Stavanger, 27 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS V + MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 Dan 4 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.



MASIH TERUS MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 Dan 4 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

 

Mengapakah saya katakan anda (Indra J.Piliang) gagah berani?

 

1. Karena jelas keberanian anda buat tantangan terhadap sekelompok: Para politikus nasionalis-Jawa Chauvinis, si Belanda Hitam dan neo-koservatif DPR (Volkskraad), Penjajah Indonesia Jawa yang menentang proses damai antara Negara Acheh Sumatra-Indonesia Jawa (NKRI).

 

Atau apakah anda masih tidak menyadari bahwa,  terlalu banyak para pejuang-pejuang HAM, yang sudah dihapuskan tampa pusara oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, diantaranya akibat kerja jahat dan biadab 3 Jenderal: (1). Jenderal Wiranto (2). Letjen Prabowo Subianto Djojohadikusumo dan (3). Letjen Sjafrie Sjamsoedin.

 

Tengok As-syahid Munir, yang rencananya akan membuka kejahatan terperinci Jenderal Endriartono Sutarto dan sederet para Jenderal-Jenderal Penjajah Indonesia Jawa Chauvinis lainnya yang terlibat menyembelih 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh khususnya, sudah dihapuskan.

 

Sebagai seorang peneliti dari CSIS tentu anda sudah maklum bahwa, penyembelihan 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh itu adalah merupakan diantara strategi gerakan genocida Penjajah Indonesia Jawa di Acheh!  Mengapakah anda belum juga lagi menuliskan strategi gerakan genocida Penjajah Indonesia Jawa terhadap bangsa Acheh itu dalam makalah CSIS?

 

Walaupun anda sudah disebutkan gagah berani, anda cuma perlu selangkah lagi menghampiri jejakan keberanian saudara As-syahid Munir itu.

 

(a) Karena anda belum lagi sempat memajangkan list-list keterlibatan sederetan panjang nama-nama para Jenderal-Jenderal Indonesia Jawa Chauvinis, si Belanda Hitam, termasuk orang yang terlibat langsung menyembelih As-syahid Munir: Jenderal A.M. Hendropriyono. Ingatkah anda, siapa yang telah meletakkan pangkat Jenderal-kontroversilnya itu?

 

(b) Karena anda masih lagi lari dan menyelinap disebalik "tembok" kalimat anda untuk melindungkan diri:  "Kita tentu tidak ingin kemerdekaan Acheh muncul dengan dasar diplomasi serupa"....

 

Saya sependapat dengan pengelola milis ini, Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman yang sudah membaca siratan misi tulisan saudara Indra J.Piliang itu, kemudian dengan kritikan keras beliau menyentil: "Walaupun Indra J.Piliang itu menyokong gagasan Yusuf Kalla lewat jalur perundingan damai tetapi, masih lagi mengatakan,  jangan sampai keinginan bangsa Acheh untuk menentukan nasib sendiri terlaksana".  Kemudian dengan geram pula beliau menyimplak lagi: Inilah kemunafikan dari saudara Indra J.Piliang!

 

Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman sudah bangun menolong membetulkan saudara Indra J.Piliang yang seperti plintat-plintut itu, tetapi anda belum bangun mengucapkan terima kasih pun kepada beliau itu.

 

Nampaknya anda terpaksa buat kerja penelitian lain lagi: Apakah anda dengan sadar atau tidak, dengan sengaja atau tidak, tetapi sudah membina diri anda menjadi munafik, menjadi hipokrit?  Apalagi anda selaku Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah institusi yang paling berprestige di Indonesia Jawa, yang sepatutnya anda tidak perlu menuliskan sedemikian rupa lagi!

 

Makanya apa yang baru anda lakukan itu, disifatkan sebagai masih kurang "selangkah"  dari keberanian As-Syahid Munir itu.

 

2. Karena anda perlu ketahui bahwa Pejajah Indonesia Jawa atau praktisnya Penjajah Jawa Chauvisnis cq Jenderal-Jenderal Jawa, telah diklasifikasikan oleh para sejarahwan kedalam kategori: Penjajah Ultra Ortodox, yang Jenderal-Jenderalnya lebih kejam, lebih biadad dan lebih tidak berprikemanusiaan, melebihi Jenderal-Jenderal Penjajah Ortodox Spanyola dulu di Latin Amerikana.

 

3. Karena dengan anda mengexposekan Pseudo-Nasionalisme dan Etno-Nasionalsime, dalam diskusi ini, berarti anda sedang membeberkan, kebohongan sejarah “Indonesia Jawa”, sejarah "Indonesia Jawa" yang ahistoris, yang sudah ditukangi (fabricated) itu, lewat Prof Mohammad Yamin SH, Pusat sejarah Militernya: Brigjen Prof Dr Nugroho Notosusanto,  LIPI  lewat Lemhanas ataupun CSIS.

 

Saudara Indra J. Piliang, sebagai seorang Peneliti Departemen Politik Dan Perobahan Sosial pada Centre for Strategicand International Studies (CSIS) tentunya anda telah siap berdiri pada posisi dengan kapasity penuh, untuk menela'ah struktur-struktur timpang terhadap Pseudo-Nasionalisme dan Etno-Nasionalisme Penjajah Indonesia Jawa.

 

Untuk materi analis lanjut anda, dalam kontek Pseudo-Nasionalisme dan Etno Nasionalisme yang telah anda sebutkan dalam makalah anda itu dan yang akan kita bicarakan sekarang dalam diskusi kita disini, telah mengundang sebuah pertanyaan:  Mengapakah saya mengatakan bahwa kewujudan Negara Acheh bersamaan dengan kewujudan nasionalismenya, seperti Iman dengan Islam?

 

Karena sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya pada: Plus IV + Membaca Isi Rundingan Ke 3 dan 4 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran bahwa, nasionalisme Acheh itu, telah dibina dan terbina sebaik mereka dilahirkan, sebaik mereka ditimang dan dibuaikan, dalam bumi wilayah daulat negara Acheh yang telah berdiri tegak, sebagai kehendak adat, sebagai kehendak alami!  Generasi demi generasi, tidak pernah berhenti, terus in revolving.   Jadi kebangsaan Acheh itu terus hidup dengan dinamikanya. Terus hidup dengan filosofinya!

 

Sudah tentu anda paham apakah itu yang saya maksudkan dengan adat dan apa itu dengan alami, apalagi anda seorang peneliti dari CSIS!  Dalam diskusi ini, saya tidak mau anda, saudara Indra J. Piliang, tercircling menjadi sebagai sebuah perumpaman Acheh: Ta 'kheuen bodoh ' ok teukoh, ta 'kheuen bangai sikula pi na!

 

Nah, sekarang bagaimana dengan Pseudo-Nasionalisme Indonesia itu?

 

(1). Soekarno si Penipu licik telah menukangi sejarah Jawa diantaranya dengan memodifikasikannya menjadi sejarah Indonesia. kemudian mengatakan bahwa Indonesia itu berakar sejarah dari zaman Majapahit, Pseudo Nasionalisme Indonesia?

 

Sebenarnya "Indonesia"-Majapahit telah terkubur sejak 1364, sejak matinya Gajah Mada dibunuh oleh tentara Negara Benoa, Kuala Simpang-Acheh. Mayatnya dilayari ke Pulau Buton, Sulawesi.  Mayatnya yang ditanam disana itu, telah mengubah struktur bawah tanah Pulau Buton itu menjadi Aspal Hitam, walupun kemudian diisuekan lain pula oleh Pro. Mohammad Yamin SH bahwa, gypsum wajahnya menjadi model patung Gajah Mada.

 

Ratusan tahun setelah kematian Gajah Mada, kemudian dikatakan pula bahwa, Raden Trunojoyo, sebagai waris tahta Majapahit terakhir, telah dibunuh pula oleh Amangkurat II, pada 27 Desember, 1677, 272 tahun sebelum KMB meyerahkan wilayah jajahan Hindia Belanda kepada anak-anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, yang tentaranya sementara sedang menungguin perkebunan-perkebunan Belanda dan Belgia di Sumatra Utara dan Acheh, untuk memblackmailkan sidang konferensi itu, sama seperti 50.000 lebih ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, sementara sedang meneruskan stratetegi gerakan genocida di Achehuntuk memblackmailkan sidang damai di Helsinki, Finlandia.

 

Lantas bagaimana dengan Pseudo-nasionalisme Indonesia Jawa, versi Majapahit ini Indra?

 

(2). 20 May, 1908 kebangkitan bangsa Jawa atau nasionalis Jawa. Tetapi dari pihak kalangan gerakan komunis mengatakan bahwa,  itu bukan gerakan kebangkitan bangsa Jawa atau Jawa nasionlisme, tetapi gerakan sang Priyayi, karena kebangkitan itu, hanya kesadaran dari segelintiran kalangan Priyayi saja.

 

Kesadaran inipun datangnya setelah mempelajari, mengapakah bangsa Acheh bisa sanggup mengalahkan kuasa Eropah cq Belanda 35 tahun yang lalu atau tepatnya 22 April, 1873.

 

Lantas bagaimana dengan Pseudo-nasionalisme (kebangkitan) bangsa Jawa atau nasionalis Jawa itu, kemudian bisa disunglap menjadi sebagai Pseudo-nasionalisme Indonesia, Indra?

 

3. Dr Mohammad Hatta, telah mengatakan semua gerakan politik orang Jawa adalah semata-mata untuk membela kepentingan bangsa Jawa, sebagaimana tulisan beliau itu, telah diungkapkan oleh putri beliau Dr Meutia Hatta, yang sekarang ini menjadi menteri Kabinet Susilo Bambag Yudhoyono. Tahun 1927 tercatat sebagai kebangkitan Nasionalisme Jawa!

 

So, 1928 adalah kebangkitan nasionalisme dari kalangan Pemuda-Pemuda Jawa, tetapi menjebak anak-anak muda luar Pulau Jawa yang terbawa kesana karena mengikut klap-klip lampu di kapal.  Tahun 1928 anak-anak Jawa, Pembunuh bayaran KNIL Belanda sedang menyembelih bangsa Acheh di Acheh.  Kapan bangsa Acheh ada ikut bersumpah bersama monyong-moyong Jawa itu?

 

Lantas bagaimana dengan Peusudo-nasionalisme (kebangkitan sebenarnya) bangsa Jawa, dikatakan sebagai kebangkitan "Indonesia".  4 Juli, 1927 adalah kebangkitan bangsa Jawa!

 

4. Dr Pramoedia Ananta Toer, sudah mengatakan bahwa Indonesia itu saja tidak sah, apalagi negaranya.  Lantas dimanakah letaknya nasionalisme Indonesia itu? Psseudo-nasionalismenya dimana Indra?

 

5. Pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni, 1945, Soekarno dalam pidatonya yang dipersiapkan oleh Prof Soepomo SH dan Prof Muhammad Yamin SH, masih lagi mengajak para hadirin mencari identity negara Indonesia, masih mencari nasionalismenya.  Menela'ah pidato Soekarno si Penipu licik pada 1Juni, 1945 itu, berarti ketika itu, berarti "Indonesia" belumpun ada Pseudo-nasionalismenya.  Bagaimana cerita nasionalisme Indonesia itu, Indra?

 

6. K.H. Muso yang berjuang untuk mewujudkan USSR Jawa, sekembalinya dari Moskwa pada tahun 1948 belum jelas apakah itu Peusudo-nasionalisme Jawa atau Pseudo-nasionalisme Indonesia ?  Semua anggota-anggota pergerakan merah itu, masih berpegang pada prinsip komunisme tulen bahwa, kolonialisme-imperialisme adalah rantaian dari kapitalisme dan feudalisme, sebagai musuh komunisme!  Jadi mereka bukan memandang kolonialisme sebagai musuh nasionalisme, tetapi sebagai musuh komunisme!  Dalam ideologi komunis adalah internasionalisme!

 

7. Prof Dr.W.A.L.Stockhof dan Drs J.P. van Kerkhoft menyimpulkan bahwa Indonesia itu baru dikenal sekitar anntara 1945 dan 1949.  Lantas sebagaimana yang sudah dikatakan Dr Mohammad Hatta, bahwa seluruh kegiatan politik politikus-politikus Indonesia Jawa adalah untuk kepentingan bangsa-bangsa Jawa dibawah tahun 1945 semata.

 

Kesimpulan Pseudo-Nasionalisme dari dua ahli sejarah Belanda yang negaranya pernah menjajah Jawa selama 353 tahun pun belum tahu pasti tahun sebenarnya Pseudo- nasionalisme Indonesia.

 

Yang telah matang nasionalisme nusantara ketika itu adalah Tan Malaka, seorang komunis (Leon) Trotskyist (komunis demokrat) beliaulah sosok tubuh yang menganggap bahwa kolonialisme itu adalah musuh nasionalis-nasionalis.  Beliau dibunuh oleh anak Jawa agen suruhan rahsia KNIL Belanda, dan hilang tampa pusara.

 

Lantas bagaimana dengan Peusudo-nasionalisme ini, untuk dijadikan titik tolak nasionalisme Indonesia (Jawa)?

 

8.15 Agustus, 1950 dengan menggunakan platform RIS: PP RIS No 21/08/1950, Soekarno si Penipu licik dari negara bahagian Republik Indonesia Jawa-Jokya, meleburkan Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI).  Gerakan seperatis, gerakan pemisahan diri inilah kemudian disebut gerakan Etno-Nasionalisme Indonesia, yang sebagaimana anda maksudkan diatas.  Saya tahu anda sebelumnya tidak tahu, yang manakah dimaksudkan dalam sejarah Nusantara sudah tercatatat sebagai Etno-Nasionalisme. Etno-Jawa Nasionalis Chauvinis Nasionalisme!

 

Nasionalisme Indonesia-NKRI itu, sebagaimana juga telah disitir dalam tahun 1950-an oleh Tengku Hasan di Tiro dalam buku beliau: Demokrasi Untuk Indonesia bahwa, Nasionalisme Indonesia itu baru dibina setelah dipaksa wujudnya NKRI atau sebagaimana kita baca dari 7 point diatas, tidak ternampak pernah tumbuh benih Nasionalisme Indonesia disana, kecualilah setelah dengan paksaan dari NKRI.

 

Yang menentang pertama di Nusantara Nasionalisme Indonesia-NKRI adalah Ir C. Semoukil dari Republik Maluku Selatan dan langsung, menyebutkan NKRI adalah Penjajah Jawa! Silakan baca buku Maluku Berdarah terbitan Djawatan Penerangan tahun 1950-an.

 

Tetapi mengapakah sampai sekarang pengikut-pengikut RMS masih takut-segan mengatakan NKRI itu Penjajah Jawa.  Pengikut-pengikut Negara Acheh Sumatra (NAS) pun juga masih takut-segan untuk mengatakan NKRI itu Penjajah Jawa, tetapi asik dengan rezim Jakarta? Maca-macam tidak tahu beda arti penjajah dengan rezim.

 

Begitu juga kalau ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam yang begitu kejam, biadab dan tidak berprikemanusiaan, terhadap bangsa Acheh,  tetapi masih tidak mau mengutuknya, melainkan kalaulah boleh mengusap-usap dan mengelus-elus belakang badan si Belanda Hitam itu sambil mengatakan:  Janganlah kalian perlakukan bangsa Acheh demikian, sehingga bisa-bisa beta marah dan beta tendang dinding rumah.   Buat beta marah!

 

Ayoh RMS dan ayoh NAS/ASNLF/GAM kutuk itu NKRI/GOI dengan nasionalisme paksaannya!

 

Nasionalime NKRI inilah kemudian telah disebut oleh Omar Puteh dan Al Ustadz Ahmad Hakim Sudirman, sebagai Nasionalisme Indonesia-NKRI Paksaan!

 

Kita masih juga lagi membaca lewat jendela dari luaran Press Relase International Crisis Management pimpinan Martti Ahtisaari, yang Nasionalisme Indonesia -NKRI Paksaan, masih belum meninggalkan "model" paksaan klasiknya.

 

(Bersambung: Plus VI + Membaca Isi Rundingan Ronde Ke 3 dan 4 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa Dari Luaran)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------