yahoo.com

Sandnes, Norwegia.

----------