Stockholm, 28 Juli 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, KEADAAN POSISI RI TELAH DIGESER OLEH KEADAAN POSISI SELF-GOVERNMENT ACHEH

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



KARENA KEADAAN POSISI OTONOMI ACHEH CIPTAAN RI TELAH DIDOBRAK SELF-GOVERNMENT ACHEH, MAKA RI KEHILANGAN STATUS QUO DI ACHEH

 

“Di Aceh dan Papua memang ada "riak kecil di tengah gelombang samudra", jadi tidak akan berpengaruh apa-apa kepada RI, tidak akan mengurangi bentangannya dari Sabang sampai Merauke. Masalah Aceh 99% sudah tuntas sekarang. NAD akan tetap menjadi salah satu propinsi RI. Ini semua coba diingkari oleh ASU, dengan berdasar dalil-dalil yang salah penerapannya.“ (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com , Thu, 28 Jul 2005 03:26:53 -0700 (PDT))

 

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

 

Dari apa yang dilambungkan Muba Dijon tentang Acheh dan Papua dengan sebutan "riak kecil di tengah gelombang samudra" adalah ungkapan yang penuh dengan tipuan. Tetapi, tentu saja, model dan gaya tipuan yang ditampilkan Muba tersebut, merupakan bentuk senandung pengantar tidur. Mengapa ?

 

Karena, dengan disenandungkannya bait-bait syair yang diantaranya berisikan untaian kata-kata  ”Di Aceh dan Papua memang ada "riak kecil di tengah gelombang samudra", jadi tidak akan berpengaruh apa-apa kepada RI”. Itu merupakan penutup dan tabir dari pandangan mata dan pikiran orang-orang yang sudah termakan mitos Acheh yang menganggap bahwa otonomi masih tetap tidak bergeser dari Acheh atau yang menganggap bahwa status quo otonomi ciptaan mbah Soekarno dan mbak Mega plus Akbar Tandjung tidak bergeser.

 

Keadaan dan situasi yang demikian sengaja diciptakan oleh pihak RI untuk menjaga mitos yang telah dianggap sebagai sejarah RI-Jawa-Yogya hubungannya dengan Acheh dan Papua.

 

Tetapi tentu saja, bagi orang-orang yang telah sadar akan terbuka pandangan, pikiran, dan hati bahwa, setelah adanya kesepakatan Helsinki 17 Juli 2005 antara Pemerintah Negara Acheh dan pihak RI, keadaan posisi otonomi Acheh buatan RI telah didobrak dan bergeser digantikan oleh status Self-Government Acheh.

 

Nah, perobahan status quo Acheh inilah yang oleh kebanyak rakyat di RI termasuk para pimpinannya tidak terlihat dan mereka masih terbuai oleh suara alunan senandung otonomi khusus Acheh buatan mbak Mega dan Akbar Tanjung yang berisikan syair-syair yang dituangkan dalam bangunan puisi UU No.18/2001.

 

Tentu saja, perobahan status quo atau keadaan situasi otonomi khusus Acheh-nya mbak Mega dan Akbar Tandjung yang diakibatkan oleh adanya dobrakan self-government Acheh inilah yang merobah peta politik di Acheh.

 

Suatu perobahan besar dalam perobahan status quo ini, adalah keterlibatan Negara-Negara anggota PBB, yang terhimpun dalam Uni Eropa dan Negara-negara Anggota ASEAN langsung di bumi Acheh, yang tidak pernah sebelumnya terjadi dalam sejarah konflik Acheh.

 

Keterlibatan dunia Internasional langsung di Acheh dalam bentuk monitoring hasil kesepakatan Helsinki atau Memorandum of Understanding Helsinki 2005 adalah suatu dobrakan terhadap status quo otonomi Acheh yang sudah hampir lebih dari setengah abad menjadi trade mark-nya RI-Jawa-Yogya.

 

Adanya Negara-negara internasional langsung menangani pengawasan pelaksanaan MoU Helsinki 2005 di Acheh ini, adalah suatu jaminan politik dan keamanan internasiona,l yang bisa dijadikan sebagai jaminan terlaksananya dan terwujudnya self-government Acheh yang hukumnya mengacu kepada MoU Helsinki 2005.

 

Jaminan keamanan Acheh melalui jalur monitoring negara-negara Uni Eropa dan ASEAN merupakan usaha penciptaan wilayah Acheh yang bebas dari TNI dan Polri yang non-organik, sehingga di Acheh akan timbul situasi dan kondisi yang bebas pasukan non-organik TNI dan Polri.

 

Nah, dengan hilangnya kekuatan status quo TNI di Acheh, adalah merupakan suatu pergeseran besar-besaran yang terjadi di Acheh, sehingga status quo otonomi khusus Acheh- pun bergeser digantikan oleh self-government Acheh.

 

Munculnya Self-Government Acheh merupakan dobrakan atas keadaan posisi otonomi ciptaan RI yang telah menjadi status quo sejak Soekarno menganeksasi wilayah Acheh kedalam tubuh RIS dan terus dimasukkan kedalam tubuh RI pada tanggal 14 Agustus 1950.

 

Hukum berdirinya Self-Government Acheh mengacu kepada sumber hukum Kesepakatan MoU Helsinki 2005, bukan kepada hukum lainnya, yang waktu pembentukan dan berdirinya dimonitor oleh tim monitoring dari negara-negara Uni Eropa dan ASEAN melalui jalur proses politik yang adil dan demokratis.

 

Penggeseran dan dobrakan status quo otonomi buatan RI inilah yang merupakan keberhasilan bagi bangsa Acheh dalam usaha mencapai penentuan nasib sendiri di Acheh.

 

Perobahan keadaan posisi otonomi Acheh buatan RI yang digantikan oleh posisi self-government Acheh model MoU Helsinki 2005 ini telah merobah status de-facto dan de-jure Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia. Dimana Pemerintah Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia telah mendapat pengakuan status yang sama dengan status RI berdasarkan dasar hukum kesepakatan MoU Helsinki 2005. Ditambah dengan dukungan penuh baik dari Pemerintah Finlandia ataupun dari Negara-Negara Uni Eropa terhadap pihak Pemerintah Negara Acheh dalam usaha mencapai kesepakatan damai di Acheh, telah menjadikan keadaan posisi Pemerintah Negara Acheh makin kuat.

 

Jadi dengan adanya kekuatan keadaan status Pemerintah Negara Acheh yang kuat inilah yang didasarkan kepada Kesepakatan MoU Helsinki 2005 dengan dukungan Negara-negara internasional, sehingga  secara de-jure dan de-facto wilayah tanah Acheh bisa diatur dan diperintah dibawah self-government atau pemerintahan sendiri Acheh oleh bangsa Acheh dengan dasar hukum yang mengacu kepada dasar hukum kesepakatan MoU Helsinki 2005.

 

Inilah dobrakan yang bisa menggeserkan keadaan posisi RI dengan otonomi khususnya di Acheh digantikan oleh self-government Acheh yang mengacu kepada dasar hukum kesepakatan MoU Helsinki 2005.

 

Jadi Muba Dijon, senandung yang kalian dendangkan dengan untaian bait-bait syarir: ”Di Aceh dan Papua memang ada "riak kecil di tengah gelombang samudra", jadi tidak akan berpengaruh apa-apa kepada RI, tidak akan mengurangi bentangannya dari Sabang sampai Merauke”. Ternyata setelah diteliti secara mendalam, justru riak kecil ditengah gelombang samudra dalam realitanya merupakan ombak badai yang menggoyangkan bantera RI-Jawa-Yogya, sehingga keadaan posisi otonomi Acheh-nya telah berobah berganti dengan keadaan self-government dengan acuan hukumnya kesepakatan MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Dan tentu saja, Muba Dijon, masih tetap dengan menyenandungkan bait-bait mitos Acheh-nya yang dibuat oleh mbah Soekarno. Dan biarkan saja Muba Dijon terus bersenandung dengan alunan bait-bait mitos Acheh made in mbah Soekarno-nya, sehingga ia lupa apa yang terjadi sebenarnya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

Date: Thu, 28 Jul 2005 03:26:53 -0700 (PDT)

From: muba zir mbzr00@yahoo.com

Subject: Re: DHARMINTA, ITU RI-JAWA-YOGYA HANYA DAULAT-DAULATAN ATAS ACHEH, PAPUA BARAT & MALUKU SELATAN

To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar alchaidar@yahoo.com

 

Di Aceh dan Papua memang ada "riak kecil di tengah gelombang samudra", jadi tidak akan berpengaruh apa-apa kepada RI, tidak akan mengurangi bentangannya dari Sabang sampai Merauke... Masalah Aceh 99% sudah tuntas sekarang. NAD akan tetap menjadi salah satu propinsi RI.

 

Ini semua coba diingkari oleh ASU, dengan berdasar dalil-dalil yang salah penerapannya...

 

Muba ZR

 

mbzr00@yahoo.com

Dijon, Bourgogne, Perancis

----------