Stavanger, 6 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


NEGARA PAJAJARAN ATAU NEGARA PASUNDAN ATAU NEGARA ISLAM INDONESIA ATAU NEGARA ISLAM PASUNDAN ?

Omar Puteh

Stavanger - NORWEGIA.

 

 

MENYOROT SEKILAS NEGARA PAJAJARAN ATAU NEGARA PASUNDAN ATAU NEGARA ISLAM INDONESIA ATAU NEGARA ISLAM PASUNDAN

 

Satu hari saya pernah diajak oleh saudara Yusra Habib Abdul Gani, bertamu kesebuah kediaman seorang saudara yang berasal dari Sunda, atau baiknya saya katakan seorang saudara bangsa Sunda, tetapi saya sudah terlupa, nama Akhi itu?

 

Beliau itu, seorang yang masih aktip sekali dengan NII-nya dan sangat kuat bekerja kearah itu. Dan beliaupun bisa bercerita banyak tentangnya dan juga beliau tahu persis siapa yang pernah menjadi penghubung antara Imam S.M.Kartosuwiryo dengan Tengku Daud Beureu-éh kea Acheh dulu.

 

Ajakan Yusra Habib Abdul Gani kesana ketika itu, saya ingat mungkin dalam kerangka program-kerja beliau, selain sebagai Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka dan sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Acheh Merdeka, dan juga sebagai Kepala Pemerintahan Negara Acheh Sumatra, di Malaysia ketika itu.  sayapun tidak menanyakan banyak, mengapakah beliau mengajak saya kesana.

 

Biasanya saya tidak menanyakan apa-apa kecuali hanya mengatakan OK, ketika menyahut sebarang ajakan beliau dan juga karena sudahpun maklum, biasanya sasaran destinasinya selektip kalau dengan saya.  Tetapi dengan bersahaja beliau mengatakan juga bahwa,.............. awal ceritanya beliau pernah diperkenalkan oleh Tuan Syed Qaseem Muthawali al Idrus al Yamani kepada Akhi itu, si "orang kuat NII"?

 

Kecuali, suatu kali saya pernah memberi respon yang replektip dan spontan ketika beliau menyerahkan sekotak kartu nama yang sudah tercetak rapi bertinta kuning berwarna emas: Nama saya: ........................dst-nya

 

Apaan  ini Yusra?  tanya saya, karena saya seperti terkikkuk. Beliau telah menggandengkan nama saya dengan tugas sebagai: "Peneliti Sosiologikal Struktur di Asia Tenggara", tetapi dalam bahasa Inggeris. Sayapun terlupa susunan kata-kata Inggerisnya, maklum bahasa Inggeris saya: The Broken Engglish.  Terlupanya, seperti terlupa akan namanya Akhi, yang berkebangsan Sunda itu.

 

Saya katakan kepada Yusra Habib Abdul Gani. Yusra bagaimanakah akan saya lakukan kerja sesukar ini, sedangkan saya punya pendidikan rendah.  Tetapi beliau menjawab dengan selamba saja:  Hana peue-peue njan..... bah meunan, neu peugot ladju.  'Ndak apa-apa......biarkan aja, buatkanlah terus.

 

Mungkinpun respon beliau itu, semacam meng-kopi cara WN ketika membimbing beliau: Sesuatu buat dulu, dan musti coba dulu Yusra!  Beliau tidak segan-segan berhubungan dengan WN, jika ada sesuatu kemusykilan dan WN-pun senantiasa mesra.  Cerita yang demikian itupun, akan beliau sendiri yang menceritakan, lebih dahulu, jika saya datang berjumpa. Kerapkali beliau menelepon saya  agar saya mengunjungi beliau.

 

Selain itu, saya senantiasa mengingatkan diri saya bahwa, beliau sememangnya begitu selalu perlu ditemankan, karena seperti kesendirian. Yah, kenyataan seperti kesendirian melaksanakan kesemua kerja ini dan kerja itu, apalagi kalau datang seberkas surat dari rakan-rakan yang setiap surat itu, di capkan dengan darah si pengirim: Yang bersumpah akan siap melaksanakan tugas perjuangan, agar segera dihandel untuk dikirimkan kepada WN! Makanya tugas yang telah Yusra Habib Abdul Gani untuk saya itu, akhirnya beliau juga yang akan melakukannya, saya tahu dan saya paham!

 

Tugas yang banyak, yang musti beliau lakukan ketika dalam pengasingan di Kuala Lumpur dulu itu, tidaklah sama seperti Presiden Darurat, Syafruddin Prawiranegara,  sebagai Pelaksana Harian Pemerintahan RI-Jawa Jokya di persembunyiannya, di Acheh.  Jelas dan berbeda sekali dengan tugas yang saudara Yusra Habib Abdul Gani itu lakukan.

 

Syafruddin Prawiranegara dalam rencana awal meninggalkan Pulau Jawa, adalah untuk bersembunyi di Bukittinggi, tetapi karena disana dikiranya juga rawan dan masih tidak selamat, maka beliau meminta pertolongan kepada masyarakat Acheh yang ada di Bukittinggi sana, agar diperkenan izin sementara untuk bersembunyi di Acheh saja, sambilan menunggu suasana Pulau Jawa tenang dan aman kembali.

 

Diseludupkanlah beliau lewat Sibolga, lewat jalan laut, menuju ke Acheh, menuju wilayah berdaulat Negara Acheh.

 

Sebagaimana kita ketahui dan maklum bahwa kedaulatan Negara Acheh tidak pernah diserahkan kepada Penjajah Belanda.  Ketika Reproklamasi Negara Acheh Sumatra 4 Desember, 1976-pun Negara Acheh itu masih utuh kedaulatan negaranya.  Itulah sebabnya dikatakan Reproklamasi, reproklamasi sebuah negara dengan kedaulatannya yang sama, sebagai negara sinambung-successor state, sebagai Negara Acheh Sumatra, karena kedaulatannya masih utuh, hingga hari ini!  Dan itu sebabnya kehadiran  Indonesia Jawa di Acheh itu, sebagai:  Penjajah!  NKRI itu Negara Penjajah Indonesia Jawa!

 

Dari suasana aman dan kemudahan mendapatkan semua prasarana yang diperlukan dan limpahan kemesraan, serta budi baik masyarakat Acheh kepada beliau, menjadikan beliau lebih betah tinggal menetap sementara disana lebih lama. Tetapi kemudian, untuk menutup-nutupi:

 

(1). Kejahatan Soekarno si Penipu licik itu yang mencaplok Acheh pada 14 Agustus, 1950 secara jahat.

 

(2). Kejahatan yang dilakukan oleh agen-agen Jawa Chauvinis, si Belanda Hitam, yang menyembelih secara licik danpenuh tipu daya, keatas As-syahid Panglima Agung Teuku Ibrahim dan pasukannya, yang merampas seluruh persenjataan bala tentara Jepang pada 14bAgustus, 1945, karena kehendak beliau Acheh menolak bercantum dengan Penjajah Indonesia Jawa.

 

(3). Cerita konyol, tentang penggerekkan bendera merah-putih di Acheh, seolah-olah bangsa Acheh tidak tahu sesungguhnya bendera dua warna itu, adalah sobekan warna biru, bendera Belanda.

 

(4). Cerita konyol, tentang pernyataan 4 “oelama” bahwa, Acheh seolah-olah benar bersedia bercantum dengan Penjajahah Indonesia Jawa.

 

(5). Cerita konyol, bahwa bangsa Acheh yang telah membantu Presiden Darurat, Syafruddin Prawiranegara pribadi, sebagai sudah membantu “Republik Indonesia" (baca: Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam).

 

(6). Hubungan Acheh dengan Syafruddin Prawiranegara yang disifatkan hanya sebagai hubungan insidentil belaka, dan bukan memandang sebagai Presiden  bangsa Acheh. Malahan hubungan yang pernah mesra antara WN dengan Sjafruddin Prawiranegara hingga akhir hayat beliau tetap dikenang.

 

Yang demikian itu, bangsa Acheh yang lebih tahu, karena bangsa Acheh yang telah memikulnya bebannya bukannya Syafruddin Prawiranegara Cs, yang pasti beliau seorang yang datang dari Jawa sana, pasti menyadari bahwa, ribuan anak-anak Jawa ex- Pembunuh bayaran KNIL Belanda sedang bersembunyi didalam perkebunan: Kelapa Sawit, Karet dan Pinus, selain diperkampungan-perkampungan, yang kemdudian digunakan sebagai sebagai means, sebagai “pressure of tactical dari Indonesia Jawa Chauvinis untuk memblack-mailkan Konferensi Meja Bundar KMB)” di Den Haag, Belanda, pada 27 Desember, 1949.

 

Anak Jawa ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda,  pernah keluar pada Februari 1946, untuk membantu Tengku Daud Beureuh-éh Cs, siapa yang pernah mengkordinir pemberi bantuan kepada Sjafruddin Prawirangara, untuk menyembelih Teuku Daud Tjumbok dan ribuan Hulubalang-Hulubalang Acheh, cucu Iskandar Muda, orang yang kedua yang atas kehendak beliau, Acheh menolak bergabung dengan Penjajah Indonesia Jawa.

 

Dimanakah Teuku Njak Arief bersembunyi, ketika bangsa Acheh habis ditebas oleh agen-agen Penjajah Indonesia Jawa?

 

Acheh tidak mempunyai hubungan historis, etnologis dan antropologis atau apapun dengan Jawa sebelumnya!  Itu sebabnya hubungan Acheh dengan Sjafruddin Prawira dikatakan sebagai hubungan hubungan insidentil, dan atas rasa kemanusiaan semata-mata!

 

Tetapi Yusra Habib Abdu Gani hijrah ke Malaysia, untuk bergabung dengan rakan-rakan bangsa Acheh disana atau "saudara lama Acheh" di Malaysia:

 

(1) Dan lagipun, Acheh jelas diketahui mempunyai hubungan sejarah klasik dan modern (baru) dengan Malaysia (Malaya), sejak Sultan  Pameswara, Sultan Melaka ke-I, mengawini, seorang putri Pasai, Acheh

 

(2). Dan lagipun, sebagaimana diketahui dan dimaklumi bahwa, setiap Malaysia coba membicarakan sejarah Malaya (Malaysia) musti dan otomatis terheret sama membicarakan sejarah Acheh, demikian juga sebaliknya, karena juga kerajaan Melaka dulu adalah sebagai negara protektorat Negara Acheh.

 

(3). Dan lagipun, waktu dulu,  kantor Perwakilan Negara Acheh di Malaya (Malaysia) adalah terletak di Kota Tinggi, Johor, yang Gubernur Acheh disana ketika itu adalah nenek lelaki dari pada Sultan Iskandar Muda.

 

(4). Dan lagipun, TNA, Tentara Negara Acheh-pun, sudah pernah mengepung Bukit China, Bukit Pipit dan kawasan persekitaran benteng La Fomosa, Melaka, selama berbulan-bulan, untuk persiapan menyerang Portugis di benteng La Fomosa itu, walaupun sempat juga dikhianati oleh Melayu lokal

 

Padahal penduduk Melayu lokal lain, yang sebelumnya berdiam berdekatan dengan benteng La Fomosa, yang sudah dipindah-paksakan oleh Penjajah Portugis, tetapi tidak pernahpun memberi perlawanan atau bantahan, kecuali dengan pasrah saja  terus dengan senyap tinggal disana, di kampung kediaman barunya, yang kini masih terus kekal dengan nama:  Kampung Pindah, Melaka, sebuah nama kampung yang diberikan sesuai dengan sejarah perpindahan paksa penduduk oleh Penjajah Portugis dulu itu.

 

Tetapi mengapakah pula sekelompok Melayu yang disebutkan pertama itu membakar kapal-kapal perang yang disauhkan ditepi pantai?  Adakah mereka  dari kumpulan “militia”, yang mengkhianati Sultan Melaka, Sultan Mahmud II dan TNA, Tentara Negara Acheh?

 

(5). Dan lagipun, TNA, Tentara Negara Acheh datang kesana sebagai menyahut : seruan dan permohonan dari Sultan Melaka: Sultan Mahmud II, pada tahun 1528 dari Kampar, Indragiri.

 

(6). Dan lagipun, sebagai tanggung jawab Negara Acheh atas Melaka sebagai negara protektoratnya.

 

(7). Dan lagipun,  hubungan Negara Acheh dengan Kerajaan Kedah, negara bahagian Malaysia yang mempunyai hubungan perdagangan selama 400 tahun lebih.

 

(8.a). Dan lagipun, sehingga-hingga (Perdana Menteri Malaysia ke-IV) Tun Dr Mahathir Muhammad, dalam pidato penyambutan Upacara Memperingati Hari Ulang Tahun ke-16, Sabah Merdeka bersama Malaysia di tahun 1993 di Tawau, Sandakan, Sabah, mengatakan bahwa, orang Kedah (Malaysia) adalah orang yang berasal dari Acheh! (Ikuti kembali ucapan pidato beliau itu).

 

(8.b). Dan lagipun, kalau kita coba kembali memalingkan kepertanyaan Drs Arabi Achmad (sarjana alam):  Bahasa Acheh mempengaruhi bahasa Kedah atau bahasa Kedah yang mempengaruhi bahasa Acheh..............?

 

(9). Dan lagipun, hubungan Negara Acheh dengan Kerajaan Perak : Putra Mahkota Perak dinobatkan menjadi Sultan Acheh.

 

(10). Dan lagipun, hubungan Negara Acheh dengan Kerajaan Pahang: Adik Putra Mahkota Pahang menjadi anak menantu Sultan Iskandar Muda dan kemudian juga dinobatkan sebagai Sultan Acheh.

 

(11). Dan lagipun, hubungan Negara Acheh dengan Kerajaan Johor telah kita sebutkan diatas, sebagai tapak kantor Perwakilan Negara Acheh, di Kota Tinggi.

 

Kerajaan Melaka ketika itu di tahun 1511 jatuh dengan mudah ketangan Penjajah Portugis karena pengkhiantan anak-anak Jawa Japara, pengawal charteran menjaga gerbang luar, istana Sultan Mahmud II, yang diketuai oleh Utimatu Rajo dan pengkhianatan anak-anak India Tamil Nadu, pengawal dalam istana Sultan Mahmud II, yang diketuai oleh Naina Chatu. Pengkianat-Pengkhianat Jawa: Utimatu Rajo dan India Tamil: Naina Chatu akhirnya dibunuh juga oleh Penjajah Portugis.

 

(12). Dan lagipun, ketika Konfrrontasi Indonesia terhadap Malaysia, Tengku Hasan di Tiro, dilantik sebagai Penasihat Perdana Menteri Malaysia ke-I, Tunku Abdur- Rahman Putra yang bersal dari Ulee Lhéuë, Banda Acheh?

 

(13). Dan lagipun, Tengku Hasan di Tiro pernah memberikan formula DEB (Dasar Ekonomi Baru), yang kemudian hingga kini, dikenal sebagai flatform perjuangan ekonomi bangsa Melayu, Malaysia, lewat Tun Adur-Razak, Timbalan Perdana Menteri Malaysia atau kemudian sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-II, asal Bugis, Sulawesi.

 

(14). Dan lagipun, Yusra Habib Abdul Gani, hijrah ke Malaysia bukan untuk bersembunyi, tetapi sememangnya karena beliau mau mengabdikan diri sepenuhnya kepada bangsa dan negaranya: Negara Acheh Sumatra, ditapak bumi yang pernah punya hubungan sejarah dengan bangsa Acheh itu dan bukan bersembunyi seperti Syafruddin Prawiranegara.

 

Apakah nanti, disuatu ketika bahwa,  kehadiran saudara Yusra Habib Abdul Gani di Kuala Lumpur-Malaysia, sebagai Ketua Biro Penerangan Acheh Merdeka, sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Acheh Merdeka, sebagai Komitee Pelindung Pelarian Acheh di Malaysia dan sebagai Kepala Pemerintahan Negara Acheh, di Malaysia, akan dituliskan didalam sejarah Negara Acheh Sumatra bahwa, sememangnya Malaysia dan rakyatnya telah membantu Negara Acheh Sumatra itu, lewat Perdana Menteri (majalah-Tempo) Darurat: Yusra Habib Abdul Gani, yang kemudian sejarah Acheh direkayasa dan mendakwa bahwa Malaysia adalah kepunyaan Negara Acheh, sebagaimana  Negara Acheh, akan mengklaim dan menduduki semenanjung Malaya kembali, mengikuti "sejarah" rekayasa kehadiran Syafruddin Prawiranegara di Acheh dulu?

 

Tentu saja tidak, walaupun Acheh mempunyai sejarah panjang dan lama memprotektoratkan Kerajaan Melaka!

 

Jadi berbalik ke cerita Akhi Sunda itu, disana kami sebenarnya, coba mendiskusikan masalah Negara Pasundan, sebagaimana disebut-sebut dalam buku Tengku Hasan di Tiro, mengenai negara-negara baru, yang diramalkan akan lahir di “Indonesia”.

 

Rupanya sambutan beliau sangat mengejutkan kami. Beliau tetap bersikeras dengan prinsip perjuangan yang tetap kuat dan teguh untuk menegakkan negara NII. Adakah Ustadz Ahmad Sudirman tahu apakah respon beliau terhadap Negara Pasundan itu?

 

Beliau menjawab tidak!  Mana mungkin! 

 

Kami jelaskan kenapa tidak mungkin. Dan kamipun menjelaskan contoh-contoh negara-negara didunia berdasarkan latar belakang sejarah dan dengan seluruh kehidupan sejarahnya!

 

Kami katakan kepada Akhi itu, bahwa sebenarnya Akhi bukan suku Sunda, tetapi bangsa Sunda! Dan Jawa itu, juga bukan suku Jawa tetapi bangsa Jawa! Kami katakan mana ada sejarahnya Indonesia itu.  Indonesia itukan nama yang ditukang-tukangi untuk menggantikan Hindia Belanda.

 

Beliau tetap juga bersikeras seperti semula, bahwa wilayah “indonesia” itu adalah wilayah NII.

 

Akhi Sunda itu, masih tidak mengerti, masih belum memahami, mengapa dunia tidak mau memberi bantuan untuk NII?  Karena dunia tetap menganggap bahwa, NII (Negara Islam Indonesia) itu adalah juga Indonesia atau pemberontak yang coba memisah kan diri dari RI-Jawa Jokya.

 

Juga kami ceritakan demikian, sama halnya juga dulu dengan Tengku Abu Daud Beureuh-éh dan NII (Indonnesia)-DI/TII (Indonesia)-nya kenapa gagal tidak mendapat bantuan atau pengakuan dunia luar.  Bahwa ini,  adalah karena, semuanya berujungkan nama “Indonesia” itu.

 

Saya ceritakan bahwa, saya punya pengalaman pernah diajak ke Sabah untuk menjumpai Daeng Sanusi, wakil dari As-syahid Kahar Muzakar, tetapi saya tolak, karena terlalu jauh ke Sabah sana. Daeng Sanusi dan orang-orannya juga berpikir demikian dengan NII-nya, selain masih berpikir yang Kahar Muzakar itu masih hidup.

 

Kami cerita masalah sejarah Acheh dan wilayah negaranya, walaupun kami tidak menceritakan Acheh dengan Wilayah Status Quo Ante Bellum Negara Acheh: Sumatra + Semenanjung Malaya + Sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Apakah pula tanggapan beliau lagi?

 

Kata beliau: Pulau Sumatra itu, Pulau Jawa itu, Pulau Borneo itu, Pulau Sulawesi itu-kan kepulauan Sunda Besar? katanya.

 

Kamipun berdua: Saya dan saudara Yusra Habib Abdul Gani hanya menyungging senyum. Kami tahu sememangnya kalau kita melihat peta lama, maka disana tertulis. Sunda Besar dan Sunda Kecil.

 

Kemudian saya bilangkan lagi, mungkin nama peta itu dibuat-buat oleh Balai Pustaka, yang sudah didirikan sejak tahun 1912. Beliau kemudian diam. Lantas, kami heran, beliau terus menggapai sebuah baju yang tergantung disangkutan baju, terus sambil melekatkan kebadan beliau berkata singkat: Kalau begitu marilah kita kesana! Dibawalah kami dengan sebuah teksi, kesebuah distinasi...................

 

Disana diperkenalkanlah kami kepada seorang rakan beliau seperti telah awal kami buat janji. Yang herannya sebaik memperkenalkan kami, beliau pun minta diri. Mungkin beliau ingat kami akan perlu juga membicarakan hal yang menyerupai seperti apa yang kami sudah singgung dirumah beliau, kepada rakan beliau itu, tuan rumah yang rumahnya sedang kami kunjungi dan bertamu disitu itu, tetapi kami tidak!

 

Kami tahu apa yang beliau pikir tentunya berbeda dengan yang kami pikir, karena kamipun punya pegangan prinsip berbeda. Sungguhpun demikian kami tetap kagumi beliau itu, karena beliau tidak sedikitpun berganjak dengan pegangan cita-cita perjuangan NII-nya seperti pendirian solid tentara Jepang yang hari ini masih bersembunyi di gua-gua.

 

Jadi dari cerita ini sayapun tidak paham mengapakah diletakkan peta Nusantara dengan dua pembahagian lain: Sunda Besar dan Sunda Kecil, Ustadz? Karena dari dulu nama peta yang diberi nama oleh Samuel Plotomi sebagai Indos+Nesos. Tetapi setelah dibedak dan dipupuri oleh Prof Bastian dan Solingën Indos+nesos itu menjadi Indonesia yang cantik untuk nama sebuah anjangan politik?  Maka diterkamlah nama “Indonesia” oleh Soekarno si Penipu licik, sebagai nama baptis dari Jawa Nasionalisme! Walaupun nama itu sebelumnya telah awal disandangkan oleh Dr Muhammad Hatta Cs untuk organisasi kepelajarannya.

 

Tetapi bagus juga,  Sunda Besar dan Sunda Kecil sudah bertukar nama. Sunda kecil ditukar dengan nama: (Kepulauan) Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.  Sepatutnya Pulau Jawa itu ditukar saja menjadi Pulau Sunda!!!

 

Nusa Tenggara Timur, sekarang sedang diserang bala tentara “busung lapar”!

 

Karena sewaktu Tsunami melanda Acheh, 75% dari semua bantuan dunia luar, telah dijadikan logistik sandang dan pangan ABRI-TNI/POLRI, Tentera (Agressor), Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, si Belanda Hitam, agar jangan diambil pula yang 25% lagi tersisa itu, dari peruntukan korban Tsunami bangsa Acheh itu, untuk Nusa Tenggara Timur.

 

Bagi bangsa Acheh, korban tsunami tentunya keberatan, karena banyak kekayaan Nusa Tenggara Timur telah dicuri oleh para Jenderal-Jenderal di Jakarta, tetapi tidak-pun memperhatikan kebutuhan sandang dan pangan rakyat dari wilayah itu. Lihat semua Jenderal-Jenderal Penjajah Indonesia Jawa semuanya buncit-buncit, macam kanak-kanak kecacingan sedangkan orang-orang NTTpada kebusungan!

 

Nah, Ustadz Ahmad Hakim Sudirman, sepekara lain lagi, kalaulah demikian benar seperti Ustadz sudah katakan, bahwa wilayah NII, ketika diproklamirkan oleh Imam S.M.Kartosuwiryo bukan wilayah RI-Jawa Jokya, karena masa itu Abdul Haris Nasution, ex KNIL Belanda, melarikan pasukannya yang terbirit-birit ke Jawa Timur, ketika Belanda mengejarnya. Lantas disana Abdul Haris Nasution ex-KNIL Belanda itu, menyerang dan menyembelihnya siapapun rakyat Jawa Timur yang memiliki senjata yang pernah dirampas dari Jepang.

 

Dosa-dosa Abdul Haris Nasution ex-KNIL sangat besar menyembelih bangsa Sunda, bangsa Jawa Timur, bangsa Kalimantan dan bangsa Bugis. 

 

Saya berharap dan marilah kita berdo'a semoga Akhi tersebut, jika masih dipanjangkan umur oleh Allah SWT, akan dapat terus membina nasionalsime Sunda!  Dan tegaklah Negara Islam Pasundan, insya Allah!

 

(Bersambung: Plus i + Negara Pajajaran atau Negara Pasundan atau Negara Islam Indonesia atau Negara Islam Pasundan?)

 

Wassalam

 

Omar Puteh

 

om_puteh@hotmail.com

om_puteh@yahoo.com

Norway

----------