Stockholm, 27 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, ITU KETUA MAHKAMAH AGUNG SALAH KAPRAH DALAM PELAKSANAAN HUKUM ISLAM DI ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



HANTU MUBA DIJON, ITU KETUA MAHKAMAH AGUNG BAGIR MANAN SALAH KAPRAH DALAM PELAKSANAAN HUKUM ISLAM DI ACHEH YANG MENGACU PADA HUKUM NASIONAL SEKULER

 

"Tentang "legalitas" hukum cambuk itu sendiri memang masih debatable. Salah satu suara dalam "debat" itu adalah suara Ketua Mahkamah Agung RI yang bilang bahwa masalah judi dan mabuk sudah diatur oleh hukum positif RI, jadi tidak tepat kalau hukumannya berdasarkan hukum wilayah atau adat atau khusus (Kamu pasti deh bilang "Ketua MA salah !". He he. Sudah bisa diprediksi lah otak orang yang tidak ngerti ilmu politik dan ketatanegaraan), sementara itu para pemuka NAD, para ulama, dan juga PJS Gubernur NAD, sangat mendukung pelaksanaan hukum cambuk itu. Adanya "debat" itu sama sekali bukan masalah bagi RI yang demokratis dan yang wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke itu" (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Mon, 27 Jun 2005 09:19:28 -0700 (PDT))

 

"Contoh wartawan yang obyektif dan menggali berita dari  lokasi atau paling tidak lewat koresponden-nya, ya Matius Dharminta itu. Lihat aja berita-beritanya yang sebagian diposting di mimbar bebas ini. Betapa akurat kan?" (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Mon, 27 Jun 2005 08:56:06 -0700 (PDT))

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Nah disinilah letak kesalahan daripada pihak Eksekutif, Legislatif dan Mahkamah Agung dalam hal hukum-hukum Islam dan pelaksanaanya tidak bisa dicampur adukkan dengan sistem hukum nasional yang bersumberkan kepada pancasila dan mengacu kepada UUD 1945 serta TAP-TAP MPR yang bukan bersumberkan kepada Islam dan Sunnah Rasulullah saw.

 

Kesalahan fatal inilah yang diakibatkan oleh kebudekan dari pihak anggota DPR yang membuat UU No.18/2001 dan pihak Megawati dengan konco-konconya dalam Kabinet Gotong Royong-nya, termasuk itu Yusril Ihza Mahendra yang pada masa Kabinet Gotong Royong-nya Mega memagang jabatan Menteri Hukum dan HAM.

 

Dan tentu saja, hantu Muba budek inipun mana tahu bahwa hukum Islam dalam pelaksanaannya tidak boleh dicampur adukkan dengan hukum lainnya yang sekuler. Dan memang tidak ada dalam sejarah Islam dari sejak Rasulullah saw membangun Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib sampai masa Khilafah Islamiyah Utsmaniyah hukum Islam dicampur adukkan dengan hukum sekuler, kecuali di negara sekuler burung garuda pancasila RI dibawah Megawati dan Susilo Bambang Yuhdoyono sekarang ini.

 

Hantu Muba Dijon, kalian memang buta, hanya mengembek saja kepada apa yang dicuapkan dan dikutak-katikkan oleh Mega dan Akbar Tandjung ketika mereka sibuk membuat UU No.18/2001 tahun 2001 yang lalu untuk diterapkan di Acheh.

 

Sudah jelas itu penerapan UU No.18/2001 salah kaprah dan menyesatkan serta menipu umat Islam saja.

 

Bagaimana benar menurut apa yang dicontohkan Rasulullah saw, itu Peradilan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Acheh Darussalam sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar'iyah yang bebas dari pengaruh pihak mana pun (Bab XII, pasal 25, ayat 1) dan Kewenangan Mahkamah Syar'iyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), didasarkan atas syariat Islam dalam sistem hukum nasional, yang diatur lebih lanjut dengan Qanun Provinsi Nanggroe Acheh Darussalam (Bab XII, pasal 25, ayat 2), serta Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan bagi pemeluk agama Islam (Bab XII, pasal 25, ayat 3). Sedangkan sistem peradilan nasional atau sistem yang mengatur segala sesuatu pengenai perkara pengadilan yang dijalankan dan dilaksanakan melalui Mahkamah Agung RI adalah hukumnya bersumberkan kepada pancasila dengan mempertimbangkan kepada UUD 1945 yang tidak bersumberkan kepada Islam, atau bersumberkan kepada nilai-nilai sekular.

 

Kan disini kelihatan itu Peradilan Syariat Islam di Acheh adalah sebagai alat penipuan bagi umat Islam di Acheh. Padahal yang telah dicontohkan Rasulullah saw adalah pelaksanaan hukum-hukum Islam seharusnya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh di negara yang hukumnya bersumberkan kepada Islam, bukan di Negara yang hukum nasionalnya bersumberkan kepada pancasila hasil kurtak-katik mbah Soekarno Jawa penipu licik.

 

Nah, karena kebudekan kalian hantu Muba dan itu Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dalam hal penerapan, pelaksanaan hukum Islam dalam negara inilah yang menyebabkan malapetaka dan kegombalan yang sekarang menimpa di negara sekuler burung garuda pancasila RI.

 

Coba suruh itu Ketua Mahkamah Agung dan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh Negara sekuler RI untuk memberikan penjelasan bagaimana menerapkan dan menjalankan syariat Islam dalam satu negara berdasarkan yang dicontohkan Rasulullah saw ?

 

Sampai kiamat itu Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh tidak akan mampu memberikan penjelasan tentang penerapan UU No.18/2001 yang dijadikan payung hukum penerapan syariat Islam di Acheh yang mengacu kepada hukum nasional negara sekuler pancasila RI yang sumber hukum negaranya mengacu kepada pancasila yang bukan diturunkan oleh Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

 

Karena itu wajar saja kalau itu Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan masih berdebat tentang masalah judi dan meminum minuman keras, karena memang budek itu yang membuat dan menetapkan UU No.18/2001 di Acheh. Atau itu Akbar Tandjung Batak dengan para keroconya yang membuat dan memutuskan UU No.18/2001 dan disahkan oleh itu Megawati untuk diterapkan di Acheh.

 

Jadi hatu Muba Dijon, justru yang harus banyak belajar tentang pelaksanaan dan penerapan hukum Islam dalam negara berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah saw adalah itu Ketua Mahkamah Agung di Negara pancasila dan kalian juga hantu Muba Dijon.

 

Karena ulah kalianlah itu umat Islam di Acheh jadi sesat dalam pelaksanaan hukum Islam, karena mengikuti payung hukum gombal menyesatkan UU No.18/2001 buatan Akbar Tandjung Batak dan gengnya di DPR tahun 2001.

 

Jadi hantu Muba Dijon, kalian yang sarjana budek ngaku lulusan ITB atau UI, mana kalian tahu mengenai penerapan dan pelaksanaan hukum Islam dalam negara yang mengacu kepada apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Paling kalian hantu Muba hanya mengembek saja kepada apa yang dicuapkan oleh Akbar Tandjung, Megawati, Bagir Manan dan itu Abdul Rahman Saleh. Dasar budek kalian itu.

 

Kemudian, itu hantu Muba ketika ditanya oleh Ahmad Sudirman: "Coba tunjukkan di mimbar bebas ini kalau ada seorang saja wartawan dari mass media di Acheh dan di RI yang berani menyuarakan dan menulis secara benar dan jujur tentang perjuangan Wali Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia yang sedang memimpin perjuangan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh ? Sampai kiamat tidak akan ada wartawan dari mass media di Acheh dan di RI yang berani menuliskan secara benar, terang, jelas dan jujur tentang perjuangan Wali Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia yang sedang memimpin perjuangan kemerdekaan negeri Acheh, agama dan bangsa Acheh." (Ahmad Sudirman, 26 Juni 2005)

 

Nah, itu hantu Muba bukan menjawabnya, melainkan hanya menyodorkan seorang pemain ondel-ondel ketoprak Jawa-betawi wartawan Jawa Pos budek Matius Dharminta sambil diberikan sedikit olesan minyak tengiknya yang diberi nama: "Contoh wartawan yang obyektif dan menggali berita dari  lokasi atau paling tidak lewat koresponden-nya, ya Matius Dharminta itu... Lihat aja berita-beritanya yang sebagian diposting di mimbar bebas ini... Betapa akurat kan?"

 

Lihat dan perhatikan, itu wartawan budek Dharminta yang disodorkan oleh hantu Muba yang dinamakan wartawan yang mempostingkan kutipan-kutipan sampah gombal tipuan dari tempat sampah-nya Bachrumsyah Kasman.

 

Hantu Muba, kalian memang sampai kapanpun itu otak kalian yang otak udang tetap saja otak udang. Mana bisa lagi dikuras dan dikurud bersih, paling yang bersih hanya batok kepalanya saja, sedangkan isinya tetap saja merupakan racun mitos mbah Soekarno Jawa-penipu licik. Dasar budek kalian hantu Muba. Berlagak mahu mempertahankan mitos mbah Soekarno tentang Acheh, tetapi sangat lemah dasar pegangannya, puter-puter saja disekitar Ciliwung dengan ondel-ondel budek-nya Dharminta yang dikeningnya ditempeli ampas mitos Acheh buatan mbah Soekarno Jawa budek penipu licik.

 

Lihat juga, mana itu berani para keroco dan cecunguk penerus Soekarno, termasuk para Jenderal TNI budek-Jawa untuk membuktikan secara hukum lelalui plebisit bagi seluruh bangsa Acheh di Acheh, untuk meyakinkan secara pasti, apakah memang benar bangsa Acheh ya ikut ekor penjajah Jawa, atau ingin menentukan nasib sendiri diatas pemimpin bangsa Acheh sendiri.

 

Para keroco dan cecunguk penerus Soekarno ini mana ada keberanian untuk melakukan plebisit di Acheh, karena dasar argumentasinya tentang Acheh hanyalah mitos gombal buatan Soekarno Jawa-budek saja.

 

Jadi jangan banyak bercuap hantu Muba Dijon, kalau kalian sampai detik ini hanya berpegang pada ranting rapuh mitos Acheh buatan mbah kalian Jawa-budek Soekarno penipu licik.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Mon, 27 Jun 2005 09:19:28 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: DHARMINTA ACUNGKAN PUKUL CAMBUK MODEL UU NO.18/2001 DIBELAKANG EKOR MBAK MEGA

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Kamu memang benar-benar mentah, Mad... Sarjana Psikologi gadungan dan programer isapan jempol...

 

Yang disampaikan Dharminta itu disampaikan juga oleh seluruh mass media di Indonesia...  mass media yang bebas dan bertanggung jawab itu loh, Mad... Jadi, berita itu adalah fakta lapangan... Kamu jangan iri tidak pernah ada berita "heroik" tentang raja bandit hasan tiro nan banci itu... karena hal "heroik" tentang dia itu cuma isapan jempol... itu hanya kultus individu orang-orang di sekitarnya, termasuk dan terutama kamu dan si warwick otak kosong itu...

 

Tentang "legalitas" hukum cambuk itu sendiri memang masih debatable. Salah satu suara dalam "debat" itu adalah suara Ketua Mahkamah Agung RI yang bilang bahwa masalah judi dan mabuk sudah diatur oleh hukum positif RI, jadi tidak tepat kalau hukumannya  berdasarkan hukum wilayah atau adat atau khusus (Kamu pasti deh bilang "Ketua MA salah...!". He he... Sudah bisa diprediksi lah otak orang yang tidak ngerti ilmu politik dan ketatanegaraan...), sementara itu para pemuka NAD, para ulama, dan juga PJS Gubernur NAD, sangat mendukung pelaksanaan hukum cambuk itu. Adanya "debat" itu sama sekali bukan masalah bagi RI yang demokratis dan yang wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke itu... Kami masih punya MK, Mahkamah Konstitusi... However, pelaksanaan hukum cambuk ini jelas-jelas tidak perlu menunggu greenlight dari hasan tiro yang dungu itu lah... Bilangin, jangan kegeeran dia... Kamu juga, sebagai warga negara Swedia, tidak elok lah jika  mencampuri pelaksanaan hukum RI yang wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke itu...

 

Jadi, saranku, perdalam saja deh ilmu menjual kacang rebusmu itu... Otakmu nggak bakalan nyampe lah ke hal-hal yang sedikit "canggih" itu, ha ha...

 

Sekarang, cuci kaki trus bobo...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------

 

Date: Mon, 27 Jun 2005 08:56:06 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: MUBA DIJON HANYA BERCUAP APA KATA BACHRUMSYAH KASMAN YANG BUDEK

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Ya iya lah... Nggak mungkin ada... Wong berita tentang bandit hasan tiro nan banci sebagai pemimpin perjuangan "bangsa aceh" itu cuma isapan jempol kok... Apalagi dengan membawa-bawa agama, hua ha ha... Ini benar-benar anekdot terlucu yang pernah kudengar,

Mad...! Mana bisa dipercaya seorang culas seperti bandit hasan tiro nan banci ini bicara agama? Jangankan bicara agama, bersikap empathy saja terhadap "rakyatnya" (hua ha ha... jangan geer lah yaw...!) tidak mau...! Jadi, sampai kiamatpun, mana ada wartawan yang mau memberitakan hal yang nyata-nyata hanya isapan jempol belaka...

 

Contoh wartawan yang obyektif dan menggali berita dari  lokasi atau paling tidak lewat koresponden-nya, ya Matius Dharminta itu... Lihat aja berita-beritanya yang sebagian diposting di mimbar bebas ini... Betapa akurat kan?

 

Wah... Logikamu udah kebalik-balik, Mad... Gini ya Mad... Kecuali celeng-celeng tna itu, warga NAD itu telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri, bebas dari ketidaknyamanan yang diakibatkan ulah sekelompok warga negara Swedia yang tergabung dalam group toneel

asnlf. Mereka juga telah sadar untuk bebas dari hasutan sesat dan iming-iming kosong group toneel itu... Tanya deh Matius Dharminta dan beberapa warga NAD yang nimbrung di mimbar aneh ini...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------