Stockholm, 2 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA DENGAN ILMU SALIBNYA MAHU MAIN TIPU TENTANG NII

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA DENGAN ILMU SALIBNYA MAHU MAIN TIPU TENTANG NII

 

"Petinggi NII memang harus menyerah atau dipaksa untuk menyerah. Karena penggagas NII sudah jelas melakuka makar mendirikan negara di dalam negara, yakni negara NKRI. Soekarno tidak menghedaki terjadinya perang saudara di nederi ini (NKRI). Tapi ada kemungkinan kalau Kartosuweryo beserta jendralnya telah menyusun rencana sebuah peperangan untuk mewujutkan ambisinya mendirikan NII di dalam tubuh KNRI. Menurut aku demikian. Dan mohon ma’af kalau aku tak mau mengkorek-korek tong sampas seperti bung Asudirman.” (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Fri, 1 Jul 2005 22:48:58 -0700 (PDT))

 

Baiklah Matius Dharminta di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

 

Rupanya wartawan Jawa Pos budek Dharminta bergeliat seperti cacing kepanasan, ketika saudara Deden Abdul Rojak alias Rahman Khaidir di Bandung, Indonesia, mempertanyakan masalah Imam SM Kartosoewirjo dan NII-nya. Dimana Ahmad Sudirman telah menjawabnya.

 

Tetapi, itu Dharminta yang dikeningnya terlihat bayang-bayang salib mencoba untuk memberikan tanggapannya yang berbunyi: ”penggagas NII sudah jelas melakuka makar mendirikan negara di dalam negara, yakni negara NKRI”

 

Nah, ternyata setelah diteliti dan dianalisa lebih dalam, itu Dharminta ketika memberikan tanggapannya seperti diatas itu tidak ada disertakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya, selain menyatakan: ”mohon ma’af kalau aku tak mau mengkorek-korek tong sampas seperti bung Asudirman.”.

 

Lihat dan perhatikan, masalah yang sangat begitu penting yang menyangkut berdirinya Negara Islam Indonesia hubungannya dengan RI-Jawa-Yogya, tidak pernah dinyatakan berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat. Bagaimana mungkin Dharminta mampu memberikan jawaban yang benar dan berdasarkan hukum, kalau hanya bercuap menurut hasil pikirannya yang kosong itu.

 

Coba saja perhatikan, ketika Imam SM Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Cilugalar, kawedanaan Cisayong Tasikmalaya oleh Imam SM Kartosoewirjo pada 12 Syawal 1368 H / 7 Agustus 1949, itu yang namanya RI (bukan NKRI seperti yang dicuapkan Dharminta, karena pada tanggal 7 Agustus 1949 itu yang namanya NKRI jelmaan RI yang telah gemuk hasil leburan RIS, belum wujud) wilayah de-facto dan de-jure-nya di Yogyakarta dan sekitarnya, berdasarkan dasar hukum Perjanjian Renville 17 januari 1948.

 

Sekarang yang harus dijawab oleh Dharminta adalah, mana fakta, bukti, sejarah dan hukum yang menyatakan pihak Imam SM Kartosoewirjo mendirikan NII diwilayah NKRI ? Dan sejak kapan muncul NKRI dan tunjukkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang wujudnya NKRI ?

 

Dunia internasional dan PBB mengetahui bahwa wilayah de-facto dan de-jure RI pada tanggal 7 Agustus 1949 adalah di Yogyakarta dan sekitarnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949 yang sebagian isinya menyebutkan:

 

”3. Recommends that, in the interest of carrying out the expressed objectives and desires of both parties to establish a federal, independent and sovereign United States of Indonesia at the earliest possible date, negotiations be undertaken as soon as possible by representatives of the Goverenment of the Netherlands and refresentatives of the Republic of Indonesia, with the assistance of the Commission referred to in paragraph 4 below, on the basis of the principles set forth in the Linggadjati and Renville Agreements. (PBB resolution No.67(1949), 28 January 1949, adopted at the 406th meeting)

 

Nah, dalam Resolusi PBB no.67(1949) tanggal 28 Januari 1949 dinyatakan bahwa hasil Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 dan Perjanjian Renville 17 Januari 1948 adalah sebagai dasar hukum untuk membentuk Negara Indonesia Serikat yang berbentuk federasi yang akan diakui kedaulatannya oleh Belanda paling lambat tanggal 1 Januari 1950.

 

Sekarang, mengapa dimasukkan hasil Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville dalam Resolusi PBBNo.67(1949) itu ?

 

Karena, dalam Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 disebutkan bahwa RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

 

Kemudian dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948 dinyatakan gencatan senjata disepanjang garis Van Mook dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. (Artinya,  wilayah de-jure dan de-facto RI di Yogyakarta dan sekitaranya saja)

 

Nah, dari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum diatas menggambarkan bahwa memang benar wilayah de-facto dan de-jure RI sejak 17 januari 1948 hanya di Yogyakarta dan sekitarnya saja.

 

Jadi, kalau dihubungkan dengan proklamasi NII 7 Agustus 1949 di Cilugalar, kawedanaan Cisayong Tasikmalaya, maka wilayah kekuasaan NII tidak berada dalam wilayah de-jure dan de-facto RI, melainkan berada dalam wilayah de-jure dan de-facto Belanda.

 

Karena itu, apa yang dicuapkan Dharminta bahwa ”penggagas NII sudah jelas melakuka makar mendirikan negara di dalam negara, yakni negara NKRI”. Jelas itu jawaban Dharminta salah kaprah dan salah fatal. Dharminta asal cuap saja, tanpa dipikirkan dan ditunjang dengan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas dan benar.

 

Justru yang benar berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum adalah pihak RI yang menjelma jadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 telah menganeksasi wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure NII Imam SM Kartosoewirjo. Dan wilayah NII sampai detik ini dianeksasi dan dijajah oleh pihak RI yang menjelma jadi NKRI dengan lambang burung garuda dan dasar negara pancasila-nya.

 

Terakhir, saran Ahmad Sudirman, kalau Dharminta yang dikeningnya tergambar lambang salib mahu mencoba memberikan jawaban tentang NII hubungannya dengan RI, maka terlebih dahulu harus menggali sejarah NII dan sejarah RI. Jangan hanya bercuap tanpa fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas dan benar.

 

Matius Dharminta jangan membuat malu kaum pengikut Nabi Isa as di RI, kalau tidak tahu dan tidak mahu menggali sejarah NII dan RI yang sebenarnya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 1 Jul 2005 22:48:58 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: Re: RAHMAN KHAIDIR INI KELIHATANNYA BODO BANGET SIH..!

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, airlambang@radio68h.com, airlambang@yahoo.com, antara@rad.net.id, apiaustralia@greenleft.org.au, ardiali@yahoo.com, allindo@yahoo.com, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, alasytar_acheh@yahoo.com, apalahu2000@yahoo.co.uk, agungdh@emirates.net.ae, abdul.muin@conocophillips.com, ahmedjpr@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, as_fitri04@yahoo.com

 

"Ada sebuah pertanyaan, mungkinkah seorang imam negara Islam menyerah? Dengan berbagai alasan? semudah itukan para petinggi NII menyerah dengan alasan untuk mempersiapkan pembinaan dan proses kaderisasi underground dengan tujuan untuk kembali menegakkan negara Islam? Dan ada sebuah pertanyaan. Mungkinkah Kartosuwiryo dan para Jendralnya sebelumnya telah merencanakan dengan Soekarno dan para Jendralnya untuk melakukan sebuah perang saudara karena dengan alasan setelah Indonesia merdeka, negara tidak punya senjata. Negara tidak punya infrastruktur. Negara punya banyak utang yang harus dibayar karena perang agresi 1945-1949 ?”(Deden Abdul Rojak, dedenabdul@bandung.com )

 

"Ada sebuah pertanyaan, mungkinkah seorang imam negara Islam menyerah? (Deden Abdul Rojak, dedenabdul@bandung.com )

 

Itu jelas tidak mungkin.

 

Dengan berbagai alasan? (Deden Abdul Rojak, dedenabdul@bandung.com )

 

Itu bisa terjadi, demi keselamatan umat. Dengan catatan selagi masih dalam koridor ajaran agama.

 

Semudah itukan para petinggi NII menyerah dengan alasan untuk mempersiapkan pembinaan dan proses kaderisasi underground dengan tujuan untuk kembali menegakkan negara Islam? (Deden Abdul Rojak, dedenabdul@bandung.com )

 

Soal mudah atau tidak, petinggi NII memang harus menyerah atau dipaksa untuk menyerah. Karena penggagas NII sudah jelas melakuka makar mendirikan negara di dalam negara, yakni negara NKRI.

 

Dan ada sebuah pertanyaan. Mungkinkah Kartosuwiryo dan para Jendralnya sebelumnya telah merencanakan dengan Soekarno dan para Jendralnya untuk melakukan sebuah perang saudara karena dengan alasan setelah Indonesia merdeka, negara tidak punya senjata. Negara tidak punya infrastruktur. (Deden Abdul Rojak, dedenabdul@bandung.com )

 

Suatu pertanyaan yang meraba-raba. Jelas itu tidak mungin, karena Soekarno tidak menghedaki terjadinya perang saudara di nederi ini (NKRI). Tapi ada kemungkinan kalau Kartosuweryo beserta jendralnya telah menyusun rencana sebuah peperangan untuk mewujutkan ambisinya mendirikan NII di dalam tubuh KNRI.

 

Menurut aku demikian. Dan mohon ma’af kalau aku tak mau mengkorek-korek tong sampas seperti bung Asudirman.

 

Oo iya kalau boleh tahu anda (Rahman Khaidir) pernah studi ndik mana sih? kelihatanya kok bodo banget..

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Manado, Sulawesi Utara, Indonesia

----------