Stavanger, 23 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS IV + MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 DAN 4 ACHEH SUMATRA - INDONESIA JAWA DARI LUARAN

Omar Puteh

Stavanger – NORWEGIA.



MASIH MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 DAN 4 ACHEH SUMATRA - INDONESIA JAWA DARI LUARAN

 

Motto: Adat Acheh dengôn Islam, lagee zat deungôn sifeuet, lagee kulét deungôn asoë!

(Adat Acheh dengan Islam , seperti zat dengan sifat, seperti kulit ari dengan isi!)

 

Berdiskusi dengan Saudara Indra J. Piliang dari Peneliti Departemen  Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategy and International Studies (CSIS).

 

Saudara Indra J-Piliang kelihatannya anda sama seperti saya, coba  membaca dari luaran 7 point Press Release dari International Crisis Management pimpinan Tuan Martti Ahtisaari Mantan Presiden Finlandia.

 

Dalam paparan anda: Kompas, Senin 13 Juni, 2005, berjudul: “Acheh dan Internasionalisasi RI”, diantaranya disana tertulis suatu expose gagah-berani dari anda:

 

1. “Adanya kelompok yang menentang jalan damai, menunjukkan kebutaan sejarah RI. Sikap ahistoris itu mungkin lahir, karena lapisan politisi yang tiba-tiba menjadi vokal itu, bukan bahagian kelompok negarawan yang berpikir lintas zaman dan lintas generasi...”

 

2. Pseudo-nasionalisme dan Etno-nasionalisme.

 

Nah, baru saja beberapa hari berselang, setelah expose gagah-berani  anda itu, kelihatan banyak para lapisan politisi ahistoris yang tiba-tiba menjadi vokal itu, yang masih juga tidak pernah tahu berpikir ikut lintas zaman dan lintas generasi, pada kegerahan sendiri, diantaranya

Gubernur Lemhanas Ermaya Suradinata.

 

Dalam konteks ini, saya kira penting sekali, kalau kita mengutamakan diskusi masalah Psedu-Nasionalisme dan Etno-Nasionalisme. Baik (Psedu/Etno?) Nasionalisme Acheh ataupun Pseudu-Etno Nasionalisme Indonesia Jawa Chauvinis.  Saya pasti sependapat dengan anda dalam hal masalah Negara Acheh Sumatra dan Internasionalisasi masalah konfliknya dengan Indonesia Jawa Chauvinis. Atau masalah kemerdekaan Acheh dan masalah penjajahan

Indonesia Jawa Chauvinis.

 

Sebagaimana telah kami ingatkan kepada badan-badan peneliti, riset, ataupun penganalis masalah konflik kemerdekaan Acheh dengan Penjajah Indonesia Jawa Chauvinis atau yang berkaitan dengan penganalisaan lanjut, telah selalu suka mengrekomendasikan agar wajib semua para peneliti, periset atau para penganalis mengetahui dengan betul dan cermat tentang

sejarah Acheh dan juga sejarah Indonesia Jawa Chauvinis.

 

Maka dengannya khusus bagi anda, ianya akan menuntun anda menjadi kelihatan lebih gagah dan lebih jentelmen ketika membuat sebarang kesimpulan itu.

 

Acheh yang telah wujud sejak pemerintahan Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528) atau sejak 453 tahun sebelum Belanda menganugrahkan “peta” wilayah jajahan Hindia Belanda kepada anak-anak Jawa Chauvinis ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam pada 27 Desember, 1949, sebagai tapak Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat (RIS), sebuah negara ciptaan Penjajah Belanda.  Tapak negara RIS itu hanya sempat tegak selama 231 hari saja, sebelum dileburkan oleh Etno Nasionalsimenya Jawa Chauvinis, NKRI!

 

Peta Wilayah Negara Acheh yang Merdeka dan berdaulatpun ikut diserahkan, walaupun rakyat Acheh tidak pernah ikut menjadi negara anggota RIS itu sehingga wilayahnya itu kemudian, secara licik dicaplok pada 14 Agustus, 1950 oleh Soekarno si Penipu licik Cs.

 

Peta Wilayah Negara Acheh, baru dimasukkan dalam bingkai Peta Wilayah jajahan Hindia Belanda, sejak 26 Maret, 1873, sejak tentara agressor KNIL Belanda dan ribuan tentara upahannya: Anak-nak Jawa Chauvinis, pembunuh bayaran mereka, menyerang Negara Acheh Sumatra.  Saudara Indra J. Pilliang dimanakah ketika itu Indonesia atau Pseudo-Indonesia?

 

Kewujudan Negara Acheh, bersamaan dengan kewujudan nasionalismenya, seperti kewujudan Iman dengan Islam!  Nah, itu sebabnya Acheh itu tidak pernah melintasi era Pseudo-Nasionalismenya.

 

Karena sebaik putra Acheh dilahirkan maka telah disunatkan dengan mengazankannya demikian pula setiap putri Acheh dilahirkan maka disunatkan dengan menqamatkannya. Dan kemudian baik putra ataupun putri Acheh yang masing-masing telah diazan dan diqamatkan, mereka pula telah diadatkan dengan dendangan dalam buaian yang menuntun dan mendidik mereka dari buaian hingga ke liang lahat:

 

(1). Dô kudôda idang seulayang blang ka putoih taloë, beuredjang rajeuk banta seudang, beudoh muprang bila bansa (nangroë), [sayang, sayang anakku sayang, lelayang bendang putus benangnya, cepatlah besar anakku sayang, pergilah berperang bela bangsa (negara)]....

 

(2). Laailaa 'haillallah, kalimah taibah beuna sadjan, meukôn sakét that geutung djawong, han so tanjong sjeedara tanna, waréh kaöm han ék geubantu kalimah “Hu” beuna sadjan! [laailaa 'haillallah, kalimah taibah (taubat) dalam zikiran, karena tahu sakit sungguh direnggut nyawa, tidak seorangpun datang pergi bertanya, saudara pun tidak waris-kaum pun tidak, tidak seorangpun dapat datang membantu, selain hanya kalimat “Hu” dalam zikiran!]

 

Demikianlah Islam dan Adat senantiasa tidak pernah bisa dipisahkan dalam kehidupan budaya Acheh!

 

Disini saudara Indra J. Piliang bisa melihat bahwa, Islam itu telah memberikan roh azan dan roh qamat kedalam adat, kedalam jiwa-jiwa anak-anak bangsa, putra-putri Acheh.  Dan Islam dan adat Acheh itu, kemudian telah memberikan hak yang sama (equality) kepada putra dan putrinya setelah ditanamkan nasionalisme kedalam diri mereka untuk mengambil tanggung

jawab bersama membela bangsa dan membela negara!

 

Hal yang demikian terus berlangsung generasi demi generasi.  Atau dengan kata lain pembinaan nasionalisme dalam jiwa anak-anak bangsa, putra-putri Acheh tidak pernah berhenti sedetikpun, dengan dinamikanya, sehingga dunia kiamat!

 

Jadi adat Acheh dan Islam itu atau Islam dan adat Acheh itu, saling rajut-merajut diantaranya dan saling tunjang menunjang.

 

Mungkin saudara Indra J. Piliang akan menayakan mengapakah Acheh itu hampir hilang kemerdekaannya?

 

Karena yang mengangkat diri mereka sebagai “oelama” telah coba menjauhkan atau meninggalkan adat, ketika para pemimpin pejuang kemerdekaan Acheh telah banyak yang rebah-syahid.  Mereka telah mulai membesarkan serban, memanjangkan janggut, menyingetkan kupiah dengan gaya wibawa berjalan termangguk-mangguk lagee leubee teungeuet!

 

Mereka itulah, “oelama-oelama” dan dari keturunan mereka-mereka yang pernah minta izin dari Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Amin, agar diizin tidak pergi berperang dengan dalih untuk mengasikkan diri membesarkan serban, memanjangkan janggut dan menyingetkan kupiah, coba menjauhkan atau meningalkan tanggung jawab adat membela bangsa dan adat membela negara akan putra-putri Acheh.

 

Tengku Hasan di Tiro pulang dan mengajarkan bangsa Acheh agar  mengenal adatnya, mengenal bangsanya kembali. Tengku Hasan di Tiro kembali menuliskan sejarah (adat) bangsanya!  Beliau menggubah tulisan pepatah lama: “Matee aneuk meupat djeuarat, matee adat hana pat ta minta” (Mati anak berpusara, mati adat akan hilang terbang kealam maya menjadi “ Matee aneuk meupat djeurat, matee adat gadoh merdehka! ( Mati anak berpusara,

mati adat hilang merdeka!)  Yang demikian ini, hal merdeka itu, tidak pernah diajarkan lagi kepada anak bangsa, putra-putri Acheh oleh "oelama-oelama" itu.

 

Jika saya menuliskan suntingan pepatah gubahan baru Tengku Hasan di Tiro itu, yang sedemikian rupa mungkin saudara Indra J. Piliang kembali menanyakan lain pula.

 

Tengku Hasan di Tiro tidak pernah akan memikirkan dimana letak pusara diri beliau, apakah diawang-awang setelah menjadi asap atau setelah menjjadi debu, tetapi beliau senantiasa memikirkan bangsa Achéh musti kembali kepada adatnya: Merdeka!  Jangan terus dijajah oleh keturunan anak-anak Jawa Chauvinis ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, yang pernah ikut menyembelih 100.000 jiwa lebih Endatu (nenek moyang) bangsa Acheh.   Ini historis saudara Indra J. Piliang!  Ini fakta sejarah Acheh, dan bukan sejarah Indonesia Jawa Chauvinis.  Karena Acheh bukan Indonesia Jawa Chauvinis!

 

Beliau kembali memanggil putra-putri Acheh, agar kembali kepada adat tanggung jawab bersama membela bangsa dan negara Acheh, sebagaimana telah diadatkan oleh Endatu mereka sebelumnya.

 

Adat menggerekkan bendera Alam Acheh (adat) pun musti dengan laungan azan (Islam)!  Kembali beliau mematrikan adat Acheh dengan Islam seperti zat dengan sifat seperti kulit ari dengan isi!

 

Saudara Indra J. Piliang!  Saya sudah masuk selangkah membicarakan sedikit masalah Alam Acheh atau masalah bendera Acheh dan Nasionalisme Acheh, sebagaimana anda telah singgung dari apa yang telah dibicarakan dan diagendakan di rundingan ke 3 dan ke 4 di Helsinki, Finlandia, sebagaimana saya  dan anda pun membaca lewat jendela Point 7 Press Release dari International Crisis Managementnya Tuan Martti Ahtisaari.

 

Sebelum saya mempersoalkan nasionalisme “Indonesia Jawa Chauvinis” dan bendera merah dan putihnya,  makanya juga perlu saudara jelaskan “historis” kapan wujud Indonesia Jawa Chauvinis itu dan nasionalismenya, sekaligus dengan “historis” nasionalisme Indonesia maupun nasionalisme Jawa Chauvinis masing-masing, sebagaimana anda tidak mau meninggalkan jalan dan perjalanan "historis" Indonesia Jawa Chauvinis atau kemudian

disebut sebagai RI, sebelum saya lanjutkan pengupasan lanjut apa itu “Indonesia” dan apa itu Jawa Chauvinis itu, dengan bendera merah dan putihnya Indonesia Jawa Chavinis itu.

 

Silakan saudara Indra j. Piliang dari Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan silakan!

 

(Besambung: Plus V + Membaca Isi Rundingan Ronde Ke 3 Dan 4 Acheh Sumatra -Indonesia Jawa Dari Luaran)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Stavange, Norway

----------