Stockholm, 19 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN MASUK LAGI KELOBANG WAHHABI UNTUK MENCOBA MENYODORKAN SALAFUS SHOLIH MODEL SAUDI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KARENA JURUS ONDEL-ONDEL YUDHOYONO JAWA-NYA TIDAK MEMPAN, ITU SAPRUDIN KEMBALI KE JURUS WAHHABI ALIAS SALAFI SAUDI-NYA

 

“Menginventarisasir Islam Sempalan. Untuk melakukan pekerjaan ini, haruslah merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih. Karena mereka mempunyai penilaian yang tegas dengan referensi yang lengkap dan jelas. Juga di dalam masalah ini menyangkut pula identifikasi pemahaman Islam sempalan tersebut. Upaya yang demikian ini sangat penting di dalam memberi peringatan kepada umat Islam akan bahayanya penyimpangan dari pemahaman Islam yang benar dari pemahaman yang sesat. Juga upaya ini demikian pentingnya bila dikaitkan dengan kenyataan terlalu banyaknya firqah-firqah yang menyebabkan berbagai pikiran sesat di umat ini.“ (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Tue, 19 Jul 2005 14:19:51 +0700 (ICT))

 

Baiklah wahhabiyin Saprudin di Betawi.

 

Kelihatannya itu wahhabiyin Saprudin yang picisan ini mencoba untuk melihat dari sudut Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih untuk mengkaji apakah ada kelompok Islam sempalan atau tidak.

 

Nah, masalahnya, itu wahhabiyin picisan Saprudin tidak mengetahui secara mendalam bagaimana dan kapan itu muncul gerakan Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih dan oleh siapa dikembangkannya.

 

Kemudian itu wahhabiyin Saprudin hanya melihat dari permukaan saja apa itu yang dinamakan kelompok Salafus Sholih.

 

Dan sebagai bahan tambahan lainnya, itu wahhabiyin picisan Saprudin menampilkan hadits Rasulullah saw: "Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 akan masuk neraka. Para sahabat bertanya: "Siapa golongan yang selamat ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: "Al-Jama'ah". Diriwayatkan oleh Abu Huroirah, Rasulullah saw bersabda: "Orang-orang Yahudi terbagi dalam 71 golongan atau 72 golongan dan Nasranipun demikian. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan." (Tirmidzi 2564, Kitab Ul-Imaan). Dalam kitab sharh dari Tirmidzi, Imam Ahwazi berkata: "Penjelasan dari hadits ini, bahwa hadits ini berasal dari Abdullah bin Amru, bahwa semua dari golongan itu masuk neraka dan satu golongan yang masuk surga dan satu golongan ini adalah yang mengikuti Rasulullah saw. Golongan yang selamat itu adalah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah."

 

Nah selanjutnya kita perhatikan apa itu Salafus Sholih, dan dihubungkan dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

 

Itu kata salaf berasal dari kata dasar salifa yang berarti sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu.

 

Mengapa itu kata salaf atau salifa atau sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu dihubungkan dengan gerakan yang dikembangkan oleh pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ?

 

Karena sebenarnya lahirnya pemikiran pelurusan dan pemurnian tauhid dari Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah memang dari sejak masa hidupnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah tumbuh itu khurafat, syirik dan bid'ah ini. Mereka meminta-minta kepada kuburan, membangun bangunan kecil diatas kuburan.

 

Nah, dengan adanya perilaku umat Islam yang demikianlah lahir pemikiran Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk meluruskan dan memurnikan tauhid dari bau-bau khurafat, syirik dan bid'ah itu.

 

Kemudian ide pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada 1. Al-Qur'an. 2. Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih). 3. Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in.

 

Selanjutnya, itu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak dipengaruhi oleh ide yang dikembangkan oleh Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awal 66l H (22 Januari 1263 M) di Harran dan meninggal pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H. (25 September 1328 M) dalam penjara, karena Ibnu Taimiyah memang beberapa kali keluar dan masuk penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir. Dimana Ibnu Taymiyyah berkata:"...mereka (tabi'in dan tabiut tabi'in) adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

 

Jadi, sekarang dapat ditarik garis lurus, yaitu kata salaf atau salifa atau sabiq ini oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikenakan kepada orang-orang Islam pertama pada masa Rasulullah saw, atau yang dinamakan para sahabat, dan para pengikut sahabat atau yang disebut dengan tabi'in, serta mereka para pengikut tabi'in, yang disebut tabiut tabi'in.

 

Nah mereka itulah yang disebut orang-orang terdahulu, atau orang sabiq atau orang salifa atau orang salaf oleh para pengikut paham wahhabi atau salafi yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdull Wahhab.

 

Kemudian, itu kaum wahhabi atau salafi ini yang gerakannya dinamakan gerakan wahhabiyah atau salafiyyah adalah bertujuan untuk memperbaiki tauhid dan memperbaharui tauhid berdasarkan kepada Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut yang dipahami oleh para sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiut tabi'in.

 

Seterusnya, kalau kita gali lebih dalam, bagaimana itu paham wahhabi atau salafi ini dihubungkan dengan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah muncul, maka akan terlihat dimana itu diawali ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama Amir Muhammad bin Saud melancarkan gerakan pemurnian ketauhidan dan gerakan ekspansi wilayah diluar wilayah kekuasaan Dar'iyah, itu Khilafah Islamiyah Utsmani sedang berkuasa ( 679 H - 1341 H /1281 M - 1924 M).

 

Dimana wilayah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani mencakup 29 provinsi yang masing-masingnya dipimpin oleh Gubernur Jenderal, yaitu Rumelia, Anatolia, Roma, Karamanid, Mesir, Syria, Diyarbekir, Kurdistan, Dulgadir, Pulau Aegean (The Aegean Islands), Erzerum, Van, Shehrizor, Baghdad, Buda, Bosnia, Kanizsa, Ochakov, Trebizond (Trabzon), Tripoli, Cyprus, Tunisia, Morea, Algeria, Al-Hasa, Aleppo, Mosul, Basra, Hejaz. Sedangkan Wallachia, Moldavia, dan Crimea merupakan daerah yang berada dalam wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani yang wajib membayar pajak (tributary). Adapun wilayah Transylvania langsung dibawah pemerintahan pusat Khilafah (suzerainty).

 

Melihat dari provinsi-provinsi yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani, itu provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) berada dibawah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) inilah yang direbut dan diduduki oleh Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah yang disokong penuh oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan barisan muwahhidinnya, gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya, dan yang juga dibantu oleh pemerintah kerajaan kafir Inggris. Celakanya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) justru memakai alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan.

 

Padahal sebenarnya itu barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) dengan alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan telah dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud , Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud untuk menyerang Mekkah, Madinah, Jeddah dari tangan kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani dan sekaligus ingin mendirikan kerajaan Saudi. Satu-satunya kerajaan di dunia yang memakai nama keluarga, yaitu nama ibnu Saud.

 

Selanjutnya, itu barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya dibawah kaum wahabi Saudi inilah yang setelah Kerajaan Ibnu Saud berdiri gencar menyebarkan paham wahhabinya dengan mempergunakan kekuasaan yang ada ditangan Raja-Raja keturunan Ibnu Saud, dari mulai Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud, Raja Saud bin Abdul Aziz, Raja Faisal bin Abdul Aziz, Raja Khalid bin Abdul Aziz, dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Celakanya itu Raja-Raja keturunan Abdul Aziz ini tidak mampu membasmi syirik, bid'ah dan khurafat sebagaimana dipropagandakan oleh barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya.

 

Sekarang mengapa barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyah atau gerakan wahhabiyah dibawah kaum wahabi Saudi yang muncul setelah tahun 1703 M dibawah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menghubungkan gerakannya dengan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah ?

 

Karena kaum wahabi ini memaklumkan dan mendeklarkan bahwa gerakan dakwah salafiyah-nya atau dakhwah wahhabiyahnya berdiri diatas Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan Al-Qur'an dan Sunnah wajib dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiit tabi'in. Dan didasarkan juga kepada Ibnu Taymiyyah yang berkata:"...mereka adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

 

Nah kalau kita lihat itu yang dideklarkan oleh kaum wahabi dengan dakhwah wahhabiyahnya atau salafiyyahnya yang menganggap diri mereka lebih dari Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang lainnya adalah karena kaum wahabi ini menyatakan harus memahami Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiit tabi'in. Artinya sampai ke tabiit tabi'in atau para pengikut tabiin yang hidup antara tahun 100 H - 300 H / 790 M - 913 M . Atau sampai ke masa Khilafah Islamiyah dibawah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Muqtadir 908 M - 932 M. Inilah yang dinamakan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut salafus shalih menurut paham wahabi dari kaum wahabi Saudi.

 

Sekarang, apakah kelompok Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mengikuti, mempelajari, menggali apa yang dipelajari oleh para sahabat Rasulullah saw, pengikut sahabat dimasa Khilafah Islamiyah Umayyah, dan juga pengikut para pengikut sahabat pada masa Khilafah Islamiyah Umayyah dimana Khilafah Islamiyah Abbasiyah, tetapi bukan dari golongan kaum wahabi akan dianggap sebagai bukan golongan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang salafus shalih ?.

 

Jelas itu pemahaman kaum wahabi Saudi ini memang lebih merasa lurus tauhidnya ketimbang dari orang-orang Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mereka memahami, mempelajari, mendalami apa yang dipahami atau diajari oleh para tabi'in, dan tabiit tabi'in.

 

Kemudian kalau terus kita meneropong bagaimana itu hubungan antara Amir Muhammad bin Saud dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

 

Kalau kita menggali dari tahun 1745 M sampai tahun 1792 M itu wilayah kekuasaan Amir Muhammad bin Saud telah meluas dari wilayah Dar'iyah meluas ke wilayah Riyadh. Dengan didudukinya Riyadh, berarti sebagian besar wilayah Najd dikuasainya. Setelah Amir Muhammad bin Saud meninggal pada tahun 1765, digantikan oleh putranya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud yang juga menantu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berkuasa dari tahun 1765 sampai tahun 1803.

 

Disini terlihat bagaimana itu jihad perang untuk menguasai wilayah Riyadh yang telah dilancarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud dan juga diteruskan bersama Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud yang memakan waktu hampir 50 tahun ini. Dan jihad Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab inilah yang selintas dilontarkan oleh ulama wahhabi atau salafi Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz diatas.

 

Sepeninggal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada tahun 1206 H / 1792 M, perjuangan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya tidak berhenti, malahan makin gencar dan makin meluas. Seperti diteruskan oleh putra-putra Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, diantaranya Syaikh Imam Abdullah bin Muhammad, Syaikh Husin bin Muhammad, Syaikh Ibrahim bin Muhammad, Syaikh Ali bin Muhammad. Juga oleh cucu-cucu Syaikh, seperti Syaikh Abdurrahman bin Hasan, Syaikh Ali bin Husin, Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad. Termasuk murid-murid Syaikh, diantaranya Syaikh Hamad bin Nasir bin Mu'ammar.

 

Dibawah pimpinan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud itu barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya pergi ke Najaf di Irak untuk menghancurkan bangunan makam Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga diteruskan ke Karbala di Iraq untuk menghancurkan bangunan makam Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib yang dilakukan pada tahun 1802, satu tahun sebelum Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud turun dari kekuasaannya.

 

Ketika Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud turun, digantikan oleh Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud yang memerintah dari tahun 1803 sampai meninggalnya pada tahun 1814. Dibawah pimpinan Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya menyerang Hejaz, dan bisa menduduki Mekkah dan Madinah. Tetapi, Khilafah Islamiyah Utsmani, melalui Raja Muda Muhammad Ali dari Mesir bisa merebut kembali Mekkah dan Madinah, dimana pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dipaksa mundur kembali ke Najd. Ketika Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud meninggal digantikan oleh Abdullah bin Saud yang berkuasa dari tahun 1814 sampai tahun 1818. Tetapi pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dibawah pimpinan Abdullah bin Saud tidak mampu melawan pasukan perang Muhammad Ali dari Mesir, sehingga akhirnya Riyadh jatuh ketangan pasukan Muhammad Ali dan Abdullah bin Saud dipaksa mundur ke Dar'iyah. Tetapi, Dar'iyah inipun akhirnya jatuh ketangan pasukan Raja Muda Muhammad Ali dari Mesir.

 

Ketika Muhammad Ali menguasai kembali Hejaz dan Najd termasuk Dar'iyah, dinasti Saud masih hidup walaupun tidak mempunyai kekuasaan dan wilayah de-facto, dimana penerus Abdullah bin Saud adalah Turki bin Abdullah, dan setelah Turki bin Abdullah turun digantikan oleh Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud. Ketika Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud turun digantikan oleh Abdul Rahman bin Faisal (1850 - 1928), yang berkuasa dari tahun 1889 sampai tahun 1891. Pada tahun 1889 Abdul Rahman bin Faisal bisa memegang kembali kendali pemerintahan secara de-jure dan de-facto dan melakukan serangan ke Riyadh dan berhasil mendudukinya. Tetapi Abdul Rahman bin Faisal tidak mampu bertahan ketika timbul pertentangan melawan Ibnu Rashid yang berkuasa diwilayah yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Pada tahun 1891 Abdul Rahman bin Faisal dipaksa keluar dari Riyadh dan mendapat asilum di Kuwait. Walaupun Abdul Rahman bin Faisal berada di exil di Kuwait, tetapi ia tetap dianggap sebagai Imam sampai meninggalnya pada tahun 1928.

 

Ketika Abdul Rahman bin Faisal dipaksa keluar dari Riyadh dan mendapat asilum di Kuwait, diangkat Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud (1880 M - 9 November 1953 M) pada tahun 1901 dalam usia 21 tahun sebagai pemimpin Dinasti Saud dengan gelar Sultan Najd. Setahun kemudian, pada tahun 1902, Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud atau yang dipanggil dengan panggilan Ibnu Saud bersama pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya melakukan serangan ke Riyadh dan berhasil menduduki Riyadh dan membunuh Gubernur Riyadh yang berasal dari keluarga Ibnu Rashid. Dengan didudukinya Riyadh, wilayah kekuasaan de-jure dan de-facto Ibnu Saud kembali meluas. Tetapi, Ibnu Rashid bersama pasukan Khilafah Islamiyah Utsmani kembali menyerang pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya, sehingga pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dibawah Ibnu Saud bisa dipukul mundur dan dikalahkan pada tanggal 15 Juni 1904.

 

Ternyata, pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang telah dipukul mundur oleh pasukan Ibnu Rashid bersama pasukan perang Khilafah Islamiyah Utsmani, bisa dibangun kembali dengan bantuan dan latihan dari pihak pasukan Kerajaan kafir Inggris yang sedang terlibat dalam Perang Dunia Pertama (1914 - 1918).

 

Barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ini setelah Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud yang bergelar Sultan Najd menandatangani perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif tanggal 26 Desember 1915 dengan pihak Kerajaan kafir Inggris, dan bisa mengalahkan Ibnu Rashid penguasa Provinsi Hejaz dalam Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1922, dan menumbangkan Amir Mekkah Hussain bin Ali al- Hashimi Amir tahun 1925, serta memproklamasikan berdirinya Kerajaan Saudi pada tanggal 23 September 1932 yang diakui secara langsung oleh Pemerintah Kerajaan kafir Inggris.

 

Perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif 26 Desember 1915 ini telah banyak ditulis oleh sejarawan-sejawaran dunia dan ditulis dalam buku-buku sejarah dunia yang menyangkut sejarah pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Dinasti Ibnu Saud, sebagaimana yang ditulis juga oleh seorang akhli sejarah Arnold J Toynbee dalam bukunya Survey of International Affairs tahun 1925, Vol. 1, halaman 273.

 

Dimana Pemerintah Kerajaan kafir Inggris melakukan perjanjian dengan Ibnu Saud pada bulan Desember 1915 yang menjadikan wilayah Najd yaitu wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Ibnu Saud sebagai wilayah protektorat Inggris. Sedangkan dari pihak Ibnu Saud memberikan janji akan melakukan perang melawan Ibnu Rashid yang menguasai Provinsi Hejaz dibawah wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Dengan bantuan uang sebanyak 5000 Pound Sterling setiap bulan ditambah dengan bantuan alat persenjataan dari Kerajaan kafir Inggris, akhirnya pada tahun 1922 Ibnu Saud yang didukung oleh barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyah alias wahhabiyahnya bisa mengalahkan pasukan Ibnu Rashid dari Khilafah Islamiyah Utsmani untuk Provinsi Hejaz. Setelah Hejaz dikuasai oleh Ibnu Saud beserta pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyah alias wahhabiyahnya, pada tanggal 23 September 1932 dinyatakan berdiri Kerajaan Saudi dan diakui langsung oleh Kerajaan kafir Inggris, dengan paham wahhabi dinyatakan sebagai paham atau ideologi Kerajaan Saudi.

 

Nah, kelihatan bahwa jalur proses berdirinya Kerajaan Saudi ini yang melibatkan didalamnya keturunan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915 yang sebagian perjanjiannya ialah mengakui wilayah de-facto Najd sebagai wilayah kekuasaan Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud (1880 M - 9 November 1953 M) atau dikenal dengan panggilan Ibnu Saud yang bergelar Sultan Najd, dan merupakan wilayah protektorat Inggris , serta mendapat subsidi sebesar 5000 pound Sterling perbulannya ditambah dengan perlengkapan persenjataan.

 

Memang walaupun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri tidak menuliskan dan tidak mengikuti ketika dilangsungkannya perjanjian Qatif ini, karena memang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah meninggal pada tahun 1206 H / 1792 M. Tetapi para penerus perjuangan dan pergerakan hawahhabiyah atau salafiyyahnya dengan gerakan muwahhidinnya atau gerakan ikhwannya terus melekat didada-dada kaum wahhabi atau salafi ini termasuk para keluarga Ibnu Saud ini. Seperti Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud yang bergelar Sultan Najd menandatangani perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif tanggal 26 Desember 1915 ini dengan pihak Kerajaan kafir Inggris.

 

Dimana dengan ditandatanganinya Perjanjian Qatif ini, maka itu pihak Ibnu Saud bisa mengalahkan Ibnu Rashid yang menguasai Provinsi Hejaz dibawah wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1922. Begitu juga Hussain bin Ali al-Hashimi Amir Mekkah bisa dijatuhkan oleh Ibnu Saud pada tahun 1925. Setelah Mekkah jatuh ketangan Ibnu Saud dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini, langsung Inggris pada tahun1927 mengakui kekuasaan dan wilayah Ibnu Saud yang meliputi Hejaz ini. Dan setelah Hejaz dikuasa, maka pada tanggal 23 September 1932 dinyatakan Kerajaan Saudi berdiri dan diakui langsung oleh Kerajaan kafir Inggris, dengan paham wahhabi dinyatakan sebagai paham atau ideologi Kerajaan Saudi.

 

Nah sekarang, apakah memang pihak barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ini tidak mengakui isi perjanjian Qatif 26 Desember 1915 yang ditandatangani oleh Ibnu Saud yang nota bene adalah Sultan Najad atau Sultannya kaum barisan muwahhidin atau ikhwan ini ?.

 

Ataukah memang itu kaum wahabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini setelah Kerajaan Dinasti Ibnu Saud berdiri tidak lagi mau mengikuti sepenuh hati Raja-Raja mereka dari keturunan Ibnu Saud ini ? Sehingga kaum wahhabi atau salafi ini menafikan dan menutup mata dari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum berdirinya Kerajaan Dinasti Ibnu Saud dengan bantuan dan kerjasama Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915 untuk menguasai dan menduduki wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani yakni wilayah Hejaz (Madinah, Mekkah, Jeddah)

 

Ataukah memang setelah meninggalnya Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud, yang digantikan oleh putranya Raja Saud bin Abdul Aziz tahun 1953 yang kerjanya poya-poya dengan menghambur-hamburkan uang minyaknya dan sangat dekat dengan Penguasa Negara kafir federasi Amerika, sehingga Kerajaan Saud hampir bangkrut, kalau tidak segera digantikan oleh Faisal bin Abdul Aziz pada tanggal 2 November 1964, dan Raja Saud bin Abdul Aziz dipaksa untuk hidup di exil di Yunani. Juga ternyata Raja Faisal bin Abdul Aziz inipun tidak sepenuh hati didukung oleh kaum wahhabi atau salafi dari gerakan muwahhidin atau ikhwannya ini, sehingga Raja Faisal bin Abdul Aziz dibunuh dengan cara ditembak oleh keponakannya, Faisali bin Musad bin Abdul Aziz pada tanggal 25 Maret 1975.

 

Kemudian muncul Khalid bin Abdul Aziz sebagai Raja tetapi tidak lama karena tahun 1982 meninggal dunia karena serangan jantung. Sehingga tahta Kerajaan Ibnu Saud jatuh ke tangan Fahd bin Abdul Aziz, tetapi karena Fahd ini terkena serangan strok, maka yang berkuasa secara de-facto adalah Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud.

 

Kelihatannya itu kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini yang telah ikut bersama-sama dari sejak awal perjuangan di Dar'iyah dibawah pimpinan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Amir Muhammad bin Saud, diteruskan oleh Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud menantunya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad al Saud, Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki, Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud, Saud bin Abdul Aziz, Faisal bin Abdul Aziz, Khalid bin Abdul Aziz, Fahd bin Abdul Aziz, berusaha untuk menghilangkan sejarah hitam yang melekat dalam tubuh dinasti Ibnu Saud dengan Perjanjian Qatif-nya tanggal 26 Desember 1915 dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris untuk menghancurkan wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani di Hejaz (Mekkah, Madinah, jeddah).

 

Dimana kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan gerakan muwahhidin atau ikhwannya ini kalau bisa ingin menghapuskan jalur hitam dari proses lajunya pertumbuhan dan perkembangan Dinasti Ibnu saud dengan kerajaan Saudi-nya yang didalamnya mengandung Perjanjian Qatif 26 Desember 1915.

 

Dan memang kelihatan itu setelah berdiri Kerajaan Saudi, ternyata timbul pertentangan yang sangat mendasar antara barisan muwahhidin atau ikhwan dengan Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud. Dimana pertentangan antara kaum barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang dilahirkan dari pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pihak keluarga Kerajaan Saud khususnya dengan Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud pada awal berdirinya Kerajaan Saudi ini, tidak begitu dibesarkan oleh kedua belah pihak, disebabkan masih loyalnya para ulama kaum wahhabi atau salafi ini terhadap Raja-raja keturunan Ibnu saud ini.

 

Dimana perbedaan yang menyolok itu adalah dimana Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud berpikiran cukup membangun Kerajaan Saud yang sudah berdiri, sedangkan barisan muwahhidin atau ikhwan berpikiran ingin terus memperluas kekuasaan wilayah untuk tunduk dibawah kekuasaan wahabi atau salafinya.

 

Bagaimana untuk mengakhiri konflik perbedaan taktik strategi kekuasaan ini, ternyata Putra Raja Talal bin Abdul Aziz pernah menyatakan bahwa ketika diawal berdirinya Kerajaan Saudi, itu Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud memanggil para ulama wahabi atau salafi ini untuk datang ke Ibu Kota Riyadh dengan disuruh memilih dua pilihan, yakni memilih Malik Mamlakah atau memilih barisan muwahhidin atau ikhwan. Ternyata para ulama wahhabi atau salafi memilik Malik Mamlakah Al Arabiyah Suudiyah.

 

Walaupun sejak itu kelihatan dari permukaan keadaan cukup tenang, tetapi pergolakan dibawah cukup bergejolak. Hanya karena selama pihak ulama wahabi atau salafi masih bisa bekerjasama dengan Raja-Raja Ibnu Saud ini, yang sekaligus juga dijadikan alat politik oleh keluarga Raja Ibnu Saud, khsusunya dalam hal pembuatan fatwa dan pemberian nasehat. Adapun soal kebijaksanaan dan pelasanaan pemerintahan yang menyangkut politik keamanan, sosial, ekonomi ada ditangan Raja.

 

Nah sekarang, dengan latar belakang inilah, mengapa itu para pengikut paham wahhabi atau salafi yang ada diluar Kerajaan Ibnu Saud, seperti di Indonesia, bersikap seperti apa yang difatwakan oleh ulama-ulama wahabi atau salafinya di Saudi yang tetap setia kepada para Raja, walaupun Raja-Raja Saudi tidak mencerminkan contoh pemimpin Islam yang betul-betul, tetapi selama para ulama wahhabi atau salafi mengiyakan dan tidak melakukan tindakan pembangkangan, maka selama itu para pengikut kaum wahhabi atau salafi yang ada diluar Kerajaan saudi bersikap persis seperti para ulamanya.

 

Sehingga memang bisa dimengerti mengapa itu kaum wahhabiyin atau salafiyyin tidak ada yang terang-terangan menuliskan kronologis proses pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Dinasti Ibnu Saud ini dalam situs-situs wahhabi atau salafi-nya.

 

Walaupun memang Kerajaan Dinasti Ibnu Saud ini memakai paham wahhabi atau salafi sebagai ideologi negaranya, tetapi, karena kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini melihat tingkah laku Raja-Raja Ibnu saud ini sudah dianggap menyimpang dari garis-garis Islam, seperti contohnya Raja Saud bin Abdul Aziz dipaksa untuk turun karena kerjanya minum-minum, menghamburkan uang Kerajaan dan uang sakunya sendiri, ditambah begitu eratnya dengan Presiden Amerika, terutama Presiden Dwight D. Esinhower yang berkuasa dari tahun 1953 sampai tahun 1961.

 

Nah sekarang, dari fakta, bukti, dan sejarah proses pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Saudi dari mulai di Dar'iyah sampai ke Mekkah, Madinah, Jeddah inilah bisa dilihat dan dibaca bagaimana sebenarnya perjuangan dan sepak terjang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud membangun Dinasti Saud yang bermula di Dar'iyah dan meluas dengan menduduki wilayah Hejaz yang dikuasai oleh Khilafah Islamiyah Utsmani dan akhirnya menjadi Kerajaan Saudi dengan menerapkan paham wahhabi atau salafinya.

 

Nah inilah fakta, bukti, dan sejarah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia yang dibangun oleh keluarga Muhammad bin Saud dan Keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan barisan muwahhidin dan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya.

 

Dan sebagaimana Ahmad Sudirman selalu berulang kali menyatakan bahwa fakta, bukti, dan sejarah versi wahhabi atau salafi mengenai jalur proses berdirinya Kerajaan Saudi ini yang melibatkan didalamnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya bersama Amir Muhammad bin Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915. Ini berarti bukan hanya membicarakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Amir Muhammad bin Saud saja, melainkan membicarakan proses jalur perjuangan barisan muwahhidin atau ikhwan yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud sampai kepada berdirinya Kerajaan Ibnu Saud dan sampai detik sekarang ini.

 

Jadi kalau membicarakan sepak terjang perjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud dan keturunannya, itu artinya membicarakan perjuangan kaum wahhabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya dan perjuangan politik yang dikembangkan oleh Amir Muhammad bin Saud yang diteruskan oleh anak-cucu-cucunya, sampai terbentuknya Kerajaan Ibnu Saud hingga sekarang ini.

 

Karena itu untuk mengetahui apa itu kaum wahabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyahnya, maka harus dipelajari dari mulai sepak terjang yang dijalankan oleh Syaikh Muhammad bin Abdull wahab yang bekerjasama dengan Amir Muhammad bin Saud dari sejak di Dar'iyah hingga terbentuknya Kerajaan Ibnu Saud dan sampai detik sekarang ini.

 

Berdasarkan dasar pemikiran yang menyeluruh inilah Ahmad Sudirman menampilkan apa itu yang dinamakan kaum wahhabi atau salafi dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyah bersama barisan muwahhidin atau ikhwannya.

 

Jadi, Ahmad Sudirman dalam membicarakan barisan muwahhidin atau ikhwannya dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyahnya tidak hanya mencomot sebagian kecil saja (misalnya kehidupan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), melainkan membicarakan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan gerakan wahhabiyah atau salafiyyah dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya yang dikembangkan dan dilahirkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang bekerjasama dengan Ibnu Saud dan para keturunannya dalam rangka usaha memperluas wilayah kekuasaan dari daerah Dar'iyah meluas ke Riyadh, Najd, Madinah, Jeddah dan Mekkah, untuk membentuk dan membangun Kerajaan Ibnu Saud.

 

Kemudian yang dinamakan ulama kaum wahhabi atau salafi ini bukan hanya pendiri gerakan wahhabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab saja, melainkan banyak lagi ulama-ulama wahhabi atau salafi ini sepeninggal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai detik sekarang ini, baik itu para putra dan para cucu serta para cicit-nya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tinggal di Kerajaan Ibnu Saud, ataupun yang ada diluar wilayah kekuasaan Kerajaan Ibnu Saud.

 

Nah inilah yang perlu dipahami dan dipelajari oleh mereka yang ingin mengetahui sampai mendalam mengenai sepak terjang kaum wahhabi atau salafi dan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya. Jadi bukan hanya melihat dan mendengar dari atas permukaannya saja.

 

Jadi, wahhabiyin picisan Saprudin, kalau kalian memakai kacamata dari sudut gerakan wahhabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, atau yang kalian katakan Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih adalah masih lemah dan masih dipertanyakan kelompok Islam ini.

 

Nah, kalau kalian wahhabiyin picisan Saprudin ada kelompok lain selain kelompok Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih model barisan muwahhidin atau ikhwan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab coba tampilkan di mimbar bebas ini.

 

Dan coba kalian terangkan apa itu yang dimaksud dengan Salafus Sholih dan siapa yang mengembangkannya sampai detik sekarang ini, hingga sampai ke negara sekuler burung garuda pancasila.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Tue, 19 Jul 2005 14:19:51 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Balasan: KHAWARIJ

To: SP Saprudin <im_surya_1998@yahoo.co.id>, ahmad@dataphone.se

Cc: bambang_hw@rekayasa.co.id, airlambang@radio68h.com, habearifin@yahoo.com, kabayan555@yahoo.com, azis@ksei.co.id, Agus.Renggana@kpc.co.id, agungdh@emirates.net.ae, abdul.muin@conocophillips.com, ahmedjpr@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, afdalgama@hotmail.com, abu_dipeureulak@yahoo.com, asudirman@yahoo.co.uk

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Asu, kita ngobrol ringan saja di mimbar ini. Asu  (maaf jangan kamu bilang Budhek lagi ya, kata sandang budhek pantasnya melekat pada diri orang yang tidak mendengar ucapan orang lain). Kita ngobrol, gak usah belok kiri belok kanan, kita kembali kepada substansi syariah Islam.

 

Asu, kamu benar orang Aceh ? Betulkah kamu lahir di Aceh ? Baiklah Asu, kita santai saja, rilex saja, gak usah teriak-teriak ngata-ngatain orang lain. Marilah kita perbanyak istighfar, apa yang saya dan kamu ucapkan di mimbar ini, baik perkataan kasar maupun tidak, marilah kita mohon ampun kepada Allah Swt.

 

Asu, saya percaya kepadamu tentang pemaham Islam sangat dalam, namun apa salahnya jika saya sedikit memberikan argumen sebagai sharing informasi bagi saya juga kamu sekalian yang ada di Swedia.

 

Asu, Islam itu sesungguhnya hanya satu, sebagai agama yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dengan kesempurnaan yang mutlak."Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu."(Al-Maidah:3)

 

Islam telah menjawab segala problematika hidup dari segenap seginya. Tetapi di masa kini sedikit sekali orang yang mengetahui dan meyakini kesempurnaannya.Ini sesungguhnya adalah sebagai akibat pengkaburan Islam dari warna aslinya oleh debu dan polusi bid'ah, sehingga mayoritas umat Islam amat rancu permasalahannya terhadap agamanya.

 

Allah Ta'ala berfirman : "Barangsiapa yang menyimpang dari rasul setelah terang padanya petunjuk itu, dan mengikuti jalannya selain mukminin, Kami akan gabungkan dia dengan orang-orang sesat dan Kami masukkan dia ke neraka Jahannam."(An-Nissa:115). Islam itu sendiri adalah Jama'ah (satu kesatuan) dan yang menyimpang dari padanya adalah firqah (perpecahan).

 

Allah berfiman : "Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan agama Islam ini dan jangan kalian berpecah belah dari agama ini…"(Ali Imran:102) Sedangkan firqah itu tidak lain disebabkan oleh adanya orang-orang yang mengikut perkara syubhat (rancu) dalam agama ini dan mengekor kepada hawa nafsu.

 

"Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (syubhat dan hawa nafsu), niscaya bila kamu ikut jalan-jalan itu akan menyimpangkan kalian dari jalan Allah."(Al-An'am:153). Menyeleweng dari jalan Islam itu berarti menyimpang pula dari Al-Jama'ah, dan sekarang ini orang mengistilahkan dengan Islam sempalan, dalam pengertian sebagai aliran pemahaman Islam yang sesat.

 

Menginventarisasir Islam Sempalan

 

Untuk melakukan pekerjaan ini, haruslah merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah Salafus Sholih. Karena mereka mempunyai penilaian yang tegas dengan referensi yang lengkap dan jelas. Juga di dalam masalah ini menyangkut pula identifikasi pemahaman Islam sempalan tersebut.

 

Upaya yang demikian ini sangat penting di dalam memberi peringatan kepada umat Islam akan bahayanya penyimpangan dari pemahaman Islam yang benar dari pemahaman yang sesat. Juga upaya ini demikian pentingnya bila dikaitkan dengan kenyataan terlalu banyaknya firqah-firqah yang menyebabkan berbagai pikiran sesat di umat ini.

 

Banyaknya firqah-firqah demikian ini karena bid'ah itu akan melahirkan sekian banyak kesesatan. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada di umatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat.

 

Para shahabat bertanya:"Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Yaitu golongan yang mengikuti jalan hidupku dan jalan hidup para shahabatku."(HR Tirmidzi, di hasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih Al-Jami':5343)

 

Jadi ditegaskan di hadits ini bahwa umat Islam akan tercerai berai menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan. Dan yang dikatakan selamat disini ialah selamat di dunia dan selamat di akhirat dari api neraka. Satu golongan yang tetap istiqomah ini berpegang dengan Al-Jama'ah sedangkan yang lainnya menyempal dari Al-Jama'ah sehingga sesat dan celaka. Mereka ini sesungguhnya yang dinamakan Islam sempalan.

 

Kalau Islam sempalan itu dimisalkan sebagai tanaman, maka tanah subur tempat ia tumbuh dengan bagus dan cepat ialah kebodohan umat Islam tentang agamanya. Kebodohan yang demikian ini adalah akibat dari semakin rendahnya perhatian umat kepada pentingnya memahami dan mempelajarai hukum agama.

 

Para ulama yang bernar-benar memahami agama dan mengamalkannya semakin langka. Yang banyak ialah para ulama karbitan, makelar ilmu yang mencari dunia dengan agamanya. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari hamba-hamba-Nya, akan tetapi dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga tidak tersisa seorang ulama pun, maka manusia pun menunjuk para pimpinan mereka orang-orang yang bodoh (tentang ilmu agama), maka mereka pun bertanya tentang agama kepada para pimpinan bodoh ini dan para pimpinan bodoh itupun memberi fatwa tanpa ilmu, akibatnya para pimpinan itu sesat dan menyesatkan pengikutnya."(HR Bukhari dan Muslim)

 

Oleh karena itu, sebagai upaya untuk mengantisipasi bermunculannya Islam sempalan, umat Islam harus dibangkitkan kembali semangatnya dalam menuntut dan mengamalkan ilmu agama. Disamping itu, segala upaya untuk menyebarkan ilmu agama haruslah dipermudah. Penjelasan dan pemahaman agama harus dikembalikan kepada ahlinya dan jangan sembarang orang merasa berhak berbicara tentangnya.

 

Apalagi kalau ia sama sekali tidak mempunyai latar belakang ilmu agama. Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat salah satunya ialah ilmu diambil dari orang-orang kecil."(HR Ibnul Mubarrak dalam Az-Zuhud, lihat Ash-Shohihah no.696).

 

Ketika ditanya kepada Ibnul Mubarrak siapakah orang-orang kecil (Ashaghir) yang dimaksud di sini, beliau menjawab: "Orang-orang kecil itu ialah yang berbicara tentang agama dari pikirannya sendiri, adapun orang kecil yang mengambil ilmu dan menyampaikan dari ulama besar, maka tidaklah dia dimasukkan dalam golongan orang-orang kecil". Oleh karena itu orang-orang yang menuntut ilmu agama dan kemudian menyebarkannya haruslah didkukung dan dibela, bila kita tidak ingin umat ini terus menerus diganggu dan dikacaukan oleh gerakan Islam sempalan.

 

Saya secara pribadi dan keluarga selalu mewaspadai gerakan Islam sempalan. Oleh karena itu saya berusaha mencari patokan untuk menilai sesat atau tidaknya suatu gerakan.

 

Dan sekarang ini banyak pula ulama karbitan atau ustad karbitan yang dijadikan nara sumber penilaian, akibatnya fitnah yang meresahkan umat Islam terus mencekam dan semakin sulit umat Islam dipersatukan serta dipersaudarakan dengan sesama mereka.

Wallahu a'lam bi shawab.

Ok Asu, hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Betawi, Indonesia

----------