Sandnes, 24 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DIABOLOS MODEL INTELEKTUAL YANG TIDAK BERAQIDAH

Muhammad Al Qubra

Sandnes - NORWEGIA.



MENYOROT SEKITAR DIABOLOS YANG MERUPAKAN INTELEKTUAL YANG TIDAK BERAQIDAH

 

Tulisan yang dipancarkan dari dapur "Hidayatullah.com" itu sudahpun saya lihat sejak hari itu juga. Namun saya menunggu barangkali ada tanggapan yang konstruktif dari dari pihak lain yang memiliki ide yang sama. Ternyata sampai hari ini tidak ada tanggapan yang saya maksudkan kecuali dari pihak yang kontraversi yaitu Aguswandi, yang kebetulan orang Acheh.

 

Saya juga memang orang Acheh, namun kali ini saya berbicara atas nama hamba Allah. Kalimat ini kumaksudkan untuk menjelaskan kepada pembaca bahwa Islam sejati tidak mengenal batas toritorial. Dengan kata lain Islam bersaudara bukan karena sedarah, sebangsa dan setanah air, namun difokuskan pada Aqidah dan Idiology.

 

Tulisan yang berjudul "Diabolisme Intelektual" dari saudara Syamsuddin Arif itu memang benar bermanfaat bagi orang-orang yang mau berfikir agar tidak terperangkap dengan gagasan "intelectual" gadongan, yang terus berfikir tanpa mendasari pemikirannya itu pada garis yang telah dibentangkan Pemilik dunia ini yaitu Al Qur-an. Namun tulisan ini baru masuk dimensi "Ilmiah". Kita mengharapkan sangat kepada penulisnya semoga dapat meneruskan lanjutannya memasuki dimensi idiologis.

 

Hal inilah yang dikritisi Aguswandi melalui tulisannya: "Tidak ada dalam artikel-artikel itu jawaban terhadap masalah real politik di dunia yang misalnya bisa menjawab penindasan satu manusia oleh manusia lainnya. Misalnya penindasan oleh manusia yang mengakui dekat dengan Tuhan terhadap manusia yang dituduh jauh dengan Tuhan. Misalnya manusia di Aceh yang dituduh jauh dari Tuhan sehingga kena Tsunami dan ditindas oleh mereka yang katanya dekat dengan Tuhan."

 

Aguswandi benar ketika menghubungkan keberadaan "Hidayatullah" yang tidak berusaha untuk membantu Bangsa Acheh dari penjajahan Indonesia yang beridiology Pancasila. Sebaliknya malah bersatupadu atau bersekongkol istilah kasarnya dalam system thaghut tersebut sebagaimana pernah saya kritisi secara tajam dengan judul:

 

"DPP HIDAYATULLAH MINTA DAENG KALLA JATUHKAN HUKUM MATI BAGI KORUPTOR TETAPI SOEHARTO RAJA KORUPTOR DIBEBASKAN" . (Sandnes, 20 Mei 2005.)

 

Menolong bangsa Acheh tidak sama dengan menolong orang Acheh. Menolong orang Acheh yang ditimpa Tsunami adalah perkara mudah andaikata penjajah Indonesia dapat hengkang dari bumi Acheh. Namun disebabkan ulah TNI/POLRI sebagai ujung tombak Penjajah Indonesia Munafiq itu bersama hampir segenap organisasi yang berada dalam system thaghut tersebut (termasuk Pesantren) membuat propokasi murahan, membuat relawan Internasional menarik diri dari bumi Acheh - Sumatra.

 

Tulisan saudara Syamsuddin Arif yang dipancarkan dari "Hidayatullah. Com" itu benar disebabkan tidak lepas dari kontek Al Qur-an. Namun yang perlu kita pikir bahwa Al Qur-an saja tidak cukup tanpa adanya Rasulullah Muhammad saww sebagai pengejawantahannya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Tampa kehadiran Doktor Kesehatan yang tangguh, buku tentang pengobatan itu tidak akan efektif penggunaannya. Maksud saya bahwa Hidayatullah itu benar dalam Ilmunya namun sayangnya orang-orang yang memiliki Ilmu yang benar itu masih saja bersatupadu dalam system Indonesia Munafiq itu, disitulah kesalannya yang fatal ditinjau dari kacamata Idiologiy.

 

Kalau "Hidayatullah" masih saja menempatkan diri sebagai bahagian dari system Penjajah Indonesia itu, mereka itu termasuk dalam klasifikasi para Ilmuwan, bukan Idiolog. Apa bedanya antara Ilmuwan dan Idiolog ?

 

Ilmuwan tidak mau bertanggung jawab terhadap ketimpangan masyarakatnya. Ilmuwan itu bersifat netral terhadap realita, justru itu Penguasa dhalim sangat membutuhkan para ilmuwan untuk melanggengkan systemnya. Sebab para Ilmuwan itu tidak pernah berusaha untuk merobah realita yang timpang kepada yang seharusnya. Dengan kata lain para Ilmuwan senantiasa menyesuaikan diri dengan statusquo. Justru itu para ilmuan di hormati kendatipun berada dalam system dhalim sekalipun sebagaimana Ilmuwan-ilmuwan yang berada dalam system Indonesia Munafiq.

 

Seorang Ilmuwan yang peduli tentang kepedihan yang di alami kaum dhu'afa pasti akan menggalang kekuatan massa untuk ber Revolusi. Ketika itu dia berobah statusnya dari "Ilmuwan" kepada "Idiolog".Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa para Idiolog adalah para ilmuwan yang bertanggung jawab terhadap ketimpangan yang berlaku dalam negerinya. Mereka pantang bersatupadu dalam system dhalim. Mereka memilih jalan hidup yang "mendaki lagi sukar", sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan di dunia ini menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS,90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS,7:157&QS,90:12-18)).

 

Jalan yang mulus lagi menyenangkan adalah jalan qabil, jalan Namruz, Firaun, Jalan Kaisar-Kaisar di Roma, Jalan Abu Sofyan, jalan Muawiyah, jalan Yazid, Jalan orang-orang yang bersatu padu dalam system Thaghut Hindunesia-Jawa kecuali "Taqiah". Kesemuanya adalah jalan orang-orang yang mencari kebahagiaan di dunia ini diatas penderitaan orang lain.termasuk jalan para Filosof, Sufi dan Budayawan.

 

Mereka itu umumnya baik secara langsung mahupun tidak langsung, penentang ayat-ayat Allah. Mereka sekedar bereksistensi dan tak pernah beresensi. Manakala berbicara tentang negara Islam, Kedaulatan Allah, Sistem Allah sebagian mereka langsung menentangnya, sementara sebagian yang lain merasa grogi, memperlihatkan sikap yang tidak senang dengan mengemukakan berbagai dalih, tidak mungkinlah, mustahillah, mimpilah, dsb. Mereka mengaku diri sebagai orang beriman, Islam. Mereka sesungguhnya telah dinyatakan Allah dengan jelas dalam AlQuran Karim surat AlBaqarah ayat 8-20. Hal ini juga terdapat dalam surah Surah yang lainnya seperti Surah Al-Munafiqun dari ayat 1 sampai ayat 8 dan juga ayat-ayat di surah-surah lainnya.

 

Semua Rasul Allah adalah para Idiolog yang bertanggung jawab kepada ummatnya. Menurut 'Ali Syari'ati mereka adalah manusia - manusia yang ber "wajah merah", sementara para Filosof adalah manusia - manusia yang ber "wajah pucat". Justru itu para idiologlah yang mengikuti jalan para Rasul dan mereka inilah yang disebut Ulama yang sesungguhnya yaitu ulama warasatul Ambiya. Sementara para ilmuwan sering kali menamakan diri juga dengan nama "Ulama", namun dapatlah kita pahami sesungguhnya mereka itu adalah "Bal'am". Mereka adalah simbolisasi daripada Bal'am yang tinggi ilmunya di jaman Nabi Musa, namun bersatu padu dengan Fir'aun sebagaimana "Bal'am-bal'am" (alim palsu) yang menempatkan diri sebagai tukang fatwa dalam system Indonesia Munafiq.

 

Kembali kepada Syamsuddin Arif, Semoga saudara termasuk orang-orang yang belajar di barat, namun tetap kritis terhadap realita sehingga mampu untuk exis pada yang "haq". Anda mampu memahami esensi daripada Hadist Rasulullah untuk mencari Ilmu walau ke negeri Cina.   Kalau kemantapan idiology atau 'Aqidah belum kita miliki tentu kita akan masuk perangkap sesat sebagaimana saudara nyatakan yaitu cendekiawan bermental Iblis.

 

Billahi fi sabililhaq

 

Muhammad Al Qubra

 

acheh_karbala@yahoo.no

Sandnes, Norwegia.

----------

 

Diabolisme Intelektual

Diábolos adalah 'iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan

Oleh Dr. Syamsuddin Arif *

 

Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda 1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut 'kafir'? Di sinilah letak persoalannya.

 

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

 

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas.

 

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya.

 

Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

 

"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).

 

Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).

 

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur'an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

 

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.

 

Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

 

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)".

 

Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

 

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.

 

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146).

 

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

 

Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

 

Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.

 

Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.             

 

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah'wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta'uzz), menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-baghda'), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya'mur bi l-fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

 

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran.

 

Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri,  namun datang ar-Raniri, dan seterusnya.

 

Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a'lam.

 

*Penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman

 

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1971&Itemid=1

----------