Stockholm, 13 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN, ITU ACHEH YANG DITELAN MBAH SOEKARNO AKHIRNYA AKAN LEPAS JUGA, TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



SP SAPRUDIN, ITU ACHEH YANG DITELAN MBAH SOEKARNO AKHIRNYA AKAN LEPAS JUGA, TINGGAL TUNGGU WAKTU SAJA

 

"Menyikapi apa yang telah Pak Ahmad Sudirman paparkan, rasanya terlalu dangkal kalau bicara tentang spesifikasi historis Aceh.  Wilayah-wilayah yang masuk NKRI mempunyai latar belakang sejarah yang sama dengan Aceh. Contoh misal Banten, kalau ditelusuri sejarah tentang Banten, bisa saja Banten minta lepas dari NKRI. Contoh soal lagi, suku asli Australia yang mendiami benua Australia adalah suku Aborigin. Bisa saja mereka mengusir orang-orang kulit putih, bahkan mengusir John Howard untuk keluar dari Australia. Bung Ahmad, hidup ini terus bergulir dengan waktu dan sejarah kehidupan manusia terus berjalan seiring dengan bergulirnya waktu. Tidak rasional kalau hanya berkutat tentang kehebatan sejarah Aceh masa lampau. Saya tidak diracuni oleh pemahaman Soekarno, Soeharto ataupun SBY. Saya adalah warga negara NKRI dimana NKRI merupakan sebuah negara yang sudah diakui eksistensinya oleh masyarakat dunia. (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Wed, 13 Jul 2005 09:57:03 +0700 (ICT))

 

Baiklah saudara Saprudin di Jakarta, Indonesia.

 

Memang benar, setiap negeri memiliki sejarahnya masing-masing. Tetapi, kalau berbicara masalah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI hubungannya dengan Acheh, maka harus digali dan diteliti secara benar dan jujur fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya. Bukan hanya mendengar begitu saja atau membaca dari sejarah yang dibuat oleh mbah Soekarno dan para penerusnya saja.

 

Kemudian soal Banten, memang menurut fakta, bukti, dan sejarah, itu Banten merupakan Kesultanan yang dipimpin oleh Maulana Hasanudin yang merupakan Sultan Banten I (1552-1570 M), yang namanya adalah Pangeran Sebakingking, putera dari Sunan Gunung Jati dari pernikahannya dengan Nhay kawunganten. Dimana Sultan Hasanudin berkuasa di kesultanan Banten selama 18 tahun (1552-1570). Sampai Sultan Banten yang terakhir Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820). Banten mengalami kehancuran ketika Belanda menguasai Banten, pada abad ke-18, yaitu ketika Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Agiluddin atau Sultan Aliyuddin II (1803-1808). Sultan Aliyuddin II inilah yang berselisih paham dengan Herman Wiliam Daendels.

 

Seterusnya, ketika Banten dikuasai Belanda, tidak ada lagi yang muncul dari Banten, sampai Negara Pasundan atau Negara Jawa Barat berdiri. Banten masuk wilayah kekuasaan Negara Pasundan atau Negara Jawa Barat. Negara Pasundan atau Negara Jawa Barat berdiri dan R.A.A Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26 April 1948.

 

Nah persoalan selanjutnya yaitu ketika Negara Jawa Barat atau Negara Pasundan masuk menjadi Negara Bagian RIS dan ditelan oleh mbah Soekarno dengan memakai mulut Negara RI-Jawa-Yogya-nya.

 

Kalau memang Banten mau keluar dari RI-Jawa-Yogya, jelas pertama harus keluar dari Negara Jawa Barat atau Negara Pasundan. Dan memang kenyataannya Banten dari sejak bulan Oktober 2000 sudah menjadi Propinsi tersendiri bebas dari wilayah bekas Negara Jawa Barat atau Negara Pasundan.

 

Nah sekarang, itu hak dan kewajiban rakyat Banten, apakah Banten mau tetap saja berada dibawah lindungan payung Negara RI-Jawa-Yogya, dan meiliki status otonomi atau mahu berdiri sendiri, itu diserahkan kepada seluruh rakyat Banten.

 

Begitu juga dengan rakyat Acheh. Dimana rakyat Acheh berbeda dengan rakyat Banten. Kesultanan Banten setelah berhasil dihancurkan oleh Belanda, lalu diteruskan masuk kedalam tubuh Negara RI-Jawa-Yogya melalui tubuh Negara Jawa Barat atau Negara Pasundan. Kemudian sejak bulan oktober 2000, Banten memisahkan diri dari Jawa Barat dan membentuk Propinsi tersendiri. Tetapi, rakyat Acheh, tidak demikian. Rakyat Acheh terus berjuang untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara RI-Jawa-Yogya yang telah menelan Negeri Acheh sejak 14 Agustus 1950.

 

Jadi, perjuangan rakyat Acheh jauh berbeda dengan perjuangan rakyat Banten. Rakyat Banten puas berada dibawah lindungan Negara sekuler RI saja.

 

Selanjutnya, kalau Saprudin yang mengaku bapaknya asli Acheh dan ibunya asli Banten merasa puas dan loyal dengan berada dibawah payung negara sekuler pancasila RI dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono, ya itu hak saudara Saprudin. Tidak ada paksaan. Silahkan mau tunduk, patuh dan loyal pada mbah Susilo Bambang Yudhoyono yang menjajah Negeri Acheh. Itu adalah pilihan Saprudin. Bukan pilihan bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

 

Kemudian bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri akan terus berjuang sampai Negeri Acheh berdiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara sekuler pancasila RI dan TNI-nya. Soal jaminan kehidupan masyarakat Acheh akan menjadi makmur setelah Acheh berdiri bebas dari RI-Jawa-Yogya, itu diserahkan kepada seluruh Bangsa Acheh untuk mengelola Negeri Acheh dibawah pimpinan dari bangsa Acheh sendiri.

 

Terakhir, itu Acheh hukan bagian dari RI-Jawa-Yogya, dan pihak RI tidak bisa mematokkan harga mati. Karena Acheh akan lepas dari RI-Jawa-Yogya, suka atau tidak suka, mahu atau tidak mahu, toh akhirnya Acheh akan lepas juga. Tinggal tunggu waktu saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 13 Jul 2005 09:57:03 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: YOOSRAN MASIH COBA PUTAR-PUTAR PAKAI JURUS TEORI BERDIRINYA NEGARA UNTUK GENGGAM ACHEH

To: ahmad@dataphone.se, airlambang@radio68h.com, habearifin@yahoo.com, jakarta.newsroom@reuters.com

Cc: i.bramijn@chello.nl, indrapiliang@csis.or.id, jktpost2@cbn.net.id, koran@tempo.co.id, koransp@suarapembaruan.com, kinana@gmail.com, kabayan555@yahoo.com, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, agungdh@emirates.net.ae

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Menyikapi apa yang telah Pak Ahmad Sudirman paparkan, rasanya terlalu dangkal kalau bicara tentang spesifikasi historis Aceh.  Wilayah-wilayah yang masuk NKRI mempunyai latar belakang sejarah yang sama dengan Aceh. Contoh misal Banten, kalau ditelusuri sejarah tentang Banten, bisa saja Banten minta lepas dari NKRI. Contoh soal lagi, suku asli Australia yang mendiami benua Australia adalah suku Aborigin. Bisa saja mereka mengusir orang-orang kulit putih, bahkan mengusir John Howard untuk keluar dari Australia.

 

Bung Ahmad, hidup ini terus bergulir dengan waktu dan sejarah kehidupan manusia terus berjalan seiring dengan bergulirnya waktu. Tidak rasional kalau hanya berkutat tentang kehebatan sejarah Aceh masa lampau.

 

Saya tidak diracuni oleh pemahaman Soekarno, Soeharto ataupun SBY. Saya adalah warga negara NKRI dimana NKRI merupakan sebuah negara yang sudah diakui eksistensinya oleh masyarakat dunia.

 

Pak Ahmad, saya ini hanya seorang karyawan biasa berstatus karyawan kontrak (jasa penunjang) dari sebuah badan hukum milik negara selama 17 tahun di Jakarta, tidak bergelimang materi. Mungkin saya ini salah satu masyarakat miskin Indonesia. Apakah dengan kondisi serba kurang kehidupan itu saya mesti surut loyalitasnya kepada NKRI, no way !!!!

 

Saya bicara dengan hati nurani, bukan bicara berdasarkan pemahaman Soekarno, Soeharto, BJ Habibie ataupun SBY ataupun pemahaman orang-orang Jawa yang pinter atau Batak pinter. Saya bertanya, sampai kapan GAM akan terus menghambur-hamburkan uang demi perjuangan tolol itu ? Sudah berapa milyar yang kalian habiskan untuk sebuah perjuangan yang tidak akan pernah usai ??

 

Yang terpenting bagi saya adalah pemimpin nomor satu NKRI ini masih dipegang oleh muslim, terkecuali .......... something else........

 

Membangun aceh tidak mesti harus menjadi sebuah negara berdiri sendiri. Coba biaya yang kalian pakai untuk perjuangan konyol itu digunakan untuk kesejahtraan masyarakat Aceh. Membangun pusat kajian Islam di Aceh, membangun sarana-sarana pendidikan yang berbasiskan Islam di Aceh, membangun sarana-sarana pelayanan kesehatan di Aceh dan membangun manusia Aceh seutuhnya, Insya Allah Aceh akan menjadi sebuah daerah yang maju dan disegani. Lain lubuk lain belakang lain pula ikannya.

 

Kalian benar menurut pandangan kalian, dan pola pikir kalianpun demikian adanya. Terlalu parsial menurut saya pandangan dan pola pikir kalian itu tentang Aceh. Kalian berjuang atas nama rakyat Aceh demi kemerdekaan Aceh menjadi sebuah negara, akankan kalian jamin kehidupan masyarakat akan menjadi makmur ?????

 

Aku loyal kepada NKRI berdasarkan kriteria yaitu seorang pemimpin nomor satu NKRI masih dipegang oleh muslim.

 

Memang harus diakui di NKRI masih banyak orang-orang tolol, masih banyak ketidak adilan dan ketimpangan, masih banyak PEJABAT-PEJABAT GOBLOK, KORUP DAN MARUK, dimana-mana terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme dimana-mana, masih banyak orang-orang munafik, terjadi fitnah memitnah, namun itu tidak menyurutkan saya untuk tetap loyal kepada NKRI.

 

Saya loyal kepada NKRI tidak berdasarkan bujuk rayu dari siapapun atau ada iming-iming materi dari siapapun, namun HATI NURANI YANG MENGATAKAN SAYA HARUS TETAP BERDADA DALAM PANGKUAN NKRI.

 

Aceh bagian dari NKRI itu mutlak tidak bisa ditawar-tawar lagi !!!!

Allahu Akbar !!!

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

SP Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------