Stockholm, 26 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA DIJON HANYA BERCUAP APA KATA BACHRUMSYAH KASMAN YANG BUDEK

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



HANTU MUBA DIJON HANYA BERCUAP APA KATA KAPOLRI ACHEH BACHRUMSYAH KASMAN YANG BUDEK

 

"Ha ha. Maling teriak maling. Sofyan Sofyan. Dasar raja celeng. Nggak ada lah yang percaya omongan kamu, Sofyan.Hampir semua mass media memberitahukan penembakan itu, dan juga pelakunya celeng-celeng tna itu. Jangan katakan media massa mendukung pemerintah, ini bukan jaman orba lagi, jadi media massa punya kebebasan penuh untuk mendukung atau mengkritik bahkan mengecam pemerintah dan aparat negara lainnya.Nggak ada kan kecaman itu? Itu tandanya mereka (mass media) juga punya data bahwa pelakunya memang celeng-celeng binaanmu itu, Sofyan. Omongan kamu bahwa penembakan itu dilakukan TNI dengan tujuan untuk mengenyahkan orang asing, benar-benar spekulasi tak berdasar yang memang satu-satunya kebisaan kalian itu. Nggak heran lah begitulah "tentara" lulusan wes ewes ewes ? Ha ha" (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Fri, 24 Jun 2005 16:43:35 -0700 (PDT))

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Hantu Muba Dijon ini adalah salah satu contoh manusia Jawa kowe yang hanya mengembek apa yang dicuapkan oleh Bachrumsyah Kasman.

 

Ketika pada hari Kamis, 23 Juni 2005 di Banda Acheh Bachrumsyah Kasman yang menjabat sebagai Kepala Polisi Daerah Acheh dengan jabatan Irjen Polisi bercuap bahwa pelaku penembakan Eva Yee Wayeung seorang staf International Federation Red Cross and Red Crescent Societies yang tertembak pada hari Rabu, 22 Juni 2005, pukul 20.30 di sebuah desa yang berjarak 3,8 kilometer dari pusat Kecamatan Lamno, Acheh Jaya, ketika sedang mengendarai Toyota Land Cruiser warna putih dan berlambang palang merah adalah kelompok GAM, maka hantu Muba Dijon langsung saja tanpa dipikir panjang bercuap seperti burung beo mengikut apa kata Bachrumsyah: "Ha ha... Maling teriak maling... Sofyan... Sofyan... Dasar raja celeng...Nggak ada lah yang percaya omongan kamu, Sofyan... Hampir semua mass media memberitahukan penembakan itu, dan juga pelakunya celeng-celeng tna itu... Jangan katakan media massa mendukung pemerintah, ini bukan jaman orba lagi, jadi media massa punya kebebasan penuh untuk mendukung atau mengkritik bahkan mengecam pemerintah dan aparat negara lainnya... Nggak ada kan kecaman itu? Itu tandanya mereka (mass media) juga punya data bahwa pelakunya memang celeng-celeng binaanmu itu, Sofyan..."

 

Nah, itu hantu Muba Dijon sambil cekikikan, dengan otak udangnya, tanpa ada perasaan malu dan pikiran jernih, dan mulutnya berceloteh tidak tentu arah, tangannya tunjuk kiri kanan, seperti ondel-ondel Jawa budek yang sedang main ketropak di pinggir Ciliwung.

 

Itu yang dicelotehkan hantu Muba bukan fakta dan bukti hukum yang kuat, melainkan hanya cerita budek dan gombal yang diluncurkan Bachrumsyah Kasman budek yang kerjanya hanya main tuduh saja.

 

Lihat saja, apakah yang dicuapkan Bachrumsyah Kasman itu adalah fakta dan bukti hukum yang kuat ? Kan tidak, melainkan hanyalah bentuk kata-kata gombal saja, seperti: "Pelakunya adalah kelompok GAM. Saat ini masih dilakukan pengejaran oleh TNI dan Polri"

 

Padahal mana pernah dilakukan investigasi yang bebas yang dilakukan oleh pihak independen. Dimana kejadian tertembaknya Eva Yee Wayeung pada hari Rabu, 22 Juni 2005 pukul 20.30, eh, satu hari kemudiannya, 23 Juni 2005, hari kamis, itu yang namanya Bachrumsyah Kasman sudah bercuap dengan telunjuk pendeknya mengarah kepada pihak TNA dan GAM. Kan budek itu yang mengaku Kepala Polisi Daerah Acheh ini.

 

Kapan itu dilakukan investigasinya, dan oleh siapa ? Dasar budek. Celakanya, apa yang dicuapkan oleh Bachrumsyah Kasman dicuapkan pula oleh hantu Muba Dijion budek sambil cekikikan: "Sofyan... Hampir semua mass media memberitahukan penembakan itu, dan juga pelakunya celeng-celeng tna itu... Jangan katakan media massa mendukung pemerintah, ini bukan jaman orba lagi"

 

Dasar pada budek. Hantu Muba Dijon, kalau memang itu mass media di Acheh dan di RI benar-benar independen dan jujur, maka tidak akan dengan seenak udel melambungkan cerita budek dan gombal Bachrumsyah Kasman sebelum dilakukan investigasi oleh tim yang independen.

 

Hantu Muba Dijon budek, itu mass media di Acheh dan di RI sebagian besarnya adalah hanya mencari berita gombal untuk dijual biar laku saja. Sebagian hidung para wartawannya bisa ditarik kemana saja, persis itu seperti wartawan budek Jawa Pos Matius Dharminta. Dia itu persis seperti burung beo budek yang mulutnya bercuap mengiktui apa kata tuannya.

 

Jadi hantu Muba Dijon, tidak ada bedanya ketika masa orde baru dengan masa Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ini dalam hal Acheh. Mereka para jurnalis ini hanya mengejar sensasi berita yang memberikan keuntungan bagi pihak Susilo Bambang Yudhoyono dengan TNI-nya, dan agar laku dijual dipasaran saja.

 

Coba tunjukkan di mimbar bebas ini berapa persen itu mas media di Acheh dan di RI menerbitkan cerita Acheh yang menguntungkan bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri ? paling hanya satu persen, itupun sudah besar.

 

Coba tunjukkan di mimbar bebas ini siapa wartawan di Acheh dan di RI yang menceritakan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang sedang memperjuangkan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh dengan benar dan jujur ?

 

Tidak ada seorangpun wartawan di Acheh dan di RI yang berani menceritakan secara benar dan jujur tentang perjuangan Wali Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia yang sedang memimpin perjuangan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh.

 

Coba tunjukkan di mimbar bebas ini kalau ada seorang saja wartawan dari mass media di Acheh dan di RI yang berani menyuarakan dan menulis secara benar dan jujur tentang perjuangan Wali Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia yang sedang memimpin perjuangan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh ?

 

Sampai kiamat tidak akan ada wartawan dari mass media di Acheh dan di RI yang berani menuliskan secara benar, terang, jelas dan jujur tentang perjuangan Wali Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia yang sedang memimpin perjuangan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh.

 

Jadi hantu Muba Dijon, janganlah kalian secara sok mengatakan: "Jangan katakan media massa mendukung pemerintah, ini bukan jaman orba lagi, jadi media massa punya kebebasan penuh untuk mendukung atau mengkritik bahkan mengecam pemerintah dan aparat negara lainnya"

 

Itu yang kalian katakan hantu Muba Dijon adalah perkataan gombal alias kosong. Mengapa ?

 

Karena mana ada wartawan di Acheh dan di RI yang berani mengkritik dan mengecam pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla bahwa TNI melakukan pembunuhan di Acheh dan perjuangan bangsa Acheh untuk kemerdekaan harus didukung penuh dan pihak pemerintah harus dikutuk dan harus dikecam atas tindakan penganeksasian dan penjajahan di Acheh.

 

Coba tunjukkan di mimbar bebas ini kalau ada seorang saja wartawan dari mass media di Acheh dan di RI yang berani mengkritik seperti yang dituliskan diatas itu. Sanmpai kiamat tidak akan kalian hantu Muba Dijon menemukan wartawan yang berani mengkritik seperti yang Ahmad Sudirman  katakan itu.

 

Jadi hantu Muba Dijon, kalau dalam hal pemutusan dan penjatuhan vonis atas siapa yang melakukan tembakan terhadap Eva Yee Wayeung seorang staf International Federation Red Cross and Red Crescent Societies sebelum dilakukan investigasi yang independen oleh tim yang independen, maka kalian tidak bisa menuduh dan menjatuhkan vonis seenak udel sendiri. Karena itu akan menjadi bumerang bagi kalian sendiri. Dan kalau kalian lakukan juga, maka kalian tidak ada bedanya dengan ondel-ondel budek dari ketropak Jawa betawi yang hanya berceloteh tanpa fakta dan bukti hukum yang kuat.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 24 Jun 2005 16:43:35 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: SOFYAN DAWOOD: THE SHOOTING OF A FOREIGN RED CROSS WORKER BY INDONESIAN SECURITY FORCES

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, tna.spokesman@gmail.com

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Ha ha... Maling teriak maling... Sofyan... Sofyan... Dasar raja celeng...

 

Nggak ada lah yang percaya omongan kamu, Sofyan... Hampir semua mass media memberitahukan penembakan itu, dan juga pelakunya celeng-celeng tna itu... Jangan katakan media massa mendukung pemerintah, ini bukan jaman orba lagi, jadi media massa punya kebebasan penuh untuk mendukung atau mengkritik bahkan mengecam pemerintah dan aparat negara lainnya... Nggak ada kan kecaman itu? Itu tandanya mereka (mass media) juga punya data bahwa pelakunya memang celeng-celeng binaanmu itu, Sofyan...

 

Omongan kamu bahwa penembakan itu dilakukan TNI dengan tujuan untuk mengenyahkan orang asing, benar-benar spekulasi tak berdasar yang memang satu-satunya kebisaan kalian itu... Nggak heran lah... begitulah "tentara" lulusan wes ewes ewes...? Ha ha...

 

Lucu juga peribahasanya : "Kill two troublesome birds with one stone." Itu artinya "Menepuk air di dulang muka sendiri terpercik" ya? Ha ha... Celeng kok ngomong Inggeris...

 

Eh, udah siap-siap pensiun ya...? Bentar lagi kan kalian mau nerima otonomi khusus... Jangan pulang ke NAD deh... nanti kamu dikuliti rakyat NAD yang kebenciannya kepada para pemain toneel asnlf sudah mencapai ubun-ubun itu loh... Hiiiyyy....

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------