Stockholm, 21 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


DHARMINTA PAKAI OTAK KALAU MAHU MEMAHAMI MOU HELSINKI 2005

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



MATIUS DHARMINTA PAKAI OTAK KALAU MAHU MEMAHAMI MOU HELSINKI 2005

 

"Tidak akan ada parpol lokal di Aceh" (Kepala BIN Syamsir Siregar, Jakarta, Kamis, 21 Juli 2005)

 

"Apa saja boleh mereka lakukan karena sudah kembali sebagai warga negara karena hak politik, sosial, ekonominya sudah dipulihkan" (Menkominfo Sofyan Djalil, Jakarta, Kamis, 21 Juli 2005)

 

"TNI tidak akan lagi ofensif mengejar GAM" (Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Banda Aceh, Kamis 21 Juli 2005)

 

"Rupanya bung Asudirman ini memang tidak menghendaki adanya pendamaian di bumi Aceh, selalu aja menyalakan kompor permusuhan. Ingat bung jangan mengotak-atik harimau yang hendak masuk kandang, berbahaya. Sekali ini gagal tercapai perdamaian, pengejaran dan pemberantasan terhadap GSA/GAM pun-tidak terelakkan pasti terjadi. Yang tidak kalah penting adalah tidak akan mudah untuk mendapatkan kembali kesempatan damai bagi GAM, ingat itu" (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com , Wed, 20 Jul 2005 20:27:44 -0700 (PDT))

 

Baiklah Matius Dharminta di Jakarta, Indonesia.

 

Dharminta, kalau Ahmad Sudirman memberikan penjelasan tentang enam poin utama yang tertuang dalam joint statement oleh pihak ASNLF dan RI yang dibacakan oleh Presiden Martti Ahtisaari di Helsinki pada hari Minggu, 17 Juli 2005, itu bukan usaha menyalakan kompor permusuhan. Justru sebaliknya, Ahmad Sudirman dari sejak awal mendukung perdamaian di Acheh, dan mengutuk mereka yang menggagalkan perundingan Helsinki.

 

Nah, pasca kesepakatan Helsiniki, dan berdasarkan apa yang telah disepakati secara garis besarnya yang terdiri dari enam poin utama itu, maka wajar saja kalau ada menyinggung poin-poin utamanya, walaupun rincian subtansi atau intinya yang tertuang dalam Memorandum of Understanding Helsinki 2005 masih belum dipublikasikan kepada umum sebelum ditandatangani oleh kedua belah pihak ASNLF dan RI dan disaksikan oleh Presiden Martti Ahtisaari pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki.

 

Jadi, kalau Ahmad Sudirman menyinggung masalah poin-poin utama yang telah disepakati dalam joint statement, itu bukan berarti menyalakan kompor permusuhan.

 

Itu hanya main tunjuk hidung dan main tuduh yang dilakukan Dharminta saja.

 

Dharminta, yang menjadi prinsip dalam penyelesaian konflik Acheh itu didasarkan pada jalan damai, yaitu melalui perundingan, menyeluruh, berkesinambungan, dan secara bermartabat tanpa ada yang kehilangan muka. Nah, dengan prinsip inilah penyelesaian konflik Acheh dijalankan.

 

Jadi, seperti yang terjadi sekarang di RI, dalam kesepakatan yang sudah diparap oleh kedua tim Juru runding ASNLF dan RI di Helsinki bahwa hak partisipasi politik dibawah lindungan Pemerintah Acheh bagi bangsa Acheh, tanpa kecuali, apakah itu dari pihak ASNLF ataupun dari pihak TNA melalui partai politik lokal yang dibangun sendiri di Acheh. Ternyata, apa yang telah disepakati dalam perundingan Helsinki ini, tidak ada kesamaan sikap dari pihak RI, khususnya dari pihak DPR, dan bahkan dari Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar secara terang-terangan menolak diberikannya hak politik untuk membentuk partai politik lokal di Acheh.

 

Nah, justru sikap-sikap yang ditunjukkan oleh pihak DPR dan BIN ini merupakan salah satu bantu sandungan yang bisa menjadi bantu penghambat dalam proses pelaksanaan kesepakatan damai Helsinki ini.

 

Kemudian menyinggung masalah pihak ASNLF dan RI komit untuk menciptakan kondisi dalam mana Pemerintah Acheh bisa dimanifestasikan melalui sebuah proses yang adil dan demokrasi dalam negara kesatuan dan undang undang dasar Republik Indonesia.

 

Nah, pernyataan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak ini bukan merupakan suatu bentuk pengakuan kedaulatan RI atas wilayah Acheh oleh pihak ASNLF, melainkan suatu bentuk komit dari dua belah pihak untuk menciptakan kondisi guna terbentuknya Pemerintah Acheh melalui jalur proses yang adil dan demokrasi.

 

Jadi dengan pernyataan itu, pihak ASNLF tetap tidak mengakui kedaulatan RI atas wilayah Acheh.

 

Walaupun pihak ASNLF tidak mengakui kedaulatan RI atas wilayah Acheh, tetapi melalui kesepakatan damai ini, pihak ASNLF secara langsung bisa menciptakan kondisi melalui jalur proses yang adil dan demokrasi guna terbentuknya Pemerintah Acheh. Artinya ASNLF bisa membangun Pemerintah Acheh diatas tanah yang masih diduduki RI, dengan pengakuan hak politis dan keamanan dari pihak RI.

 

Dengan kata lain, bahwa pihak ASNLF dengan melakukan kesepakatan damai ini bukan menyerah kepada pihak RI, melainkan mencapai kesepakatan damai untuk terciptanya kondisi dalam mana Pemerintah Acheh bisa dibentuk melalui jalur proses yang adil dan demokrasi.

 

Nah, inilah suatu kemenangan bagi pihak ASNLF.

 

Dan bagi pihak bangsa Acheh yang masih menganggap bahwa ASNLF menyerah kepada RI dan mengakui kedaulatan RI atas wilayah Acheh adalah salah dan tidak benar. Karena kesepakatan damai Helsinki ini bukan merupakan bentuk pengakuan kedaulatan RI atas Acheh dan bukan penyerahan ASNLF kepada pihak RI. ASNLF tidak menerima dan tidak menyepakati pembentukan Pemerintah Otonomi, melainkan Pemerintah Sendiri Acheh.

 

Jadi Dharminta, kalau Ahmad Sudirman menyinggung masalah unitary state and constitution of the Republic of Indonesia yang dihubungkan dengan Pemerintah Sendiri Acheh, bukan berarti Ahmad Sudirman menyalakan kompor permusuhan dan mengotak-atik harimau yang hendak masuk kandang, melainkan menyinggung fakta, bukti, dan dasar hukum yang ada dan telah disepakati oleh kedua belah pihak, ASNLF dan RI.

 

Dharminta pakai otak, jangan hanya mengembek saja.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Wed, 20 Jul 2005 20:27:44 -0700 (PDT)

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com

Subject: BUNG ASUDIRMAN YANG NGACAU

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, yahuwes@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com, yuhe1st@yahoo.com, viery_fajri@yahoo.com, warzain@yahoo.com, wartadephan@dephan.go.id, waspada@waspada.co.id, universityofwarwick@yahoo.co.uk, teuku_mirza@hotmail.com, teuku_mirza2000@yahoo.com, teguhharjito@yahoo.com

 

KANG BECAK, ITU KEMENANGAN BESAR BAGI PEMERINTAH NEGARA ACHEH & BANGSA ACHEH DENGAN AMAN BANGUN KEKUATAN DI ACHEH TANPA DIANCAM TNI

 

rupanya bung asudirman ini memang tidak menghendaki adanya pendamaian di bumi aceh, selalu aja menyalakan kompor permusuhan. ingat bung jangan mengotak-atik harimau yang hendak masuk kandang, berbahaya. sekali ini gagal tercapai perdamaian, pengejaran dan pemberantasan terhadap gsa/gam pun-tidak terelakkan pasti terjadi. yang tidak kalah penting adalah tidak akan mudah untuk mendapatkan kembali kesempatan damai bagi gam, ingat itu....

 

Matius Dharminta

 

mr_dharminta@yahoo.com

Jakarta, Indonesia

----------