Stockholm, 2 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PROLETAR KEBONGKAR KEDOK BUDEKNYA TETAPI SECEPAT KILAT MELIUK BAGAI ULAR SANCA INDIA

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



DENGAN JELAS KELIHATAN ITU PROLETAR TUKANG BECAK KEBONGKAR KEDOK BUDEKNYA TETAPI SECEPAT KILAT MELIUK BAGAI ULAR SANCA INDIA

 

“Bismillah, Alhamdulillah, Akhirnya Engkau dapat pula membedakan Mana ungkapan Yang baik dan mana ungkapan Yang buruk Dalam berdebat, Yang dipentingkan adalah argumentasi Bukan kemarahan Bukankah dalam Islam Juga mengajarkan Bahwa bahasa adalah cerminan jiwa ?” (Kang becak, kbecak@yahoo.com , Mon, 1 Aug 2005 05:12:13 -0700 (PDT))

 

Baiklah proletar tukang becak di Tokyo, Jepang.

 

Memang proletar tukang becak pengagum DN Aidit ini setelah kelihatan matanya rabun, dan  asal baca sekilas saja, sehingga ketika menghembuskan jampe puisi sosialisme-proletariat Marxisme-Lenin-nya ini tidak tentu arah. Ahmad Sudirman menyatakan biji mata yang kemerah-merahan, ditafsirkan dengan seenak udelnya sendiri. Sehingga keluarlah sampah ampas otak udangnya: ”Tidak pake bismillah, Tidak pake hamdallah: Hanya nambah dosa.”

 

Eh, karena proletar terbuka kedok budeknya, akhirnya dalam jampe puisi yang dikirimkan hari ini isinya: ”Bismillah, Alhamdulillah, Akhirnya Engkau dapat pula membedakan Mana ungkapan Yang baik dan mana ungkapan Yang buruk Dalam berdebat, Yang dipentingkan adalah argumentasi Bukan kemarahan”

 

Inilah model dan gaya ular sanca model India dari sungai Gangga.

 

Secepat kilat proletar meliuk, dari jurus gombal ”Tidak pake bismillah, Tidak pake hamdallah” kepada jurus ampir budeknya” Bismillah, Alhamdulillah, Akhirnya Engkau dapat pula membedakan Mana ungkapan Yang baik dan mana ungkapan Yang buruk Dalam berdebat”

 

Inilah gaya Proletar, gaya sosialisme-proletariat-komunis-marhaenisme-nya, dengan tarian model ular sanca India-nya yang salah kaprah.

 

Gaya mau pukul benteng Acheh, Maluku dan Papua, tetapi kekuatan loyo, bagaimana proletar budek leutik satu ini.

 

Eh proletar, mana argumentasi kalian yang bisa disodorkan di mimbar bebas ini. Kalian hanya sanggup menuliskan argumentasi: ”Akhirnya Engkau dapat pula membedakan Mana ungkapan Yang baik dan mana ungkapan Yang buruk Dalam berdebat”

 

Lihat, dia sendiri yang budek dan buta untuk memahami pengertian ”mendelik-delik, sehingga keluar biji”, disalahkan pula orang yang mengukir bait-bait itu. Kan budek, apalagi ditafsirkan dengan tafsiran tidak senonoh, mengikut gaya Muba Dijon dari Perancis yang sama-sama jalan ditempat.

 

Eh proletar tukang becak, lain kali, baca baik-baik, teliti dengan cermat, hayati, analisa yang baik, jangan pakai dengkul dan lutut tumpul saja, agar supaya kalian itu tidak keseleo dengan penafsiran yang macam-macam, yang tidak ada dasar kekuatan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya.

 

Dan agar supaya kalian tidak membuat malu di mimbar bebas ini. Dan menjadi sampah saja menumpuk di HD Komputer Ahmad Sudirman.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Date: 2 augusti 2005 07:10:46

To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com

Subject: Ucapan yang baik dan Buruk

 

Bismillah,

Alhamdulillah,

Akhirnya Engkau dapat pula membedakan

Mana ungkapan

Yang baik dan mana ungkapan

Yang buruk

 

Dalam berdebat,

Yang dipentingkan adalah argumentasi

Bukan kemarahan

 

Bukankah dalam Islam

Juga mengajarkan

Bahwa bahasa adalah cerminan jiwa ?

 

Biasakan selesai belajar membaca hamdallah:

Alhamdulillah.

 

 

Kang becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------