Stockholm, 20 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KANG BECAK, ITU PNA & BANGSA ACHEH DENGAN AMAN BANGUN KEKUATAN DI ACHEH TANPA DIANCAM TNI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KANG BECAK, ITU KEMENANGAN BESAR BAGI PEMERINTAH NEGARA ACHEH & BANGSA ACHEH DENGAN AMAN BANGUN KEKUATAN DI ACHEH TANPA DIANCAM TNI

 

"Ijinkanlah saya yang bodoh ini mengirimkan komentar. (1) Tidak dijelaskannya secara detail isi perundingan, jelas menimbulkan banyak pertanyaan. (2) Semua hal yang menyangkut Acheh harus dilaksanakan dalam kerangka NKRI. Poin nomor 2 inilah yang harus dicermati dengan baik. Dalam hal ini tidak ada kata menang ataupun kalah, karena Acheh memang termasuk dalam wilayah NKRI secara syah dan diakui oleh internasional. Dengan perdamaian ini semoga kebencian yang terpendam akan berakhir. Acheh, bersama dengan daerah lainnya berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, demi mencapai Indonesia Raya." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Wed, 20 Jul 2005 07:12:32 -0700 (PDT))

 

Baiklah Kang Becak di Tokyo, Jepang.

 

Sebenarnya dalam perjuangan politik yang sedang dijalankan oleh Pemerintah Negara Acheh (PNA) sebagaimana yang telah dituangkan dalam hasil perundingan ASNLF-RI di Vantaa, diluar kota Helsinki, Finlandia pada putaran ke-5, 12 - 17 Juli 2005 yang dikemukakan pada tahap awal dalam Joint statement oleh pihak ASNLF dan RI di Helsinki, 17 Juli 2005 melalui siaran pers yang disampaikan oleh Presiden Martti Ahtisaari, sudah jelas menggambarkan kedudukan masing-masing pihak.

 

Kalau dilihat dari garis besarnya apa yang telah disepakati di Vantaa itu adalah pertama, pemerintah Aceh yang didalamnya mencakup undang undang tentang pengaturan sistem pemerintahan Acheh, partisipasi politik, ekonomi, dan aturan hukum. Kedua, hak asasi manusia. Ketiga amnesti dan integrasi kembali kedalam masyarakat. Keempat, pengaturan keamanan. Kelima, misi pemantauan. Dan keenam, penyelesaian sengketa.

 

Nah dari sudut ini saja sudah kelihatan posisi masing masing pihak sudah bergeser. Dengan bergesernya posisi masing-masing ini sudah jelas nampak ada yang kehilangan dan ada yang mendapat kemenangan dari hasil perundingan ASNLF-RI ini.

 

Kalau melihat hanya dari sudut RI dengan istilah within the unitary state and constitution of the Republic of Indonesia, maka memang pihak RI sudah kegirangan, karena perjanjian tersebut dalam ruang lingkup the unitary state. Tetapi, kalau ditelaah lebih luas lagi, maka akan terbongkar bahwa walaupun dalam ruang lingkup the unitary state, itu posisi RI telah bergeser banyak sekali, dan ruang lingkup the unitary state tidak banyak mempengaruhi atas status Pemerintah Negara Acheh. Mengapa ?

 

Karena dari pihak Pemerintah Negara Acheh masih tetap tidak mengakui bahwa wilayah tanah teritorial Acheh merupakan milik dan dibawah kedaulatan RI. Kendatipun dari pihak RI tetap mengotot bahwa wilayah Acheh menjadi wilayah RI, dan memang itu sejak dianeksasi oleh pihak Soekarno dengan RIS dan RI-nya 14 Agustus 1950.

 

Jadi sebenarnya tidak berobah pengakuan dari pihak Pemerintah Negara Acheh terhadap RI yang masih tetap menganeksasi dan menjajah wilayah teritorial Acheh.

 

Hanya sekarang, ada kemajuan yang besar yang dicapai dalam perundingan Helsinki ini yaitu, Pemerintah Negara Acheh telah diberikan hak politis untuk mengatur wilayah Acheh yang masih tetap diduduki oleh pihak RI. Dibandingkan dengan sebelum perundingan, Pemerintah Negara Acheh hanya bisa mengatur dan mengontrol Acheh dari wilayah pengasingan di Swedia.

 

Nah, setelah perundingan Helsinki, Pemerintah Negara Acheh memiliki hak politis untuk mengatur dan mengontrol wilayah Acheh.

 

Disinilah sekarang perbedaannya. Dari sebelum diadakannya perundingan dengan telah disepakatinya perundingan Helsinki.

 

Jadi, sekarang pihak Pemerintah Negara Acheh secara de-jure dan de-facto telah mampu menguasai wilayah Acheh, walaupun dari pandangan sudut RI wilayah Acheh masih berada dalam wilayah RI.

 

Dalam hal ini, khususnya tentang strategi perjuangan bangsa Acheh untuk mencapai penentuan nasib sendiri sudah banyak melangkah kedepan. Artinya dalam wilayah yang masih dikuasai RI, pihak Pemerintah Negara Acheh secara penuh bisa menggalang kekuatan yang aman tanpa harus memikirkan akan mendapat gangguan pihak RI. Mengapa ? karena berdasarkan kesepakatan Helsinki masing-masing pihak tidak dibenarkan untuk saling menyerang.

 

Nah, dalam posisi inilah Pemerintah Negara Acheh akan secara leluasa membangun kekuatan untuk menggalang untuk menuju penentuan nasib sendiri secara politis. Dengan kekuatan secara politis yang ditunjang oleh kekuatan seluruh bangsa Acheh yang ada di Acheh dan yang ada diluar Acheh merupakan motor penggerak yang hebat yang bisa merobohkan benteng pertahanan RI sehingga wilayah tanah Acheh akan kembali ketangan banga Acheh.

 

Posisi inilah yang tidak dikenal oleh sebagian besar bangsa Acheh dan oleh sebagian besar rakyat di RI. Tentu saja, ada pihak-pihak tertentu dari rakyat RI yang menganggap bangga dengan keberhasilan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla melakukan perdamaian di Acheh. Padahal itu Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dengan perundingan Helsinki ini telah menjadikannya sebagai sarana dan modal politis untuk keuntungan politik mereka berdua.

 

Nah, dikala dua orang ini, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla kegirangan dengan hasil politis perundingan Helsinki untuk dijadikan modal mereka pada kampanye Presiden yang akan datang, karena bisa jadi dua orang ini akan menjadi lawan satu sama lain untuk menduduki presiden RI yang ke tujuh dalam pemilihan presiden yang akan datang. Jauh di Acheh Pemerintah negara Acheh terus membangun kekuatan dengan cara yang aman tanpa harus merasa takut diganggu dan diancam dibunuh oleh pihak TNI. Inilah salah satu kemenangan bagi bangsa Acheh.

 

Jadi, kemenangan besar bagi bangsa Acheh melalui Pemerintahan Sendiri di Acheh adalah membangun kekuatan bangsa Acheh di Acheh diwilayah yang masih tetap diduduki oleh penjajah RI tanpa merasa terancam dan terganggu oleh TNI.

 

Dibandingkan dengan sebelum kesepakatan Helsinki dicapai, itu mana bisa Pemerintah Negara Acheh dengan leluasa mengadakan hubungan dengan pihak TNA di Acheh, tanpa harus disadap dan dijegal oleh pihak intelijen TNI dan BIN serta kekuatan pasukan TNI. Tetapi setelah disepakati perjanjian Helsinki, maka dengan aman dan damai Pemerintah Negara Acheh, TNA dan bangsa Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri membangun Acheh dengan tanpa harus menggunakan senjata untuk menghadapi TNI, melainkan dengan kekuatan ilmu, tenaga, politis, keuangan dan sumber daya alam dan manusia Acheh yang ada di Acheh siap membangun Acheh.

 

Nah, ketika sudah saatnya, kekuatan bangsa Acheh mencapai titik matang, maka disanalah kekuatan bangsa Acheh akan mencapai titik puncak pencapaian penentuan nasib sendiri. Dikala pihak para politikus karbitan di Jawa saling berebut kekuasaan dan kedudukan.

 

Kemudian, kalau ada pelanggaran dari pihak TNI terhadap hasil kesepakatan Helsinki ini, maka dengan mudah pihak internasional, dalam hal ini Uni Eropa dan ASEAN akan turun tangan. Jadi, sangat sulit bagi TNI dan intelijennya untuk kembali menjalankan taktik mengadu domba bangsa Acheh melalui keroco-keroco milisinya yang sekarang sudah bertebaran di Acheh untuk mengganggu pelaksanaan hasil kesepakatan perjanjian Helsinki 2005 ini.

 

Jadi, saudara Kang Becak di Tokyo, Jepang, kalau dipelajari dari apa yang diungkapkan diatas, maka akan terbaca bahwa bangsa Acheh-lah yang mendapat posisi yang diuntungkan dengan adanya kesepakatan Helsinki ini.

 

Dan tentu saja, pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh hasil kesepakatan Helsinki ini, seperti pihak PDI-P dan Jenderal-Jenderal TNI tidak melakukan penggagalan dan penjegalan dalam pelaksanaan Memorandum of Understanding 15 Agustus 2005 ini. Terutama dari pihak TNI tidak melakukan penggerakan kaum milisinya di Acheh untuk mensabotase dan menggagalkan hasil kesepakatan Helsinki ini.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 20 Jul 2005 07:12:32 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Salam Bangsaku

To: ahmad@dataphone.se

 

Ijinkanlah saya yang bodoh ini mengirimkan komentar.

(1) Tidak dijelaskannya secara detail isi perundingan, jelas menimbulkan banyak pertanyaan.

(2) Semua hal yang menyangkut Acheh harus dilaksanakan dalam kerangka NKRI

 

Poin nomor 2 inilah yang harus dicermati dengan baik. Dalam hal ini tidak ada kata menang ataupun kalah, karena Acheh memang termasuk dalam wilayah NKRI secara syah dan diakui oleh internasional. Dengan perdamaian ini semoga kebencian yang terpendam akan berakhir. Acheh, bersama dengan daerah lainnya berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, demi mencapai Indonesia Raya.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------