Stockholm, 25 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


UJUNGNYA TUKANG BECAK UNTUK DEKAP ACHEH SODORKAN CERMIN SOBRON AIDIT DIDEPAN AHMAD SUDIRMAN

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



UJUNG-UJUNGNYA ITU TUKANG BECAK DI TOKYO UNTUK DEKAP TANAH ACHEH SODORKAN CERMIN SOBRON AIDIT ADIKNYA KETUA CC PKI DN AIDIT DIDEPAN AHMAD SUDIRMAN

 

“Bismillah, Wahai Ahmad Hakim Sudirman Simpanlah semua kata umpatan, Kalau mengumpat, Kau terlihat manis bagai anak perawan Penunggu datangnya pinangan. Akan kukisahkan sedikit Tentang Sobron Aidit adik dari DN Aidit. Mendiang kakanya adalah politikus yang cemerlang Dengan tatapan mata setajam elang. Sayang, Dengan cepat ajal datang menjelang. Diterjang peluru tajam.” (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Sun, 24 Jul 2005 06:44:55 -0700 (PDT))

 

Baiklah Becak di Tokyo, Jepang.

 

Rupanya tukang becak ini telah menampakkan wujud aslinya yaitu masuk kaum yang berideologi sosialisme proletariat yang mengacu pada ajaran Marxisme, yang menggembol-gembol cermin Sobron Aidit adiknya Keuta CC PKI DN Aidit yang mengikuti panduan Lenin yang menyerukan Marxist, harus segera disebar, proletariat pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan borjuis petani dan semua borjuis Rusia.

 

Dimana tukang becak ini, setelah bergentayangan untuk mencari kata-kata guna dipakai alat mendekap tanah Acheh yang dicaplok mbah Soekarno penyebar ideologi Marhaenisme, dengan melalui tiupan asap kemenyan yang diberi mantera Resolusi DK PBB No.86/1950 dan percikan butiran-butiran tanah Timor Timor, diarahkan ke dinding benteng baja bangunan pertahanan tanah negeri Acheh, akhirnya bukan mengenai sasaran, melainkan justru terjungkir menggelinding dari lereng gunung Fuji dengan kehilangan kekuatan tenaga dalamnya yang berisikan kekuatan sosialisme proletariat yang telah dipelajarinya bertahun-tahun sambil menyuruk di Tokyo, Jepang ini. Yang akhirnya, tukang becak kaum sosialisme proletariat ini terpaksa membuka diri, setelah Ahmad Sudirman menyatakan: ”Coba tunjukkan jati diri kalian Becak, jangan hanya sembunyi dibalik rindangan bunga sakura saja.” (Ahmad Sudirman, 24 Juli 2005)

 

Tukang becak, itu sebagian tulisan Sobron Aidit yang pernah dijebloskan di Pulau Buru oleh mbah Soeharto, pernah Ahmad Sudirman baca. Dan tentu saja setiap orang memiliki kemampuan masing-masing, dan keinginan masing-masing. Sobron Aidit punya dan menempuh jalan sendiri. Ahmad Sudirman juga memiliki dan menempuh jalan yang berlainan dengan jalan yang dilalui Sobron Aidit. Jadi cermin Sobron Aidit, bisa jadi, tidak bisa dipakai untuk mengaca Ahmad Sudirman.

 

Tukang Becak, kalian perjuangkan kaum sosialis proletar, itu hak kalian. Kalian juga pendukung mbah Soekarno, itu juga hak kalian, silahkan kalian pegang. Tetapi, ketika kalian menyinggung Acheh, yang mana setelah dipertanyakan akar utama timbulnya konflik Acheh, ternyata kalian tukang becak tidak mampu memberikan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya yang menerangkan proses dimasukkannya tanah wilayah teritorial Acheh kedalam tubuh RI-Jawa-Yogya-nya mbah Soekarno kesayangan kalian, tukang becak.

 

Nah sebenarnya, kalian tukang becak, tidak perlu menyebut dajal kepada Ahmad Sudirman, kalau kalian sendiri adalah pengikut dajal. Mengapa ? Karena apa yang mbah Soekarno lakukan terhadap tanah Acheh adalah tidak jauh bebeda dengan kelakuan dajal yang seenak udelnya sendiri melampiaskan kerakusan politik ekspansinya keluar wilayah de-facto dan de-jure RI-Jawa-Yogya.

 

Kemudian, kalau kalian tukang becak menganggap ketua CC PKI DN Aidit adalah pahlawan, itu juga hak kalian. Kalian memang melihat dari sudut perjuangan kaum sosialis proletar yang berideologi Marxisme yang digandengkan dengan ideologi Marhaenisme-nya mbah Soekarno, sehingga ketika melihat DN Aidit, terjelmalah sebagai pahlawan. Tetapi bagi bangsa Acheh, itu DN Aidit adalah biasa saja. Seorang yang memperjuangkan ideologi sosialisme proletariatnya menghadapi kekuatan militer. Jadi tidak ada keistimewaan yang harus disanjung-sangjungkan.

 

Tukang becak, itu Sobron Aidit adalah Sobron Aidit. Dan Ahmad Sudirman adalah Ahmad Sudirman. Masing-masingnya adalah unik. Tidak bisa satu sama lain saling mengaca. Masing-masing membawa dan melalui jalur sejarahnya sendiri. Tidak perlu untuk saling memaksakan cermin pada masing-masingnya.

 

Tukang becak, apa yang dilakukan Sobron Aidit itulah karya dia. Apa yang telah digoreskan Ahmad Sudirman, itulah goresan Ahmad Sudirman. Dan kalau kalian tukang becak menyatakan goresan Ahmad Sudirman mengejar kekuasaan, itu adalah hak kalian yang melihat dari sudut kaum sosialis proletar dan pendukung mbah Soekarno penjajah dan penipu licik.

 

Dan terakhir, kalau kalian tukang becak mengatakan ”Apalagi dalam analisamu terlalu banyak kesalahan.”.

 

Nah, kalau ada didalam apa yang digoreskan Ahmad Sudirman suatu kesalahan analisa, coba kalian tampilkan analisa kalian yang menurut kalian benar itu. Bukan hanya menyatakan itu analisa salah, tetapi ternyata ketika kalian tampilkan fakta dan bukti tentang Acheh dan RI, rupanya lebih dari pada salah, karena kalian hanyalah menampilkan fakta dan bukti hasil mengembek pada mitos yang digembar-gemborkan oleh mbah Soekarno.

 

Nah terakhir, ketika Ahmad Sudirman menyatakan akang becak, itu menunjukkan kepada subjek, bukan objek. Artinya sipelaku itu yang dinamakan akang becak. Jadi akang becak itu adalah tukang becak. Atau panggilan kepada tukang becak. Contohnya, hey akang becak mari sini, tolong antar kami kepinggir Ciliwung, untuk melihat apakah airnya sudah meluap atau belum, karena tadi pagi hujan turun dengan derasnya ?.

 

Jadi tukang becak, sekali lagi saran Ahmad Sudirman, kalau kalian dan kelompok kalian dari kaum proletar mahu memberikan sodoran fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang dimasukkannya tanah Acheh kedalam mulut dan perut RIS dan RI-Jawa-Yogya-nya mbah Soekarno, coba tampilkan dengan lengkap, terperinci, dan jelas, agar supaya bisa dibaca dan dianalisa, disimpulkan dan dibandingkan Ahmad Sudirman.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Sun, 24 Jul 2005 20:19:22 -0700 (PDT)

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Subject: Berkacalah pada Sobron Aidit

To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, sastra-pembebasan@yahoogroups.com

 

Bismillah,

Wahai Ahmad Hakim Sudirman

Simpanlah semua kata umpatan,

Kalau mengumpat,

Kau terlihat manis bagai anak perawan

Penunggu datangnya pinangan.

 

Akan kukisahkan sedikit

Tentang Sobron Aidit adik dari DN Aidit.

Mendiang kakanya adalah politikus yang cemerlang

Dengan tatapan mata setajam elang.

Sayang,

Dengan cepat ajal datang menjelang.

Diterjang peluru tajam.

 

DN Aidit adalah seorang pahlawan

Perasaannya halus bak anak perawan.

Tempat mengadu bagi rakyat kecil yang tidak terwakilkan.

Tak heran sepeninggalnya,

Banyak rakyat yang merasa kehilangan.

Termasuk sang adik: Sobron Aidit.

 

Tetapi,

Keluarga ini memang selalu haus pada ilmu pengetahuan.

Tapi selalu haus pada ilmu pengetahuan.

Terus dan terus belajar

Sehingga tertoreh karya sastra

Yang penuh keindahan

Nyaris tidak terdetik kata kebencian.

Kalau kau ada waktu,

Bacalah karya sasrta tulisannya

Agar hatimu menjadi tenang

Tidak terus menerus mengejar kekuasaan yang semakin mustahil

Bagaikan mengejar bayangan.

 

Apalagi dalam analisamu terlalu banyak kesalahan.

Kangbecak itu berasal dari kata tukang becak bukan akang becak

Kang becak baru dengar ada orang yang memakan bangku sekolahan

Kalau dibilang budek, dari sini mana suaramu terdengar wahai Ahmad Sudirman

Mungkin kalau kangbecak datang ke kuburan baru dapat dipastikan.

Peluk ciumku

Untuk Ahmad Sudirman.

 

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------