Stockholm, 21 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KANG BECAK DI TOKYO HEMBUSKAN JAMPE PANTUN MBAH YUDHOYONO & KALLA TENTANG MOU HELSINKI

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



DENGAN MATA TERPEJAM, ITU KANG BECAK DI TOKYO HEMBUSKAN JAMPE PANTUN MBAH YUDHOYONO & KALLA TENTANG MOU HELSINKI

 

"Ketika saya di Leiden, saya sering berdiskusi tentang Acheh. Kesimpulannya sama: Sebagian mereka ada yang menilai masalah Acheh dengan kacamata logika sepakbola. Dalam sepak bola pasti ada lawan dan ada kawan. Selain itu tentu ada pula pendukung. Tetapi, Acheh adalah masalah kedaulatan NKRI. Berbeda dengan Timor-timur, Acheh menjadi bagian NKRI secara de jure maupun de facto. Sehingga GAM hanya disebut sebagai gerakan separatisme, bukan perlawanan negara  melawan negara. Saya tidak akan menebak-nebak apa sesungguhnya isi dari kesepakatan tersebut dan bagaimana kelanjutannya. Tetapi, bersamaan dengan waktu, anda pasti akan mengerti." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , 21 juli 2005 03:16:42)

 

"Politik memang menyebalkan. Menggelinding dengan cepat. Meninggalkan mereka yang kurang sigap. Bahkan, Sebuah perjanjian yang menentukan. Telah luput dari mata Ahmad Sudirman" (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Thu, 21 Jul 2005 04:54:29 -0700 (PDT))

 

Baiklah Kang becak di Tokyo, Jepang.

 

Nah, rupanya kang Becak dari Tokyo, Jepang inipun mencoba untuk melambungkan hasil perasan pikiranya, yang dituangkan dalam bentuk puisi, yang dicampur dengan jampe-jampe mbah Yudhoyono dari Pacitan, yang berisikan ramuan-ramua MoU Helsinki.

 

Sambil mata dipejamkan, orang yang mengatasnamakan kang Becak ini mencoba memusatkan jalan pikirannya untuk membacakan jampe-jampe Jawa-nya mbah Susilo Bambang Yudhoyono yang sebagian untaian mantera jampenya terdengar: "Politik memang menyebalkan. Menggelinding dengan cepat. Meninggalkan mereka yang kurang sigap. Bahkan, Sebuah perjanjian yang menentukan. Telah luput dari mata Ahmad Sudirman"

 

Nah, dengan bunyi mantera jampe yang berisikan: "Politik memang menyebalkan" menggambarkan bahwa orang kang Becak sudah mematokkan politik itu sebagai sesuatu yang bisa menjadikan perut mual sehingga menyebabkan keluar muntah, saking sebalnya.

 

Dengan didasari pada sikap subjektif yang keluar dari pikiran kang Becak inilah, ia mencoba untuk memberikan goresan puisi yang diarahkan kepada pemikiran Ahmad Sudirman tentang hasil kesepakatan Helsinki 12-17 Juli 2005.

 

Dimana hasil pemikiran yang digabungkan dengan subjektifitas yang keluar dari diri kang Becak tentang apa yang telah dikemukakan Ahmad Sudirman, ternyata, ia tidak mampu memberikan suatu tanggapan yang didasarkan kepada pandangan dan argumentasi yang tepat, jelas, dan sesui dengan fakta dan bukti yang telah disepakati bersama di Helsinki. Sehingga yang keluar hanyalah sekedar untaian kata yang dirangkai jadi puisi yang salah satu baris kalimatnya berbunyi: "Segala analisa yang telah, Kau ungkapkan, Rupanya hanya berasal dari sesobek, Coretan tangan. Isi perjanjianpun, Hanya kau pahami secara samar"

 

Nah, disinilah kelihatan kelemahan kang Becak, ketika melihat dan memperhatikan apa yang telah dilambungkan Ahmad Sudirman tentang fakta, bukti tentang MoU yang didasarkan kepada apa yang telah disampaikan oleh Presiden Martti Ahtisaari, 17 Juli 2005 di Helsinki, Finlandia.

 

Dengan kelemahan daya pikir, analisa, yang dimiliki oleh kang Becak, yang mengaku pernah di Leiden, Belanda itu terhadap apa yang telah menjadi fakta, bukti, dasar hukum dan sejarah yang menyangkut MoU Helsinki 2005 ini. Sehingga melahirkan tulisan dalam bentuk goresan kata-kata "Rupanya hanya berasal dari sesobek, Coretan tangan. Isi perjanjianpun, Hanya kau pahami secara samar"

 

Nah, dengan apa yang telah dituangkan kang Becak inilah bisa tergambar bahwa apa yang sudah tertuang dengan jelas dan gamblang secara fakta dan bukti sejarah, ternyata oleh kang Becak hanya mampu dicerna sampai dimulut saja, sehingga masuk akal kalau kang Becak hanya sanggup menggoreskan kata-kata "Hanya kau pahami secara samar".

 

Kelemahan-kelemahan inilah yang kelihatan dengan jelas dari apa yang disodorkan kang Becak dari Tokyo, Jepang ini, yang mahu dijadikan sebagai alasan dan argumentasi merobohkan benteng yang telah dibangun Ahmad Sudirman dari cengkraman kuku penjajah RI-Jawa-Yogya ini.

 

Tentu saja, dengan kelemahan dan kedangkalan dari alasan dan argumentasi fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang bisa dijadikan sebagai pegangan oleh pihak kang Becak untuk tetap terus mendekap Acheh inilah mengapa lahir kata-kata yang mempertanyakan, seolah-olah bahwa argumentasi yang dimiliki bang Becak itu telah mampu merobohkan benteng yang dibangun Ahmad Sudirman. Sehingga terbaca untaian kata yang menggambarkan kelemahan kang Becak dalam bangunan argumentasi dan alasannya seperti yang terbaca: "Apakah kau masih bertahan, Bahwa engkau, Telah ditinggalkan, Terkurung sendiri, Dalam lingkaran, Khayal, Tentang mimpi indah sebuah kemerdekaan"

 

Nah, dipikir kang Becak bahwa dengan berhasilnya disepakati perjanjian Helsinki 12-17 Juli 2005 itu, maka itu bagi Ahmad Sudirman merupakan suatu kurungan dan merupakan suatu khayalan kemerdekaan Acheh, karena telah ditinggalkan.

 

Padahal, kalau kang Becak itu tidak hanya tertuju kepada apa yang dijadikan alasan oleh mbah Yudhoyono dan Jusuf Kalla dengan jurus substansinya yang dikenal dengan nama unitary state dan UUD 1945 dan dijadikan umpan pancing bagi pihak anggota DPR yang kebakaran jenggot seperti cacing kepanasan itu, maka itu kang Becak tidak akan dengan segera mencoretkan buah pikirannya dalam jalinan kalimat "Bahwa engkau, Telah ditinggalkan, Terkurung sendiri, Dalam lingkaran, Khayal, Tentang mimpi indah sebuah kemerdekaan"

 

Mengapa ?

 

Karena, kalau digali lebih dalam dari apa yang terkandung dalam UUD 1945 yang telah diamandemen itu, maka akan terbongkarlah bahwa sebenarnya, apa yang ditakutkan oleh pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, juga oleh Anggota DPR terutama Komisi I akan terbukti. Dimana dengan adanya lobang-lobang yang ada dalam UUD 1945 seperti yang tertuang dalam Pasal 18B, ayat 1 dan Pasal 28.

 

Jadi, dengan hanya mendasarkan kepada substansi UUD 1945 dan Negara Kesatuan inilah, justru yang menjadikan pihak Pemerintah Sendiri Acheh makin kuat untuk melaju kearah penentuan nasib sendiri, tanpa bisa lagi dikontrol. Dan sebaliknya, pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla harus memeras otak bagaimana untuk keluar dari jeratan hasil kesepakatan bersama Helsinki yang dinamakan Memorandum of Understanding Helsinki 2005 ini.

 

Dan inilah yang tidak pernah dan tidak dipahami oleh kang Becak ketika mencoba untuk menanggapi apa yang ditulis Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

 

Terakhir, memang kelihatan itu kang Becak masih terkurung oleh mitos yang dilambungkan oleh mbah Soekarno tentang RI-Jawa-Yoga hubungannya dengan Acheh. Hal ini ketika kang Becak menyatakan: "Acheh adalah masalah kedaulatan NKRI. Berbeda dengan Timor-timur, Acheh menjadi bagian NKRI secara de jure maupun de facto. Sehingga GAM hanya disebut sebagai gerakan separatisme, bukan perlawanan negara  melawan negara."

 

Nah, inilah sebenarnya yang ada dalam pikiran kang Becak tentang Acheh. Tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dimitoskan oleh mbah Soekarno dan para penerusnya. Dan sampai kapanpun itu kang Becak tidak akan mampu menyampaikan dan menuliskan secara kronologis sejarah menyangkut jalur pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Acheh secara jelas, terang, dan benar di mimbar bebas ini.

 

Mengapa kang Becak tidak akan mampu dan berani menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang RI dihubungkan dengan Acheh di mimbar beba sini ?

 

Karena apa yang telah dijadikan kesimpulan oleh kang Becak tidak berbeda dengan orang-orang lainnya yang ada di mimbar bebas ini yang secara membabi buta terus mempertahankan Acheh dalam pelukan RI atau RI-Jawa-Yogya-nya mbah Soekarno.

 

Dan tentu saja kang Becak tidak jauh berbeda dengan mereka yang hanya mengembek kepada cerita mitos yang dilambungkan mbah Soekarno tentang Acheh. Sekali mitos, maka itu selamanya tetap mitos. Yang rapuh tidak memiliki kekuatan. Bangsa Acheh akan mendobrak mitos tersebut. Dan akhirnya secara perlahan akan berhasil. Negeri Acheh akan kembali ketangan Bangsa Acheh. Selamat bagi bangsa Acheh.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 21 Jul 2005 04:54:29 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Kematian Ahmad Sudirman

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, sastra-pembebasan@yahoogroups.com

 

Segala analisa yang telah

Kau ungkapkan

Rupanya hanya berasal dari sesobek

Coretan tangan.

Isi perjanjianpun

Hanya kau pahami secara samar

 

Apakah kau masih bertahan

Bahwa engkau

Telah ditinggalkan

Terkurung sendiri

Dalam lingkaran

Khayal

Tentang mimpi indah sebuah kemerdekaan

 

Politik memang menyebalkan

Menggelinding dengan cepat

Meninggalkan mereka yang kurang sigap

Bahkan,

Sebuah perjanjian yang menentukan

Telah luput dari mata Ahmad Sudirman

 

Hari ini telah dimakamkan

Ahmad Hakim Sudirman

Seorang kolaborator GAM

Yang telah ditinggalkan.

Pekik merdeka

Di tengah kuburan.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------

 

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Date: 21 juli 2005 03:16:42

To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com

Subject: Logika Sepak Bola

 

Bismillah,

 

Ketika saya di Leiden, saya sering berdiskusi tentang Acheh. Kesimpulannya sama: Sebagian mereka ada yang menilai masalah Acheh dengan kacamata logika sepakbola. Dalam sepak bola pasti ada lawan dan ada kawan. Selain itu tentu ada pula pendukung. Tetapi, Acheh adalah masalah kedaulatan NKRI. Berbeda dengan Timor-timur, Acheh menjadi bagian NKRI secara de jure maupun de facto. Sehingga GAM hanya disebut sebagai gerakan separatisme, bukan perlawanan negara  melawan negara. Saya tidak akan menebak-nebak apa sesungguhnya isi dari kesepakatan tersebut dan bagaimana kelanjutannya. Tetapi, bersamaan dengan waktu, anda pasti akan mengerti.

 

Wassalam,

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------