Stockholm, 3 Agustus 2005

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu'alaikum wr wbr.


PROLETAR TUKANG BECAK UNTUK SEBARKAN SOSIALISME-PROLETARIAT MARXISME LENIN IKUT MENUMPANG KERETA YUDHOYONO

Ahmad Sudirman

Stockholm - SWEDIA.



PROLETAR TUKANG BECAK PAKAI KERETA BUATAN PACITAN UNTUK MENYEBARKAN SOSIALISME-PROLETARIAT MARXISME LENIN DI RI-JAWA-YOGYA SAMBIL MEMBAWA LABEL SOSIALISME GAYA MOHAMMAD HATTA

 

"Bismillah, Dajal Ahmad Sudirman, Menangis terisak-isak penuh dendam. Sebentar lagi, Perdamaian akan diciptakan. Perdamaian untuk rakyat Aceh, Bukan untuk Ahmad Sudirman. Dikeluarkannya kembali sumpah serapah Padahal, Sedetik sudah ia lupakan, Omar Puteh sudah lama lari menghilang, Portal ahmad-sudirmanpun tidak pernah kembali pulang. Ditulisnya kata-kata pembelaan sama persis Hanya ditulis ulang. Aceh-Maluku-Papua, bahkan Sunda Menjadi isyu yang dihembuskan. Ah, Dajal. Demi kemuliaan, Agama dan sukupun engkau jual." (Kang becak, kbecak@yahoo.com , 3 augusti 2005 03:37:16))

 

Baiklah proletar tukang becak di Tokyo, Jepang.

 

Ahmad Sudirman bersyukur kepada Allah SWT bahwa kesepakatan damai di Acheh tercapai. Pembunuhan yang dilakukan TNI terhadap bangsa Acheh akan lenyap. Paukan non-organik TNI akan ditarik seluruhnya dari tanah wilayah negeri Acheh. Bangsa Acheh yang ditahan di LP-LP Jawa dan Acheh akan dibebaskan. Bangsa Acheh semua diberikan kebebasan berpartisipasi politik tanpa kecuali. Bangsa Acheh diberikan kebebasan untuk membangun pemerintah sendiri di Acheh berdasarkan dasar hukum MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Bangsa Acheh bebas menjalankan aktifitas politisnya melalui jalur partai-partai politik lokal Acheh. Bangsa Acheh yang akan membangun negerinya sendiri dibawah pimpinan bangsa Acheh, tanpa tekanan dari pihak Jakarta. Bangsa Acheh akan membangun negerinya menuju kepada penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh  negara yang menganeksasinya.

 

Inilah kemenangan bagi bangsa Acheh dengan disepakatinya Kesepakatan Helsinki 17 Juli 2005 yang akan dituangkan dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Dan kemenangan bangsa Acheh adalah kemenangan yang bermartabat, tidak ada yang kehilangan muka dari kedua belah pihak. Yang ada adalah keberhasilan sesuai dengan hasil perjuangan di medan politik dan diplomasi serta perundingan Helsinki 2005 dibawah fasilitator Presiden Martti Ahtisaari.

 

Dengan keberhasilan bangsa Acheh melalui jalur perundingan Helsinki 2005 inilah akan berdiri pemerintah sendiri Acheh atau self-government Acheh dengan dasar hukumnya yang mengacu kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

 

Nah, inilah yang patut untuk disyukuri. Dan Inilah suatu kemenangan bagi bangsa Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Stafnya.

 

Ahmad Sudirman senang, gembira dan bersyukur, perdamaian di Acheh dicapai dengan tingkat martabat kemuliaan yang sama dari kedua belah pihak.

 

Jadi, apa pula Ahmad Sudirman harus menangis. Justru, Ahmad Sudirman bersyukur, apa yang diinginkan bangsa Acheh untuk damai dengan dibawah lindungan pemerintah sendiri di Acheh akan berdiri di tanah wilayah teritorial Acheh dengan dasar acuan hukumnya MoU Helsinki 2005.

 

Bukan hanya di Acheh saja Ahmad Sudirman menghendaki kedamaian, keadilan, kejujuran, melainkan juga di wilayah-wilayah yang tanahnya dianeksasi Soekarno sampai detik ini. Seperti di Papua. Dan justru masih timbulnya konflik di Papua inilah, Ahmad Sudirman mendukung penuh bangsa Papua untuk mencapai perdamaian melalui jalur pemecahan politik dan perundingan yang damai melalui jalur yang telah disepakati dalam Perjanjian New York 15 Agustus 1962, yaitu penentuan pendapat rakyat. Hanya saja, dalam penentuan pendapat rakyat inilah harus mengikuti praksis internasional, yang diikuti oleh seluruh bangsa Papua yang ada di Papua untuk menentukan nasib mereka sendiri atas tanah wilayah teritorial Papua, yang dijaring Soekarno dan ditelan Soeharto sampai detik sekarang ini, melalui jalur penipuan licik pepera model Jenderal Soeharto 14 Juli-4 Agustus 1969 di delapan Kabupaten yang ada di Papua.

 

Mendukung dan menyokong penuh perjuangan bangsa Papua untuk penentuan nasib sendiri di Papua melalui jalur politis yang jujur, adil, bebas dan rahasia inilah yang dilakukan Ahmad Sudirman dengan didasarkan pada dasar hukum internasional Pernyataan Umum Hak Hak Asasi Manusia.

 

Ahmad Sudirman tidak ingin melihat bangsa Papua terus berada dalam tekanan, dan wilayahnya berada dalam penganeksasian RI. Karena selama bangsa Papua wilayahnya dianeksasi RI, maka selama itu di wilayah Papua tidak akan dicapai dan ditemukan perdamaian yang jujur, adil dan bermartabat.

 

Pemberian UU No.21/2001 adalah bukan suatu usaha pemecahan yang baik dan bijaksana bagi penyelesaian konflik Papua, melainkan hanya menambah makin dalamnya konflik Papua ini. Seharusnya, pihak RI memberikan hak kebebasan politik kepada seluruh bangsa Papua sebagaimana yang telah disepakati dalam Perjanjian New York 15 Agustus 1962 tentang penentuan pendapat rakyat yang bebas dan rahasia serta diikuti oleh seluruh bangsa Papua, bukan hanya oleh orang-orang yang ditunjuk dan dipilih oleh Jakarta saja, sebagaimana yang telah dilakukan dalam pepera model Jenderal Soeharto 14 Juli 4 Agustus 1969.

 

Jadi, dengan ditampilkannya Papua di mimbar bebas ini adalah memang karena selama masih ada penganeksasian wilayah yang dilakukan oleh phak RI, maka selama itu persoalan perdamaian di Papua tidak akan tercapai.

 

Tentu saja, masalah pepera 14 Juli 4 Agustus 1969 ini telah dipertanyakan keabsahannya oleh Anggota Kongres Amerika dalam rancangan Undang Undang nomor 2601 yang telah disahkan sebagai Undang undang untuk diterapkan dan dijalankan oleh Pemerintah Federal Amerika untuk tahun fiskal 2006-2007.

 

Nah, adanya sikap dari dunia luar tentang apa yang telah dilakukan oleh pihak Jenderal Soeharto mengenai pepera di Papua 1969 itu, menunjukkan bahwa kelegalan, keabsahan, kebebasan dan kejujuran pelaksanaan pepera 1969 itu dipertanyakan.

 

Dan tentu saja sekarang yang menagis adalah pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk juga proletar tukang becak pengagum DN Aidit dengan sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya, yang ingin tetap mengikuti ekor Susilo Bambang Yudhoyono untuk dijadikan sebagai taktik guna menebarkan benih sosialisme-proletariat Marxisme-nya di wilayah RI-Jawa-Yogya.

 

Proletar tukang becak mencoba mengasosiasikan sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya dengan sosialisme-nya Mohammad Hatta yang diaplikasikan dalam bentuk koperasi, agar supaya  rakyat di RI-Jawa-Yogya tidak alergi kalau mendengar sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya.

 

Ah, dasar ular sanca. Ahmad Sudirman tidak bisa ditipu oleh ular sanca proletar tukang becak dengan sosialisme-proletariat Marxisme Lenin-nya.

 

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad


Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*


Wassalam.


Ahmad Sudirman


http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad@dataphone.se

----------

 

From: Kang becak kbecak@yahoo.com

Date: 3 augusti 2005 03:37:16

To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com

Subject: Tangisan Dajal

 

Bismillah,

Dajal Ahmad Sudirman,

Menangis terisak-isak penuh dendam.

Sebentar lagi,

Perdamaian akan diciptakan.

Perdamaian untuk rakyat Aceh,

Bukan untuk Ahmad Sudirman.

 

Dikeluarkannya kembali sumpah serapah

Padahal,

Sedetik sudah ia lupakan,

Omar Puteh sudah lama lari menghilang,

Portal ahmad-sudirmanpun tidak pernah kembali pulang.

Ditulisnya kata-kata pembelaan sama persis

Hanya ditulis ulang.

 

Aceh-Maluku-Papua, bahkan Sunda

Menjadi isyu yang dihembuskan.

Ah,

Dajal.

Demi kemuliaan,

Agama dan sukupun engkau jual.

 

Dajalpun kembali menangis sesenggukan.

Ketika kebohongannya tidak laku dijual.

 

Biasakan selesai belajar membaca hamdallah:

Alhamdulillah

 

 

Tukang Becak

 

kbecak@yahoo.com

Tokyo, Jepang

----------