Stockholm, 7 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, ITU RAIDER MADE IN RYACUDU DI ACHEH MATI KUTU, AKHIRNYA MINTA TAMBAHAN INTELIJEN TNI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MUBA DIJON, ITU RAIDER MADE IN RYAMIZARD RYACUDU DI ACHEH MATI KUTU, AKHIRNYA MINTA TAMBAHAN INTEL DARI BADAN INTELIJEN STRATEGIS TNI

 

"Ha ha. Sebuah spekulasi yang teramat kampungan. Mad, kamu rupanya pemain saham atau pemain valas ya. Pantas gak kaya-kaya, wong spekulasinya aja nggak rasional. Ha ha." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Wed, 6 Jul 2005 10:58:54 -0700 (PDT))

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Ketika Ahmad Sudirman menyatakan: "usaha taktik penculikan adalah merupakan usaha taktik yang dilakukan pihak intelijen dari BIN-nya Syamsir Siregar yang dikirimkan ke Acheh membantu Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra untuk melemahkan kekuatan TNA dan memecah belah bangsa Acheh dan menimbulkan rasa benci kepada pihak TNA dan ASNLF agar supaya pihak TNI tetap bisa mempertahankan pasukannya diwilayah tanah Acheh dan pihak Pemerintah di Jakarta bisa terus mengkontrol Acheh melalui Tertib Sipil-nya." (Ahmad Sudirman, 6 Juli 2005)

 

Kemudian, ketika Muba Dijon membacanya, tanpa dipikir panjang, langsung saja, ia cekakakan sambil bercuap: "Ha ha. Sebuah spekulasi yang teramat kampungan. Mad, kamu rupanya pemain saham atau pemain valas ya. Pantas gak kaya-kaya, wong spekulasinya aja nggak rasional. Ha ha."

 

Nah, mengapa itu Muba Dijon cekakakan ?

 

Karena memang Muba Dijon adalah budek. Ia tidak mengetahui bahwa pasukan khusus made in Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang bernama Raider yang diambil dari sepuluh Kodam, dan diresmikan menjadi Infantri Raider sebanyak sepuluh bataliyon, yaitu sekitar 8000 pasukan, pada hari Senin 22 Desember 2003 di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta. Dengan dilengkapi senapan serbu (SS1-V1) buatan Pindad, Bandung, dan juga sangkur khusus untuk dipakai alat kekuatan pemukul jarak dekat. Ternyata, itu Raider setelah diterjunkan pada awal Januari 2004 di Acheh, sampai Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu masuk peti es Mabes TNI di Jakarta pada tanggal 18 Pebruari 2005 digantikan oleh Jenderal TNI Djoko Santoso, bukannya berhasil menghancurleburkan pasukan TNA, melainkan tergeletak, kelesuan kehabisan tenaga, ikut kehabisan tenaga paralel dengan dicabutnya kursi KSAD dari ruang kerja Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

 

Nah, dua bulan sebelum Jenderal TNI pembuat Raider ini tergeletak di kamar kerjanya di Mabes TNI AD, itu Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya pada tanggal 21 Desember 2004 bergegas meminta tambahan 100 % tim khusus intel dari Badan Intelijen Strategis TNI, sekitar 500 personil, kepada Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto.

 

Tujuan Endang Suwarya meminta bantuan personal intel dari Badan Intelijen Strategis TNI adalah dalam rangka memberikan dukungan kepada pasukan Raider yang sudah hampir lumpuh dan untuk melumpuhkan kekuatan pasukan TNA. Tentu saja, kaum intel ini bukan hanya dari Badan Intelijen Strategis TNI saja, melainkan juga dari kelompoknya Syamsir Siregar yang tergabung dalam sarang labah-labah Badan Intelijen Negara yang sudah kedodoran itu.

 

Dan memang kekuatan intelijen TNI dan BIN ini sudah berkeliaran di Acheh, sebagaimana yang dinyatakan juga oleh Jenderal Djoko Santoso ketika memberikan keterangan kepada para anggota Komisi I DPR, Senin 27 Juni 2005, bahwa akan mengoptimalkan kegiatan aparat intelijen dengan melaksanakan deteksi dan cegah dini terhadap kemungkinan tindakan TNA.

 

Begitu juga Mayjen TNI Supiadin Yusuf Adi Saputra pengganti Mayjen TNI Endang Suwarya, yang dilantik pada hari Kamis 28 April 2005, dua minggu kemudian, Jumat 13 Mei 2005, lima hari sebelum Darurat Sipil dicabut dan diganti dengan Tertib Sipil, menyatakan bahwa dalam Tertib Sipil, operasi operasi yustisi harus lebih ditingkatkan, seperti misalnya operasi KTP, dan menyiapkan Daftar Pencarian Orang.

 

Nah, taktik untuk melumpuhkan pasukan TNA dan ASNLF ini di Acheh, untuk pihak Polri dan TNI berobah dari taktik sweeping menjadi rahasia KTP dan pencarian orang yang ada dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

 

Disinilah berperan para intel atau cuak baik dari kelompoknya Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang tergabung dalam Badan Intelijen Strategis maupun kelompok intel atau cuak yang tergabung dalam Badan Intelijen Negara-nya Syamsir Siregar.

 

Dan tentu saja, usaha penculikan terhadap warga Acheh inipun merupakan salah satu taktik yang dijalankan oleh para intel dari Badan Intelijen Strategis TNI dan Badan Intelijen Negara-nya Syamsir Siregar orang Batak satu itu.

 

Para intel TNI dan BIN ini berhubungan dan melakukan kontak dengan para milisi dan organisasi yang pro TNI dan Polri seperti Front Perlawanan Acheh di Banda Acheh. Front Perlawanan Separatis GAM di Acheh Besar, Acheh Selatan, Sabang. Gerakan Rakyat Anti Separatis GAM di Pidie. Front Penyelamatan Merah Putih di Acheh Timur. Benteng Rakyat Anti Separatis GAM di Acheh Utara. Pemuda Merah Putih di Acheh Utara. Barisan Merah Putih Acheh di Acheh Utara. Himpunan Barisan Muda Bersatu di Acheh Utara. Front Anti Gerakan Separatis Acheh Merdeka di Acheh Jaya. Front Perlawanan Rakyat Garuda Merah Putih di Nagan Raya. Putera Jawa Kelahiran Sumatera di Acheh Tengah dan Bener Meriah. Kops Sipil Pemburu Separatis di Acheh Utara. Forum Pemuda Indonesia Bersatu Nanggroe Aceh Darussalam di Acheh Timur.

 

Jadi memang kalau terjadi penculikan-penculikan itu adalah merupakan taktik yang dijalankan oleh pihak intelijen dari TNI dan BIN di Acheh yang bekerjasama dengan para milisi dan organisasi pro militer untuk melumpuhkan kekuatan TNA dan ASNLF.

 

Tentu saja bagi orang yang tidak mengerti dan tidak paham bagaimana akal bulus dan taktik licik para intel TNI dan BIN ini, maka dengan mudah akan terperangkap dalam jaring labah-labah mereka itu, sehingga terperosok kedalam propaganda anti TNA dan anti ASNLF.

 

Dan tentu saja intel TNA pun tidak kalah dengan intel TNI dan BIN ini. Buktinya, itu Raider made in Ryacudu sampai tidak berkutik di Acheh, padahal menurut Ryacudu itu Raider adalah pasukan yang memiliki kekuatan tiga kali lipat pasukan TNI biasa dan dipersiapkan untuk menghadapi perang modern, anti gerilya dan perang berlarut. Tetapi baru beberapa langkah saja, sudah terpuruk disudut ring Acheh. Begitu Ryacudu terjungkir, terjungkirlah itu Raider buatan-nya itu. Dan Djoko Santoso, kelabakan bagaimana memompa kembali ban kempes Raider ini, sehingga terpaksa memanggil para intel TNI dan BIN-nya Syamsir Siregar untuk ikut serta memberikan masukan bagaimana caranya melumpuhkan kekuatan TNA dan ASNLF.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

www.ahmad-sudirman.com

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 6 Jul 2005 10:58:54 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: BIN MELAKUKAN TAKTIK PENCULIKAN DI ACHEH UNTUK MELEMAHKAN KEKUATAN TNA

To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Ha ha... Sebuah spekulasi yang teramat kampungan... Mad, kamu rupanya pemain saham atau pemain valas ya... Pantas gak kaya-kaya, wong spekulasinya aja nggak rasional... Ha ha...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------