Stockholm, 22 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


KANG BECAK MASIH BERSENANDUNG DENGAN SUARA PUISI GAYA DAENG KALLA & MBAH YUDHOYONO

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KEASYIKAN KANG BECAK DARI KOTA PADAT TOKYO, BERSENANDUNG DENGAN SUARA SUMBANG PUISI GAYA DAENG KALLA & MBAH YUDHOYONO

 

“Kutuliskan puisi ini, Khusus untuk seorang, Ahmad Sudirman, Pengguna kalimat Tuhan, Sekaligus budak permusuhan. Untuk meyakinkan bahwa perdamaian adalah suatu kebohongan, Kau sodorkan data-data usang. Padahal, Semua argumen yang kau sodorkan Sangatlah tidak mengherankan. Bahkan, Orang awampun dengan mudah bisa mendapatkan“ (Kang becak, kbecak@yahoo.com ,Thu, 21 Jul 2005 18:58:05 -0700 (PDT))

 

Baiklah Kang becak di Tokyo, Jepang.

 

Membaca puisi gubahan kang Becak dari Tokyo, Jepang, kota padat yang hidup siang malam tidak henti-henti-nya, telah merasuki kepala bang Becak, ketika membaca ulasan Ahmad Sudirman tentang kesepakatan damai yang telah disepakati di Helsinki 17 juli 2005 antara pihak Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia dengan pihak RI.

 

Nah, ketika kang Becak membaca ulasan Ahmad Sudirman yang sekaligus merupakan tanggapan kepada para anggota mimbar bebas ini yang begitu sewot dan naik pitam ketika membaca ulasan Ahmad Sudirman, ternyata kang Becak, yang nama aslinya entah siapa, tetapi bagi Ahmad Sudirman tidak perlu tahu,  pikirannya berputyar putar seperti kincir angin terhembus angin untuk menggoreskan  tanggapannya dengan memakai model puisi daeng Kalla dan mbah Yudhoyono dengan disenandungkan dengan suara sumbang dan ngirung model suaranya orang Jepang yang tidak pandai bernyanyi.

 

Kang Becak, kalau Ahmad Sudirman membahas dan memberikan tanggapan tentang hasil kesepakatan Helsinki 17 juli 2005, itu bukan disebabkan Ahmad Sudirman merupakan ”budak permusuhan”, sebagaimana yang kalian tuliskan dalam puisi model daeng Kalla itu.

 

Kalau itu ada didalam ulasan Ahmad Sudirman diangkat hal-hal yang terkandung dari enam poin utama yang tertuang dalam joint statement oleh pihak ASNLF dan RI yang dibacakan oleh presiden Martti Ahtisaari, 17 juli 2005, itu bukan merupakan racun yang dimasukkan kedalam cawan perdamaian, melainkan suatu usaha untuk memberikan kejelasan bahwa memang begitulah apa yang terkandung dalam kesepakatan damai antara pihak ASNLF dan RI di Helsinki 17 juli 2005 itu.

 

Kemudian menyinggung perjanjian kesepakatan damai yang didalamnya mengandung jaminan pemerintah sendiri di Acheh, undang-undang yang mengatur pemerintah sendiri, partisipasi politik dalam partai politik di Acheh, masalah ekonomi, aturan hukum yang akan diberlakukan dalam sistem pemerintahan Acheh, masalah amnesti dan pelepasan para tahanan politik dan pihak TNA kembali bersatu bersama bangsa Acheh, pengaturan keamanan dalam bentuk penarikan mundur pasukan non-organik TNI dan Polri dari seluruh wilayah Acheh, dilaksanakan pemantauan oleh pihak Uni Eropa dan ASEAN atas berjalannya hasil kesepakatan damai Helsinki, dan penyelesaian sengketa-sengketa yang bisa muncul dalam masa pelaksanaan kesepakatan damai di lapangan.

 

Lalu soal istilah belati dan istilah rencong, itu hanyalah istilah untuk memberikan adanya perbedaan antara jurus self-government dengan jurus merdeka. Jadi bukan merupakan suatu racun yang sengaja dimasukkan kedalam isi perundingan dan jalannya pelaksanaan hasil perundingan kesepakatan damai Helsinki ini.

 

Adapun tentang fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang dilambungkan Ahmad Sudirman, itu semua didasarkan kepada fakta, dan bukti yang bisa diuji ke-ilmiahan-nya dan bisa dipertanggung jawabkan didepan tim yang kapabel untuk mengujinya. Jadi, bukan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang usang. Kalau memang ada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum lain yang bisa dijadikan sebagai alat penangkis dan pemukul argumentasi yang ditampilkan Ahmad Sudirman tentang Acheh hubungannya dengan RI, maka dipersilahkan untuk dilambungkan dalam puisi yang akan datang. Ahmad Sudirman siap untuk memberikan tanggapannya.

 

Selanjutnya soal portal ahmad-sudirman.com, itu adalah portal yang diasuh oleh salah seorang kawan di Jakarta. Beliaulah yang bertangggung jawab penuh atas portal ahmad-sudirman.com di Jakarta itu. Adapun portal resmi ahmad sudirman adalah yang langsung dbawah tanggung jawab dan lindungan Ahmad Sudirman di  http://www.dataphone.se/~ahmad . Kalau memang ada masalah yang menimpa portal ahmad-sudirman.com yang dilambungkan dari Jakarta, itu sedang dalam penyelesaian. Jadi itu masalah kecil.

 

Seterusnya, Ahmad Sudirman tidak ada perbedaan paham dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Kalau kang Becak menyatakan bahwa ”Karena Hasan Tiropun kini sudah tidak sepaham” adalah salah kaprah dan sungguh ngaco.

 

Begitu juga bahwa perlu adanya penyelesaian damai di Acheh yang dilihat dari akar utama timbulnya konflik Acheh. Dan ternyata pada tanggal 17 Juli 2005 telah disepakati damai. Dan itu adalah suatu usaha langkah maju bagi perdamaian di Acheh. Jadi Ahmad Sudirman bukan seperti yang digambarkan kang Becak dalam puisi model daeng Kalla dan mbah Yudhoyono-nya yang berisikan untaian kata: ”Ceceran daging dan darah, Rakyat Acheh, Layaknya  steak, Dan kau dengan lahap menyantapnya di siang bolong.”

 

Nah, jelas itu untaian kata yang ditujukan kepada Ahmad Sudirman adalah sangat salah fatal. Dan itulah merupakan suatu usaha dari orang-orang yang tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat tentang fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyangkut proses jalur pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Negeri Acheh, sehingga kalang kabut ketika berargumentasi menghadapi Ahmad Sudirman.

 

Terakhir, tidak ada istilah mengumpat dalam lambungan yang ditampilkan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini. Kalau hanya ada sisipan kata yang jarang kedengaran oleh telinga di negara RI, maka wajar saja itu dianggap asing. Tetapi Insya Allah lama-kelamaan istilah yang diangap asing itu akan menjadi biasa terutama bagi kalangan orang-orang Jawa yang merasa sok halus dalam berbicara.

 

Selamat untuk bangsa Acheh dan perjuangan penentuan nasib sendiri di Acheh, alhamdulillah.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 21 Jul 2005 18:58:05 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Nasehat Untuk Ahmad Sudirman

To: SP <sastra-pembebasan@yahoogroups.com>, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

 

Bismillah,

Perdamaian

Adalah

Lawan permusuhan

 

Kutuliskan puisi ini

Khusus untuk seorang

Ahmad Sudirman

Pengguna kalimat Tuhan,

Sekaligus budak permusuhan.

 

Ahmad Sudirman,

Kau masukkan racun

Ke dalam

Cawan Perdamaian.

Kemudian,

Kau namakan itu

Jurus rencong dan belati

Yang tersembunyi

Dibalik perjanjian yang telah disepakati.

 

Untuk meyakinkan bahwa perdamaian adalah suatu kebohongan,

Kau sodorkan data-data usang.

Padahal,

Semua argumen yang kau sodorkan

Sangatlah tidak mengherankan

Bahkan,

Orang awampun dengan mudah bisa mendapatkan.

 

Ahmad Sudirman,

Lihatlah kini  salah satu portalmu

Sudah menghilang,

Tidak mampu membayar

Ataupun memang dilenyapkan.

Karena Hasan Tiropun kini sudah tidak sepaham.

 

Atas nama Acheh

Kau sembunyikan jiwa psikopat

Yang penuh kegilaan

Dimatamu,

Hanya ada!!dua sisi yang berlawanan:

Kemenangan dan kekalahan

 

Ceceran daging dan darah

Rakyat Acheh,

Layaknya  steak,

Dan kau dengan lahap menyantapnya di siang bolong.

 

Tentu,

Terlebih dahulu dengan membaca bismillah

Kalau tersedak,

Kau akan mengumpat

Laiknya siluman yang tak mengenal batas kesopanan.

Setelah kenyang,

Kemudian kau ucapkan alhamdulillah.

 

Semoga Alloh menunjukkan jalan yang lurus bagimu.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------