Stavanger, 29 Juni 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PLUS VI + MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 DAN 4 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.



MASIH MEMBACA ISI RUNDINGAN RONDE KE 3 DAN 4 ACHEH SUMATRA-INDONESIA JAWA DARI LUARAN

 

Saudara Indra J. Piliang!

 

Adakah anda paham apa itu nasionalisme? Saya tanyakan demikian, karena saya lihat anda seperti melempem-loyo dan tidakpun bersemangat ketika anda membicarakan masalah “nasionalisme” .  Membicarakan nasionalisme, tidak bisa asal cuap macam Endiartono Sutarto, si Penjahat perang itu, si Penjahat terhadap manusia dan kemanusiaan, yang dia ingat nasionalisme seperti membaca sapta marga, seperti Waljinah menyanyikan lagu walang kekek.

 

Saya telah katakan: Acheh membina Nasionalisme-nya sejak putra-putrinya dari buaian! Nasionalsime Acheh itu terbina bukan karena bangsa Acheh membaca sejarah bangsanya dan juga bukan karena melihat kepada tradisi-adat kehidupan sosio-budayanya, bukan!  Makanya nasionalisme Acheh sangat berbeda dengan nasionalisme Jawa apalagi dengan nasionalsime NKRI, seperti bumi dengan awang-awang!

 

9. Saya sunting kembali sealinea ucapan Jenderal Martono, Menteri Transmigrasi dan Indonesia dari The Ecologist London 2 Maret, 1968:

 

“Dengan cara transmigrasi ini, kami akan laksanakan apa yang telah kami janjikan: Untuk mengumpulkan satu bangsa, bangsa Indonesia. Suku-suku bangsa yang berbagai ragam ini lambat laun akan hilang karena integrasi dan akhirnya akan lahir satu jenis manusia Jawa!”

 

Itu sebabnya si Leonardus Benny Murdani dengan Sapta Margaismenya maukan setiap tapak koloni transmigrasi akan dijadikan wilayah strategis Sapta Margaisme demi "Satu Jenis Manusia Jawa".

 

Dari ucapan Jenderal Martono itu, adalah pertama sekali anda perlu memahamkan (1) apakah itu “bangsa Indonesia”? Dan kedua anda pelu pula memahamkan pula (2) apakah itu “satu jenis manusia Jawa” sebagaimana yang dimaksudkan oleh Program Supersemar , 11 Maret, 1966 dari gagasan-gagasan dua Lurah Semar atau seperti yang dikehedaki oleh The Blue Print of the Political Structure of Javanese Colonialism?

 

Dari urain diatas dapat kita simpulkan bahwa, “model” nasionalisme Indonesia yang mulai dicari: (1) Identiti-nya sejak Pancasila dilahirkan 1 Juni, 1945, (2) Menurut pendapat Prof Dr W. A. L. Stockhof dan Drs J.P van Kerkhoft nasionalisme Indonesia mulai dikenal sejak sekitar 1945 dan 1949, (3) Sejak RIS dilebur menajdi NKRI, 15 Agustus, 1950 dengan identiti: Etno-Nasionalisme Jawa Chauvinis atau Nasionalisme NKRI dan (4) Hingga Jenderal Martono meng-set up-kan “satu jenis manusia Jawa” sebagai jenis manusia Indonesia futuristik? pada 2 Maret, 1968 belum jelas berbentuk!  Malahan hingga menjelang perundingan ronde ke 5,pada 12 July, 2005, belum jelas juga berbentuk!

 

Atau sebabnya, karena sejak 20 May, 1998, sejak Suharto Kleptokracy, diseret turun dari kursi hegomoninya oleh Prof Dr Amien Rais dengan bantuan anak-keluarga Korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru?

 

Ataupun sebabnya, karena sejak 21 May, 1998 Suharto Kleptokracy , sedang sibuk dikursuskan dan dilatih oleh anak-anak dan keluarganya bagaimana membiasakan diri bisa segera menjadi “stroke” model Augusto Pinochét!  Dan juga dikursuskan dan dilatih bagaimana bisa berpikir menjadi gila, agar terlepas dari dakwaan di pengadilan.

 

Tentunya kalau anda, Indra J.Piliang hendak meng-Etno-Nasionalisme Jawa Chauvinis, musti kembali ke delta kali Brantas, ke zaman 1292!  Dan kalau tidak kembali ke Surabaya, ke 20 May, 1908 atau kembali ke Bandung, ke 4 July, 1927.

 

Tetapi Indra J.Piliang jangan silap ingat, apa yang dibuat oleh Suharto Kleptokracy sejak 1 Oktober, 1965 bukan menjurus kepada nasionalisme tetapi kepada “Saptamargisme”!

 

Suharto Kleptokracy pertama sekali menyatakan bahwa 1 Oktober, 1965 adalah Hari Kesaktian Pancasila. Dan kemudian susulan pernyataannya bahwa, Suharto Kleptokracy adalah Pancasila atau Pancasila adalah Suharto Kleptokracy, walaupun Soekarno si Penipu licik mengatakan 1 Oktober, 1965 adalah Hari Gestok! Hari Gestok adalah “Hari Saptamargaisme”! Hari Orde Baru!

 

Gestok=Sapta Margaisme=Orde Baru:

 

1. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih 3.000.000 jiwa lebih (baca:tiga juta lebih) dari nasionalis-nasionalis pengemban “nasionalisme Indonesia (Jawa)”: Buruh Fabrik yang tidak cukup makan dan Buruh Tani yang miskin!

 

2. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih 300.000-400.000 jiwa lebih bangsa Timor Leste!

 

3. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih 100.000 jiwa lebih bangsa Papua Barat!

 

4. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih puluhan ribu bangsa Maluku!

 

5. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih 70.000 jiwa lebih bangsa Acheh!

 

6. "Sapta Margaisme" adalah Orde Baru, yang menyembelih ribuan bangsa Poso yang Islam dan Kristen!

 

7. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih ribuan jiwa pemuda-pemuda yang bertatoo!

 

8. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih ratusan kaum Muslimin yang taat di Tanjong Periok!

 

9. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih ratusan kaum Muslimin yang taat di Talang Sari, Sumatra Selatan!

 

10. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, yang menyembelih ratusan kaum Muslim yang taat di projek irigasi di Madura!

 

11. “Sapta Margaisme” adalah Orde Baru, kumpulan penjahat perang, kumpulan penjahat terhadap manusia dan kemanusiaan!

 

Jadi Endriatono Sutarto itu, tidak tahu apa itu nasionalisme. Walaupun dia tahu apa itu: Etno-nasionalisme Indonesia Jawa NKRI atau nasionalisme Indonesia Jawa Chauvinis, sebagaimana yang kita baru sebut diatas hingga menjelang perundingan ronde ke 5 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa, masih belum jelas juga berbentuk!

 

Nah, saudara Indra J.Piliang, itulah sebabnya mereka-mereka yang anda telah sebutkan dari kelompok politikus yang mempunyai sikap ahistoris, yang buta sejarah, yang lahir karena tiba-tiba menjadi vokal, yang neo-konserfatif dan yang tidak mau berpikir ikut lintasan zaman dan lintasan generasi seperti kelompok Orde Baru: Sapta Margaisme, mereka sememangnya tidak tahu apa itu nasionalisme!

 

Saya ingat, masalah nasionalisme kita cukupkan hingga disitu dulu, tetapi begitupun akan kita selang -selingkan dengan yang lain, sewaktu kita membicarakan masalah bahasa nasional Acheh, Alam Acheh (bendera Acheh), lagu kebangsaan Acheh, uang Acheh, partai politik lokal di Acheh, amnesti Penjajah Indonesia Jawa, pengelolaan sumber alam Acheh, daya ekonomi Acheh, Internasional pasport Acheh, ABRI-TNI/POLRI, Tentara (Agresso) Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam yang musti keluar dari bumi Acheh tampa syarat, walaupun bekas tapak sepatunya!

 

Bumi Acheh, bumi bangsa Acheh, bumi yang melahirkan dan yang membina nasionalsime Acheh!

 

(Bersambung: Plus VII + Membaca Isi Rundingan Ronde ke 3 Dan 4 Acheh Sumatra-Indonesia Jawa)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------