Stockholm, 24 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


BECAK MULAI KELIHATAN ASLINYA SETELAH TERGELINDING DARI LERENG GUNUNG FUJI YANG BANYAK MEKAR BUNGA SAKURA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



AKHIRNYA BECAK TAMPAK WARNA ASLINYA SETELAH TERGELINDING DARI LERENG GUNUNG FUJI YANG BANYAK MEKAR BUNGA SAKURA

 

“Bismillah, Mata Ahmad Sudirman berbinar-binar, Perdamaian diambang kehancuran. Bukan RI ataupun GAM yang akan menang. Permusuhanlah yang akan unggul di atas perdamaian. Apabila dicermati, Masalah Acheh adalah masalah dalam negeri, Sehingga tidaklah salah apabila DPRpun ingin mengerti. Duniapun hanya bertindak sebagai saksi Tanpa ingin mencampuri, Bagi Dajal, Semua itu diartikan bahwa perdamaian telah mati. Padahal sebenarnya, Kebencian dajalah yang kini sudah tidak berarti. Tetapi dajal tidak perduli,

Hanya mendengarkan diri sendiri.“ (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Sat, 23 Jul 2005 17:44:06 -0700 (PDT))

 

Baiklah Becak di Tokyo, Jepang.

 

Akhirnya setelah Becak berputar-putar sambil menghembuskan lima macam bentuk tiupan jampe puisi yang diarahkan ke depan benteng pertahanan Acheh yang dibangun Ahmad Sudirman, tergelindinglah tubuh sawo matang Becak dari lereng gunung Fuji yang banyak tumbuh bunga sakura, terhempas menimpa batu-batuan yang berserakan sepanjang jalur lereng curam.

 

Inilah akhir hayat Becak yang awalnya penuh dengan semangat yang meluap-luap untuk mencoba melambungkan busur-busur anak panahnya yang diberi balutan jampe-jampe dalam bentuk puisi untuk bisa mengikat dan menjaring siapa yang terkena matanya untuk membaca untaian-untaian kata yang lahir dari hasil perasan otaknya yang sudah penuh dengan racun ampas aspal hitam mitos Acheh dan RI ciptaan mbah Soekarno.

 

Becak, ternyata apa yang telah kalian lambungkan di mimbar bebas ini, dengan tujuan untuk merobohkan bangunan pertahanan penentuan nasib sendiri bangsa Acheh, akhirnya bukan benteng penentuan nasib sendiri bangsa Acheh yang roboh, melainkan terhempasnya tubuh sawo matang Becak bersama-sama dengan gumpalan asap bau kemenyannya jampe-jampe puisi hasil perasan otaknya yang sudah penuh dengan racun mitos Acheh dan RI made in mbah Soekarno.

 

Tidak ada satupun fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang bisa disuguhkan Becak di mimbar bebas ini, kecuali hanya bau bakaran kemenyannya yang terbuat dari DK PBB No.86/1950 dengan percikan butir-butir TimTim.

 

Becak, walaupun sebelumnya kalian ada dibuana lereng Fuji dengan indah mekarnya bunga-bunga sakura, tetapi karena otak kalian telah penuh diisi oleh mitos RI dan Acheh, maka akhirnya, yang keluar bukan merupakan inti saripati yang membawa kepada kejernihan dan kelurusan jalur sejarah RI dan Acheh, melainkan hanya merupakan nila yang setitik rusaklah susu sebelanga.

 

Dan walaupun Becak tetap mendengungkan ”Masalah Acheh adalah masalah dalam negeri, Sehingga tidaklah salah apabila DPRpun ingin mengerti.”. Tetapi dalam kenyataannya, bahwa masalah Acheh telah menjadi masalah Inernasional. Lihat dan perhatikan saja, bagaimana PBB melalui Sekjen PBB-nya Kofi Annan dengan penuh gairah dan semangat memberikan dorongan kepada Susilo Bambang Yudhoyono untuk dengan segera menyelesaikan konflik Acheh. Kemudian bagaimana Presiden Martti Ahtisaari dengan tanpa merasa lelah memberikan semangat perdamaian melalui jalur perundingan langsung tatap muka di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Lalu bagaimana gairah Negara-Negara Eropa yang bergabung dalam Uni Eropa siap memberikan bantuan dan kesediannya untuk menjadi tim monitoring hasil kesepakatan Helsiniki dalam pelaksanaannya. Juga kelihatan bagaimana Negara-Negara ASEAN yang siap dengan personal militernya untuk terjun bersama pasukan pengawas dari Uni Eropa mengawasi jalannya pelaksanaan dilapangan hasil kesepakatan Helsinki ini.

 

Nah, dari fakta dan bukti serta dasar hukum ini saja sudah terlihat bahwa sebenarnya masalah Acheh adalah masalah dunia internasional.

 

Adalah suatu mimpi kalau masih ada orang yang menganggap bahwa masalah Acheh adalah masalah dalam negeri, sebagaimana mimpinya orang-orang PDI-P-nya mbak Mega dan PKB-nya mbah Gus Dur, termasuk juga Becak dari negeri sakura ini.

 

Kemudian, kalau itu Becak yang sudah tergelinding dari lereng Gunung Fuji dan menggelupur terkapar di pinggir semak-semak belukar, masih tetap menghembuskan isi jampe puisinya : ”Bagi Dajal, Semua itu diartikan bahwa perdamaian telah mati. Padahal sebenarnya, Kebencian dajalah yang kini sudah tidak berarti. Tetapi dajal tidak perduli, Hanya mendengarkan diri sendiri.”

 

Jelas, isi jampe puisi Becak yang sudah tidak ada lagi ruh kekuatannya ini, tidak akan mampu lagi untuk dipakai merobohkan benteng baja yang dibangun diatas fondasi fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang RI dihubungkan dengan Acheh.

 

Dan yang mengatakan perdamaian telah mati adalah itu kelompok-kelompok ultra nasionalis model-modelnya orang PDI-P seperti Permadi yang meraung-raung seperti bunyi knalpot yang bocor.

 

Sedangkan Ahmad Sudirman adalah pendukung perdamaian di Acheh melalui jalur perundingan yang diawasi dan dipasilitasi oleh lembaga internasional dan disaksikan oleh negara-negara internasional. Dan memang terbukti itulah hasil kesepakatan Helsinki yang merupakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyatakan masalah Acheh adalah masalah Internasional dengan mendapat dukungan dari dunia internasional termasuk dari Sekjen PBB Kofi Annan.

 

Tidak ada istilah arak dituangkan diatas daging babi, kecuali itu istilah yang berupa untaian kata hasil perasan otak Becak yuang sudah tidak memiliki lagi dasar argumentasi yang kuat, sehingga tidak ada rotan akarpun jadi. Itulah yang ternyata dipakai sebagai landasan berpikir Becak yang sudah terkapar terlentang habis riwayatnya disemak-semak dibawah lereng gunung Fuji yang megah mengawasi dan menjaga tanah negeri Jepang, negeri sakura.

 

Dan tentu saja, pilihan dalam tubuh ASNLF atau GAM dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro itulah pilihan mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan Ahmad Sudirman. Ahmad Sudirman hanya mendukung dan menyokong penuh perjuangan bangsa Acheh yang sedang menuntut penentuan nasib sendiri dari pengaruh kekuasaan negara pancasila RI yang telah menelannya 14 Agustus 1950 dengan melalui tangan mbah Soekarno.

 

Terakhir, saran Ahmad Sudirman untuk Becak, yang masih kelihatan naik turunnya hembusan nafas, cobalah untuk jampe puisi yang akan datang, sedikit disinggung fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur proses pertumbuhan RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku selatan dan Papua Barat yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya, bukan hanya sekedar mencoretkan hasil perasan otak yang sudah terkena racun mitos mbah Soekarno.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sat, 23 Jul 2005 17:44:06 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Tarian Dajal

To: sastra-pembebasan@yahoogroups.com, Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

 

Bismillah,

Mata Ahmad Sudirman berbinar-binar,

Perdamaian diambang kehancuran.

Bukan RI ataupun GAM yang akan menang.

Permusuhanlah yang akan unggul di atas perdamaian.

 

Kepala lima sudah

Usianya kini

Tak satu jabatanpun

Yang ia duduki

Menulis dan memaki

Adalah pengobat sakit hati.

 

Apabila dicermati,

Masalah Acheh adalah masalah dalam negeri,

Sehingga tidaklah salah apabila DPRpun ingin mengerti.

Duniapun hanya bertindak sebagai saksi

Tanpa ingin mencampuri,

 

Bagi Dajal,

Semua itu diartikan bahwa perdamaian telah mati.

Padahal sebenarnya,

Kebencian dajalah yang kini sudah tidak berarti.

Tetapi dajal tidak perduli,

Hanya mendengarkan diri sendiri.

 

Dituangkannya arak diatas daging babi.

Seolah membakar bangkai rakyat Aceh yang telah mati.

Diucapkannya sumpah serapah,

Mengapa Hasan Tiro tidak memilihnya sebagai ketua,

Minimal anggota delegasi perundingan.

Dajalpun kembali menari,

Dengan mendendangkan bait-bait kitab suci.

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------