Stockholm, 22 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


SAPRUDIN, ITU TGK DAUD BEUREUEH DIJERAT ABOLISI SOEKARNO, ADAPUN TGK HASAN DI TIRO JERAT YUDHOYONO PAKAI SELF-GOVERNMENT

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



SAPRUDIN BUDAK TNI, ITU TEUNGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUEH DIJERAT ABOLISI SOEKARNO, SEDANGKAN TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO MENJERAT YUDHOYONO PAKAI SELF-GOVERNMENT

 

“Ahmad perlu saya kasih tahu kepadamu, ayah saya asli Aceh dan merupakan salah satu anggotan TNI AD yang memimpin dan mengobrak abrik gerombolan kecoa di tanah Aceh. Adapun Ibu saya Banten, tapi darah keturunan saya adalah Aceh.” (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Thu, 21 Jul 2005 15:20:52 +0700 (ICT))

 

"Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" dibawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tgl 20 September 1953.“ (SP Saprudin, im_surya_1998@yahoo.co.id , Fri, 22 Jul 2005 09:07:48 +0700 (ICT))

 

Baiklah Saprudin budak TNI-Jawa kowe.

 

Kelihatan Saprudin budak TNI-Jawa kowe ini sudah meloncat lagi kedarat setelah kecebur ke Ciliwung.

 

Saprudin, di mimbar bebas sini Ahmad Sudirman telah berulang kali mengupas sejarah perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan Negara Islam Indonesia-nya, Republik Persatuan Indonesia-nya, dan Republik Islam Aceh-nya.

 

Dan itu yang menjadi akar utama timbulnya maklumat Negara Islam Indonesia di Acheh oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 adalah karena ketika Soekarno menetapkan PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950, jelas telah melanggar hukum, dan itu tindakan Soekarno memasukkan Negeri Acheh kedalam RIS lalu masuk ke RI dan menjelma menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 adalah tindakan penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan.

 

Kemudian langkah selanjutnya, ketika Kabinet Ali-Wongso yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dari PNI dan Wakil PM Wongsonegoro dari Partai Indonesia Raya (PIR) yang duduk didalamnya juga wakil dari NU (Nahdlatul Ulama), sedangkan dari Masyumi tidak ada wakilnya, dilantik pada tanggal 1 Agustus 1953, dan menjalankan program Kabinetnya untuk melakukan serangan besar-besaran, salah satunya kepada pihak NII Imam SM Kartosuwirjo.

 

Nah disaat-saat itulah, muncul pada tanggal 20 September 1953 Maklumat Negara Islam Indonesia oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh di Acheh yang berada dibawah NII Imam SM Kartosuwirjo. Yang sebagian isi maklumat itu berbunyi: ”Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam.”

 

Jadi terlihat dengan jelas, sebenarnya Teungku Muhammad Daud Beureueh bukan melakukan pemberontakan terhadap RI, atau melakukan gerakan separatis dari RI, melainkan melakukan penentuan nasib sendiri di Acheh, dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila RI-Soekarno. Karena Negeri Acheh yang tiga tahun sebelumnya dicaplok, ditelan, diduduki dan dijajah oleh Soekarno dengan RIS dan RI-Jawa-Yogya-nya yang menjelma menjadi NKRI.

 

Kemudian langkah selanjutnya yang ditempuh oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah pada tanggal 8 Februari 1960 diputuskan untuk membentuk Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang berbentuk federasi yang anggota Negaranya adalah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara dan M. Natsir Cs, NII Teungku Muhammad Daud Beureueh, Perjuangan Semesta (Permesta). Dimana RPI ini dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

 

Nah, tujuan membangun Negara yang berbentuk federasi RPI ini yang didalamnya terdiri dari berbagai aliran yang terdapat dalam setiap Negara bagian Federasi, yang disponsori oleh M.Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara adalah untuk menampung sebanyak mungkin Daerah-Daerah lainnya yang menginginkan berdiri sendiri dan bergabung dalam RPI, guna menghadapi pihak RI dibawah Soekarno.

 

Penggalangan RPI ini berjalan sampai tanaggal 17 Agustus 1961, hal ini disebabkan pihak pimpinan RPI menyerah kepada Soekarno, tetapi Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan NII-nya, sebelum RPI menyerah pada Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961, maka NII keluar dari RPI, dan membentuk Republik Islam Aceh (RIA) pada tanggal 15 Agustus 1961.

 

Hanya pada bulan Desember tahun 1962, Teungku Muhammad Daud Beureueh dapat dijerat dengan Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diselenggarakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

 

Dimana proses timbulnya Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh adalah ketika Soekarno memberikan abolisi kepada mereka yang dianggap memberontak kepada NKRI dengan batas akhir 5 Oktober 1961.

 

Diawali pada tanggal 4 Oktober 1961 datang 28 orang delegasi dari wakil-wakil lapisan masyarakat, para ulama, pemuda, pedagang, tokoh-tokoh adat, termasuk wakil pemerintah resmi sipil dan militer menjumpai Teungku Muhammad Daud Beureueh di Markasnya dengan misi meminta kepada Teungku Muhamad Daud Beureueh demi untuk kepentingan masyarakat Acheh seluruhnya agar sudi kembali ketengah-tengah masyarakat untuk memimpin mereka. Batas waktu tanggal 5 Oktober berakhir, dengan mempertimbangkan harapan rakyat Acheh yang tulus dan jaminan-jaminan kebebasan beliau untuk melanjutkan perjuangan telah membuka pintu untuk perundingan.

 

Dimana perundingan-perundingan ini berlangsung sampai sepuluh bulan. Dan pada 9 Mei 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh bersama stafnya kembali ketengah-tengah masyarakat .

 

Dan pada bulan Desember tahun 1962 Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin mengadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh.

 

Nah, dengan ikutnya Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diadakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, maka secara de-jure dan de-facto Republik Islam Acheh lenyap dari muka bumi ditelan mbah Soekarno dari RI.

 

Sekarang, mengapa dengan ikutnya Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh yang diadakan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin, secara de-jure dan de-facto Republik Islam Acheh lenyap dari muka bumi ?

 

Karena, ketika dalam dialog yang dilakukan pada 4 Oktober 1961 antara Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan 28 orang delegasi dari wakil-wakil lapisan masyarakat, para ulama, pemuda, pedagang, tokoh-tokoh adat, termasuk wakil pemerintah resmi sipil dan militer, dan dalam dialog selanjutnya antara pihak RIA dengan pihak Soekarno, tidak dicapai kesepakatan politik dalam hal kelangsungan hidup Republik Islam Acheh ini. Melainkan hanya didasarkan kepada janji demi untuk kepentingan masyarakat Acheh seluruhnya agar sudi kembali ketengah-tengah masyarakat untuk memimpin mereka.

 

Nah, apa yang disepakati itu bukan merupakan hasil kesepakatan politis yang mengikat dan menjamin kelangsungan hidup RIA, melainkan merupakan janji diberi abolisi kemudian bebas dan bisa bersama-sama lagi dengan masyarakat lainnya di Acheh.

 

Dan memang benar, setelah Teungku Muhammad Daud Beureueh kembali dan mengikuti Musyawarah Kerukunan Rakyat Acheh, maka habislah riwayat RIA dan Teungku Muhammad Daud Beureueh tidak bisa lagi bergerak. Semuanya sudah dikurung oleh mbah Soekarno dengan TNI-nya.

 

Inilah kekalahan besar bagi perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh dengah NII, RPI, dan RIA-nya ketika menghadapi Soekarno.

 

Berbeda dengan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

 

Dimana14 tahun kemudian ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro pertama kalinya, setelah 25 tahun di exil di Amerika, menginjakkan kakinya di bumi Acheh pada tanggal 30 Oktober 1976 mulailah perjuangan rakyat Acheh kembali menggelora, sebagai penerus perjuangan para nenek moyangnya dulu yang telah menentang penjajah Belanda, dan pada waktu itu menghadapi pihak penjajah RI di bawah Jenderal Soeharto penerus Soekarno yang digulingkannya.

 

Keadaan politik itulah yang terlihat oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sehingga Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan ulang Negara Acheh sebagai lanjutan dari Negara Acheh yang telah dinyatakan lenyap kedaulatannya karena telah dijajah Belanda, Jepang dan RI. Artinya Deklarasi Negara Acheh Sumatera pada tanggal 4 Desember 1976 adalah deklarasi ulangan Negara Acheh Sumatera yang secara de-facto telah diduduki dan dijajah oleh Belanda, Jepang dan diteruskan oleh pihak RI.

 

Deklarasi ulangan Negara Acheh Sumatera pada 4 Desember 1976 ini adalah sebagai penerus dan pelanjut Negara Acheh Sumatera yang pada waktu itu dipimpin oleh Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang meninggal dalam perang Alue Bhot, Tangse tanggal 3 Desember 1911. Dimana Teungku Tjheh Maat ini adalah cucu dari Teungku Tjhik di Tiro atau paman dari Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Sejak gugurnya Panglima Perang Teungku Tjheh Maat ditembak serdadu Belanda pada tanggal 3 Desember 1911, berakhirlah secara de-jure dan de-facto kekuasaan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat yang memimpin Negara Acheh Sumatera dan jatuh secara de-facto dan de-jure ke tangan Belanda.

 

Sebagai pelanjut dari Negara Acheh Sumatera yang telah hilang secara de-facto dan de-jure pada tanggal 3 Desember 1911 dari tangan Panglima Perang Teungku Tjheh Maat inilah, Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 meneruskan dan menghidupkan kembali Negara Acheh Sumatera melalui deklarasi ulangan Negara Acheh Sumatera yang bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau RI yang telah menduduki dan menjajah Negeri Acheh dari sejak tanggal 14 Agustus 1950 melalui tangan Presiden RIS Soekarno dengan menggunakan dasar hukum PP RIS No. 21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

 

Nah sekarang, ketika diadakan perundingan di Helsinki antara pihak Negara Acheh Sumatra dalam hal ini melalui ASNLF dengan pihak RI, maka dicapailah kesepakatan politik perdamaian yang tertuang dalam Memorandum of Understanding Helsinki 2005 yang akan ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

 

Dalam kesepakatan politik yang tertuang dalam MoU ini bukan meruipakan satu penyerahan dari pihak ASNLF kepada pihak RI, melainkan suatu kesepakatan politik yang menjamin kesamaan martabat kedua belah pihak. Dimana hak-hak politik, keamanan, ekonomi, sosial pihak bangsa Acheh yang ada dibawah Pemerintah Sendiri Acheh dijamin penuh oleh pihak RI.

 

Nah, inilah keberhasilan dari perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang berbeda dengan apa yang telah dijalankan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan RIA-nya ketika menghadapi Soekarno.

 

Jadi, kalau Teungku Muhammad Daud Beureueh dijerat abolisi oleh Soekarno, sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro menjerat Susilo Bambang Yudhoyono & Jusuf Kalla dengan tali Self-Government.

 

Oleh karena itu mengapa Pemerintah Negara Acheh hidup dan terus exis di muka bumi ini.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Fri, 22 Jul 2005 09:07:48 +0700 (ICT)

From: SP Saprudin im_surya_1998@yahoo.co.id

Subject: Ahmad : "The heart wants to embrace the mountain, but the hands are in no position to do it"

To: ahmad@dataphone.se

Cc: muba zir <mbzr00@yahoo.com>, AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Assalamualaikum wr. wb.

Ahmad kamu sehat ?

 

Entah apa lagi yang akan kamu sanggahkan terhadap argumen-argumen orang lain. Seolah-olah kamu berpijak diatas kebenaran yang hakiki.

 

Biarkan saya bicara kepada Guru besar Ahmad yang sudah pikun seperti ini adanya, tidak perlu menggunakan kalimat-kalimat yang intelek. Sebab yang saya hadapi adalah manusia yang bernama Ahmad Sudirman keturunan Pasundan, manusia yang multidimensi yang mengetahui segala fakta.

 

Kalau melihat argumen-argumen yang kamu lontarkan tidak lepas dari kata "Budhek" dengan pandangan dan acuan kamu terhadap NKRI bahwa NKRI adalah negara sekuler tidak berhukum dengan hukum Allah Swt.

 

Ditambah lagi dengan argumen-argumen bersandarkan kepada sejarah yang hanya melihatnya dengan kacamata subjektif.

 

Memang diakui NKRI dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara tidak menyandarkan kepada aturan-aturan hukum Islam. Namun perlu kita ketahui juga bahwa NKRI yang didiami oleh jutaan ummat manusia yang mempunyai keragaman agama.

 

Negara tidak memakai hukum aturan Islam, bukan berarti rakyatnya tidak beragama.

Tidak perlu saya jelaskan secara rinci, toh ujung-ujungnya akan dibantah juga oleh kamu.

 

Kalau melihat jalur sejarah yang kerap kamu argumentasikan, kenapa kamu begitu mensuport GAM, tentunya tidak terlepas sejarah pemberontakan Imam Kartosuwiryo di Jawa Barat yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia.

 

Marilah kita tengok sejenak tentang sejarah Aceh. Sejarah Aceh adalah sejarah penderitaan. Dimulai oleh pemberontakan pimpinan Daud Beureuh (1953), penderitaan rakyat Aceh yang sudah menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia . Ketika pemberontakan berakhir (25 Mei 1959), penderitaan rakyat belum berakhir. Hampir 20 tahun kemudian (4 Desember 1976), Hasan Tiro memproklamirkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan sejak saat itu penderitaan demi penderitaan akrab dengan rakyat Aceh.

 

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" dibawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tgl 20 September 1953.

 

Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer.

 

Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memperngaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.

 

Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan segera dimulai. Satu demi satu kota-kota yang dikuasai pemberontak direbut kembali. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan.

 

Tidak dipungkiri, jasa rakyat Aceh terhadap negeri ini tidak bisa dianggap remeh. "Jasa Aceh kepada RI tidak hanya dalam bentuk perjuangan fisik saja... melainkan juga dalam bentuk harta... termasuk sejumlah emas batangan... yang paling menggemparkan adalah pengumpulan dana untuk keperluan membeli dua pesawat terbang. Jadilah Seulawah I sebagai pesawat dengan nama Indonesia Air Ways, cikal bakal Garuda Indonesia sekarang," tulis Hasan Saleh (Mengapa Aceh Bergolak, 1992). Hasan Saleh adalah mantan Letnan Kolonel AD yang bersama Daud Beureuh memimpin pemberontakan Aceh (1953-1959).

 

Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jassin. Dengan kembalinya Daud Beureuh ke masyarakat, keamanan di daerah Aceh sepenuhnya pulih kembali

 

Perjalan sejarah pemberontakan sparatis Aceh tidak berhenti sampai disitu, bahkan sampai saat ini.

 

Namun saya yakin, kesungguhan pemerintah dalam menyelesaikan konflik yang bekepanjangan akan dapat terselesaikan.

 

Kita lihat Asu, mana yang lebih signifikan, argumen-argumen kacangan kamu kah yang akan unggul ??? Kita lihat saja.

 

Wassalamualaikum wr. wb.

 

Saprudin

 

im_surya_1998@yahoo.co.id

Jakarta, Indonesia

----------