Stockholm, 12 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN YANG NGAKU KETURUNAN ACHEH TETAPI OTAKNYA TELAH DIRACUNI MITOS SOEKARNO PENIPU LICIK

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KELIHATAN DENGAN JELAS ITU SAPRUDIN YANG NGAKU KETURUNAN ACHEH TETAPI OTAKNYA TELAH DIRACUNI MITOS SOEKARNO PENIPU LICIK

 

"Pak Jenderal Ahmad Sudirman marilah kita bicara yang sederhana saja dan simpel. Saya sebetulnya tidak mau peduli dengan sepak terjang kucing-kucing GAM di Swedia, namun kalian semua membawa-bawa nama agama, saya jadi ikut angkat bicara. Kita bicara sederhana saja Pak Jenderal. Kalau tujuan atau perjuangan kalian semua dilatarbelakangi oleh keinginan NAD menjadi negara Islam, sepertinya kalian itu seperti kambing conge." (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Tue, 12 Jul 2005 09:45:59 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Rupanya Saprudin yang mengaku keturunan Acheh, bapaknya asli orang Acheh dan ibunya asli dari Banten ini makin menggelupur saja. Mengapa ?

 

Karena, itu Saprudin memang tidak mengetahui bahwa Islam telah lama tegak di Negeri Acheh, jauh sebelum itu yang namanya RI mbah Soekarno berdiri di Batavia.

 

Coba saja perhatikan dan gali sedikit sejarah, dimana ketika Samudra Pasai yang berpusat di Samudera (Kabupaten Aceh Utara sekarang) yang dikenal sebagai Kerajaan Melayu pertama yang memeluk agama Islam dibawah Penguasa Raja Merah Silu (1275-1297) yang berganti nama menjadi Sultan Malik al-Salih setelah memeluk Islam. Ketika Sultan Malik al-Salih wafat, diteruskan oleh Sultan Muhammad Malik ad-Dhahir (1297-1326), lalu diteruskan oleh Sultan Ahmad Malik Ad-Dhahir (1326-1371).

 

Kemudian bersamaan dengan munculnya Kesultanan Samudra Pasai, diwilayah sebelah ujung utara Sumatra (Banda Acheh sekarang) lahir Kesultanan Acheh yang dipimpin oleh Sultan Johan Syah sekitar tahun 601 H / 1205 M, setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu Indra Purba yang beribukota di Bandar Lamuri.

 

Dimana Kesultanan Acheh yang dibangun oleh Sultan Johan Syah ini beribu kota di Banda Acheh. Ketika Sultan Ali Mughayat Syah (1514 - 1528) memegang kekuasaan di Kesultanan Acheh ini, ternyata Kesultanan Samudra Pasai pada tahun 1524. Dan Banda Acheh dijadikan sebagai Ibu Kota Kesultanan Acheh yang daerah kekuasaannya makin meluas setelah Kesultanan Samudra Pasai berada dibawah kendalinya.

 

Dan pada tahun 1521, armada laut Kesultanan Acheh menghancurkan kekuatan Portugis pimpinan Jorge de Brito. Sepeninggal Sultan Ali Mughayat Syah, Kesultanan Acheh dipegang oleh putranya, Sultan Salahuddin (1528 - 1537) yang menyerang Malaka pada tahun 1537 tetapi serangannya gagal. Ketika Sultan Salahuddin wafat digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah (1537 - 1568) yang digelari al Kahar yang berarti penakluk.

 

Ketika Sultan Alauddin Riayat Syah al Kahar wafat pada tanggal 28 September 1571, timbullah perebutan kekuasaan, sampai seorang tua bernama Sayyid Al-Mukammil disepakati menjadi raja. Kemudian Sultan Ali Riayat Syah (1568 - 1573) menggantikan Al-Mukammil. Tidak lama setelah itu Kesultanan Acheh diserbu oleh pasukan perang Portugis. Dan Sultan Ali Riayat Syah wafat dalam serbuan itu. Seterusnya digantikan oleh Sultan Seri Alam (1576 - 1604), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Muda (1604 - 1607).

 

Disaat Kesultanan Acheh berada dibawah pendudukan Portugis, bangkitlah Iskandar Muda memimpin perlawanan dan mampu mengusir Portugis. Dan pada tanggal 6 Dzulkhijjah 1015 H / 3 April 1607 M, Iskandar Muda dinobatkan sebagai Sultan.

 

Dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Benteng Deli dijebol. Johor (1613), Pahang (1618), Kedah (1619) dan Tuah (1620) ditundukkan oleh Sultan Iskandar Muda. Sultan Iskandar Muda wafat pada 29 Rajab 1046 H / 27 Desember 1636. Kemudian ia digantikan menantunya, Sultan Iskandar Tsani (1636 - 1641). Ketika Sultan Iskandar Tsani wafat digantikan oleh istrinya, Sri Sultan Taju al Alam Syafiatuddin Syah (1641-1675). Dan setelah itu, tiga perempuan memegang kekuasaan di Kesultanan Acheh. Dimana mereka itu ialah Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin Syah (1675-1677). Ratu Inayat Zakiatuddin Syah (1677-1688), dan Ratu Kamalat. (1688-1699).

 

Selama hampir dua abad Kesultanan Acheh tenang, dan baru mucul kembali pada akhir abad 19, ketika Sultan Machmud Syah ( - 26 Januari 1874) muncul kegelanggang, dan Belanda mendeklarkan perang terhadap Kesultanan Acheh pada tanggal 26 Maret 1873. Ketika Sultan Machmud Syah wafat pada tangal 26 Januari 1874. Kekuasaan diserahkan kepada Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

 

Nah sekarang dari apa yang diungkapkan secara ringkas mengenai sejarah Kesultanan Acheh diatas, menggambarkan bahwa dari sejak berdirinya Acheh, itu Islam telah tegak berdiri dan dijalankan dalam Negeri Acheh atau Kesultanan Acheh.

 

Jadi, Islam itu sudah ditegakkan dan dijalankan dalam kehidupan bernegara di Acheh. Karena itu tidak perlu lagi di Acheh itu dijejali dengan syariat Islam model UU No.18/2001 buatan Megawati dan Akbar Tandjung tahun 2001 untuk dijadikan alat penipuan kepada bangsa Acheh.

 

Saprudin, jadi itu Islam sudah menyatu di Acheh, bukan seperti di Negara RI mbah Soekarno yang hanya mencampuradukkan Syariat Islam dengan hukum sekuler negara burung garuda pancasila RI, lalu dijejalkan kepada mulut-mulut bangsa Acheh di Acheh.

 

Jadi Saprudin yang kambing conge adalah itu mbak Megawati, Akbar Tandjung, Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono yang telah dengan sengaja menciptakan Syariat Islam model UU No.18/2001 yang isinya penuh penipuan bagi bangsa Acheh di Acheh.

 

Seterusnya kalian singgung masalah ganja di Acheh. Itu siapa yang memiliki tanah yang berhektar-hektar dijadikan tempat menanam ganja, kalau bukan tanah yang dimiliki oleh orang yang mendapat perlindungan dari TNI di Acheh.

 

Mana ada bangsa Acheh yang berani membiarkan tanah hektaran untuk dijadikan tempat menanam ganja, kalau memang tidak dibeking oleh pihak TNI.

 

Kemudian, negara sekuler RI adalah negara kafir, sama juga dengan Kerajaan Swedia. Kedua negara tersebut mendasarkan dasar hukum negaranya kepada sumber hukum yang bukan diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

 

Nah kalau kalian Saprudin mengatakan: "Kalian mengaku muslim, tapi kenapa kalian tinggal di negara kafir (Swedia) ? Menurut Pak Sumardi dengan nada tanya lebih kafir mana antara Indonesia dan Swedia ?"

 

Itu apa yang dikatakan Sumardi adalah salah kaprah. Mengapa ? karena sama saja, itu Negara kafir sekuler pancasila RI dan Kerajaan kafir Swedia. Tidak ada bedanya. Kedua-duanya dasar hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

 

Kemudian, karena mbah kalian Soekarno mencaplok Negeri Acheh memakai PP RIS No.21/1950 tanpa mendapatkan persetujuan dari seluruh bangsa Acheh dan pimpinan bangsa Acheh, kemudian terus menganeksasi dan menjajahnya sampai detik sekarang ini, maka bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri terus melakukan perjuangan untuk pembebasan negeri, agama dan bangsa, dari manapun, tidak terkecuali dari Swedia atau negara lainnya.

 

Tidak ada larangan dalam Islam untuk memperjuangkan pembebasan tanah negeri Acheh yang dijajah RI dari luar wilayah tanah Acheh. Dan justru karena adanya bangsa Acheh yang berjuang dari luar wilayah tanah Negeri Acheh yang dijajah inilah itu pihak RI makin kelabakan untuk terus menduduki dan mempertahankan wilayah tanah negeri Acheh.

 

Taktik dan strategi perjuangan bangsa Acheh tidak bisa ditumbangkan dengan mudah oleh pihak RI, dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Kemudian kalau kalian Saprudin menyatakan lagi: "Hasan Tiro itu terinpirasi oleh pengaruh-pengaruh dajjal. Lantaran dulu pada waktu pembentukan Propinsi Sumatra Utara, wilayah Aceh masuk dalam Propinsi Sumatra Utara. Mendiang Tiro Tua menginginkan agar Aceh menjadi Propinsi tersendiri, tapi Soekarno belum meresponnya. Dari akar permasalahan ini seorang anak muda yang bernama Hasan Tiro berpetualang ke luar negeri (Amerika) memperdalam ilmu politik botok peda. Dari waktu ke waktu akar permasalahan tsb berkembang sampai sekarang dengan dibumbui oleh keinginan-keinginan agar Aceh menjadi negara berdiri sendiri."

 

Apa yang kalian Saprudin katakan adalah salah kaprah. Mengapa ?

 

Karena sudah jelas itu akar utama konflik Acheh adalah ketika Soekarno dengan RIS dan RI-Jawa-Yogyanya menelan wilayah tanah Negeri Acheh memakai cara PP RIS No.21/1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi.

 

Bagaimana bisa itu Soekarno menelan begitu saja wilayah tanah Negeri Acheh dimasukkan kedalam RIS dan terus masuk kedalam Negara Bagian RI-Jawa-Yogya. Padahal itu Negeri Acheh diluar wilayah de-facto dan de-jure RIS dan diluar de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya.

 

Nah karena Soekarno menelan Acheh inilah yang merupakan akar utama timbulnya konflik Acheh sampai detik sekarang ini. Jadi bukan karena Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang mendeklarkan ulang Negara Acheh pada tanggal 4 Desember 1976.

 

Nah itulah Saprudin, kalau memang kalian mahu mempelajari, mendalami, memikirkan, menganalisa, menyimpulkan tentang akar utama timbulnya konflik Acheh hubungannya dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI-Jawa-Yogya. Selama kalian masih saja percaya akan mitos buatan mbah Soekarno, maka selama itu kalian akan terus saja bisa ditipu dan dibodohi oleh para penerus Soekarno dan para kacung-kacungnya termasuk para Jenderal TNI Jawa budek itu.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 12 Jul 2005 09:45:59 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Selamat atas terpilihnya Bapak Jenderal Besar Ahmad Sudirman selaku Panglima Tertinggi dari Yang Tinggi Nangroe Aceh Darussalam

To: ahmad@dataphone.se, hassan.wirajuda@ties.itu.int, airlambang@radio68h.co.id, antara@rad.net.id, apiaustralia@greenleft.org.au, albiruny@gmail.com, aulialailil@yahoo.com, afoe@tegal.indo.net.id, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, agungdh@emirates.net.ae

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Pak Jenderal Ahmad Sudirman marilah kita bicara yang sederhana saja dan simpel. Saya sebetulnya tidak mau peduli dengan sepak terjang kucing-kucing GAM di Swedia, namun kalian semua membawa-bawa nama agama, saya jadi ikut angkat bicara.

 

Kita bicara sederhana saja Pak Jenderal. Kalau tujuan atau perjuangan kalian semua dilatarbelakangi oleh keinginan NAD menjadi negara Islam, sepertinya kalian itu seperti kambing conge.

 

Menurut penuturan Ustad Sanusi bahwa ajaran Islam adalah ajaran agama yang bersih, agama yang rakhmatan lil alamin. Nah kalian gak tahu apa emang pura-pura gak tahu. Kalau ingin mendirikan sebuah negara Islam, yang perlu diperhatikan adalah sterilnya daerah dari pengaruh barang yang haram, tidak terkontaminasi oleh barang-barang maksiat serta ada komitmen kuat 1000% dari rakyat, bukan didasari oleh keinginan oleh satu gelintir atau 10 gelintir orang-orang rakus dan sinting yang haus kekuasaan.

 

Nah kalian lihat tidak ?? Mau mendirikan negara Islam, tapi ganja tumbuh subur di Aceh, kenapa kalian diam saja tidak membersihkan barang syetan tersebut !!! (He..he..itu sampingan ya pak Jenderal, buat biaya beli senjata)

 

Kalian mengaku muslim, tapi kenapa kalian tinggal di negara kafir (Swedia) ? Menurut Pak Sumardi dengan nada tanya lebih kafir mana antara Indonesia dan Swedia ?

 

Kalau kalian teriak-teriak ingin mendirikan Negara Islam di Aceh, itu teriakan orang-orang mabok ganja. Kalau orang-orang waras dan sehat, malu dong tinggal dan bermukim di negara kafir (Swedia).

 

Kita bicara sederhana saja, tidak usah menjelimet, agar mudah dipahami oleh masyarakat kebanyakan (awam).

 

Mendiang Tiro Tua merupakan pigur yang tegar dan bersahaja. Tapi anaknya Hasan Tiro berbeda perangai dengan mendiang orang tuanya.

 

Hasan Tiro itu terinpirasi oleh pengaruh-pengaruh dajjal. Lantaran dulu pada waktu pembentukan Propinsi Sumatra Utara, wilayah Aceh masuk dalam Propinsi Sumatra Utara. Mendiang Tiro Tua menginginkan agar Aceh menjadi Propinsi tersendiri, tapi Soekarno belum meresponnya. Dari akar permasalahan ini seorang anak muda yang bernama Hasan Tiro berpetualang ke luar negeri (Amerika) memperdalam ilmu politik botok peda. Dari waktu ke waktu akar permasalahan tsb berkembang sampai sekarang dengan dibumbui oleh keinginan-keinginan agar Aceh menjadi negara berdiri sendiri.

 

Tidurlah dengan nyenyak dan bermimpilah. Pak Jenderal Akhmad Sudirman, berdoalah dengan khusu. Apakah Allah akan mendengar do'a do'a orang munafik ??? Wallahualam.

Begitulah Pak Jenderal pembicaraan ringan saya ini. Allahu Akbar !!!!

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

SP Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------